Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Aris dan Gina


__ADS_3

Gina tengah malam sudah bersiap siap untuk pergi menuju kampung Meri asisten Nana. Gina berencana berada di tempat itu sampai kerjasama antara ayah dan Aris mencapai kesepakatan, mau kesepakatannya bagus ataupun tidak. Gina tidak mau Aris mengambil keputusan kerjasama ini karena Aris kenal dengan Gina. Gina mau kesepakatan ini murni karena Aris percaya penuh dengan perusahaan ayahnya. Gina dibantu Nana bersiap-siap untuk pergi. Gina akan diantarkan oleh salah satu orang kepercayaan Ayahnya. Gina turun ke lobby rumah didampingi oleh Nana.


"Kamu siap sayang?" Ayah berkata sambil menatap tajam mata Gina. "Kalau kamu ragu, kita bisa membatalkan rencana ini. Kemudian mempercepat kepindahan kita ke Ibu kota."


"Gina siap ayah. Lagian itu tidak akan lama. Ayah dan Paman Hendri udah janji dengan Gina akan menyelesaikan kerjasama ini secepatnya." agina tersenyum meyakinkan ayahnya.


"Kamu kalau tidak betah langsung kabari Nana ya Gin. Biar nanti Nana minta pengawal untuk menjemput kamu." Nana mengusap kepala anak gadisnya itu, yang sangat keras kepala tidak ingin dikenal orang lain sebagai keluarga Wijaya.


"Oke Na. Nanti akan Gina kabari. Tapi kalau Gina betah bisa jadi Gina akan lama di sana. Nana siap-siap aja lama ditinggal tante Meri."


"Oh kalau masalah itu tenang saja kamu. Setiap ada permasalahan yang rumit Nana akan memanfaatkan Ayah kalau tidak Afdhal."


"Gaya Nana banyak. Padahal Nana mampu." Gina tersenyum mengejek Nana. Nana yang mendengar apa yang dikatakan Gina langsung tertawa.


Mobil yang akan mengantarkan Nana dan Meri sudah siap di lobby. Tapi di depan lobby berdiri dua mobil. Gina langsung menatap heran ke arah Afdhal.


"Mobil yang satu lagi akan mengantarkan Ayah dan Paman Ihsan menuju ibu kota untuk melanjutkan pembicaraan dengan perusahaan Soepomo." Afdhal menjawab pertanyaan yang tidak sempat diucapkan Gina.


"Paman Hendri? Jangan bilang paman Hendri akan ikut kami. Aku nggak mau jadi obat nyamuk."


"Tenang Gina, paman akan ikut Nana selama tante Meri sedang bersama kamu." Paman Hendri menjelaskan kepada Nana.


Semua orang masuk kedalam mobil mereka masing-masing dengan tujuan yang berbeda. Gina dan Meri langsung tertidur saat mobil baru saja meninggalkan gerbang utama rumah keluarga Wijaya. Perjalanan yang menghabiskan waktu selama enam jam itu memang enak dihabiskan dengan tidur. Apalagi hari masih tengah malam.


...----------------...


Aris sudah menyuruh beberapa anak buahnya untuk memantau rumah yang disangkanya itu adalah rumah Gina. Dia meminta semua laporan tentang aktifitas di rumah itu. Selain itu di depan rumah itu juga ada anak buah Bayu yang ikut memperhatikan kegiatan rumah itu dan akan melaporkan kepada Bayu.


Paman Hendri yang sudah bisa membaca gerak gerik dari Tuan Muda Aris, sudah menyuruh salah seorang pengawal wanita yang tubuh dan rambutnya seperti Gina untuk melakulan kegiatan di rumah itu. Segala jenis kegiatan yang dilakukan oleh keluarga sederhana.


Aris yang sudah berada di ibu kota pagi itu bangun dengan wajah segar. Hari ini Aris ada meeting dengan perusahaan Wijaya yang akan langsung dihadiri oleh Tuan Besar Wijaya. Aris menjadi semangat karena ada motif lain dibelakang meeting itu, Aris ingin memperhatikan kemiripan antara wajah Gina dan Tuan Besar Wijaya, apalagi kalau sempat asisten Hendri datang, maka semakin kuatlah keyakinan Aris bahwasanya Gina adalah bagian dari Wijaya.


