
Hari minggu dari pagi mereka sudah pergi main kesemua tempat yang ada di Bali. Mereka main sampai sore hari. Gina dan kedua sahabatnya kemudian pergi membeli oleh oleh. Gina membeli untuk Ayah, Nana serta tidak lupa papi dan mami Aris serta pelayan di rumah utama Wijaya. Selesai membeli oleh oleh Gina dan kedua sahabatnya kembali menuju hotel. Mereka akan siap siap untuk pulang ke ibu kota.
Sesampai di hotel Gina merapikan semua barang yang dibawanya ke dalam koper. Juga memasukkan oleh oleh yang dibelinya tadi kedalam satu tempat agar tidak repit. Setelah merapikan semua barang, mereka semua berkumpul di teras Villa. Barang bawaan menjadi dua kali lipat. Mereka menunggu mobil jemputan yangbakan mengantarkan ke bandara.
"Udah semuanya sayang?" kata Aris kepada Gina.
"Udah sayang, nggak ada yang tertinggal." jawab Gina.
"Oh ya, Gimana dengan urusan di negara F?"
"Dion berangkat lusa setelah bertemu dengan Papi. Aku berkemungkinan berangkat lima hari atau tujuh hari paling lama setelah Dion berangkat." jawab Aris dengan rasa bersalahnya.
"Udahlah sayang, jangan merasa gimana gitu. Aku tidak mempermasalahkan kamu mau pergi ke negara F" kata Gina yang paham Aris merasa bersalah.
"Makasih sayang."
Tak terasa mobil jemputan mereka akhirnya datang juga. Aris dan semua sahabatnya naik ke dakam mobil. Mereka langsung saja menuju bandara. Sampai di bandara, Aris dan semua sahabatnya langsung menaiki pesawat yang telah menanti mereka. Setelah semua penumpang naik, pilot mulai menjalankan pesawatnya. Penerbangan dua jam itu kembali dilalui dengan gelak dan tawa. Tetapi gelak dan tawa itu tidak terlihat dari mata Aris. Aris sedang memikirkan sesuatu.
"Sayang mikirin apa lagi?" kata Gina sambil menggengam tangan Aris.
"Nggak ada sayang." Aris kemudian menggengam erat tangan Gina.
Gina meletakkan kepalanya di pundak Aris. Gina berencana untuk tidur selama perjalanan. Karena kelelahan Gina langsung terlelap dalam tidurnya.
"Say, apa tesis kalian bertiga udah selesai?" tanya Bayu kepada Mira.
"Sudah say, rencana kamis minggu depan kami akan sidang. Ada apa?"
"Nggak ada apa apa, cuma nanyak aja. Aku udah lama nggak nanyak masalah kuliah kamu" jawab Bayu.
"Oh, aku kira ada apa." jawab Mira tanpa ada kecurigaan sedikitpun.
Penerbangan dua jam itu selesai sudah. Mereka semua kembali ke rumah masing-masing. Gina tidak diantar oleh Aris, Gina pulang dengan Afdhal.
"Uda, Aris kenapa aneh ya. Uda tau kenapa?" Gina menatap ke Aris.
"Uda rasa Aris tidak kenapa kenapa Gin. Dari tadi dia biasa aja. Perasaan kamu aja kali Gin."
"Memang aneh Uda."
"Perasaan kamu aja kali Gin. Menurut uda, dia biasa aja." kata Afdhal.
"Semoga aja ya Uda."
Mereka berdua akhirnya sampai di rumah utama keluarga Wijaya. Ayah dan Nana menyambut mereka di ruang tamu.
"Tumben Nana di ruang tamu, siapa yang datang tadi Na?" tanya Gina yang melihat ada beberapa cangkir sisa minum tamu.
__ADS_1
"Ooo. Tadi ada tamu ayah yang datang." kata Nana dengan agak.mencurigai.
"Tumben." Gina menatap mata Nana mencari kebohongan di sana. Gina tidak menemukan apa apa.
"Beneran Gin. Tadi teman lama ayah yang baru pulang dari luar negeri datang." kata Ayah menambahi, ayah berusaha menutupi kebohongan Nana.
"Oooo. Gina masuk dulu yah, capek." kata Gina, kemudian langsung masuk ke kamarnya.
"Gina curiga Uda?" tanya Nana kepada Afdhal.
"Kayaknya Na. Tapi nggak begitu curiga. Tadi orang tua Aris datang Na?"
"Iya. Mereka akan datang lagi besok. Semoga adik kamu tidak banyak tinggakah Uda." jawab Nana
"Semoga aja Na."
"Gimana liburannya Afdhal?" kata Ayah
"Berjalan baik ayah. Tapi kemaren ada direktur perusahaan di negara F yang ikut dengan Aris."
"Soepomo grub memang ada perusahaan di negara F. Cuma itu perusahaan yang dimiliki oleh Aris dan Bram. Emang ada apa Dhal direkturnya sampai datang?"
