Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kontrol Blip


__ADS_3

Bram membelokan mobilnya untuk masuk kedalam perkarangan klinik dokter Ranti. Bram memarkirkan mobilnya dibagian paling ujung dari tempat parkir. Parkiran sudah penuh oleh mobil para pasien. Maklumlah klinik tempat dokter Ranti praktek adalah klinik bersama, jadi berbagai pasien ada di klinik ini. Klinik ini merupakan klinik yang sangat lengkap dokternya di ibu kota.


Aris melihat klinik yang sudah ramai oleh pengunjung begitu cemas dengan virus yang kembali menyerang dengan ganas. Dia tidak ingin Gina terkena virus tersebut.


"Sayang, kamu bawa masker yang barukan?" tanya Aris kepada Gina.


"Ada dalam tas." jawab Gina.


"Tas nggak perlu dimaskerin sayang. Kamu yang perlu pake masker." kata Aris sambil mengambil tas Gina.


Aris mengeluarkan masker yang ada di dalam tas Gina. Dia memberikan masker kepada Bram dan Sari. Mereka semua memakai masker sebelum masuk kedalam tempat praktek dokter Ranti.


Aris menuju tempat pendaftaran. Aris menyebutkan namanya dan juga nama Gina. Aris menunggu beberapa saat. Suster bagian pendafaran mencek nama nama pasien dari dokter Ranti.


"Maaf Tuan, antrian Anda baru saja lewat. Anda masuk setelah pasien yang di dalam keluar ya Tuan. Silhkan menunggu di kursi tunggu Tuan." kata suster bagian pendaftaran.


"Terima kasih suster." jawab Aris. Aris kembaki mendekat ke arah tempat Giba sedang menunggu.


"Lewat satu sayang. Siap yang di dalam keluar baru kita masuk." kata Aris saat kembali dari tempat pendaftaran.


Sari yang memang tidak suka menunggu, meraih ponselnya. Dia berencana untuk menghubungi dokter Ranti. Sebelum sempat Sari menghubungi dokter Ranti, Gina terlebih dahulu menahan Sari agar ikut saja aturan yang berlaku di klinik ini.


Aris, Gina, Bram dan Sari duduk di kursi tunggu klinik. Mereka harus menunggu pasien yang di dalam sedang konsul keluar, barulah setelah itu tiba giliran Gina untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan.


"Ramai juga ya yank mereka yang hamil saat masa pandemi ini." kata Sari kepada Bram.


"Gimana nggak rame Sar. Mereka kerja dari rumah kebanyakan. Aktifitas kurang, lihat istri tiap hari di rumah tentu mereka terus melakukan itu tu." kata Aris sambil tersenyum melihat Gina. Dia membayangkan apa yang dilakukannya malam tadi kepada Gina.


"Suek loe Ris, ada ada aja jawaban loe ke Sari." kata Bram sambil memukul kepala Aris.


"Hahahaha. Sari yang ada ada aja pertanyaannya." balas Aris yang nggak mau ngalah.


"Udah ah malu. Udah besar masih juga ribut." kata Sari sambil menarik kuping Bram untuk nggak ribut dengan Aris.


Gina juga menarik kuping Aris agar tidak membalas ucaan Bram. Dia pria tampan itu akhirnya diam setelah menerima tarikan si telinga masing masing.


"Sayang, kapan pertemuan dengan perusahaan Zain itu?" tanya Gina yang tiba tiba teringat dengan perusahaan yang tadi sempat dia porak poranda sedikit.


"Sepertinya besok sayang." jawab Aris.

__ADS_1


"Oh." jawab Gina singkat padat dan jelas.


Mereka kemudian sibuk dengan ponsel masing masing. Sampai sampai mereka tidak melihat pasien yang di dalam tadi sudah keluar.


"Nyonya Gina Soepomo. Apakah Nyonya Gina hadir?" kata suster yang menjadi asisten dokter Ranti.


"Saya sus." jawab Gina yang namanya dipanggil oleh suster.


Mereka berempat berdiri dan berjalan menuju ruang prakter dokter Ranti.


Dokter Ranti membungkukkan kepalanya saat melihat Gina dan Sari masuk. Sari membalas anggukan itu dengan gerakan kepala sedikit saja.


"Maaf Nyonya, Nyonya jadinya menunggu di luar tadi." kata dokter Ranti yang merasa tidak enak karena Gina dan Sari harus menunggu di kursi tunggu klinik.


"Oh tidak apa apa dokter. Biarkan saja, kami juga salah karena datang terlambat dari jadwal yang kita sepakati kemaren." jawab Gina yang tidak mau dokter Ranti merasa tertekan.


"Silahkan berbaring Nyonya. Saya akan memeriksa jalan lahirnya." kata dokter Ranti.


