Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Permainan Ketiga


__ADS_3

Aris terbangun terlebih dahulu dari pada Gina. Dia melepaskan pelukan Gina dari badannya. Aris berjalan dengan tubuh polosnya menuju meja yang sudah ada tersedia teko untuk memanaskan air. Aris berencana untuk membuat teh hangat untuk dirinya dan Gina.


Setelah memanaskan air, Aris menuju kamar mandi. Dia mengisi bathup dengan air panas dan memberikan aroma mawar dan beberapa kelopak mawar ke dalam bathup.


Aris kembali ke kamar. Dia menyeduh secangkir teh. Setelah selesai, Aris naik kembali ke ranjang sambil membawa segelas teh yang dibuatnya tadi.


"Sayang bangun. Udah pagi." ujar Aris.


Gina masih tidak bergeming. Aris mengecup bibir Gina sekilas. Tetapi Gina yang katanya tidur meraih kepala Aris dan menahan bibir Aris di atas bibirnya. Kecupan tadi berubah menjadi permainan.


"Sayang. Aku bawa teh, kamu mau tersiran air teh?"


Gina yang mendengar perkataan Aris melepas pagutan bibirnya.


"Selamat pagi sayang. Ini teh paginya." ujar Aris sambil tersenyum.


"Sayang yang harusnya bikin teh pagi itu aku. Bukan kamu sayang. Kok kamu yang buat?" tanya Gina.


"Sekali sekali melayani istri juga perlu sayang." jawab Aris.


Gina kemudian meminum teh yang diberikan oleh Aris. Aris kemudian beranjak ke kamar mandi. Dia mencek suhu air yang dirasa sudah pas. Setelah meyakinkan air terisi penuh, Aris kembali ke kamar.


Aris menggendong Gina ke dalam kamar mandi.


"Wow ternyata memang nggak ada yang gratis sayang." ujar Gina yang sudah tau Aris mau ngapain di dalam bathup itu.


"Hahahahahaha. Mana ada yang gratis sayang. Semuanha berbayar." jawab Aris.


Aris meletakan Gina ke dalam bathup. Setelah itu barulah dirinya masuk ke dalam bathup. Aris memposisikan dirinya di belakang Gina. Setelah di rasa cukup pas. Aris mulai memijit punggung Gina. Gina sangat senang diperlakukan seperti itu.


"Aku kira kamu mau ngapain sayang." ujar Gina kepada Aris.


"Mau mijit kamu sayang." jawab Aris sambil tersenyum.


Gina menikmati setiap pijitan yang diberikan oleh Aris kepada badannya yang benar benar remuk semalaman di permainkan oleh Aris.


Aris masih konsisten dengan apa yang dikatakannya, dia masih memijit pungguk dan pundak Gina selama tiga puluh menit. Gina sampai tertidur akibat merasakan enaknya pijitan Aris.


"Yah dia tidur" ucap Aris.


Aris kemudian mulai berpikiran usil. Dia mulai meraba raba dua gundukan favoritnya yang memiliki puncak kecil yang bersedia diapa apain itu.


Gina merasakan ada sesuatu yang mulai bangun di sana. Gina juga merasakan ada yang sedang bermain di bagian depannya.


"Sayang katanya mau mijit aja." ujar Gina mulai protes dengan tindakan Aris.


"Sayang inikan juga mijit sayang. Tapi nggak mijit punggung lagi. Kalau punggung terus tentu bagian lain juga cemburu sayang. Aku berusaha adil." ujar Aris menjawab protes Gina.

__ADS_1


"Masih juga alibi." jawab Gina yang sebenarnya juga menikmati pijitan Aris di sana.


"Sayang nikmati aja ya. Kapan lagi bisa kayak gini." ujar Aris yang menutup protes Gina dengan ciumannya.


Mereka berdua kembali bergulat di dalam bathup. Kini yang banyak bergerak adalah Gina. Aris menikmati permainan Gina yang pertamanya menolak akhirnya jadi yang palinf semangat.


Mandi yang seharusnya hanya empat puluh lima menit paling lama berubah menjadi dua jam. Aris sangat lama untuk mengeluarkan sesuatunya itu.


"Sayang, aku bener bener capek. Kamu menggempurku habis habisan sayang." ujar Gina yang benar benar lelah.


"Nanti kamu istirahat aja saat aku pergi dengan Arga. Tapi malam tiba jangan ngomong capek lagi ya." jawab Aris


"Belum puas sayang?" tanya Gina dengan heran.


"Sayang, ini barang udah lama nggak pulang. Makanya dia rapel banyak banyak." jawab Aris.


Mereka kemudian selesai berpakaian. Aris dan Gina keluar menuju restoran untuk menikmati saraoan mereka.


Saat mereka sampai, mereka ternyata menjadi pasangan terakhir yang datang. Mana Aris membuat tanda merah di leher Gina.


