
Sayang, kamu nanti jam berapa pulang dari kantor?" tanya Gina kepada Aris saat dia memakaian dasi kerja Aris.
"Kenapa sayang? Tumbennya kamu nanyak kayak gitu?" tanya balik Aris yang penasaran dengan maksud pertanyaan dari Gina.
"Gini sayang, aku udah dia hari ini terus merasakan kram kram di perut ini. Membuat aku tidak nyaman jadinya sayang. Makanya aku pengen ke dokter." jawab Gina sambil menatap Aris.
"Sekarang aja pergi. Aku nggak ada meeting. Lagian ngapain harus nunggu sore sayang, untuk kamu dan Blip apapun akan aku lakukan." kata Aris.
"Sekarang kamu bersihkan diri, kita akan pergi setelah sarapan." perintah Aris kepada Gina.
"Kamu sarapan dulu, nanti aku nyusul."
"Aku ke bawah dulu."
Gina masuk ke dalam kamar mandi. Dia sangat suka Aris yang selalu mendahulukan kepentingannya dengan Blip dari pada kepentingan kerjaannya.
Aris mengambilkan pakaian yang akan dipakai oleh Gina. Aris memilihkan dress babydool warna navy. Warna yang serasi dengan warna pakaian yang dipakai Aris sekarang.
Setelah mengambilkan pakaian Gina, Aris turun menuju ruang makan. Dia melihat di sana keluarganya sudah menunggu dirinya dan Gina. Mami heran kenapa tidak ada Gina di sebelah Aris. Padahal biasanya mereka selalu turun berdua.
"Loh sayang Gina mana?" tanya Mami kepada Aris.
"Gina sedang di kamar mandi Mi. Tadi katanya udah beberapa hari ini dia merasakan kram di perutnya. Makanya sekarang rencana Aris akan bawa Gina ke rumah sakit untuk kontrol kandungan." Aris menjelaskan kepada Mami dan keluarganya tentang keadaan Gina.
"Boleh Mami ikut?" tanya Mami.
"Mami tapi kita ada meeting di Soepomo Grub." Papi mengingatkan Mami tentang agenda meeting mereka yang sudah menunggu.
"Maaf Pi lupa." jawab Mami.
"Mami, Aris sama Gina sarapan di atas aja. Boleh minta tolong untuk ngambilin sarapannya Mi?" tanya Aris sambil menunduk.
"Boleh sayang. Ngapain harus menunduk." jawab Mami.
Mami mengambilkan sarapan untuk Aris dan Gina. Dua piring nasi goreng lengkap dengan ayam goreng dan juga telur mata sapi serta timun dan tomat sebagai lalapannya.
"Bram, loe pimpin meeting ya. Nggak mungkin gue bawa Gina sore. Gue nggak tau tu meeting jam berapa siapnya." Aris memerintah Bram untuk memimpin rapat dewan direksi itu.
"Serahkan sama gue." jawab Bram.
Aris membawa sarapannya ke kamar mereka di lantai dua. Aris tidak ingin Gina cepat cepat menyelesaikan mandinya. Biarkan Gina menikmati hari harinya untuk bisa mandi berlama lama. Sebentar lagi Blip akan lahir, maka waktu Gina akan banyak untuk Blip.
"Sepertinya Gue harus mengajak Gina jalan jalan ke taman atau ke mall. Gue harus menghabiskan hari hari sebelum kelagiran Gina untuk berduaan saja dengan dirinya. Ah sudah aku putuskan, mulai hari ini aku cuti." kata Aris.
Aris mengeluarkan ponselnya. Dia akan menghubungi Papi mengabarkan kalau dia akan mengambil cuti mulai hari ini. Aris menunggu Papi mengangkat panggilan darinya.
[[Assalamualaikum Ris. Ada apa pagi pagi udah nelpon Papi.]] kata Papi yang heran dengan panggilan dari Aris. Padahal mereka tadi baru bertemu.
[[ Begini Pi. Aris udah memutuskan akan mengambil cuti mulai hari ini. Aris ingin Gina menikmati hari hari sebelum dia melahirkan Pi. Jadi rencananya Aris akan mengajak Gina jalan jalan. Boleh ya Pi. Urusan perusahaan kasih ke Bram aja Pi. ]] kata Aris yang menyampaikan keinginannya untuk mengambil cuti.