Aris melajukan mobil sport terbarunya menuju kantor utama Soepomo. Aris akan melakukan meetingnya di restoran keluarga Wijaya yang terletak sekitar tiga puluh menit perjalanan dari kantor utama. Meeting diagendakan pukul sepuluh siang, masih ada dua jam lagi untuk Aris memeriksa proposal yang diberikan oleh perusahaan Wijaya. Bram masuk kedalam ruangan Aris dia memberikan agenda kegiatan yang harus dijalani Aris hari ini.


"Tuan, ini jadwal kegiatan Anda sehari ini."


"Tarok situ Bram. Nanti dibaca saat menuju tempat meeting dengan Tuan Wijaya." Aris masih serius menatap proposal yang dibacanya.


"Ris, gue mau ngomong sesuatu sama kamu. Kamu waktu reunikan bertemu dengan Gina, kenapa kamu tidak bertanya saja kepada ketua Alumni siapa Gina sebenarnya."


"Udah Bram. Gue udah bertanya sama ketua alumni. Jawaban mereka Gina adalah salah satu anak dari karyawan di perusahaan Wijaya Grub."


"Hm jadi buntu. Kalau kawan satu kosnya?"


"Sama Bram. Gina terlihat seperti mahasiswi biasa saja. Kemana-mana selalu naik ojek online."


Sebuah notifikasi pesan masuk ke WA Aris.


✉️ Wahyu

__ADS_1


Tuan Muda, perempuan itu sekarang sedang menyiram tanamannya. Sepertinya sehari ini dia tidak akan kemana-mana. Dia hanya memakai baju santai saja. Apakah kami harus mengambil gambarnya?


✉️ Aris


Tidak usah. Kamu pantau saja dulu. Jangan meninggalkan tempat kalau dia tidak keluar dari rumah itu.


✉️ Wahyu


Baik Tuan Muda, laksanakan.


"Sepertinya dia anak rumahan Bram. Kata Wahyu dia tidak meninggalkan rumah. Sekarang saja dia sedang menyiram bunga."


"Tuan kita hrus berangkat sekarang. Jangan sampai Tuan Besar Wijaya menunggu kita lama di restoran itu." Bram sudah kembali ke mode asisten.


"Oke. Kita jalan sekarang." Aris menyambar jasnya di sandaran kursi lalu memakainya.


Aris dan Bram turun dari ruangannya memakai lift khusus petinggi perusahaan. Sampai di lobby dua petinggi itu menjadi pusat perhatian karyawannya.


"Gue mau dong jadi istri salah satu pria tampan itu" kata seorang karyawan.


"Loe nya mau orangnya ngelak. hahahahaha" jawab temannya.


"Gue juga mau. Walaupun jadi yang kedua" kata yang lainnya.


Aris dan Bram hanya menikmati apa yang mereka katakan. Aris dan Bram membiarkan saja selagi pekerjaan mereka lancar. Tetapi kalau sudah terganggu makan Bram akan langsung bertindak dengan memecat orang tersebut.


...----------------...


"Nggak seperti yang ada di dalam pikiran Nona ya?"


"Tante Meri jangan panggil Nona Muda kalau di sini ya. Panggil aja aku Gina."


Meri terlihat mempertimbangkan permintaan Gina tadi. " Jangan Non, terlihat tidak sopan"


"Kalau tante tidak mau, Gina balek lagi aja ke rumah."


"Baiklah. Yok Gin. Kita masuk. Kamu istirahat saja dulu di kamar. Nanti pas makan siangnya sudah siap tante akan bangunkan kamu"


Meri kemudian menunjukkan kamar Gina. Setelah Gina masuk ke dalam kamar, Meri menuju dapur untuk memasak makan siang mereka. Gina berencana memasak bahan yang ada dalam kulas saja.


"Hanya ada ayam. Masak ayam rica ajadeh. Gina kan tidak rewel dengan makanan apapu." Meri langsung menyiapkan semua bahan untuk memasak ayam rica, setelah itu Meri berkutat di dapur menyiapkan menu makan siang. Sedangkan Gina seleasai mandi, Gina langsung merebahkan dirinya di atas kasur. Tak berapa lama sebelum sempat mengabari Ayah atau Nana, Gina sudah tertidur pulas


Sedangkan di Ibu Kota, Aris sudah masuk kedalam ruangan VVIP restoran itu. Di sana sudah duduk Tuan Wijaya dan seorang pria.


