Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Bianglala


__ADS_3

Mereka berempat masuk ke dalam mobil. Stefen bertindak sebagai sopir sekaligus penunjuk arah.


"Arga boleh Daddy tanya sesuatu sama Arga?"


"Boleh tanya aja. Asal Daddy jangan tanya kenapa malam tadi Arga ngomong Arga cucu yang nggak diinginkan." ujar Arga.


Aris terdiam, Aris sebenarnya ingin bertanga tentang itu tetapi Arga sudah melarangnya. Aris cukup lama terdiam.


"Daddy tadi katanya mau nanyak. Mau nanyak apa Dad?" tanya Arga sambil mengguncang tangan Aris.


"Arga selama tinggal di negara U tinggal di hotel?" tanya Aris yang sangat penasaran dengan tempat tinggal anak dan istrinya selama ini.


"Nggak Dad." jawab Arga.


"Terus tinggal dimana?" ujar Aris.


"Kepo" ujar Arga singkat padat dan jelas.


Stefen dan Bram yang mendengar jawaban telak Arga langsung tertawa terbahak bahak. Mereka bisa membayangkan gimana raut wajah Aris sekarang ini.


"Arga, Daddy serius Arga." ujar Aris.


"Daddy, Arga juga serius. Daddy aneh, semalaman dengan Bunda tetapi Daddy nggak nanyak apapun ke Bunda?"


Aris menggeleng, mereka memang tidak sempat bercerita banyak. Bagi mereka semalam yang bercerita adalah sianu dengan siitu.


"Jadi Daddy semalam hanya main pukul pukulan nyamuk dengan Bunda?" tanya Arga yang juga kepo.


"Kepo" jawab Aris.


"Hahahahahaha. Nyontek. Daddy nggak kreatif." jawab Arga.


"Ayolah Gha." ujar Aris mendesak anaknya itu.


"Daddy hari ini kita nggak ada bahas apapun. Hari ini adalah hari main kita berempat. Jadi Arga nggak mau bahas apapun. Oke Daddy. Paham ya." ujar Arga sambil mengangkat jari telunjuknya.


"Okelah Gha kalau gitu. Daddy paham ajalah." jawab Aris sambil tersenyum terpaksa.


Stefen memarkir mobilnya di taman bermain. Aris seperti pernah berada di taman bermain ini. Dia berusaha mengingat ingat kapan dia pernah kesini.


"Dalam mimpi loe Ris. Loe mengatakan berpisah dengan Gina dan Arga di taman bermain yang ada bianglala bagusnya. Tuh bianglalanya." ujar Bram yang sangat tau Aris mengingat apa. Bram juga menunjuk letak bianglala yang dikatakannya tadi.


"Daddy kita naik bianglala ya Dad." ujar Arga sambil menarik tangan Daddynya.


"Arga Daddy" ujar Aris.


"Jangan katakan kalau Daddy takut. Arga nggak terima penolakan " ujar Argha.

__ADS_1


"Kenapa dulu Bunda ngidam naik bianglala ya Gha. Jadinya kamu sekarang sangat suka naik itu." ujar Aris berbicara hanya untuk dirinya sendiri.


Mereka berempat naik ke atas bianglala. Aris benar benar pucat dibuatnya. Tapi dia berusaha menentramkan perasaannya. Dia tidak mau terlihat ketakutan di dekat Argha.


"Daddy kalau takut merem aja. Dari pada pingsan nanti, kalau Daddy pingsan kami bertiga jadi malu Daddy." ujar Argha dengan nada sok perhatian, padahal dia menahan senyumnya dari tadi.


"Gha kamu serius perhatian sama Daddy atau meu ngejek Daddy?" tanya Aris.


"Hahahahaha. Sedikit banyak mau ngejek Daddylah. Masak seorang CEO dari Soepomo Grub bisa sangat ketakutan saat naik bianglala" ujar Argha kembali menggoda Daddynya.


Mereka sudah duduk di posisi masing masing. Aris duduk tepat di sebelah Arga. Dia tidak mau duduk di depan Argha.


Bianglala mulai bergerak. Pertama masih pelan. Saat sudah sampai di atas dan dihempaskan kebawah perut Aris mulai bergejolak. Tapi pada tiga putaran pertama Aris masih bisa menahan muntahnya. Tetapi saat udah masuk putaran kelima dia sudah tidak bisa menahannya lagi. Untung saja bianglala berhenti tepat sebelum isi perutnya keluar.


Aris berlari keluar dari bianglala. Dia memuntahkan semua isi perutnya di pot bunga yang ada di sana. Argha dan yang lain menyusul Aris. Bram memijit tengkuk bos sekaligus kakaknya itu. Argha hanya bisa menepuk jidatnya saja. Dia tidak menyangka Daddynya benar benar tidak bisa naik bianglala


"Daddy kita istirahat disitu aja dulu. Setelah Daddy oke baru kita main yang lainnya. Argha janji nggak akan bawa Daddy naik yang aneh aneh lagi." ujar Argha yang kasian melihat wajah Daddynya yang bener bener udah pucat kayak mayat itu.


Mereka berempat duduk di bangku taman yang ada di bawah sebuah pohon yang rindang. Tabi tiba ada anak laki laki seumuran Argha berdiri tepat di depan Argha.