Gina dan Aris masuk ke ruang periksa dokter Ranti. Sari mengikuti dari belakang.


"Mau ngapain?" tanya Aris kepada Sari.


"Mau belajar" jawab Sari dengan mantap.


"Baiklah Nyonya. Ini anak Nyonya sudah sangat besar, terlihat dari berat dan panjangnya. Kalau saran saya lebih baik kita melakukan operasi saja Nyonya. Tetapi kalau Nyonya menginginkan normal kita juga akan mengusahakan Nyonya." kata dokter Ranti sambil memperbesar fotho janin yang ada di dalam kandungan Gina.


"Untuk air ketuban masih cukup. Janin juga tidak terlilit tali pusar. Bagian terpenting adalah bayinya sangat sehat. Masih belum ingin tau jenis kelaminnya Tuan?" kata dokter Ranti sambil menatap ke arah Aris dan Gina bergantian.


"Aamiin. Semoga blip sehat terus sampai lahir. Kami masih ingin itu menjadi kejutan saat Blip lahir dokter." jawab Aris.


Gina tersenyum sambil mengangguk dan meremas tangan Aris. Mereka sudah tidak sabar ingin melihat Blip di antara mereka berdua. Aris dan Gina sebenarnya sangat penasaran apakah anak mereka Laki laki atau perempuan. Tapi karena hanya tinggal dua bulan, mereka akan bersabar kembali. Selama ini mereka sudah bersabar, jadi kenapa untuk yang dua bulan mereka tidak bisa bersabar.


Gina, Aris dan Sari kembali ke meja praktek dokter Ranti. Ada beberapa hal yang harus ditanyakan oleh Aris kepada dokter Ranti.


"Dokter, menurut perkiraan dokter, kapan sebaiknya Gina saya bawa ke rumah sakit?" tanya Aris yang ingin kepastian kapan jadwal Gina melahirkan diperkirakan oleh dokter.


"Lebih bagus Nyonya masuk rumah sakit tanggal dua puluh tujuh Maret. Karena menurut perkiraan saya Nyonya akan melahirkan tanggal dua puluh delapan Maret." jawab dokter Ranti.


"Apakah sebelum itu saya masih diperbolehkan untuk" tanya Aris yang memang sengaja tidak diteruskan kata katanya.

__ADS_1


"Wah sangat dianjurkan Tuan, itu bisa membantu jalan lahir. Semiga dengan itu bisa membantu Nyonya untuk melahirkan normal." jawab dokter Ranti sambil menahan senyum di bibirnya.


Bram yang mendengar pertanyaan dari Aris hanya bisa geleng geleng kepala.


"Baiklah dokter. Terimakasih atas waktu dan nasehatnya. Doakan saya baik baik sjaa dokter." kata Gina sambil menjabat tangan dokter Ranti.


Mereka keluar dari ruangan praktek dokter Ranti.


"Isi otak loe nggak jauh dari itu Ris." kata Bram sambil memukul kepala Aris.


"Bayangin aja gua harus puasa empat puluh hari. Nah sebelum itu terjadi gue rapel dululah. Loe karena belum coba nikmatnya, makanya bisa ngomong kayak gitu. Coba kalau udah, gur pastiin Sari nggak bisa jalan." jawab Aris.


"Sekarang kemana?" tanya Bram kepada Aris.


Bram harus mengalihkan pembicaraan ini, dia tidak ingin semakin dibuat malu oleh Aris di depan Sari dan Gina.


"Terserah Nyonya besar aja." jawab Aris melihat ke arah Gina.


"Kemana Gin?" tanya Bram.


"Hmmmmmmm pengen makan di cafe kak Bayu." jawab Gina yang tiba tiba pengen makan di kafe Bayu.


"Bukannya makanan siang tadi dari restoran Bayu, Gin?" tanya Sari yang heran Gina kembali mau makan di kafe Bayu.


"Sekarang di kafenya lagi. Makan di tempat." jawab Gina.


"Oke. Berangkat." jawab Bram yang menghentikan perdebatan antara Gina dengan Sari.


Bram melajukan mobilnya ke arah kafe Bayu. Bram berharap ada Bayu di kafe itu.


[Bay dimana?] bunyi pesan Bram kepada Bayu.


[Kafe, kenapa] balas pesan Bayu.


[Kami kesana, kalau bisa suruh Mira juga ke sana. Sari dan Gina ikut ke kafe]


[Baiklah. Gue akan telpon Mira agar ke sini sekarang juga] balas pesna Bayu kepada Bram.


"kebetulan Bayu ada di kafe" kata Bram memberitahukan kepada yang lainnya.

__ADS_1


"Mira yang?" tanya Sari yang sangat ingin berjumpa dengan sahabatnya itu.


"Bentar lagi datang. Tadi Bayu sudah akan menghubungi Mira" jawab Bram.


__ADS_2