
"Kelihatannya sudah datang semua Pi. Bagaimana kalau kita makan siang terlebih dahulu, siap itu baru ngobrol lagi di taman belakang." usul Mami kepada Papi yang melihat semuanya sudah datang. Termasuk sahanat Gina dan Aris.
"Bener Mi, semua sudah hadir. Gimana Tuan Wijaya, kita makan siang dahulu setelah itu baru dilanjutkan ngobrol santainya di taman belakang?" Papi bertanya kepada Tuan Wijaya.
"Setuju Tuan Soepomo. Kita makan siang dahulu dan sepertinya yang muda muda sudah kelaparan karena masuk jam makan siang" jawab Ayah sambil melihat yang muda muda duduk di seberang Ayah.
"Hm pandai ya Ayah cari kambing hitam. Ngomong aja kalau Ayah kangen masakan Gina" jawab Nana sambil tersenyum mengejek Ayah.
"Nana jangan buka kartu As Ayah kenapa Na?" bisik Ayah di telinga Nana.
"Ayuk mari kita ke ruang makan. Semua sudah siap di sana, yang masak siapa lagi kalau bukan Gina." kata Mami sambil memegang pundak Gina. Gina memberikan senyum termanisnya kepada Mami.
Mereka semua menuju ruang makan besar yang terletak di bangunan rumah lainnya. Disana terdapat meja yang sangat panjang sehingga semua masakan yang dibuat Gina bisa di letakkan di atas meja itu semuanya.
Mami melayani Papi, begitu juga dengan Nana yang melayani Aris. Gina yang pertama hanya ingin diam saja, tiba tiba kakinya di tendang oleh Sari yang berada tepat di sampingnya. Gina menatap tajam Sari.
"Layani" kata Sari dengan menggerakkan bibirnya.
Gina membulatkan matanya dengan lebar. Sari dan Mira membalas dengan lebih lebar. Dengan perasaan terpaksa Gina melayani Aris. Mami, Papi, Nana dan Ayah yang melihat tersenyum bahagia. Hanya Afdhal yang tau keterpaksaan Gina.
"Makasi sayang" kata Aris yang melihat Gina mengambilkan nasi untuk dirinya.
"Sama sama sayang, mau lauk apa?" tanya Gina yang pura pura bersikap manis. Padahal dalam hatinya dia ingin sekali menerkam kepala Aris.
"Ayam kecap, sambal terasi dan Tumis cah kangkung" jawab Aris kepada Gina.
Gina mengambilkan semua makanan pesanan Aris. Walaupun dia terlihat kesal tetapi Gina tidak ingin memperlihatkan kekesalannya kepada semua orang. Gina masih menjaga wibawa Aris. Setelah mengambilkan makanan untuk Aris, Gina kemudian duduk di kursi sebelah suaminya itu. Semua orang menyuap makanan yang sudah diambil. Tiba tiba Aris berdiri dan langsung berlari ke luar ruang makan. Gina yang melihat hanya berdiri dengan lesu dan berjalan ke tempat Aris.
"wuak wuak wuak" bunyi suara muntahan yang dikeluarkan Aris.
Aris mengeluarkan semua isi perutnya. Mami yang datang membawa handuk hangat meletakkan handuk tersebut ke pundak Aris. Aris terus saja memuntahkan semua isi perutnya. Sampai tidak ada lagi yang bisa dikeluarkan, Aris tetap saja meluek ingin mengeluarkan semua isi perutnya. Setelah dirasa aman, semuanya kembali melanjutkan makan siang mereka yang sempat tertunda tadi.
"Mau makan apa uda?" tanya Gina berbasa basi.
"Puding buah itu aja sayang" kata Aris menunjuk puding buah yang terletak di meja belakang.
Gina berjalan ke meja tersebut dan mengambilkan puding buah serta jus jeruk untuk minumnya. Gina meletakkan di depan Aris.
"Sayang suapin ya. Sepertinya aku nggak akan mual lagi kalau kamu yang menyuapi aku" kata Aris dengan tatapan memohon.
"Sekarang giliran kamu Gina akan aku kerjai." kata di dalam hatinya.
Gina mengambil sendok puding yang ada di atas meja. Dia menyuapi Aris dengan potongan seperti tidak makan selama berhari hari. Aris tau Gina kesal, tapi Aris bahagia karena Gina menyuapinya.
"Habis" kata Gina sambil memperlihatkan mangkuk puding yang telah kosong.
