
Tak terasa sudah lima hari Gina berada di daerah itu. Saat ini dia dan Meri sedang menuju suatu daerah yang ada air terjunnya. Meri yang tau Gina sangat suka dengan alam selalu mengajak Gina ke tempat-tempat yang pemandangannya indah. Perjalanan yang memakan waktu selama dua jam itu terbayar lunas dengan pemandangan yang memanjakan mata siapa saja yang melihatnya. Gina menarik nafas dalam-dalam.membersihkan paru-parunya dan mengisinya dengan udara bersih kembali. Meri yang melihat tingkah Gina tersenyum kecil.
Gina kemudian meminta Meri untuk mengambil beberapa fhotonya. Gina punya rencana sendiri untuk fhoto itu nantinya. Meri mengambil beberapa fhoto Gina dan sengaja mengambil nama dari tempat yang mereka tuju. Meri juga tau Gina memiliki ide untuk fhotonya. Pertama Meri memnag tidak tau, tapi karena setiap ke suatu tempat Gina meminta Meri mengambil gambarnya, Meri menjadi paham akan motif Gina.
Mereka berdua asik menikmati pemandangan yang ada, pemandangan yang sungguh indah. Ciptaan Tuhan memang selalu indah dan bermanfaat. Saat sudah lelah bermain, Gina memilih untuk makan disebuah warung bakso yang ada di tempat wisata itu.
Saat sedang menikmati baksonya, Gina melihat seorang perempuan yang dia merasa kenal sedang duduk dimeja kasir warung bakso itu. Gina kemudian menuju perempuan tersebut. Gina dan perempuan itu sama-sama terkejut dan tidak menyangka akan bertemu disitu.
"Mira?"
"Gina?"
Mereka bersamaan memanggil nama.
"Lho kenapa disini Gin?"
"Gue lagi liburan. Udah lima hari gue di sini. Loe ngapin bisa disini?"
"Kampung gue kan disini, warung ini juga salah satu warung bakso bokap gue. Kebetulan hari ini kasir berhalangan masuk. Jadi gue yang diminta untuk menungguinya. Ternyata emang tidak sia-sia aku hari ini bekerja di sini." kata Mira sambil memeluk Gina.
"Gue juga nggak nyangka akan bertemu lho di sini. Padahal seluruh tempat di daerah ini udah gue jelajahi. Tapi tak satupun orang yang gue kenal berada di sini. Eeee hari ini gue bertemu dengan loe. Gue yakin hari-hari gue disini akan lebih menyenangkan." Kata Gina.
"Kita duduk di situ yuk Gin. Hari ini kamu bebas makan sepuasnya bakso di warung gue ini." kata Mira.
Gina dan Mira kemudian bercerita di warung itu. Tak terasa hari sudah mulai gelap. Meri membawa Gina untuk pulang. Tapi Gina sempat janjian dengan Mira untuk bertemu lagi di warungnya besok.
"Besok kita ketemu disini aja ya Mir. Gue kesini lagi aja besok."
"Alah ngomong aja kalau loe, suka makan baksi gratis. Hahahahaahahaha." Mira tertawa mengejek Gina. Meri yang mendengar Mira sedang menertawakan Gina hendak melabrak Mira. Tapi Gina melarang dengan lirikan tajamnya.
Gina dan Meri meninggalkan daerah air terjun itu untuk pulang ke rumah beristirahat. Dijalan Meri berhenti untuk membeli makan malam mereka. Meri tidak sempat lagi untuk memasak. Sampai di rumah Gina dan Meri membersihkan diri. Setelah itu dilanjutkan dengan makan malam. Gina yang sudah lelah langsung saja pamit untuk tidur terlebih dahulu. Badannya luar biasa capeknya, seharian main outbond.
...----------------...
Hari ini adalah hari keputuaan tentang kerjasama perusahaan Soepomo dengan perusahaan Wijaya. Aris sudah terlihat rapi dengan jasnya berwarna Navi dipadukan dengan kemeja putih dan celana dasar warna nevi. Aris terlihat sangat tampan.
Pertemuan kedua pengusaha sukses itu akan dilakukan di kantor utama perusahaan Soepomo. Aris dan Bram sudah menunggu kedatangan Tuan Besar Wijaya dan asistennya Pak Ichsan.
Tak berapa lama, Tuan Wijaya dan Ichsan sudah datang, mereka langsung diantar masuk kedalam ruangan meeting diantar langsung oleh resepsionis.
Tok tok tok
"Masuk." kata Bram dari dalam ruangan.
"Permisi tuan. Tuan Wijaya dan Tuan Ichsan sudah datang." kata resepsionis.
"Silahkan masuk Tuan Wijaya" kata Bram. Resepsionis itu memberikan jalan kepada Tuan Wijaya dan Tuan Ichsan untuk masuk kedalam ruangan meeting. Keempat pria itu langsung saling berjabat tangan.
