
Aris dan Arga tidur sambil berpelukan. Gina yang kepalanya mendadak menjadi pusing memilih untuk membuat teh hangat setelah dia memakai kemeja milik Aris.
Gina terus memandang dua sosok laki laki yang begitu disayanginya. Dua laki laki yang menjadi penyemangat hidupnya selama ini.
Setelah mengahbiskan secangkir teh panas miliknya. Gina menggosok gigi kembali. Setelah itu dia ikut naik ke atas ranjang sebelum membaringkan tubuhnya di ranjang Gina mengecup pipi gembul milik Arga dan memberikan kecupan sekilas di bibir Aris. Setelah merasa adil kepada kedua pria tampan itu, Gina membaringkan tubuhnya tepat di belakang Aris.
Aris yang merasakan seseorang berbaring di sisinya membalikjan badannya. Dia melihat Gina yang mulai memejamkan mata.
"Mau di peluk?" tanya Aris kepada istrinya itu.
"Tempat biasa sayang." jawab Gina sambil langsung memasukan kepalanya ke bawah ketiak Aris. Tempat yang menjadi tempat favotir Gina saat tidur di dekat Aris selama ini.
"Ternyata kelakuannya masih sama." ujar Aris sambil mengecup puncak kepala Gina.
Gina tersenyum bahagia. Bagi Gina sekarang yang terpenting Aris masih mencintai dan masih membutuhkan dirinya. Hal di luar itu bagi Gina sekarang adalah sesuatu yang sama sekali tidak penting baginya.
Mereka bertiga tertidur dengan sangat pulas. Beban berat yang selama ini mereka bertiga pikul sudah hilang setengahnya. Hanya tinggal beberapa saja lagi. Aris hanya perlu tau apa penyebab Gina dan Arga pergi dari rumah. Tapi sekarang hal itu tidak perlu cepat diketahui. Bagi Aris yang terpenting Gina dan Arga berada bersama dirinya.
....................................................................................
Pagi harinya Arga terbangun terlebih dahulu. Dia melihat Daddynya memeluk Bundanya. Arga hanya bisa tersenyum saja. Arga sangat bahagia melihat wajah Gina yang sudah tidak ada beban lagi. Arga walaupun masih kecil tetapi dia sangat paham dengan kondisi Bundanya. Setiap hari Arga akan bangun dan melihat wajah Gina yang memiliki beban pikiran. Tetapi pagi ini beban.itu sama sekali tidak terlihat.
Arga turun dari ranjang bessr itu meninggalkan Aris dan Gina. Dia masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah membersihkan mukanya, Arga memilih pakaian yang akan dikenakannya. Selesai berpakaian Arga masih melihat kedua orang tuanya masih tertidur pulas. Arga kemudian berjalan keluar kamar untuk pergi sarapan. Dia melihat jam sudah menunjukkan waktu sarapan. Arga turun sendirian menuju restoran. Dia tadi sudah menghubungi Frenya menanyakan dimana keberadaan uninya itu.
Arga sampai di restoran hotel. Dia melihat keluarga besarnya sudah berkumpul di satu meja besar. Arga berjalan dengan angkuh dan dinginnya. Semua karyawan hotel menunduk menyapa Arga setiap mereka berselisih di jalan.
Arga mengambil beberapa makanan yang menarik bagi dirinya. Setelah mengambil beberapa makanan untuk sarapan. Arga berjalan menuju meja keluarganya.
"Nah loe. Mana Daddy sama Bunda?" tanya Afdhal yang melihat Arga hanya sendirian saja datang.
"Biasalah Pi. Kayak ndak tau aja." jawab Arga.
Semua orang pandang pandangan dengan jawaban Arga. Mereka sama sama mengerutkan kening dengan pertanyaan tidak tau apa makna pernyataan Arga barusan.
Bram dan Bayu yang memang tipe gesrek kalau sudah menyangkut masalah Aris paham dengan apa yang terjadi.
"Jadi Daddy sedang menganiaya Bunda, Ga?" tanya Bram.
Arga yang sedang mengunyah makanannya langsung menatap Bram dengan mata yang membulat.
"Tida Papi. tidak sama sekali. Malahan Bunda terlihat sangat bahagia. Selama kami tinggal di sini Bunda nggak pernah sebahagia itu dalam tidurnya. Tadi Arga lihat Bunda sangat bahagia." jawab Arga sambil kembali memasukan makanan kemulutnya.
"Jadi sekarang posisi Bunda dan Daddy seperti apa?" tanya Bram yang mulai luar biasa keponya.
Arga kemudian menyurukan kepalanya ke dalam ketiak Frenya.
"Arga ngapain?" tanya Frenya yang sudah menahan rasa gelinya.
"Tapi tadi Papi nanyak gimana posisi Bunda dengan Daddy. Tu posisi Bunda dengan Daddy seperti itu sekarang. Tapi nggak sambil duduk melainkan sambil bobok." jawab Arga.
Semua yang ada di meja sarapan tertawa terbahak bahak. Mereka sudah bisa membayangkan sesuatu yang enak enak sudah terjadi tadi malam.
__ADS_1
Arga yang teringat dengan kejadian mati lampu malam tadi merogoh ponselnya. Dia berniat untuk menghubungi Manager bagian teknisi. Arga meminta manager itu untuk datang ke restoran menemui dirinya.
"Permisi Tuan Muda. Ada perlu apa Tuan Muda memanggil saya pagi pagi. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Manager kepada Arga.
"Kenapa tengah malam tadi lampu hotel bisa mati?" tanya Arga dengan wajah serius dan menahan rasa marahnya.
Manager heran dengan berita yang diterimanya.