"Apa jusnya juga mau diminumkan?" tanya Gina menyindir tingkah laku kekanak kanakan Aris. Aris tersenyum bahagia. Baru sekali ini Gina yang berbicara tanpa Aris yang bertanya.
Gina kemudian kembali menyantap makan siangnya yang sempat tertunda gara gara Aris yang minta disuapi puding. Kalau tidak ada keluarga besarnya, amit amit Gina mau menyuapi makhluk tidak tau diri itu. Gina menyantap makan siangnya dengan sangat lahap. Semua orang melihat Gina yang makan seperti itu menjadi senang. Karena hal itu baik untuk Gina dan juga calon bayi dalam kandungan Gina.
"Sayang mau nambah?" kata Mami.
__ADS_1
"Nggak Mi. Pas. Gina mau makan puding lagi" kata Gina yang selesai dengan menu utama makan siangnya.
Para maid masuk dan mengambil semua piring kotor dari depan semua orang. Kemudian para maid meletakkan puding mangga dan jus jeruk ke depan semua orang yang ada di ruang makan itu. Mereka melahap puding mangga yang sangat enak itu. Mangga hasil petik dari kebun belakang rumah utama. Gina sangat puas dengan rasa puding mangga bikinannya.
"Waw Gin. Ini puding mangga terlezat yang pernah Papi coba" kata Papi sambil mengangkat mangkuk puding.yang sudah habis.
"Maid, tolong satu lagi puding mangganya" kata Papi meminta maid mengambilkan tambahan puding mangga.
"Saya juga satu lagi maid" kata Ayah yang nggak mau ketinggalan.
Maid yang pusing dengan beberapa orang meminta tambahan puding. Akhirnya memutuskan semuanya diberikan tambahan puding. Mereka menyantap puding ke dua itu dengan sama nikmatnya. Setelah selesai menyantap puding. Papi yang tau keluarga Wijaya telah mengeyampingkan permasalahn antara Aris dan Gina, masij tidak enak hati dengan keluarga Wijaya.
"Semuanya kita ke ruang keluarga saja. Ada sesuatu hal yang haris kita bicarakan" kata Papi dengan nada berat dan susah di tolak.
Semua orang paham dengan apa maksud dan tujuan dari Papi membawa mereka ke ruang keluarga. Papi pasti ingin menyelesaikan permasalahan dua keluarga besar ini. Semua orang berjalan menuju ruang keluarga yang terletak di rumah utama. Papi dan Ayah berjalan dengan Bram dan Afdhal serta Aris yang akhirnya tidak bisa berjalan dengan Gina, Gina lebih memilih jalan dengan Anggel calon kakak iparnya dan dua sahabatnya. Sedangkan Mami dan Nana tetap jalan berdua seperti sahabat lama yang kembali bertemu lagi.
"Mari masuk" ajak Papi masuk keruang keluarga,
Semua orang masuk ke dalam ruang keluarga, semua duduk di sofa sofa yang telah disediakan. Saat di ruang keluarga ini, mereka tidak duduk berpasang pasangan, tetapi duduk sesuai kehendak mereka dengan siapa mereka akan duduk berdampingan. Dalam ruangaan keluarga juga terlihat di sana telah tersedia minuman infus water dan cake coklat mini yang tersusun rapi di atas piring piring kecil. iInfus water adalah minuman favorit keluarga Soepomo saat berada di ruang keluarga.
"Sebelumnya kami dari keluarga Soepomo mengucapkan terimakasih banyak kepada keluarga Wijaya yang sudah mau menghadiri jamuan makan siang yang kami adakan. Begitu juga terimakasih untuk sahabat anak anak kita yang juga menyempatkan diri untuk hadir. Apalagi Bayu seorang pengusaha muda yang sedang naik daun. Terimakasih Bayu, Sari dan Mira atas kehadiran kalian bertiga." kata Papi membuka percakapan berat itu dengan ucapan terimakasih karena sudah mau menghadiri jamuan makan siang.
"Baiklah sebenarnya saya mengajak Tuan Wijaya, Nyonya Wijaya dan Tuan Afdhal ke ruangan kerja ininadalah untuk memohon maaf atas kesalahan yang dibuat oleh Aris terhadap putri kesayangan keluarga Wijaya yang juga menantu kesayangan kami yaitu Gina." kata Papi sambil menunduk malu atas perbuatan anak yang dibangga banggakannya itu. Mami menggenggam dan meremas tangan papi. Papi membalas remasan tangan Mami.