[[Apa kamu udah ngomong dengan Bram?]] tanya Papi sambil melihat ke arah Bram.
Bram yang nggak tau apa apa menggeleng dan mengangkat bahunya.
[[ Belum Pi. Tapi Aris yakin Bram nggak nolak. Sekalian untuk melatih Bram memimpin perusahaan Pi. Bentar lagi dia tapi akan dikirim ke luar.]] kata Aris meyakinkan Papinya.
[[ Berapa lama mau cuti?]] tanya Papi yang akhirnya pasrah dengan bujuk rayu Aris.
[[ Nah gitu Pi. Satu bulan sebelum melahirkan dan tiga bulan setelah melahirkan.]] jawab Aris dengan mantap.
[[ Itu cuti aturan mana Ris?]] tanya Papi yang heran dengan lamanya Aris mengambil cuti.
[[ Aturan Aris sediri Pi. ]] jawab Aris.
[[ Makasi Papi. Aris tutup dulu.]] kata Aris mengakhiri percakapannya dengan Papi.
Gina yang saat memakai pakaiannya mendengar semua yang dikatakan Aris hanya bisa geleng geleng kepala. Suaminya ini masih memendam rasa bersalahnya kepada Gina.
"Kamu udah siap sayang?" tanya Aris yang melihat Gina sudah rapi.
"Udah dari tadi. Aku juga denger apa yang kamu omongin dengan Papi sayang." jawab Gina.
Gina duduk di sebelah Aris. Dia mengambil piring sarapan Aris. Gina menyuapi Aris sarapannya. Mereka makan sepiring berdua.
"Sayang aku sangat suka kamu mengambil cuti cepat. Aku ingin kita berdua menikmati hari hari ini sayang. Tapi aku untuk mengatakannya malu sayang." kata Gina sambil memeluk pinggang Aris.
"Hahahah. Sekarang semuanya sudash beres. Aku udah cuti. Jadi nggak ada telpon yang mengganggu, tidak ada meeting yang harus dikerjakan." kata Aris kepada Gina.
"Tapi kalau kak Bram butuh bantuan, kamu harus tetap membantu sayang. Nggak boleh nggak." perintah Gina kepada Aris.
__ADS_1
"Aman sayang. Tapi aku nggak akan meninggalkan kamu. Kemana aku pergi kamu akan alu bawa."
"Ke kamar mandi juga kamu bawa? Ogah aku sayang." jawab Gina.
"Hahahaha, nggak lah. Ngapain juga di bawa. Kecuali pergi mandi barulah di bawa." jawab Aris sambil mengelus perut buncit Gina.
Aris sangat suka mengelus dan sedikit menggelitik perut Gina. Setelah mengelus dan menggelitik Aris akan mendapat hadiah sebuah tendangan dari anak dalam perutnya. Aris mengingat kejadian malam itu.
"Sayang, aku pengen peluk." kata Aris yang baru selesai membersihkan badannya.
"Peluk aja sayang." kata Gina kepada Aris.
Aris memeluk Gina. Dia meletakan tangannya di perut Gina. Aris mempraktekan apa yang baru siap di bacanya tadi di kantor saat jam istirahat. Dalam buku yang dibacanya peluk dan mainkan jari kamu di perut istri kamu, maka kamu akan mendapatkan hadiah tendangan dari si kecil.
"Sayang kenapa tangan kamu jalan jalan di perut aku sayang." kata Gina kepada Aris.
"Aku lagi gangguin Blip. Aku ingin Blip menendang tangan aku sayang." ujar Aris.
"Oo" jawab Gina yang heran dengan gaya Aris.
Ternyata setelah lelah Aris menari narikan tangannya di atas perut Aris, tetapi dari Blip sama sekali tidak ada reaksi apapun. Aris menghentikan gerakannya.
"Sayang, kamu mau merasakan Blip menendang?" tanya Gina kepada Aris.
"Emang dia udah nendang sayang?" tanya Aris penasaran.
"Udah, tadi baru aku merasakannya. Sini berbaring. Aku juga akan berbaring." kata Gina.
