
Ghina pagi pagi sekali sudah bangun dari tidurnya. Dia menuju dapur untuk memasak sarapan. Betapa kagetnya Ghina saat sampai di dapur ternyata Mira dan Frenya sudah mulai memasak sarapan.
"Wow, ada angin apa ini sampai sampai dua orang yang jarang masuk dapur mendadak berada di dapur sepagi ini." ujar Ghina yang memang keheranan melihat dua wanita itu sudah berada di dapur.
"Tenang aja Bun, ini belum mulai masaknya. Baru motong motong aja. Bagian memasak ya tetap Bunda." jawab Frenya sambil memperlihatkan hasil kerjanya dengan Mira.
"Hem Bunda kira kamu dengan Mami Mira beneran udah masak. Jadi Bunda bisa santai santai seperti di pantai pagi ini." ujar Ghina lagi.
Ghina memakai apronnya. Dia mulai mengolah semua bahan masakan yang sudah disiapkan oleh Mira dan Frenya.
Ghina memasak nasi goreng dan juga mie goreng dilengkapi dengan telur dadar yang sengaja di goreng kering. Ghina juga tidak lupa membuar bubur nasi untuk Aris. Hari ini adalah hari terakhir Aris memakan bubur nasi sesuai perintah dokter.
"Nya bikin minum untuk semua keluarganya." Ghina meminta Frenya untuk membuat air minum bagi semua anggota keluarga.
Frenya sibuk dengan membuat minuman untuk semua anggota keluarga. Sedangkan Mira memotong notong buah buahan.
Setelah semua pekerjaan selesai. Ghina di bantu Frenya menata meja makan. Mereka menghidangkan semua menu sarapan di atas meja.
"Nya, Bunda bersih bersih dulu. Apa semua barang barang kamu udah dirapihin?"
"Udah Bun. Bunda gimana?" tanya balik Frenya kepada Ghina.
"Belum. Tadi malam ada insiden." ujar Ghina.
"Insiden apaan Bun?" Frenya pura pura bertanya tentang insiden apa yang terjadi.
"Itu, Daddy kamu semalam mau main, eeee tiba tiba adek kamu teriak teriak di depan kamar ngomong takut." Ghina memulai ceritanya tentang kejadian tadi malam.
"Argha takut? Mana ada Bun dia merasakan takut. Bunda aneh deh." ujar Frenya yang tanpa sadar menambah kecurigaan Ghina terhadap kejadian semalam.
Frenya kemudian baru tersadar kalau mulutnya udah asal ngomong. Hal ini membuat Ghina terlihat berpikir.
'Waduh jangan jangan Bunda berpikir tentang.......... Mampus gue asal ngomong aja' ujar Ghina sambil memukul pelan bibirnya.
"Kamu bener juga Nya. Argha mana ada mengenal kata takut. Bunda yakin kejadian semalam ada sutradaranya ini." ujar Ghina sambil menatap Frenya.
"Ais nggak boleh suuzon Bun dosa." ujar Frenya berusaha mengalihkan pikiran Ghina.
__ADS_1
"Hm Bunda udah tau ini ulah siapa. Tapi Bunda berterimakasih banget sama tu sutradara." ujar Ghina yang membuat Frenya mengangkat kedua alisnya.
"Iya. Jadi Bunda nggak dapet capek dauble Nya. Bayangin aja pagi capek sampe malam, eeeee malam mau capek lagi sampe subuh. Bisa masuk rumah sakit Bunda." jawab Ghina sambil tersenyum bahagia. Ternyata semua yang terjadi tadi malam sudah dirancang oleh seseorang, Argha hanya tim eksekusi dengan semua pikiran jahilnya.
"Kok jadi ngobrol frenha. Ayuk kita harus berkemas."
Ghina dan Frenya kemudian pergi kekamar masing masing.
"Waduh ni anak masih tidur. Daddynya mana ya?" ujar Ghina yang tidak melihat Aris di atas kasur.
"Sayang, kamu dimana?" teriak Ghina.
"Mandi sayang" jawab Aris dari kamar mandi.
Ghina kemudian membangunkan Argha.
"Gha mandi dengan Daddy sana. Bunda mau ngeberesin kamar, kita akan berangkat setelah selesai sarapan."