"Hay bocah nggak punya Daddy. Ngapain kamh ke taman bermain. Taman bermain ini khusus untuk anak anak yang punya Daddy." ujar anak itu dengan nada mengejek Argha dan tatapan mata yang meremehkan.


Aris yang tadinya sedang merasakan pusing yang hebat, mendadak tidak merasakan pusingnya lagi. Dia langsung berdiri di depan Argha saat mendengar ada anak laki laki yang berani beraninya memaki anak kesayangannya.


"Hai bocah. Apa kamu katakan, anak saya tidak punya Daddy??? Saya Daddy nya." ujar Aris.


Kemudian kedua orang tua anak itu datang. Dia melihat putranya sedang ribut dengan seorang laki laki dewasa.


"Kamu berani beraninya memarahi anak saya. Kamu tidak tau siapa saya." bentak orang tua laki laki anak tersebut.


"Maaf Tuan. Anak anda yang mengata ngatai anak saya tidak punya ayah. Tolong ajarkan anak anda sopan santun sebelum saya yang mengajarinya." ujar Aris yang sudah naik pitam.


"Hahahahahaha. Anak ini memang nggak punya ayah. Dia nggak pernah dijemput ayahnya ke sekolahnya." ujar orang tua anak laki laki itu.


Aris yang sudah habis kesabarannya langsung menampar pria itu.


Plak, tamparan keras mendarat di pipi pria tersebut.


"Berani beraninya kamu menampar saya. Kamu tidak tau saya siapa?" ujar pria tersebut.


"Terserah kamu siapa." ujar Aris.


"Saya adalah manager di perusahaan GA Grub." ujar pria tersebut dengan sombong.


Argha yang mendengar nama perusahaan miliknya di sebut langsung maju.


"Wow anda manager di perusahaan GA Grub. Oke saya akan lihat detik ini juga anda akan hengkang dari perusahaan itu." ujar Arga.

__ADS_1


"Hahahahaha. Anak kecil tidak punya ayah, kamu bisa apa, saya tunggu di sini." ujar pria tersebut.


"Kak Stefen." ujar Argha.


Stefen langsung tau dengan tujuan Argha. Dia menghubungi Direktur perusahaan tempat pria tersebut bekerja. Stefen meminta direktur untuk datang ke taman bermain.


Tidak membutuhkan waktu lama direktur dari anak cabang perusahaan GA Grub datang. Pria yang tadi memaki maki Argha bersalaman dengan direktur tersebut.


"Tuan direktur kalau mau bertemu dengan saya nggak perlu Tuan datang ke sini. Saya yang akan datang ke perusahaan." ujar pria tersebut.


"Saya kesini mengantarkan surat pemecatan untuk anda. Anda sudah berani menyinggung salah satu pemilik dari GA Grub." ujar direktur sambil menyerahkan amplop pemecatan pria tersebut.


Kedua orang tua anak yang memaki Argha serta anak yang memaki Argha menatap direktur tersebut dengan tatapan tidak percaya.


"Siapa yang telah saya usik Tuan?" ucap pria tersebut.


"Tuan Muda maafkan atas kesalahan yang diperbuat mantan anak buah saya. Sekarang dia sudah menerima ganjarannya. Saya permisi dahulu Tuan Muda" ucap direktur sambil membungkuk ke Argha dan Aris serta Bram.


Betapa terkejutnya keluarga tadi, mereka tidak menyangka telah menghina orang yang memiliki perusahaan tempat dia bekerja.


"Tuan Muda maafkan saya." ujar pria tersebut


"Maaf, saya tidak menerima. Saya cuma mau mengatakan. Ini Daddy saya, tapi keputusan telah diambil. Silahkan anda pergi dari perusahaan itu." ujar Argha dengan dinginnya.


"Daddy ayo lanjut main. Kita main bombomcar." ujar Argha sambil menarik tangan Aris.


Aris, Bram dan Stefen berjalan mengikuti Argha. Mereka akan naik bombomcar. Sedangkan ketiga manusia sombong tadi pergi keluar dari taman bermain, mereka menyesali ucapan dan penghinaan mereka ke Argha. Mereka sangat tidak tau kalau Argha adalah pemilik perusahaan.


Mereka berempat bermain di taman bermain sampai maghrib menjelang.


"Daddy ayok pulang. Argha lelah." ujar Argha yang sudah terlalu capek dan lelah.


Mereka berempat pulang menuju hotel. Argha tertidur diperjalanan. Saat sampai di hotel Aris menggendong Arga menuju kamar mereka.


"Loh tumben tidur dia?" tanya Gina kepada Aris.


"Capek kayaknya" jawab Aris.


Aris membaringkan Argha di kasur. Sedangkan Gina menyiapkan pakaian ganti Aris.


"Mandi dulu sana. Aku mau cerita sama kamu." ucap Gina.


"Mau bareng?" tanya Aris menawarkan sesuatu ke Gina.


"Nggak. Capek semalaman kemaren belum ilang." jawab Gina sambil mendorong Aris masuk ke dalam kamar mandi


"Gina mau cerita apa ya?" ujar Aris yang penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh Gina. Aris sama sekali belum mendapatkan gambaran apapun.

__ADS_1


__ADS_2