Aris dan Gina duduk di kursi yang masih kosong. Arga menatap Gina dengan sangat fokus. Dia melihat sesuatu yang aneh di leher Bundanya itu.


"Bunda tadi malam pintu balkon nggak ditutup ya?" tanya Arga.


"Tutup kok sayang. Kenapa emangnya?" tanya Gina.


"Leher Bunda banyak bekas di gigit nyamuk." jawab Arga dengan polosnya.


"Bukan nyamuk Ga yang gigit tapi drakula." jawab Bram.


"Apa?" teriak Arga.


"Sayang, Papi Bram bercanda. Mana ada drakula di dunia nyata." ujar Gina menimpali pekikan Arga.


Mereka kemudain sarapan. Arga menghabiskan sarapannya seperti dikejar hantu saja.


"Kenapa makannya cepat banget?" tanya Gina.


"Hari ini Daddy dan Papi Bram janji mau bawa raun. Arga mau pergi dari jam sepuluh. Sekarang udah jam sembilan. Arga belum mandi." ujar Arga.


"Kita kemana Gha?" tanya Bram.


"Kemana aja Papi. Pokoknya main dengan Daddy dan Papi." ujar Arga.


"Bun. Ayuk kamar, Arga mau mandi dan pake baju." ujar Arga sambil menarik tangan Gina.


"Iya iya. Daddy aja masih makan." ujar Gina.

__ADS_1


"Daddy udah mandi. Arga belum. Arga nggak mau gagal lagi pergi main sama Daddy." ucap Arga dengan nada nggak mau dibantah lagi.


"Ya udah ayok cepat ganti bajunya." ajak Gina langsung menggandeng putranya itu.


Arga sampai di kamar langsung masuk ke dalam kamar mandi. Setelah selesai mandi dengan ligat Arga memakai pakaiannya yang sengaja dibuat serasi dengan Aris dan Bram.


"Arga pelan pelan aja. Nggak bakalan ditinggal oleh Daddy." ujar Gina menegur Arga yang mengerjakan sesuatu dengan cepatnya.


"Memang nggak akan ditinggal Bun. Tapi Arga mau waktu yang lama bermain dengan Daddy." jawab Arga.


"Selesai."


"Ayuk Bun turun."


Arga berjalan duluan keluar dari kamar hotel. Dia benar udah nggak sabar lagi ingin pergi main dengan Daddy nya itu.


"Daddy ayok pergi. Aku udah siap." teriak Arga di depan pintu masuk restoran.


"Arga mau kemana??? Boleh Papi Afdhal ikut dengan Arga?" tanya Afdhal yang berniat menganggu ponakan nya itu.


"Nggak. Arga mau pergi dengan Daddy, Papi Bram dan Stefen " jawab Arga.


"Yah padahal Papi Afdhal dan Papi Bayu juga mau main dengan Arga." ujar Bayu menambahkan.


"Sekali nggak tetap nggak Papi kuadrat. Kapan kapan aja pergi dengan Arga."


"Nah dari pada Papi kuadrat pergi dengan Arga mending Papi bawa Mami kuadrat jalan jalan. Shoping. Negara ini terkenal dengan berliannya loh Pi" ujar Arga memanas manasi Mira dan Anggel.


"Arga serius disini berliannya bagus bagus?" tanya Mira yang mendapat angin segar dari cerita Arga.


"Serius Mi. Ngapain Arga boong, dosa lah Mi. Mami tengok aja cincin yang dipakai Frenya." ujar Arga yang tau kalau cincin yang dipakai Frenya adalah cincin berlian dari negara U.


MIra dan Anggel berjalan ke arah Frenya. Mereka melihat cincin yang dipakai Frenya.


"Wow bagus. Sayang kamu nggak usah ikut Arga. Sepertinya dedek bayi dalam perut mau beli berlian." ujar Mira sambil tersenyum meluluhkan hari Bayu.


"Sayang, kalau kamu nggak mau belikan aku, aku akan pake uang sendiri" ujar Anggel kepada Afdhal.


Dua pria tersebut hanya bisa geleng geleng kepala akibat ulah Arga. Sedangkan Arga hanya tersenyum saja. Dia puas bisa mengerjai dua papinya itu.


"Udah selesai sayang?" tanya Aris kepada Arga.


"Udah Pi. Selebihnya urusan dua Mami aja lagi." jawab Arga


"Oke. Stefen, Bram ayuk ikut." ajak Aris.


Mereka semua kemudian ikut dengan Aris pergi bermain dengan Arga. Kemanapun yang Arga inginkan.

__ADS_1


...............................................


Yang penasaran dengan tiga orang anak buah Aris. Mereka udah pulang selepas acara pernikahan Daniel dan Rani. Makanya nggak ada dalam cerita beberapa episode ini.


__ADS_2