Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kepulangan Keluarga Besar


__ADS_3

Esok harinya di negara I. Papi yang sedang sibuk bekerja di ruangannya, mendapatkan sebuah pesan video di emal pribadi Papi. Papi menatap lama video yang dikirim oleh seseorang yang sama sekali.tidak di kenal olehnya.


Papi yang penasaran memutar video tersebut. Betapa terkejutnya Papi saat melihat rekaman yang ditampilkan oleh video tersebut. Papi benar benar tidak menyangka dengan apa yang dilihat olehnya.


"Ini benar benar sudah keterlaluan." ujar Papi sambil memukul meja kerjanya dengan sangat kuat.


Papi mengambil ponselnya, dia langsung menghubungi Aris. Papi harus menceritakan semua permasalahan ini dengan Aris.


"Ini semua tidak bisa di diamkan." ujar Papi.


Sedangkan di negara U, Aris masih terlelap tidur. Ponselnya yang terletak dekat dengan telinga Gina membuat Gina terbangun karena bergetar terus. Gina meraih ponsel tersebut, dia melihat nama yang tertera di layar ponsel.


"Papi?" ujar Gina.


Gina membangunkan Aris yang terlihat sangat nyaman dalam tidurnya itu. Saking lamanya Gina membangunkan Aris, panggilan dari Papi berakhir.


"Sayang bangun, Papi udah nelpon berkali kali ini." ujar Gina.


Aris menggeliat dari tidurnya.


"Siapa yang telpon?" tanya Aris yang berhasil keluar dari tidurnya.


"Papi." jawab Gina.


Aris kemudian mengambil ponselnya, dia melihat Papi sudah menghubunginya berkali kali.


"Sepertinya ada yang penting sayang. Papi berkali kali nelpon." ujar Aris sambil memperlihatkan beberapa panggilan Papi yang nggak sempat diangkatnya.


"Sepertinya. Hubungi aja sayang." ujar Gina.


Aris menghubungi Papi kembali. Papi yang memang sudah menunggu nunggu panggilan dari Aris langsung saja mengangkat panggilan itu.


"Assalamualaikum Pi." ujar Aris menyapa Papinya.


"Waalikumsalam Ris. Kamu kemana aja nggak angkat panggilan Papi." ujar Papi dengan nada sedikit kesal.


"Papi, Papi, Papi lupa kalau di sini masih malam. Aku baru tidur tiga jam Pi." ujar Aris.


"Hahahahahaa. Maaf Ris, Papi lupa. Kamukan dibelahan bumi yang lain." ujar Papi sambil tertawa bahagia karena berhasil mengganggu tidur anaknya itu.


"Jadi ada apa Pi. Sepertinya sangat penting sampai sampai Papi menghubungiku berkali kali." ujar Aris dengan menahan kesalnya.


"Papi mau kamu pulang hari ini. Ada masalah yang harus kita selesaikan berdua. Papi nggak bisa menyelesaikannya sendiri harus ada kamu." ujar Papi.


Aris menatap Gina. Gina mrngangguk menyetujui. Gina meremas tangan Aris. Gina tau Aris berat meninggalkan mereka berdua.


"Baiklah Pi, aku akan pulang." ujar Aris.


"Apa Papi perlu mengirim pesawat milik kita ke sana?" tanya Papi kepada Aris.


"Nggak perlu Pi. Aku pakai pesawat yang di sini aja." ujar Aris.

__ADS_1


"Kan lama Ris. Transitnya"


"Nggak akan lama Pi." jawab Aris.


"Oke. Papi tunggu kamu ya."


"Oke Pi." jawab Aris.


Argha yang tadinya sedang tidur mendengar Daddynya mau kembali ke negara I langsung saja bangun dari tidurnya


"Argha ikut" teriak Argha.


"Tapi sayang?" ujar Gina mencegah keinginan Argha.


"Bun, Argha ikut." Argha berbicara dengan nada yang tidak bisa dibantah lagi.


"Tapi??" ujar Gina.


"Udah sayang, oke Argha ikut Daddy." ujar Aris menengahi keributan yang nggak berfaedah itu.


"Yes, Argha pulang Yes." ujar Argha dengan senangnya.


"Sekarang tidur. Tapi besok mau terbang dengan Daddy" ujar Gina memerintahkan Argha untuk tidur.


"Peluk Daddy" jawab Argha.


"Kok?" Aris heran dengan keinginan Argha.


"Takut ditinggal aja itu." ujar Gina yang paham dengan maksud Argha yang minta peluk oleh Aris.


Keesokan harinya mereka sudah bersiap siap untuk sarapan. Apalagi Argha yang bangun paling pertama sekali. Dia sangat luar biasa semangat untuk pulang kembali ke negara I.