"Kami betul betul minta maaf dan sangat malu dengan kejadian ini. Kami tau kalau keluarga Wijaya sudah memaafkan. Tetapi rasanya kami tidak etis tidak meminta maaf secara langsung kepada keluarga Wijaya. Kami mohon maafkan kesalahan anak kami" kata Papi dengan melihat kepada Ayah, Nana dan Afdhal.
"Tuan Soepomo, saya dari keluarga besar Wijaya sudah memaafkan kesalahan Aris jauh jauh hari. Tetapi kami tentu mengharapkan ini adalah kejadian terakhir dan tidak akan diulang lagi. Kalau masalah Tuan Soepomo malu, kita sama sama malu Papi, tapi kita bisa apa?? Semua sudah terjadi maka kita tinggal menikmati dan menjalaninya." jawab Ayah dengan sabar dan tidak menggebu gebu.
"Mohon perhatiannya sebentar, saya di sini Aris, suami dari Gina yang sudah saya sakiti perasaannya dan sudah saya khianati kepercayaannya. Dengan sungguh sungguh meminta maaf kepada semua anggota keluarga terlbih kepada Gina istri saya. Saya sungguh sungguh meminta maaf dan menyesal telah mengkhianati Gina." kata Aris.
Aris kemudian duduk bersujud di hadapan Gina, dia memegang kaki Gina. Gina yang sedang mengobrol dengan Sari langsung terkejut saat Aris memegang kakinya. Dengan reflek Gina langsung berdiri dan berlari ke luar dari ruang kerja Papi.
Nana dan Afdhal yang melihat Gina langsung lari memanggil manggil Gina.
"Gin, Gina tunggu Nana nak" teriak Nana saat masih melihat Gina.
Gina terus berlari. Dia tidak ingin Aris menyentuh dirinya. Semua yang berada di dalam ruang kerja mengejar Gina. Akhirnya Afdhal bisa meraih tangan Gina. Afdhal membawa Gina kedalam pelukannya.
"Uda, Gina nggak mau dia sentuh Uda. Gina nggak mau tangan kotornya menyentuh Gina. Gina udah memaafkan dia tetapi Gina mohon jangan pegang Gina. Gina tidak ingin dia menyentuh Gina" kata Gina sambil menangis di dalam pelukan Afdhal.
"Adiak sabar sayang. Kalau kamu emosi seperti ini ingat kandungan kamu nanti terganggu" kata Afdhal berusaha menengakan Gina kembali.
Mami dan Nana menghampiri Gina yang menangis terisak isak dan terlihat sangat takut.
"Sayang" kata Mami memeluk Gina.
"Mami, Nana tolong katakan sama dia jangan pernah sentuh Gina. Gina takut Mami, tolong Mami, tolong katakan Mami" kata Gina masih dengan takutnya.
"Sayang, Mami janji akan ngomong dengan Aris. Tapi kamu harus janji untuk bersikap tenang. Kasian kandungan kamu nak" kata Mami membujuk Gina.
Gina berusaha menenangkan dirinya kembali. Ingin rasanya dia pindah untuk sementara waktu ke rumah utama Wijaya. Tapi itu tidak mungkin. Gina tidak mau membuat Papi dan Mami kembali terluka.
__ADS_1
Aris yang melihat Gina ketakutan dan menderita semakin membuat dia terpuruk dan memiliki rasa bersalah yang sangat kepada Gina. Ingin rasanya Aris kembali memutar waktu ke bulan bulan yang lalu. Aris ingin manjaga hati dan perasaan serta kesetiaan Gina. Tapi apalah daya Aris, nasi sudah jadi bubur dan tidak bisa dijadikan nasi atau lontong kembali. Aris harus menerima semua ini. Gina memang kembali tetapi hati dan perasaannya belum kembali. Ntah belum, ntah tidak akan kembali. Aris begitu sedih melihat keadaan Gina sekarang. Aris tanpa sadar maju ke hadapan Gina.
"Sayang, kalau kamu masih butuh waktu untuk menenangkan diri dan tidak ingin bertemu aku. Aku akan pindah ke kamar tamu" kata Aris sambil.menatap Gina.
Gina hanya diam saja. Dia tidak tau apa yang harus dikatakannya.
"Sayang tolong katakan apapun kepada aku sayang. Aku akan lakukan apapun itu" kata Aris dengan bersungguh sungguh.
"Baiklah, aku mengizinkan kamu untuk tidur di kamar, tapi tolong jangan pernah sentuh aku. Aku masih belum bisa menerima kamu untuk memegang aku. Intinya jangan pernah menyentuh aku." kata Gina sambil menatap Aris.
