Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Penjara


__ADS_3

"Nah kan baru aja di depan gerbang. Udah nggak bisa kamu membuka pintunya. Apalagi di dalam." jawab Ghina menyindir Aris.


"Sindir aja teros" ujar Aris tersenyum sinis ke arah Ghina.


"Hahahahahaha" Ghina tertawa dengan bahagia.


"Bunda, jangan digituin Daddynya Argha Bun. Nanti dia nangis. Bundanya udah nggak ada, siapa nanti yang bujuk dia Bun." ujar Argha menggoda Aris.


"Anak Emak sama aja." jawab Aris.


Ghina turun dari mobil. Dia memencet sandi miliknya untuk membuka pintu gerbang itu. Seketika pintu digital tersebut terbuka dengan lebar. Aris melajukan mobilnya masuk ke dalam markas. Betapa terkejutnya Aris melihat markas yang luar biasa besarnya di dalam. Padahal kalau dilihat dari luar hanya kecil saja.


"Sayang, parkir di situ aja." tunjuk Ghina kepada tempat parkir mobil miliknya.


Aris memarkir mobilnya di sana. Mereka semua turun dari dalam mobil. Juan yang sedang melatih anggota mereka bela diri, berjalan mendekati dua pimpinan mereka yang baru sampai.


"Siang Nyonya Ghina, Nyonya Sari." ujar Juan menyapa Ghina dan Mira.


"Siang Juan. Gimana kemajuan mereka Juan?" tanya Ghina yang tau kalau mereka yang sedang dilatih Juan adalah calon calon pengawal untuk beberapa orang relasi bisnis GA Grub dan Bree Grub.


"Luar biasa Nyonya, mereka dengan cepat bisa paham dengan apa yang saya katakan. Mereka benar benar cepat tanggap." ujar Juan memberitahukan progress anak buah baru mereka itu.


"Sip. Saya masuk dulu. Oh ya Juan tolong perintahkan beberapa orang untuk menyiapkan lapangan tembak." ujar Ghina memberitahukan keinginannya.


"Siap Nyonya." jawab Juan.


Ghina dan yang lain berjalan masuk ke dalam markas. Jero sudah menunggu mereka di pintu masuk saat mendengar suara teriakan dari Argha.


"Kita ke lapangan tembak dulu atau ke penjara dulu Nyonya?" tanya Jero sambil mengiringi langkah mereka berlima.


"Sayang mau kemana duluan?" tanya Ghina kepada Aris.


"Ke Penjara dulu" jawab Aris dengan dingin.


Ghina memeluk Aris dari belakang. Dia sangat tau kalau Aris sedang merasa marah yang sangat sangat marah.


"Sayang??" panggil Ghina.


"Aman sayang." jawab Aris.


Ghina menggenggam tangan Aris. Argha melakukan hal yang sama. Mereka berjalan bergandengan tangan menuju penjara tempat seorang wanita yang mereka sangka baik ternyata tidak.


"Sayang ini beneran markas atau kantor?" tanya Aris yang melihat begitu lengkapnya semua peralatan dalam markas milik Ghina.


"Markas sayang. Kamu belum lihat sayap kanankan. Makin tercengang kamu nanti. Apalagi saat kamu melihat ruang bermain milik Argha. Aku jamin kamu pingsan." kata Ghina sambil tersenyum ke arah Aris.

__ADS_1


"Semoga kita semesra mereka terus ya sayang." ujar Mira kepada Bayu.


"Emang aku kurang mesra sayang?" tanya Bayu.


"Mesra. Tapi dikit." ujar Mira.


"Oh dikit ya. Oke. Sekarang akan banyak." jawab Bayu.


Bayu menggemdong Mira dengan gaya bridalstail. Mira terkejut dengan respon Bayu yang tak terduga itu.


"Sayang turunkan aku." ujar Mira dengan kesal.


"Hahahaha. Aku pengen romantis sayang." jawab Bayu.


Bayu berjalan cepat, dia merasakan sedikit berat mengangkat Mira. Tapi demi status suami romantis sejagad raya Bayu rela menahan berat Mira di pundaknya.


"Awas awas suami romantis mau lewat." ujar Bayu membelah tangan Aris dan Argha.


Aris, Ghina, Argha dan Jero yang mendengar ucapan Bayu terkejut apalagi dengan melihat apa yang dilakukan Bayu terhadap Mira.


"Woi ngapain loe? Ngerusak image aja loe" ujar Aris kepada Bayu.


