
Hari ini kedua Oma dan Daniel berencana untuk membicarakan tentang tema ulang tahun Arga untuk yang pertama. Mereka akan membahas semuanya dengan detail, Daniel dan dua oma tidak mau ada sedikitpun kesalahan saat acara pesta ulang tahun itu diadakan.
Mereka mengadakan pertemuan di rumah sakit tempat Daniel bekerja. Dua oma sudah sampai tepat waktu. Mereka bertiga sudah duduk santai di sofa ruangan Daniel.
"Jadi konsepnya bagaimana Niel?" tanya Mami yang sampe sekarang belum menemukan ide apapun.
"Oma, apa udah menemukan ide untuk tema ulang tahun Arga?" tanya Daniel kepada Nana.
"Dikit, gimana kalau kita bikin tema super hero aja. Jadi semua keluarga make baju super hero. Arga kan sangat suka dengan karakter super hero." ujar Nana sambil menatap kepada Daniel dan Mami.
Mereka bertiga berpikir apakah akan mengambil tema super hero atau tidak. Setelah lama berpikir dan rasanya tidak ada tema lain, mereka sepakat untuk mengambil tema super hero saja.
"Itu ajalah oma." ujar Daniel.
"Sekarang kemana kita pergi beli baju super heronya?" tanya Mami kemudian.
"Ngapain kita yang pake Oma. Kita sewa badut badut aja, biar mereka memakai baju super heronya." jawab Daniel yang nggak terbayang kalau dia harus memakai baju super hero juga.
"Sip. Sepakat. Acara dimana diadakan?" ujar Mami.
"Hotel milik Wijaya aja Mi." ujar Nana yang menginginkan acara ulang tahun pertama mereka diadakan di hotel Wijaya Grub.
"Baiklah aku setuju. Tapi sepertinya kita harus membicarakan ini ke Gina dan Aris terlebih dahulu." ujar Mami.
"Bener, nanti kita udah nyusun semua acara ternyata tidak setuju." ujar Mami kepada Daniel dan Nana.
"Palingan mereka tidak setujunya kalau acara ini dilakukan dengan besar besaran kalau sederhana mereka akan mau." ujar Nana kemudian.
"Kita hanya akan mengundang kolega bisnis serta anak yatim saja. Acaranya pengajian, terus potong kue. Kedua atuk itu tidak akan mengizinkan tiup lilin." ujar Mami mengingatkan Nana dan Daniel.
"Setuju Oma. Makanya kita hanya mengadakan acara secara sederhana saja. Dekorasi tempat kita minta saja event organizer hotel untuk menata dengan tema super hero." ujar Daniel memberikan ide tentang siapa yang akan mendekorasi tempat acara.
"Semuanya serahkan ke kami berdua." ujar Nana dan Mami serempak.
Mereka mengakhiri pertemuan singkat itu. Sisa dari semuanya yang akan mengerjakan adalah Mami dan Nana. Dua Nyonya besar yang sebenarnya tidak hobby berpesta, tetapi demi keluarga mereka akan mengeluarkan semua bakat terpendam. Terbukti dengan berhasilnya pesta pernikahan Miran dan Bayu.
.
.
.
.
Gina hari ini sibuk bermain dengan Arga. Mereka berdua bermain lego yang baru saja di beli oleh Aris.
"Sayang, kamu lapar?" tanya Gina kepada Arga.
Arga mengangguk menyetujui apa yang dikatakan oleh Gina. Gina mengambil cemilan yang biasa di makan oleh Arga sebelum Arga makan siang.
Arga bermain sambil memakan cemilan itu. Dia sangat serius saat menyusun legonya. Tiba tiba seorang maid masuk ke dalam. Dia tidak sengaja merobohkan lego yang telah disusun Arga. Arga menangis sejadi jadinya, dia juga menghempaskan kepalanya ke teombok. Arga mengamuk seperti orang yang sangat kesal.
"Sayang sudah sayang jangan ngamuk. Kita susun kembali." ujar Gina berusaha membujuk Arga.
Tapi bukannya malah diam Arga semakin marah. Dia sangat kesal. Semua terlihat dari raut wajah Arga.
"Nyonya maafkan saya Nyonya. Saya tidak melihat lego Tuan Muda tadi Nyonya." ujar maid yang ketakutan melihat Arga menangis seperti itu.