Gina dan Aris berbaring di atas kasur. Gina mengambil tangan Aris. Gina meletakan tangan itu di sisi sebelah kanan perutnya. Tiba tiba Aris kaget perutnya di tendang oleh Blip dari dalam.
"Sayang dia nendang." kata Aris kepada Gina.
"Iya dia sudah mulai mau menendang sayang. Kamunya aja yang jarang megang perut aku." jawab Gina kepada Aris.
Aris tersenyum senyum mengingat momen itu. Gina menjadi heran kenapa Aris senyam senyum nggak jelas.
"Sayang kamu kenapa senyam senyum nggak jelas gitu." kata Gina kepada Aris.
"Aku ingat waktu Blip pertama kali nendang tangan aku sayang. Aku ingat betapa bahagianya aku hari itu." kata Aris kepada Gina.
"Ayuk jalan. Siap kontrol kita akan pergi berjalan jalan." lanjut Aris.
Gina pergi membersihkan giginya.
"Sayang aku tunggu di bawah ya." teriak Aris.
"Iya sayang" jawab Gina.
Aris membawa semua piting kotor habis makan mereka berdua. Aris tidak mau Gina yang membawa piring kotor itu ke dapur. Aris meletakan semua piring kotor di meja bar yang berada di depan dapur bersih.
"Loh Tuan Muda kenapa tidak panggil saya saja. Saya bisa menjemputnya ke atas." kata seorang maid.
"Nggak banyak juga maid. Sekali sekali tidak apa apa." jawab Aris.
Para maid di rumah utama sangat bersyukur dengan adanya Nyonya muda mereka. Tuan muda mereka yang biasanya dinginndan tidak pernah pulang ke rumah utama menjadi ramah dan kembali tinggal di rumah utama.
"Sayang ayuk." kata Gina kepada Aris.
Aris menggandeng tangan Gina. Mereka akan pergi ke rumah sakit. Harinini Aris tidak memakai sopir. Aris sendiri yang akan melajukan mobilnya.
"Sayang nggak pake sopir?" tanya Gina.
"Nggak tanpa sopir tanpa pengawal. Kita akan jalan jalan berdua saja." jawab Aris.
"Aku kangen berdua dengan kamu." lanjut Aris.
"Sama" jawab Gina.
Mereka kemudian masuk ke dakam mobil. Aris melajukan mobilnya menuju rumah sakit Harapan Kita.
"Sayang aku pengen lihat ruangan Daniel di sana. Apakah bisa smya sayang?" tanya Aris kepada Gina.
"Bisalah. Nanti kita akan hubungi Daniel. Semoga saja pasiennya tidak sedang banyak. Denger denger dari Sari dan Mira, Daniel menjadi dokter favorit di rumah sakit sekarang." tutur Gina dengan rasa bangga yang terdengar dari nada bicaranya.
"Dia memang jenius sayang." jawab Aris.
Tak terasa mobil yang dikemudikan oleh Aris telah memasuki gerbang rumah sakit Harapan Kita. Aris memarkir mobilnya di parkiran biasa.
"Ayuk turun."
__ADS_1
Aris menggandeng tangan Gina untuk turun dan masuk ke dalam rumah sakit. Mereka langsung menuju ruang praktek dokter Ranti.
Suster yang melihat Gina dan Aris yang baru datang langsung menghampiri mereka.
"Nyonya mau kontrol dengan dokter Ranti?" tanya suster.
"Iya, apakah dokter Ranti sedang ada pasien?" tanya balik Gina.
"Tidak ada Nyonya. Nyonya silahkan masuk." kata suster sambil membukakan pintu ruang praktek dokter Ranti.
Dokter Ranti yang melihat siapa yang datang langsung berdiri dan menundukkan sedikit kepalanya ke arah Gina. Gina membalas dengan menganggukkan kepalanya sedikit saha. Dia tidak mau Aris menjadi curiga.
"Silahkan duduk Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya dkkter Ranti.
"Begini dokter, beberapa hari ini saya merasakan kram di perut saya dokter. Saya merasakannya sudah tiga hari ini." kata Gina menjelaskan kepada dokter Ranti apa yang dirasakannya.