"Silahkan duduk Tuan Muda Soepomo." kata Tuan Wijaya dengan hormat.


"Panggil Aris saja Tuan."


"Baiklah Tuan Aris. Perkenalkan ini asisten saya namanya Ichsan." Ichsan menundukkan kepalanya sedikit kepada Aria.

__ADS_1


"Perkenalkan juga Tuan Wijaya, ini sekretaris saya Bram."


Kemudian keempat orang itu terlihat serius membicarakan proyek yang akan mereka kerjakan. Sepertinya tidak akan membutuhkan waktu lama bagi Tuan Wijaya untuk mendapatkan kepastian dari Aris. Selesai mereka membicarakan bisnis, waktu makan siang sudah tiba. Tuan Wijaya meminta pelayan untuk menghidangkan makanan istimewa restoran itu.


Terlihat pelayanan sibuk menghidangkan makanan di atas meja itu.


"Silahkan Tuan Aris, semua ini adalah menu andalan dari restoran ini." kata Tuan Wijaya


"Restoran anda sangat bagus Tuan. Sesuai sekali dengan selera masyarakat kota." Aris memandang kesekeliling restoran itu.


Mereka berempat kemudian menyantap makanan yang sudah ada itu. Mereka makan dalam diam.


"Tuan Wijaya, maaf saya mau bertanya, tetapi agak melenceng dari urusan bisnis. Apakah boleh?"


"Oh boleh Tuan Aris, silahkan. Apa yang mau Anda tanyakan." Tuan Wijaya sudah tau apa yang akan ditanyakan oleh Aris.


"Tuan mempunyai anak berapa oranf ya? Kenapa tidak sekalipun keluarga Tuan muncul di majalah bisnis?" Aris merasa heran dengan ini. Asal meliput tentang Tuan Wijaya maka keluargamya tidak akan di bawa-bawa.


"Itu semua bukan disengaja Tuan Aris. Tapi keluarga saya memang tidak suka tampil dengan saya."


"Jadi kembali kepertanyaan saya tadi, Tuan Wijaya punya berapa anak?" Aris sudah tudak sabaran.


"Istri saya punya satu, dia juga seorang pengusaha. Sedangkan untuk anak ada dua. Yang pertama laki-laki, dia juga pengusaha, sedangkan yang nomor dua perempuan, sekarang sedang kuliah di Padang." Kata Ayag.


Aris yang sempat senang mendengar anak Tuan Wijaya ada yang perempuan, kembali patah hati, karena anak perempuan Tuan Wijaya kuliah di Padang bukan di ibu kota.


Aris kemudian pamit untuk pulang ke kantornya kembali.


"Bram, menurut lie Gina mirip nggak denga. Tuan Wijaya?"


"Nggak Ris. Mereka bener-bener tidak mirip"


"Padahal saat Tuan Wijaya mengatakan datang dengan asistennya, fue berharap asistennya adalah orang yang gue lihat mengantar Gina pada malam reuni itu. Ternyata bukan. Makanya gua pakai pertanyaan bodoh itu. Ternyata hasilnya lebih menyakitkan lagi."


"Tenang Ris. Jodoh nggak kan lari kemana. Jadi tunggu aja."


Aris dan Bram sampai kembali di kantor utama Soepomo Grub. Mereka berdua kembali menenggelamkan diri di dalam pekerjaan.


Seorang wanita yang sedang menikmati tidur siangnya terluhat sangat lelah. Meri langsung saja menggoyang - goyang tubuh Gina.


" Gin bangun, kita makan siang dulu. Setelah itu kamu mau tidur lagi juga boleh "


Gina yang terdengar Meri memanggilnya langsung bangun. Dan mengajak Meri ke meja makan. Mereka menyantao makan siang yang sederhana itu dengan lahap. Gina selesai makan berencana kembali lagi untuk tidur. Dia masih lelah untuk melakukan aktifitas.


...----------------...


Apakah kerjasama antara perusahaan Wijaya dan perusahaan Soepono akan terjadi???


Apa yang dilakukan Aris untuk menemukan kebenaran tentang Gina.

__ADS_1


__ADS_2