"Baiklah aku janji tidak akan menyentuh kamu" kata Aris.
"Biarkan aku terbiasa kembali dengan kehadiran kamu. Biarkan aku menata kembali hati aku yang sempat kamu lukai kemaren. Aku tidak malaikat Aris, aku manusia." kata Gina meluapkan kembali amarahnya.
"Sayang, tapi aku berharap kamu bisa memaafkan aku kembali." kata Aris.
"Hahahahaha. Aku sudah memaafkan kamu Aris. Sudah memaafkan, tapi sudah aku katakan aku tidak malaikat, aku hanya manusia biasa yang bisa memaafkan tetapi masih tidak bisa menata kembali hati aku seperti semula. Seharusnya kamu bersyukur Aris, aku sudah mau kembali kepada kamu. Kembali ke rumah ini lagi. Kalau aku memperturutkan ego aku, seperti kamu memperturutkan ego kamu. Aku katakan aku tidak ingin kembali ke sini lagi. Aku kembali karena melihat mereka berempat, memikirkan hati dan nama baik mereka. Makanya aku berjuang selama ini untuk bisa memaafkan kamu" teriak Gina.
Saat Gina berteriak itulah Gina jatuh pingsan. Ada cairan merembes dari celah pahanya. Mamj yang melihat cairan merah yang ternyata darah merembes dari paha Gina langsung berteriak panik.
"Papi, Gina berdarah Pi" kata Mami dengan berteriak.
Papi dan yang lainnya langsung kaget saat mendengar apa yang dikatakan oleh Mami. Bram yang berada dekat dengan Gina langsung menggendong Gina dan berlari.
"Bayu ambil mobil Bay" teriak Bram.
Bayu dan Afdhal berlari ke mobil, Bayu langsung masuk ke balik kemudi. Sedangkan Afdhal membukakan pintu mobil untuk Bram. Afdhal masuk ke dalam kursi penumpang, dia akan menjadikan pahanya sebagai sandaran kepala Gina.
"Sari telpin rumah sakit Harapan Kita, Gina akan kami bawa ke sana secepatnya" teriak Bram yang sangat panik melihat Gina seperti itu.
"Siap Sayang" jawab Sari.
Sari langsung menghubungi rumah sakit. Dia meminta semua dokter ahli kandungan berkumpul di ruang IGD, karena Gina akan dibawa kesana.
Saat Bram masuk ke kursi samping pengemudi, Bayu langsung menggas mobilnya menuju rumah sakit. Sedangkan keluarga yang lain naik ke dalam mobil mereka masing masing. Mereka langsung menyusul mobil Bayu yang sudah hilang ditelan bumi. Untung saja Bayu diiringi oleh anggota Gina yang selalu berada di dalam mobil di depan rumah utama Soepomo.
Mami dan Nana sepanjang jalan terus menangis melihat kondisi Gina. Mereka berharap Gina dalam keadaan baik baik saja. Begitu juga hendaknya dengan bayi di dalam kandungan Gina. Mereka berharap juga dalam keadaan baik baik saja dan kuat untuk menemani Nananya yang sedang dalam masa masa sulit itu.
"Mami, Nana jangan menangis lagi. Kita harus beroda untuk keselamatan Gina dan Bayinya" kata Anggel yang satu mobil dengan Mami, Nana, Papi dan Ayah.
"Anggel kamu kan dokter nak. Menurut kamu apa Gina dalam kondisi baik baik saja?" kata Nana
"Nana sebelumnya Anggel minta maaf. Tapi apa boleh setelah Gina sehat Anggel berbicara berdua dengan Gina?"
"Kenapa seperti itu sayang?" tanya Mami yang penasaran.
"Anggel lihat Gina sedikit tertekan, sepertinya Gina masih belum bisa menerima semuanya. Kita tau Gina wanita yang kuat. Sekuat kuatnya wanita, saat diselingkuhi maka dia akan sangat bersedih. Jadi Nana dan Mami, Anggel berharap Anggel bisa menjadi perantara antara Gina dan Aris. Anggel akan mengembalikan kepercayaan diri Gina yang sedang jatuh itu" kata Anggel.
"Nana setuju nak. Kamu berikan semua yang terbaik untuk Gina. Nana menaruhkan semuanya kepada kamu sayang" kata Nana sambil memeluk calon minantunya yang berikutnya itu.
"Baiklah Nana, Anggel akan berusaha" kata Anggel.
__ADS_1