"Kram saat mau melahirkan itu biasa Nyonya. Kadang bayi di dalam perut sedang mencari jalan keluarnya. Makanya pergerakannya aktif sehingga mengakibatkan kram perut." kata dokter Ranti.
"Mari Nyonya kita periksa ke kamar periksanya." kata dokter Ranti.
Gina dan Aris pergi ke kamar periksa. Mereka akan melakukan pemeriksaan terhadap kandungan Gina.
"Nah Nyonya, semuanya dalam keadaan baik baik saja Nyonya, tidak ada yang perlu anda cemaskan. Semuanya dalam keadaan baik baik saja. Air ketuban masih banyak. Janinnya juga sehat." kata dokter Ranti menjelaskan kepada Gina dan Aris keadaan Blip di dalam sana.
"Terimakasih dokter. Dua puluh enam hari lagi kami akan ke sini." kata Aris.
"Kami permisi dulu dokter." kata Aris.
Aris dan Gina keluar dari ruangan dokter. Mereka sekarang akan pergi berjalan jalan.
"Kemana kita sayang?" tanya Gina kepada Aris.
"Kemana mobil membawa kita aja sayang. Aku juga nggak tau mau kemana ini." jawab Aris dengan polosnya.
" Jadi kita jalan jalan dengan mobil?"
"Iyalah. Masak jalan kaki. Akunya kuat kamunya yang nggak." kata Aris kepada Gina.
"Kita ke taman bermain aja sayang." ajak Gina yang pengen sekali mengunjungi taman bermain.
"Aku mau, tapi kamu janji tidak akan naik permainan apapaun." kata Aris menatap Gina
"Janji sip. Nggak akan naik apapun." jawab Gina.
Aris memytar arah mobilnya. Mereka sekarang akan menuju taman bermain. Tidak membutuhkan waktu lama, Aris dan Gina sudah sampai di parkiran taman bermain. Aris memarkir mobilnya di bawah pohon yang rindang.
"Wah akhirnya ke sini juga." kata Gina sambil berteriak.
"Sayang malu." kata Aris.
Gina melihat ke sekelilingnya banyak terlihat ibuk ibu, remaja perempuan yang berbisik bisik menertawakan kekampungan Gina.
"Wah sayang, ini yang namanya taman bermain toh? Aku baru kali ini ke sini sayang. Wah ternyata apik tenan. Kalau tau gini dari kemaren aku mintak kamu ajak le sini." kata Gina dengan noraknya. Gina sengaja melakukan hal itu untuk menarik perhatian orang orang.
"Sayang sayang kamu emang lah ya. Sengaja membuat orang menjelekan kamu." kata Aris sambil menggandeng tangan Gina.
Mereka masuk ke dalam taman bermain. Gina melihat lihat sebuah kebun bunga yang sangat indah. Gina berpose dan meminta Aris untuk memfhoto dirinya.
"Sayang foto aku ya." kata Gina sambil menyerahkan ponselnya.
"Pake ponsel aku aja." jawab Aris.
Gina berfoto di semua tempat yang diinginkannya. Aris selalu mengabadikan setiap gaya dari istrinya itu.
Aris kadang mengambil foto candid Gina. Gina kadang juga meminta Aris untuk berfhoto berdua dengan dirinya.
Sebuah ide kemudian terlintas di pikiran Aris.
'Kayaknya foto maternity bagus juga ini. Bolehlah untuk kegiatan besok. Kami berdua sudah lama tidak berfhoto berdua.'kata Aris.
"Sayang napa bengong?" tanya Gina yang heran melihat Aris bengong seperti orang sedang banyak pikiran.
"Nggak ada sayang." jawab Aris.
Aris tidak mau mengatakan apa yang sedang dipikirkannya kepada Gina. Aris mau ini menjadi kejutan bagi Gina nantinya.
Mereka bermian di sana sampai sore hari. Mereka juga menikmati makan siang di taman bermain itu. Setelah jam menunjukkan pukul empat sore. Mereka baru beranjak dari taman bermain.
"Sayang capek tapi asik. Besok kemana lagi?" tanya Gina saat mereka sudah berada di dalam mobil.
__ADS_1
"Besok aja kita pikirin." jawab Aris.