"Bagaimana kabar Anda Tuan Wijaya?" kata Aris.
"Baik Tuan Aris." Jawab Tuan Wijaya dengan tenang.
"Bagaimana perjalanan Anda, lancarkan."
"Alhamdulillah lancar. Kami datang kemaren, dan langsung mengcek segala kegiatan di sini." kata Tuan Wijaya.
Kemudian resepsionis tadi datang kembali sambil membawa minum dan cemilan.
"Silahkan dinikmati Tuan Wijaya, Tuan Ichsan" kata Aris dengan sopan.
__ADS_1
Mereka berempat kemudian meminum minuman yang sudah disediakan oleh resepsionis tadi.
"Kita langsung saja ya Tuan Wijaya, dengan agenda meeting kita hari ini." kata Tuan Aris.
"Baiklah saya setuju. Saya paham dengan kesibukan Tuan Aris."
"Kita sama-sama sibuk Tuan Wijaya. Saya tau perusahaan Tuan sedang berkembang dengan pesat." kata Aris dengan suara kekaguman yang tidak bisa disembunyikannya.
" Tidak juga Tuan Aris." Tuan Wijaya tetap merendah.
"Baiklah Tuan Wijaya, setelah saya membaca proposal dari perusahaan Tuan dan Presentasi lima hari yang lewat, saya setuju dengan kerjasama kita ini. Saya berharap perusahaan Wijaya tidak akan mengecewakan perusahaan Soepomo. Karena kerjasama yang sekarang akan menentukan kerjasama kita selanjutnya." kata Aris dengan dinginnya.
"Baiklah Tuan Aris, Saya yakinkan kepada Tuan Aris, perusahaan saya tidak akan membuat Tuan Aris kecewa." Tuan Wijaya meyakinkan Aris.
"Baiklah. Sepakat. Mulai hari ini kita akan melakukan kerjasama. Semoga kedepanjya berjalan dengan baik." Tuan Aris dan Tuan Wijaya saling berjabat tangan tanda kerjasama kedua perusahaan akan dimulai.
Bram kemudian mengambil berkas yang harus ditanda tangani Tuan Wijaya dan Tuan Aris.
"Silahkan dibaca dulu Tuan. Kalau ada yang tidak berkenan akan kita bahas bersama kembali." kata Bram sambil mengajukan berkas kontrak kepada Tuan Wijaya.
Tuan Wijaya dan asistennya membaca berkas kontrak itu dengan teliti. Mereka tidak mau ada pihak yang akan dirugikan karena kerjasama ini. Setelah membacanya Tuan Wijaya tersenyum
"Baiklah Tuan Aris, apa yang ada di dalam kontrak ini tidak ada yang menurut saya merugikan saya atau Tuan. Saya harus tandatangan dimana ini?" kata Tuan Wijaya.
Bram kemudian meminta Aris untuk tandatangan kontrak itu terlebih dahulu, baru setelahnya Tuan Wijaya. Mereka masing-masing mendapat satu surat kontrak kerjasama itu.
Setelah bercakap-cakap beberapa hal yang dirasa kurang penting. Tuan Wijaya pamit kepada Aris. Beliau masih ada meeting berikutnya. Begitu juga dengan Aris dia juga ada meeting setelag bertemu Tuan Wijaya.
"Bram semiga dengan kontrak kerjasama dengan perusahaan Wijaya, membuat gue bisa dekat dengan Gina."
"Lho kok yakin ya Ris. Gina anak dari Tuan Wijaya."
"Kita lanjut meeting aja Bram. Gue mau cepat pulang hari ini." kata Aris yang meminta Bram cepat menjalankan meeting dengan dewan direksi. Bram hanya geleng-geleng kepala saja.
...----------------...
Tuan Wijaya yang sudah tidak sabar ingin kembali ke rumah utama. Langsung saja pulang hari itu juga ke Padang, dia hanya meminta Ichsan untuk menggantikannya meeting dengan perusahaan TJ.
"Assalamualaikum" kata Tuan Wijaya yang sampai rumah sudah malam.
Nana yang sesang berbicara dengan Afdhal di ruang tamu terkejut mendengar suara Ayah di depan pintu rumah itu.
"Ayah, kenapa pulang sekarang? Batalkah kerjasamanya?" kata Nana sambil mencium tangan ayah.
"Kita duduk dulu yok Na. Baru nanti ayah akan cerita." kata Ayah sambil mendudukkan pantatnya di kursi ruang tamu.
"Jadi gimana yah? Sukses atau tidak" kata Afdhal
Nana kemudian datang membawa tiga cangkir teh hijau dan tiga piring puding buah.
"Ayah minum dulu tehnya. Nanti kita lanjutkan ceritanya." Nana menyuruh ayah untuk minum teh terlebih dahulu.
Ayah kemudian meminum teh hijau buatan Nana yang rasanya tidak pernah berubah dari dulu.