"Hahahahahahaha. Gue mau dapat gelar suami teromantis diantara kita bertiga. Jadi mulai hari ini dimanapun kapanpun gue akan selalu romantis. Jadi loe semua harus bawa kantong kresek kalau nggak kuat nengok perlakuan gue." ujar Bayu sambil melangkah meninggalkan Aris dan yang lainnya.


"Sahabat kamu kenapa sayang?" tanya Ghina menatap Aris.


"Kesambet kali Bun. Jadi biarin aja. Anggap aja nonton film India." ujar Argha kembali memegang tangan Daddynya.


Mereka kemudian kembali jalan menuju penjara. Mereka masih menyaksikan drama film India yang berjalan di depan mereka. Mira dengan aksi berontak dan protesnya. Sedangkan Bayu dengan aksi sok sebagai suami teromantis yang pernah ada.


"Jadi kamu mau juga sayang?" tanya Aris menatap Ghina dengan tatapan jail.


"Ke laut aja sayang." teriak Ghina sambil berjalan cepat.


"Hahahahahahahahaha. Bunda takut ada suami teromantis part two." ujar Argha tertawa melihat kelakuan Daddy dan Bundanya.


Aris dan Argha berjalan mengikuti Ghina. Mereka sangat senang melihat Ghina yang sedang emosi itu.


"Gha ini serius tempatnya? Ko auranya menakutkan Gha?" tanya Aris kepada Argha.


"Daddy takut?" tanya balik Argha.


"Takut sih ndak, cuma ini kebangetan banget Gha. Masak ada markas yang jalan ke penjaranya melewato lorong dingin gelap kayak gini." ujar Aris sambil menatap tidak percaya dengan keadaan sekitarnya.


"Hahahahahahaha. Ini ide Mami Sari, Dad. Dia pengen setiap orang yang keluar dari penjara ini dalam kondisi hidup, merasa jera dan tidak ingin kembali ke sini. Makanya dibuat semenakutkan ini." jawab Argha memandang Daddynya dengan pandangan sejuta makna.

__ADS_1


"Santai aja nengoknya Gha. Daddy bukannya takut tapi males aja." ujar Aris sambil menowel hidung Argha.


"Daddy yang santai aja. Ngapain juga protes tadikan ya kalau nggak takut." jawab Argha nggak mau kalah.


Aris terdiam mendengar ucapan anaknya itu. Argha ada benarnya juga mengatakan hal tersebut.


Tidak berapa lama berjalan mereka semua sampai di depan pintu besi penjara. Pintu yang lumayan tebal tidak bisa di tembus oleh bom sekalipun. Mira berdiri di depan pintu.


"Loe atau gue?" tanya Mira kepada Ghina


"Aku" ujar Argha.


Argha kemudian meletakan telapak tangannya di salah satu dinding. Aris dan Bayu yang baru pertama kali melihat hal itu menatap kagum dengan markas ini. Banyak kejutan yang mereka dapatkan.


"Terimakasih Tuan Argha paling ganteng diantara sekian banyak laki laki di keluarga Soepomo dan Wijaya. Silahkan masuk." bunyi suara saat telapak tangan Argha menempel di sensor pintu.


Ghina dan Mira saling pandang. Mereka tidak tau kalau pintu ini sekarang bisa bicara.


"Sejak kapan Gha?" tanya Ghina.


"Sejak Argha hari itu nggak bisa ngapa ngapain nenek lampir Bun." jawab Argha sambil tersenyum bangga.


"Tutup lagi Gha. Bunda mau coba." ujar Ghina penasaran.


Ghina meletakan telapak tangannya di pintu. Argha senyam senyum menahan tawanya. Ghina menatap anak bontotnya itu.


"Masuk pemilik markas." bunyi suara dari pintu penjara.


Ghina menatap tak percaya ke arah Argha.


"Itu doang?" tanya Ghina tak percaya


Argha mengangguk.


"Coba Gue " kali ini Mira yang penasaran.


Mira melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Argha dan Ghina. Argha tersenyum malu malu.


"Silahkan masuk camer cantik ku." bunyi suara dari pintu penjelara.


Ghina menatap tidak percaya kepada anaknya. Sedangkan Aris, Bayu dan Mira tertawa terbahak bahak. Mereka tidak menyangka Argha akan sejahil itu.


"Uang belanja potong." ujar Ghina kepada Argha.


"Mami numbok." jawab Mira berusaha menahan senyumnya.

__ADS_1


Ghina terpaksa harus mengalah ke anaknya. Mereka masuk ke dalam penjara. Aris melihat keadaab penjara yang luar biasa dingin itu. Benar benar seperti penjara penjara mafia yang berada di luar negeri.


__ADS_2