Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Serabi Kuah Durian


__ADS_3

Gina yang hari itu sudah merasa lukanya mulai bisa dibawa mandi, memilih untuk berangkat ke kantor. Dia sudah selama sepuluh hari mengambil izin sakit. Gina sangat segan dengan semua teman kantornya. Gina tidak ingin mereka berpikir kalau Gina semena mena saja untuk datang ke kantor karena yang punya perusahaan adalah orangtuanya.


Gina yang selesai sholat subuh turun ke dapur untuk memasak sarapan. Gina sedang ingin makan serabi kuah durian. Gina mulai mengaduk semua bahan untuk serabi. Gina mulai memasak sambil bersenandung dan sedikit bergoyang. Selain serabi kuah durian, Gina juga membuat nasi goreng bakso untuk keluarganya. Gina memasak dengan sangat cekatan, perutnya yang sudah membucit tidak menghalangi kelincahan dan keuletan Gina di dapur.


Setelah berkutat dengan peralatan dapur selama satu setengah jam, Gina selesai menyiapkan sarapan.


" Maid tolong tata di atas meja makan ya maid. Saya mau mandi dulu." kata Gina sambil melangkahkan kakinya menuju kamar.


Gina melihat Aris yang sudah tidak ada di atas ranjang, Gina mendekat ke arah kamar mandi, ternyata Aris sedang membersihkan dirinya. Gina masuk ke ruangan pakaian, dia mengambilkan stelan yang akan dipakai Aris hari ini. Stelan kantor elegan berwarna hitam, Gina juga mengambilkan kemeja warna biru muda dan dasi yang senada dengan kemeja Aris. Gina meletakan semua pakaian Aris di atas kasur yang sudah rapi.


"Wow kamu membersihkan ranjang sayang. Keren." kata Gina sambil meraba sprai yang sudah terpasang dengan licin.


Aris yang selesai membersihkan badannya keluar dari kamar mandi.


"Darimana sayang, aku bangun tidur kamu udah nggak ada di kasur?" tanya Aris sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Dari dapur. Aku lagi pengen serabi kuah durian." jawab Gina.


Gina kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Dia akan membersihkan dirinya kembali. Sisa sisa keringat habis memasak tadi akan dibersihkannya. Gina mandi dengan sangat ligat. Dia tidak mau keluarganya menunggu dirinya dengan lama di meja makan untuk memulai sarapan. Gina memakai dress berwarna biru muda senada dengan warna kemeja Aris. Mereka berdua turun dari kamar menuju ruang makan. Papi, Mami dan Bram sudah berada di ruang makan.


"Kamu ke kantor hari ini sayang?" tanya Mami kepada Gina yang sudsh terlihat rapi.


"Iya Mi. Segan akunya sama teman teman di kantor. Izin sakit lama kali, lagian aku udah sembuh Mi. Jadi udah bisa untuk ke kantor lagi." jawab Gina sambil memperlihatkan lukanya yang sudah mengering.


"Hati hati ya sayang." Mami memberikan pesan kepada Gina.


Gina mengangguk, Gina paham dengan kecemasan Mami.


"Udah Mi, kita sarapan." Papi yang memang harus datang pagi meminta Mami menghentikan obrolannya.


Mami mengisi piring dengan nasi goreng bakso untuk Papi dan Bram. Gina juga akan mengisi piring Aris dengan nasi goreng bakso.


"Sayang, aku mau serabi kuah durian." kata Aris yang melihat Gina akan menuangkan nasi goreng ke atas piringnya.


"Serius??? Bukannya kamu tidak suka durian??" tanya Gina dengan menatap tidak percaya ke arah Aris.


"Serius." jawab Aris.