Argha menggeliatkan badannya yang terasa sangat segar.
"Oke Bun." jawab Argha dengan semangat akan mandi dengan Daddynya.
"Yah Daddy selesai." ujar Argha dengan raut wajah kecewa.
"Mandi sendiri sana, udah gede juga. Argha nggak akan takut lagi karena udah sama Bunda dan Daddy." ujar Aris yang baru sadar dikerjai anaknya tadi malam.
"Hahahahahahahaha" Ghina tertawa melihat wajah masam Argha.
"Gha Gha emang kamu aja yang bisa ngerjai orang. Daddy juga ahli Argha." ujar Aris sambil melongokkan kepalanya ke dalam kamar mandi.
"Serah Daddy." balas Argha sambil berteriak keras.
"Anak sama Bapak sama aja. Sama sama jail." ujar Ghina sambil menatap Aris.
"Lha ibunya juga jail coba. Masak nyalahin Bapaknya aja. Curang itu namanya." balas Aris sambil.
Cup. Sebuah ciuman mendarat di bibir Ghina.
__ADS_1
"Kebiasaan" ujar Ghina sambil tersenyum senang. Kebiasaan suaminya itu tetap masih ada dari awal pernikahan mereka.
Ghina sudah selesai membereskan kamar dan memasukan semua pakaian dia dan Aris ke dalam koper. Sedangkan pakaian Argha sudah dirapikan suster Rina.
Argha yang juga telah selesai bersiap siap memakai pakaian yang sama dengan Daddynya. Mereka berdua terlihat sangat tampan memakai baju kaos warna putih serta celana jins dan sepatu kets.
"Bunda juga bawa pakaian kayak ginikan?" tanya Argha kepada Ghina yang baru selesai mandi.
"Bawa kenapa?"
"Kita pakai baju sama aja bertiga. Masak Papi Bayu dan Mami Mira sering pakai baju sama saat pergi pergi. Kita bertiga mah jarang." ujar Argha membujuk Bundanya agar memakai pakaian yang sama.
"Oke sip" jawab Ghina yang memang sudah berencana memakai pakaian yang sama dengan suami dan kedua anaknya.
"Bunda siap" ujar Ghina yang terlihat sangat cantik dan segar.
Ghina kali ini tidak menggerai rambutnya tetapi mengikat separo rambut panjangnya.
"Bunda cantik. Daddy harus hati hati di Bandara Dad." ujar Argha sambil tersenyum jail.
"Hati hati kenapa?" Aris pura pura tidak tau maksud perkataan Argha.
"Hati hati supaya Bunda nggak diserempet orang lain. Daddykan udah kelihatan seperti om om perut buncit." teriak Argha sambil berlari menjauh dari Daddynya.
"Hahahahahahahaha" Ghina tertawa bahagia mendengar apa yang dikatakan Argha.
"Sayang anak kamu memanglah ya." ujar Aris yang tidak menyangka anak bungsunya bisa mengatakan hal seperti itu.
"Anak kamu juga sayang. Udah deh dari pada ngeributin Argha, mari kita turun." ujar Ghina menggandeng tangan kanan suaminya.
Aris menarik koper di tangan kirinya. Mereka sampai yang pertama kali di meja makan.
"Mana yang lain Bik?" tanya Aris kepada Bik Imah yang sedang menyusun koper koper di ruang tamu.
"Masih ada yang bersiap siap Tuan Muda. Sedangkan kedua Tuan Besar mereka sedang berbincang dengan Tuan Argha di kamar Tuan Besar." jawab Bik Imah memberitahukan perihal kemana semua orang.
Aris memilih untuk duduk dan menunggu yang lainnya di meja makan. Ghina berjalan mendekati Aris dengan membawa teh jahe kesukaan Aris.
__ADS_1
"Sayang ini minumnya" ujar Ghina sambil meletakan air minum di depan Aris.
Tidak beberapa lama semua orang sudah berkumpul untuk sarapan. Mereka semua makan dengan lahap. Setelah selesai sarapan, semua orang masuk ke dalam mobil. Mobil bergerak menuju bandara. Hari ini juga semua keluarga Soepomo akan pulang kembali ke ibu kota negara I.