"Nggak apa apa maid. Nanti Arga akan diam sendiri." ujar Gina yang terus berusaha menenangkan Arga, dengan memeluk Arga erat. Gina tidak ingin Arga menyakiti dirinya sendiri.
Mami yang mendengar teriakan dan tangisan Arga dari speker langsung berlaru ke kamar Arga.
"Arga kenapa Gin?" tanya Mami yang sampai dengan nafas yang menderu.
"Tadi maid tidak sengaka merobohkan legonya Mami. Kemudian Arga mengamuk." jawab Gina.
Mami melangkah mendekati Arga.
"Cucu Oma yang tampan yang pinter nggak boleh mengamuk kayal gitu ya sayang. Nanti Arga bisa sakit, kalau Arga mengamuk. Arga mau beli lego lagi?" tanya Mami sambil membujuk Arga.
Arga mengangguk tanda setuju dibelikan lego kembali.
"Oke. Sekarang Arga tukar baju. Kita akan pergi membeli mainan untuk cucu Oma. Mau bawa Oma Nana juga?" tanya Mami.
Arga kembali mengangguk. Mami kemudian menghubungi Nana agar ke rumah. Mereka akan membawa Arga membeli mainan. Mami menceritakan bagaimana Arga mengamuk saat legonya ambruk tadi.
Jarak rumah Wijaya dan Soepomo lumayan jauh. Nana tiba dalam.waktu satu jam. Arga sudah menunggu sambil memakan buah yang dipotong oleh Gina.
"Bunda boleh ikut sayang?" tanya Gina kepada Arga.
__ADS_1
Arga hanya diam saja tidak mengangguk.
"Bunda nggak boleh ikut sayang?" tanya Gina kembali.
Arga mengangguk tanda setuju Gina untuk tidak ikut.
"Yah. Nanti Bunda ke kantor Frenya aja. Bunda mau main sama Frenya." ujar Gina menggunakan nama Frenya untuk membujuk Arga.
"Nya?" kata Arga yang mrmbuat Mami melihat tajam ke Gina.
" Ya Mi. Arga hanya bisa manggil nama Frenya." ujar Gina.
"Sepertinya dia sangat sayang sekali dengan uninya itu. Sampai sampai kata mama atau papa yang murah saja dia nggak mau ngomong. Ini Nya yang susah dia bisa." ujar Mami sambil menoel pipi Arga.
"Jadi Arga mau ke kantor Frenya?" tanya Mami kembali.
Arga mengangguk. Arga sangat semangat mendengar nama Frenya disebutkan.
"Oke habis beli mainan kita ke kantor Frenya." ujar Mami.
Tidak berapa lama menunggu akhirnya mobil milik Nana sudah berada di lobby rumah.
"Itu oma Nana. Ayo kita belanja mainan." kata Oma Mami sambil mau menggendong Arga.
Arga kembali menangis. Mami yang sadar kalau Arga protes dan tidak mau digendong lagi, langsung menurunkan Arga dari gendongannya. Mereka berdua bergandengan tangan menuju mobil Nana.
Mami membawa seorang maid yang diminta untuk menjaga Arga nantinya. Walaupun Arga tidak akan lari larian, tetapi Mami tetap perlu membawa seorang Maid.
Mobil bergerak meninggalkan rumah utama. Arga duduk di kursinya sendiri di samping maid.
"Tau nggak oma Nana. Arga udah bisa panggil nama Frenya." kata oma Mami sambil melihat le arah Arga.
"Bener cucu oma Nana udah bisa panggil Frenya?" tanya oma Nana menatap Arga.
"Nya" ucao Arga memamerkan apa yang dia bisa.
"Wow kejutan. Arga boleh borong semua lego yang ada di sana nanti. Oma Nana dan Oma Mami akan belikan." ujar Oma Nana.
" untung aja kita bawa mobil tambahan ya Nana, kalau nggak dimana mau di tarok barang belanjaan nanti." ujar Mami yang teringat menyuruh Paiji untuk ikut belanja mainan.
Akhirnya mereka sampai di toko mainan terbesar di ibu kota. Dua Nyonya besar memegang kiri dan kanan tangan Arga. Mereka berjalan masuk diikuti dua orang supir dan satu suster.