Gina mengambilkan serabi kuah durian untuk Aris. Semua orang yang berada di ruang makan termasuk maid melihat ke arah Aris yang terlihat akan menyendok sarapannya. Aris memasukkan serabi kuah durian tersebut ke dalam mulutnya dengan pasti dan elegant. Aris mengunyah dengan begitu yakin, semua orang berharap Aris tidak memuntahkan sarapannya. Ternyata memang Aria sama sekali tidak muntah. Aris melahap satu buah serabi dalam waktu singkat. Semua keluarga yang melihat Aeis oke oke aja melanjutkan sarapan mereka yabg sempat tertunda tadi. Gina juga melanjutkan sarapannya. Sedangkan Aris mengambil sepiring nasi goreng. Perutnya seperti ingin meledak karena dengan percaya dirinya makan serabi kuah durian.


"Mi, kami berangkat duluan Mi." Gina berpamitan kepada Papi dan Mami.


"Kamu diantar Ariskan Gina?" kata Papi.


"Iya Pi. Gina berangkat sama kami berdua." jawab Aris.


Aris dan Gina serta Bram masuk ke dalam mobil. Bram mengemudikan mobil menuju perusahaan Bramantya Grub setelah itu baru mereka menuju Jaya Grub. Papi sampai sekarang masih belum mengembalikan Soepomo Grub kepada Aris. Sepertinya Papi kembali merasakan sensasi mengurus perusahaan kembali.


Mobil yang dikemudikan Bram sampai di depan pintu gerbang perusahaan Bramantya Grub. Bram memarkir mobilnya di depan pintu perusahaan. Satpam yang tidak tau itu mobil siapa langsung membunyikan pluitnya meminta Bram untuk tidak parkir di situ.


Gina langsung saja turun dari mobil. Satpam yang melihat Gina yang turun dari mobil langsung balik kanan menuju posnya kembali. Aris juga turun dari mobil, dia berniat untuk mengantarkan Gina sampai ke ruangannya.

__ADS_1


"Mau kemana sayang? Sepertinya uda Afdhal belum datang." kata Gina sambil melihat tempat parkur direktur masih kosong.


"Mau ngantau kamu ke ruangan." jawab Aris.


"Hahahahahahaha. Aku kira mau ngapain. Ya udah ayuk" jawab Gina.


Gina menggamit lengan Aris. Gina tidak ingin karyawan kantor memerhatikan Aris dengan begitu tajam. Aris yang melihat Gina memegang erat lengannya hanya mampu tertawa saja.


"Posesif juga ternyata." kata Aris kepada Gina.


"Dari pada orang jadi minat nggak jelas." jawab Gina sambil tersenyum cantik.


Tak terasa mereka sudah sampai di depan pintu ruangan Gina.


"Sayang aku kerja dulu. Makan siang nanti aku ke kantor." kata Gina sambil melepaskan tangannya dari tangan Aris.


"Aku aja kesini. Kita makan di ruangan Afdhal aja." jawab Aris.


" Sip. Kamu bawa makanan atau aku yang pesan?"


"Kamu yang pesan aja sayang. Hati hati kerja jangan kecapekan, banyak banyak minum air putih. Paham ya." Aris mengingatkan semuanya kepada Gina.


"Oke big boss. Aku ingat." kata Gina.


Aris kemudian berbalik dan melangkahkan kakinya menuju lobby kantor. Ternyata di sana Bram sedang ngobrol dengan Afdhal.


"Udah sampe paketnya bro?" tanya Afdhal.


"Gue juga akan bawa Anggel. Nggak mungkin gue sendirian, sedangkan loe berdua ada pasangan." jawab Afdhal.


"Atur menurut loe. Kami jalan dulu. Jaga istri gue." kata Aris sambil masuk ke dalam mobilnya.


"Adek gue juga kali." jawab Afdhal.


Aris menuju perusahaannya dengan Bram. Hari ini mereka bekerja santai karena tidak ada meeting yang harus dihadiri.


"Bram, gimana dengan warung yang kemaren?" tanya Aris.


"Aman. Udah gue bereskan. Kita akan mulai membangun taman itu besok." jawab Bram.


"Sip. Hari ini agenda kita kosong. Gimana kalau kita melihat lokasi tersebut?"


"Setuju." jawab Bram.


Bram kemudian memutar arah mobilnya. Mereka tidak jadi menuju perusahaan, tetapi langsung menuju tempat taman yang akan dibuat. Bram tau maksud Aris kesana. Dia pasti ingin melihat langsung warung yang bermasalah itu.