"Maaf Tuan Muda, tidak ada kejadian mati lampu tadi malam di hotel" ujar manager.
"Jadi maksud kamu, saya bohong gitu!!!!" kata Arga dengan nada dinginnya.
"Tidak Tuan Muda. Saya tidak berani menyalahkan Tuan Muda. Tapi memang itu kenyataannya Tuan Muda, memang tidak ada kejadian mati lampu di hotel." jawab Manager.
"Baiklah. Terimakasih. Silahkan kembali bekerja." jawab Arga.
Arga kemudian kembali terdiam. Dia sangat yakin kalau dikamarnya ada kejadian mati lampu semalam. Tetapi kenapa disaat dia bertanya kepada Manager, Manager mengatakan tidak ada kejadian mati lampu.
"Papi Afdhal, kemaren di kamar Papi Afdhal mati lampu apa nggak?" tanya Arga.
"Nggak." jawab Afdhal yang memang tidak mematikan lampu saat dia memadu kasih dengan Anggel.
"Papi Bram?" tanya Arga lagi.
"Nggak juga. Malahan kamar Papi Bram terang benderang oleh cahaya lampu." jawab Bram mulai usil.
"Kamar Papi Bayu juga nggak ada mati lampu Arga. Masak ia kamar kamu aja yang mati lampu." ujar Bayu yang juga mulai usil.
"Udah udah anggap aja memang mati lampu di kamar Arga tadi malam." ujar Afdhal menengahi.
"Papi memang mati lampu di kamar Arga." ujar Arga kemudian dengan kesal.
"Arga boleh Papi Bram nanyak sesuatu?"
Arga mengangguk setuju.
"Waktu lampu mati. Daddy dan Bunda sama Arga di kasur atau tidak?"
Arga menggeleng. "Nggak. Daddy sama Bunda berada di luar kamar. Makanya Arga teriak teriak. Setelah Arga teriak baru datang Daddy." ujar Arga.
"Hahahahahahahahhahaa. Aris aris." ujar Bayu dan Bram bersamaan.
Mereka kemudian melanjutkan sarapan yang luar biasa tertunda itu hanya gara gara mati lampu. Saat mereka sarapan, Aris dan Gina datang dari arah counter makanan. Mereka duduk di sebelah Arga.
"Sayang kenapa pergi nggak ngomong ngomong." ujar Aris kepada Arga.
"Daddy udah Arga bangunin. Tapi Daddy dengan Bunda sangat menikmati tidurnya. Jadinya Arga pergi sendiri ke sini." ujar Arga yang tidak mau disalahkan oleh siapapun.
"Ris denger bunyinya mati lampu tadi malam khusus di kamar loe?" tanya Bayu sambil tersenyum smirk.
Aris dan Gina saling tatap. Mereka berdua paham dengan situasi yang ada. Arga berarti sudah bertanya kepada keluarga mereka kalau kamar Arga semalam mati lampu.
__ADS_1
"Iya mati. Sebentar, nggak mati lama." ujar Aris sambil tersenyum kesal.
"Oooooo. Jadi walau udah mati lampu tetap nggak bisa naik?" ujar Afdhal.
"Gimana mau naik, baru mau naik ada yang teriak takut mati lampu." ujar Aris.
Gina yang mendengar jawaban dari Aris mencubit mesra suaminya itu. Dia tidak menyangka Aris akan melaporkan kejadian tersebut kepada keluarganya.
"Hahahahaha. Udah sekian bulan nggak hidup sekalinya hidup gagal pulang." ujar Bram merasa puas dengan kesialan Aris.
"Soplak loe." ujar Aris menimpuk kepala Bram dengan serbet.
"Gue kira Ris ada yang akan menyaingi Daniel dan Rani. Eeeeee ternyata gagal maning gagal maning." ujar Bayu semakin semangat mengejek Aris.
Gina menatap Frenya dengan tatapan penuh makna. Frenya yang paham langsung beralih kepada Arga.
"Gha nanti malam bobok dengan Frenya ya. Frenya ada yang mau diceritakan ke Arga." ujar Frenya.
"Nggak pake acara mati lampu kan?" tanya Arga sambil menatap sinis Daddy dan Bundanya.
"Nggak lah, kamar Frenya sama dengan kamar Papi Bram lampu hidup terang benderang." ujar Frenya.
"Tapi di situ ada Tante Sari. Nanti tante Sari ke ganggu lagi." ujar Arga.
"Nggak akan. Kita nanti main ludo bertiga." ujar Sari yang paham dengan kondisi.
"Oke." jawab Arga.
"Daddy nanti malam silahkan matikan lampu. Tapi kalau ada Arga nggak boleh mati lampu. Arga takut." jawab Arga dengan dingin.
Aris dan Gina hanya bisa menggaruk kepala saja mendengar apa yang dikatakan oleh anak mereka itu.
"Uda Niel dan Uni Rani mati lampu juga malam?" tanya Arga dengan antusias.
Frenya dan Sari menutup mulut Arga.
"Arga kita pergi berenang sekarang. Nggak usah duduk sini lagi. Cepat kali kamu besar nantinya." jawab Frenya sambil membawa Arga keluar dari restoran.
"Tapi Nya?" ujar Arga yang menolak pergi
"Nggak ada tapi tapi. Arga mau cepat mati lampu juga?"
"Nggak Nya. Arga takut." jawab Arga.
Mereka bertiga kemudian pergi meninggalkan restoran. Stefen yang emang dasar sedang bucin ikut ikutan pergi menyusul Frenya.
"Woi bucin jangan diiringi terus." teriak Bram.
"Biar bucin dari pada nggak berani ngelamar." balas Stefen telak mengenai Bram.
"Mampus loe." ujar Aris dan Bayu serempak
__ADS_1