"Begini, sepertinya kita harus menelpon Gina untuk menyuruhnya kembali ke sini." kata Ayah
"Jadi apakah hasilnya di tolak Ayah?" kata Afdhal.
"Tidak. Kontrak kerjasama yang kita ajukan berhasil. Ayah dan Tuan Aris sudah menandatangani surat kontraknya."
__ADS_1
"Jadi kenapa kita harua menyuruh Gina dan Tante Meri pulang. Apakah sudah aman?" kata Afdhal.
"Belum. Tapi kita akan mengurus semua kepindahan kita ke ibu kota. Ayah maunya dalam akhir minggu ini kita sudah menetap di ibu kota."
Kemudian Afdhal memanggil anak buahnya. Dia meminta mereka untuk menjemput Gina dan Meri malam ini juga. Afdhal kemudian mengambil ponselnya di atas meja. Selanjutnya menelpon Gina.
Gina yang mendengar suara ponselnya lalu melihat siapa yang menelponnya malam-malam begini. Saat nama yang tertulis di ponselnya kata UDA, Gina langsung mengangkat telpon itu.
"Hallo, Assalamulaikum Uda"
"Waalaikum salam Gin. Apakah kamu sudah tidur?"
"Belum Uda. Kenapa uda nelpon malam-malam begini?" Gina penasaran karena Afdhal menelponnya malam-malam.
"Begini, Ayah sudah berhasil menjalin kerjasama dengan Aris. Jadi malam ini juga kamu berkemas-kemas. Katakan juga kepada tante Meri. Anak buah kakak sudah dalam perjalanan menuju kesana. Besok subuh subuh kamu sudah akan berangkat ke Padang." Afdhal memberi perintah yang jelas kepada Gina.
"Baiklah Uda. Gina akan memberitahu tante Meri untuk bersiap-siap. Oh ya Ayah dan Nana apakah sehat uda?"
"Sehat Gin. Ayah dan Nana sedang di kamar. Ayah baru saja pulang dari Ibu kota."
"Baiklah Uda. Gina tutup telponnya dulu. Gina akan beritahu Tante Meri untuk berkemas."
"Assalamualaikum Uda."
"Waalaikumsalam Gina."
Gina kemudian menuju kekamar Tante Mei.
"Assalamulaikum tante?"
"Waalaikumsalam Gin." kata Tante Meri sambil membuka pintu kamarnya.
"Ada apa Gin? Kamu tidak bisa tidur?" kata Meri dengan cemasnya.
"Tudak tante. Sebentar ni Uda Afdhal nelpon, katanya kita harus bersiap-siap sekarang, karena besok subuh kita haris berangkat ke Ibu kota."
"Jadi, Tuan Besar sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan Soepomo?" tanya Meri
"Alhamdulillah sudah tante. Ayah sudah berhasil menjalin kerjasama dengan perusahaan Soepomo. Makanya ayah meminta kita untuk pulang." kata Gina.
"Baiklah Gin. Kita berkemas lagi. Besok tinggal berangkat."
Gina dan Meri kemudian bersiap-siap untuk berkemas-kemas barang mereka.
...----------------...
Aris yang sudah lelah seharian bekerja langsung saja merebahkan badannya di kasur empuk itu. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Terlihat panggilan dari Putri. Aris sebenarnya malas mengangkat telpon itu. Tapi dari pada nanti Putri membuat ribut kantor, akhirnya Aris mengangkat telpon dari putri
"Sayang, kenapa kamu tidak pernah menghubungi ku lagi?" Putri terdengar merajuk. Aris hanya memanyunkan bibirnya saja muak mendengar gaya bicara Putri.
"Maaf Put. Aku sesang sibuk. Ini saja masih membaca berkas yang harus diselesaikan." Aris berbicara dengan dinginnya.
"Sayang, kapan kita akan ketemu. Aku kangen kamu sayang." Putri mengeluarkan jurus andalannya.
"Sabar Put. Nanti kalau aku sudah tidak sibuk lagi. Aku akan ke kos kamu." kata Aris.
"Sudah dulu ya Put. Aku mau kerja lagi." Tanoa mendengar jawaban dari Putri, Aris langsung saja menutup telponnya. aris kemudian mematikan ponselnya. Biar Putri tidak mengganggu istirahatnya lagi.
Sedangkan di kamar kos. Putri berteriak-teriak frustasi karena Aris sudah terlalu lama mengabaikannya. Putri berniat besok akan mendatangi kantor utama perusahaan Soepomo, dia sangat kangen dengan Aris. Aris tidak sempat mengunjunginya karena sibuk, maka dia yang tidak sibuklah yang harus mengunjungi Aris. Putri tersenyum sendiri dengan idenya. Dia sudah memutuskan besok akan pergi menemui Aris kekantor. Setelah mengambil keputusan itu, Putri kemudian tertidur dengan senyum yang masih dibibirnya.
__ADS_1