"Sayang, Arga mau yang mana. Atau Arga hanya mau lego aja?" kata Oma Mami bertanya kepada Arga.
Arga mengangguk.
"Maaf mbak, permainan lego dimana ya?" tanya Mami kepada pelayan toko.
"Mari ikuti saya Nyonya." ujar pelayan.
Mereka semua mengikuti pelayan tersebut. Sampai di sana, Arga langsung bersorak saat melihat begitu banyak lego yang terpajang. Arga melepaskan tangan oma Mami dan oma Nana, dia langsung meraih lego dengan tangan kecilnya itu. Pak Paijo yang sedia di belakang Arga langsung membantu Arga mengambilkan mainannya.
"Nambah lagi sayang?" tanya oma Nana yang melihat Arga masih menatap lego yang lainnya.
Arga mengangguk dengan semangat. Pak Paijo langsung menggendong Arga agar bisa mengambil mainan yang diinginkannya.
Arga mengisi seluruh keranjang mainannya dengan berbagai macam lego. Dua orang oma juga sibuk mengambilkan setiap lego yang belum diambil oleh Arga. Saat melihat sudah begitu banyak lego yang diambilnya dari ujung sampai ke ujung, Arga meminta untuk turun.
Arga kemudian meraih tangan ke dua omanya mengajak untuk keluar.
"Apakah udah puas cucu oma?" tanya oma Nana.
Arga mengangguk. Mereka kemudian menuju kasir untuk membayar. Supaya tidak jadi lagi keributan. Masing masing oma membayar dua stoler lego.
Semua lego dinaikan ke dalam mobil Pak Paijo.
"Apa kita jadi ke kantor Frenya?" tanya Nana kepada Arga.
Arga kembali mengangguk dengan semangat saat mendengar nama Frenya. Sopir mengemudikan mobil menuju kantor Frenya.
Saat mereka sampai di sana ternyata hari sudah jam pulang kantor. Mereka terlambat datang dikarenakan terjadi kemacetan yang panjang saat mereka menuju kantor Frenya.
Sopir memberhentikan mobil tepat di carport depan kantor. Dua orang oma dan Arga turun dari mobil. Saat mereka turun, ternyata Frenya juga udah bersiap siap untuk pulang.
"Nya" teriak Arga memanggil Frenya.
Dua orang oma tersenyum melihat Arga yang langsung berlari menuju uni Frenya. Frenya yang melihat Arga berlari langsung berjongkok agar Arga bisa memeluk dirinya langsung. Setelah Arga berada di dalam pelukan Frenya, Frenya menggendong Arga untuk menemui oma yang berdiri di pintu kantor. Frenya menyalami kedua omanya itu.
"Oma dari mana?" tanya Frenya yang heran melihat kedua oma datang dengan dua mobil ditambah lagi ada Arga.
__ADS_1
"Adik kecil kamu tadi mengamuk sejadi jadinya. Gara gara legonya kesenggol oleh maid. Bunda kamu sudah mendiamkan, tetapi dasar Arga yang keras nggak mau diam. Makanya oma bawa membeli lego." ujar oma Mami menjelaskan.
Arga yang mendengar kelakuannya diadukan oleh oma Mami kepada Frenya langsung mencium pipi Frenya.
"Wah dedek Frenya mulai bandel ya. Tapi udah Frenya katakan, nggak boleh bandel, kasihan Bunda dan Oma. Kalau bandel lagi Frenya nggak teman." ujar Frenya.
Arga semakin memeluk erat Frenya. Dia tidak mau Frenya marah kepada dirinya.
"Ayuk pulang." ujar Oma Mami.
"Mami, saya pulang langsung ke rumah saja ya. Ayah tadi ngirim pesan, kami harus pergi pertemuan dengan kolega bisnis Ayah." ujar Nana yang tidak bisa pulang ke rumah Mami terlebih dahulu.
"Terus nggak singgah dulu?" tanya Mami dengan nada kecewa.
"Nggak usah kecewa gitu. Kan bisa mampir kapan saja." jawab Nana sambil tersenyum kepada Mami.
"Oke baiklah." ujar Mami yang setuju dengan pendapat Nana.
"Arga, oma Nana pulang dulu ya. Arga nggak boleh ngamuk ngamuk lagi. Kasian Bunda sama Oma Mami." kata Oma Nana menitip pesan untuk Arga.