Gina terlihat sangat sedih, tapi kerjaannya di sini belum selesai. Dia harus menyelesaikan semua pekerjaannya terlebih dahulu barulah dia akan kembali ke negara I.


"Sayang kalau kamu mau ikut ayuk ikut." ajak Aris.


"Tapi kerjaan di sini gimana?" tanya Gina.


"Bram ada." ujar Aris.


Gina menggeleng, dia harus menyelesaikan semua pekerjaannya sendirian. Dia tidak mungkin melimpahkan pekerjaannya kepada orang lain. Lain hal kalau semua kerjasama dengan beberapa pihak yang sudah terikat kontrak selesai. Barulah dia akan melimpahkan semuanya kepada orang lain.


Selesai memasukkan semua pakaian Aris dan Argha kedalam koper koper mereka, Gina mengajak Daddy dan Anak itu turun untuk sarapan.


"Stefen boleh minta tolong?" tanya Gina kepada Stefen. Raut wajah sedih Gina tidak bisa dia sembunyikan lagi.


"Bisa Nyonya. Ada apa?" tanya Stefen.


Semua orang melihat ke arah Gina. Ntah apa yang terjadi lagi dengan sepasang suami istri itu.


"Argha dan Daddy nya akan kembali ke negara I. Apakah kamu bersedia mengantar mereka?" tanya Gina.

__ADS_1


"Oke Nyonya. Siap." jawab Stefen.


Stefen kemudian makan dengan cepat sarapannya. Dia akan pergi ke bandara untuk menyiapkan pesawat.


"Kenapa mendadak sekali Dad?" tanya Frenya.


"Atuk tadi nelpon ada masalah penting yang harus di bahas cepat." ujar Aris.


"Argha kenapa ikut?" tanya Frenya.


"Pengen ikut aja." jawab Argha.


"Frenya kamu juga ikut dengan Daddy dan Argha. Nggak mungkin Stefen terbang sendirian." perintah Gina.


"Beneran boleh Bun?" ujar Frenya menatap Bundanya dengan tatapan tidak percaya.


"Yup. Kamu pergi dengan Daddy. Temani Stefen." ujar Gina.


"Oke Bun. Aku siap siap dulu." jawab Frenya.


Frenya berlari menuju kamar hotelnya. Dia menyusun semua bajunya ke dalam koper koper besar.


"Gin, kalau uda ikut pulang bolehkan?" tanya Afdhal.


"Waduh kok nggak ngomong dari tadi. Stefen hanya nyiapkan pesawat biasa uda. Uda seminggu lagi lah ya." ujar Gina sambil menahan senyumnya.


"Kamu kira perusahaan nggak butuh pimpinan." jawab Afdhal.


"Hahahahaha. Jangan sewot uda ganteng. Iya uda juga boleh pulang. Kak Bayu dan Mira juga boleh. Stefen menyiapkan boing kok. Jadi tenang aja. Semua muat." jawab Gina.


"Makasi adik cantik uda." ujar Afdhal sambil ingin mencium Gina.


"Main nyosor aja. Sana siapin semua barang. Bentar lagi pesawatnya siap." ujar Gina.


Mereka semua kembali ke kamar. Argha dari tadi sudat ikut dengan Stefen. Dia sama sekali tidak ingjn ditinggal.


Aris dan Gina masuk ke dalam kamar mereka. Aris memeluk Gina dengan begitu erat. Aris sangat ingin membawa Gina ikut kembali ke negara U. Tetapi Aris sangat tau Gina memikiki kesibukan yang cukup tinggi di sini.


"Hay kenapa meluk kayak nggak bisa pisah gini. Ada apa?" tanya Gina.


"Pengen bawa kamu pulang." jawab Aris.


"Seminggu lagi aku janji akan pulang ke negara U." ujar Gina sambil mengecup mesra bibir suaminya.


"Sayang jangan mulai. Nanti dia bangun, mau kamu tanggung jawab?" tanya Aris.


"Hahahahaa. Mana sempat keburu terbang pesawatnya." ujar Gina


Mereka semua berkumpul di lobby hotel. Mereka akan kembali pulang ke negara I. Gina terlihat sangat sedih. Tapi dia harus kuat, dia akan menyusul mereka semua seminggu lagi.


"Kamu hati hati di sini ya." ujar Aris.

__ADS_1


"Iya sayang. Kamu juga hati hati ya." ujar Gina.


Mereka berpelukan. Setelah itu, semua masuk ke dalam pesawat. Setelah melihat pesawat itu terbang landas Gina naik ke atas mobil. Dia akan langsung menuju GA Grub. Dia harus lembur menyelesaikan semua pekerjaannya.


__ADS_2