"Katanya ada perusahaan Z yang ingin bekerjasama dengan perusahaan Soepomo di negara F dengan tujuan mau menghancurkan perusahaan Soepomo, setelah itu oerusahaan Z akan membeli saham dengan harga murah." Afdhal menerangkan kepada Ayah.
"Perusahaan Z?" tanya Nana
"Kenal yah dengan perusahaan Z?" tanya Nana kepada Ayah. Ayah menganggukkan kepalanya.
"Kenal, perusahaan yang berbasis di negara F. Mereka terkenal dengan kerjasamanya yang licik. Mereka menghalalkan segala cara untuk mengambil alih kepemilikan perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan Z." kata Ayah.
"Kenapa mereka mengganggu perusahaan Soepomo?"
"Sepertinya Perusahaan Z tidak tau kalau perusahaan yang akan mereka ganggu kepunyaan Soepomo Grub. Setahu Ayah, perusahaan Soepomo yang di negara F memakai nama Perusahaan AB Propertis."
"Apa mereka mengira itu perusahaan kecil kali Yah?"
"Sepertinya iya. Apa sikap yang di ambil Aris, Dhal?"
"Aris menyuruh Dion menyetujui kontrak kerja. Tapi sebelumnya Aris sudah membuat database yang baru untuk perusahaan yang di negara F."
"Oh sepertinya Aris akan menggulingkan perusahaan Z. Kita tunggu saja. Aris dan Bram sepertinya tidak akan membiarkan perusahaan Z bermain main dengan perusahaan milik mereka." jawab Ayah.
"Jadi kita akan menyaksikan sikap dingin Aris dan Bram sebentar lagi ya yah?"
"Yup. Sikap yang sudah lama hilang dari dalam diri Aris dan Bram. Kamu harus tau Afdhal, Aris dan Bram pimpinan grub Blackjack." kata Ayah.
"Pimpinan grub Blackjack yang terkenal dengan kepintaran mereka dalam setiap misi?"
__ADS_1
"Yup."
"Aku baru tau ayah. Ternyata pimpinan grub yang terkenal itu adalah Aris dan Bram. Mereka tidak seperti pemimpin dari suatu grub yang begitu terkenal dengan misi yang tidak pernah gagal."
"Tapi ada sekali misi mereka gagal Afdhal. Ayah baru tau tadi, baru sebentar ini." kata Ayah.
"Hah. Ayah serius?"
"Misi mencari Gina. Kamu ingat bukan saat Gina kabur dari Aris. Ternyata Bram meminta grub blackjack mencari Gina. Ternyata mereka tidak berhasil. Itulah misi pertama blackjack yang gagal." kata Ayah dengan nada bangga, karena anaknya bisa meruntuhkan keperkasaan grub blackjack.
"Gimana mau bertemu. Gina aja berada di rumah ketua utama blackjack."
"Oh ya Na. Untuk persiapan acara besok bagaimana Na?"
"Udah beres. Kita tinggal bawa Gina aja siap maghrib ke hotel keluarga Soepomo." jawab Nana.
"Kok nggak hotel kita aja Na?"
"Kata mereka hotel baru mereka aja. Sekalian promosi hotel baru."
"Apa alasannya besok Na? Nana kan tau Gina susah untuk diajak keluar."
"Bilang aja ada undangan makan malam dari teman Ayah."
"Oh. Semiga dia tidak tau ya Na. Atau bagaimana kalau kita minta aja Aris membawa dia. Kita anggap aja Aris membawa makan malam romantis."
"Kesepakatan dengan Aris begitu tadi Uda. Kita yang harus bawa Gina. Sepertinya Aris punya kejutan untuk Gina."
"Na, sepertinya untuk ngomong acara makan malam dengan kolega Ayah, dipastikan Gina nggak akan mau. Kita bilang aja, lita di undang oleh keluarga Aris untuk menghadiri peresmian hotel baru mereka. Uda yakin, Gina nggak akan menolak."
"Ayah setuju dengan Afdhal. Gitu ajalah Na. Jadi kejutan ini Ayah rasa pasti akan berhasil." jawab Ayah.
"Ya, udah Nana juga setuju dengan rencana Afdhal."
"Udah malam. Kita istirahat aja lagi. Kasian Afdhal baru pulang liburan." kata Ayah sambil tersenyum mengejek Afdhal.
"Ayah, dari tadi dek ngajak istirahat. Aku luar biasa capek ayah." kata Afdhal sambil berlalu ke kamarnya.
"Afdhal" teriak Nana.
"Apaan sih Na. Malam teriak teriak." kata Ayah.
"Apa Na?" kata Afdhal tanpa dosa.
"Tuh." kata Nana menunjuk koper Afdhal.
"Lupa Na." kata Afdhal cengengesan. Kemudian menarik kopernya menuju kamarnya.
__ADS_1
Pagi harinya semua sudah bersiap siap untuk beraktifitas seperti biasanya. Begitu juga dengan Gina, dia sudah siap mau berangkat ke kampus. Meminta acc untuk sidang tesisnya kepada pembimbingnya yang baru.