Arga mengangguk menyetujui.
Frenya, Arga dan Mami masuk ke dalam mobil Frenya. Frenya selalu mengemudikan mobilnya sendirian. Dia jarang memakai sopir. Arga yang biasanya duduk di belakang, meminta duduk di samping Frenya. Sehingga Mami harus duduk di belakang berdua dengan suster.
Frenya dan Pak Paijo melajukan mobil menuju rumah utama Soepomo. Akhirnya mereka sampai juga di rumah. Terlihat di teras telah duduk Papi, Aris, Bram Dan Bayu sedangkan Daniel kelihatannya belum pulang. Gina dan Mira sedang menyiapkan minuman dan cemilan.
Arga yang melihat Daddynya ada di teras, langsung melepaskan tangan Frenya. Dia berlari untuk masuk ke dalam pelukan Daddy.
"Anak Daddy dari mana? Kenapa pas Daddy pulang dia nggak ada ya?" tanya Aris kepada Arga.
Arga menunjuk kepada mainan lego yang sedang di turunkan Pak Paijo dan Suster. Semua yang melihat begitu banyak lego yang diturunkan oleh suster dan Pak Paijo langsung terheran heran.
"Kamu memindahkan toko lego ke rumah Arga?" tanya Bayu tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Arga mengangguk setuju. Kemudian dia tersenyum kepada semua orang.
Pak Paijo dan Suster memindahkan mainan ke dalam rumah.
"Apak" ujar Arga mendadak.
Semua orang yang mendengar langsung menjadi kaget mendengar apa yang diucapkan Arga.
"Apak" ujar Arga kembali melihat ke arah Pak Paijo.
"Kamu memanggil Pak Paijo sayang?" tanya Aris kepada Arga.
Arga mengangguk.
"Pak Paijo bawa kemari mainan Arga yang baru di beli tadi semuanya." ujar Aris memerintahkan Pak Paijo dan Suster untuk kembali membawa mainan ke teras rumah.
Gina dan Mira yang baru siap membuat minuman dan cemilan, meletakan semuanya di atas meja teras. Gina yang melihat begitu banyak lego hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua oma tersebut.
Arga langsung meminta dibukain satu kotak legonya. Dia langsung menyusun lego tersebut dengan semangatnya.
"Kalau udah gini alamat nggak akan mandi tu anak." ujar Gina kepada Aris.
"Biarin aja sayang. Nanti pas mau tidur di lap aja badannya. Biar dia segeran dikit." ujar Aris.
"Jangan lupa sayang. Kekalahan kemaren belum kita mainkan." ujar Aris berbisik di telinga Gina.
Gina mencubit pinggang Aris. Dia bener bener tidak menyangka Aris akan berbicara seperti itu.
Atuk dan Oma Mami serta Bram menemani Arga bermain. Bayu dan Mira sudah masuk ke dalam kamar untuk membersihkan dirinya. Begitu juga dengan Aris dan Gina juga masuk kamar untuk membersihkan diri mereka.
Aris mandi dengan cepat. Dia akan gantian dengan Papi dan Mami untuk menemani Arga bermain.
Selesai sholat maghrib, mereka semua duduk di ruang makan. Hari ini Arga ikut makan malam bersama keluarga besarmya.
"Aris, Gina tadi Mami, Nana dan Daniel sudah berdiskusi untuk ulang tahun Arga. Kami bertiga berencana membuat acara ulang tahun dengan tema super hero. Jadi semua desain adalah super hero. Kita hanya mengundang kolega bisnis serta anak oanti asuhan. Apakah kalian berdua setuju atau ada ide lain?" tanya Mami kepada Gina dan Aris.
Aris menatap Gina. Gina mengangguk tanda setuju.
"Mi tapi aku ada permintaan. Tolong isikan lego ke dalam bingkisan pulang anak pantinya." ujar Aris kepada Mami.
"Kalau itu oke oke aja. Nanti akan mami siapkan dengan Nana."
"Nggak ada tiup lilin." ujar Papi kepada Mami.
"Siap pak bos, yang ada potong kue." ucap Mami sambil tersenyum kepada Papi.
__ADS_1
Mami dan Daniel yang sudah mendapat persetujuan dari Aris dan Gina langsung tos. Mereka tidak menyangka akan secepat itu mendapat persetujuan dari Aris dan Gina