Aris dan Bram turun dari mobil. Mereka melihat lihat tanah yang akan dijadikan taman kota tersebut. Para pekerja sudah terlihat berada di sana. Mereka sudah membongkar bangunan yang tidak terpakai lagi.


"Tapi besok Bram?" tanya Aris kepada Bram.


"Sepertinya mereka ingin cepat selesai Ria. Makanya kerja dari hari ini." jawab Bram.

__ADS_1


"Bisa jadi."


Aris dan Bram melihat lihat kerja para buruh. Seorang manager lapangan yang memakai helm putih berjalan mendekati Aris dan Bram.


"Tuan maaf saya tidak menyambut Tuan di depan." kata manager.


" Tidak apa apa. Kami datang juga mendadak." jawab Bram.


"Baru perubuhan?" tanya Aris.


"Iya Tuan hati ini fokus perubuhan bangunan dan pembuangan material material bangunan." jawab manager.


"Desainnya tunggu dari istri saya." kata Aris.


"Siap Tuan." jawab manager.


Aris dan Bram tetap di area itu sampai jam makan siang. Aris sudah melihat kalau warung ayam geprek itu pindah ke seberang jalan dengan lapak lebih kecil.


Tal.terasa jam makan siang hampir tiba. Aris mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana, dia akan menggubungi Gina.


"Sayang, aku aja yang bawa makanan ya. Belum kamu pesan kan sayang?" tanya Aris kepada Gina.


"Belum sayang. Oke sip. Udah kamu omongin dengan uda?" tanya Gina yang belum sempat memberitahukan Afdhal.


"Udah sayang tenang aja. Semua udah selesai." jawab Aris.


"Kamu jangan lupa ajak Sari ya sayang. Kasian Bram nanti sendirian. Uda Afdhal akan bawa Anggel juga." Aris menerangkan siapa saja yang akan ikut acara makan siang itu.


"Siap sayang. Nanti jam makan siang aku akan ke ruangan Sari." kata Gina.


" Telpon aja sayang. Kamu nggak boleh kemana mana. Ada denger sayang?" Aris mulai kembali posesif.


" Oke oke. Semua bosnya kamu sayang. Aku akan telpon Sari nanti." jawab Gina yang mengalah dengan keinginan Aris.


Aris dan Bram kemudian menuju restoran milik keluarga Soepomo. Mereka akan membeli makanan untuk acara makan siang itu.


"Bram pesan semua makanan yang enak enak. Kita akan empat pasang. Gue akan telpon Bayu dulu." perintah Aris kepada Bram.


Bram memesan makanan yang diminta oleh Aris. Sedangkan Aris menghubungi Bayu.


"Hollo Ris. Ada apa?" tanya Bayu dari seberang telpon.


"Makan siang di perusahaan Afdhal. Kami di sana makan siang ramai ramai." kata Aris yang langsung ke intinya.


"Oke oke. Gue setuju. Gue akan ajak Mira. Pasti dia senang bertemu Gina dan Sari " kata Bayu yang langsung main setuju mendengar ajakan Aris.


"Sip. Tapi loe beli minuman ya. Gue mampir di restoran untuk beli makanan." kata Aris.


"Oke itu gampang." jawab Bayu.


"Sampi bertemu di Brawijaya Grub." kata Aris sambil menutup panggilannya dengan Bayu.

__ADS_1


Bram masih setia menunggu pesanan makanan. Aris kemudian duduk di sebelah Bram. Dia tadi sudah memesan dua gelas lemon tea. Aris langsung menyeruput lemon tea itu. Tidak berapa lama menunggu. Pesanan Bram selesai juga. Mereka berdua langsung menuju Bramantya Gurb. Bayu dan Mira juga telah selesai dengan bingkisan yang akan mereka bawa. Anggel juga sudah di dalam mobilnya. Dia akan menuju Brantya Grub. Afdhal tidak bisa menjemput Anggel karena ada meeting yang tidak bisa ditinggal.


__ADS_2