
Beberapa anggota kelompok Ghina sudah berdiri di depan sebuah rumah yang dijadikan markas oleh Nyonya besar. Nyonya besar sengaja menyewa sebuah rumah yang di dekat gudang tersebut. Mereka semua memerhatikan keadaan rumah besar itu. Saat keadaan sudah aman, beberapa anggota Ghina masuk kedalam rumah besar itu.
Pertempuran tidak bisa terelakan lagi, anggota kelompok Ghina bertempur dengan genk yang di sewa oleh Nyonya besar untuk melakukan penculikan terhadap Sari. Pertempuran itu berlangsung dengan sengit, banyak dari Anggota genk yang di sewa Nyonya besar terkapar tidak berdaya, anggota kelompok Ghina tidak menggunakan senjata apapun, tetapi cukup dengan mematahkan beberapa bagian tubuh yang vital.
Setelah mereka yakin bahwasanya semua anggota yang berada di sana sudah terkapar tidak berdaya, anggota kelompok Ghina melucuti semua senjata mereka dan alat komunikasi yang bisa digunakan. Mereka semua menaikan para korban ke atas mobil untuk di bawa ke rumah sakit khusus yang dimiliki Ghina hanya untuk mengobati korban korban perkelahian. Rumah sakit yang terletak jauh di ujung negeri.
Setelah membereskan para korban perkelahian, mereka semua kembali merapikan tempat kejadian itu. Setelah memastikan keadaan sudah sama seperti semula, mereka memakai pakaian yang sama dengan yang dipakai oleh anggota gank tersebut.
" Hahahahaha, kita terlihat aneh memakai pakaian ini." ujar salah seorang pengawal Ghina.
Mereka memakai pakaian serba hitam dan juga memakai pita merah di lengan sebelah kiri.
"Ini lagi baju hitam pita merah, untuk apa coba maksudnya." ujar yang lainnya.
Mereka kembali mengobrol sambil menunggu kedatangan Nyonya besar yang menyewa gank tersebut untuk menculik ketua mereka.
"Hahahaha sepertinya dia bernyali besar juga ya. Berani sekali menyulik Nona Sari. Mereka tidak tau bagaimana kejamnya mereka bertiga." kata salah satu pengawal.
Saat mereka sedang asik mengobrol sambil bercanda sebuah sedan hitam masuk ke dalam pekarangan rumah mewah itu. Terlihat seorang Nyonya turun memakai pakaian serba hitam. Semua anggota penasaran dengan wajah Nyonya yang memakai topeng bulu bulu warna hitam.
"Yah dia memakai topeng." ujar salah satu pengawal.
Pok Pok Pok
"Silahkan berkumpul di lapangan, kita akan pergi menuju gudang penyekapan sekarang." ujar sopir yang ternyata juga adalah anggota kelompok Ghina.
Semua anggota yang tadi berkelahi dengan genk yang di sewa Nyonya itu menatap heran ke arah sang sopir. Mereka tidak menyangka yang menjadi sopir adalah kepala pengawal Ghina.
"Bukannya itu Tuan Steven?" ujar salah seorang pengawal berbisik.
"Kalau menurut mata penglihatan gue itu tuan Steven?" jawan pengawal sambil berbisik.
Nyonya yang memakai topeng bulu itu maju ke depan para pengawal.
"Sekarang silahkan naik ke atas mobil kita akan bergerak ke sana sekarang juga." ujar Nyonya memakai topeng bulu.
Semua anggota kelompok Ghina yang menyamar menjadi anggota kelompok Nyonya besar naik ke atas mobil. Mereka terdiri atas lima mobil mewah. Mobil mulai bergerak menuju pelabuhan tempat Sari di sekap.
RUMAH UTAMA SOEPOMO
Ting. Bunyi sebuah pesan yang masuk ke dalam ponsel Frenya. Frenya melihat ponsel miliknya.
"Bunda, Tante Mira, Daddy, Papi" Frenya berteriak memanggil semua anggota keluarganya, dia berlari dari lantai dua menuju ruang keluarga.
"Ada apa Nya?" tanya Ghina saat melihat anak perempuannya berlari dari lantai dua rumah.
"Hati hati Frenya." ujar Aris dengan ketus saat melihat Frenya langsung berlari turun ke lantai satu.
Frenya berhenti berlari, dia berjalan santai menuju ruang tamu.
Frenya duduk di sofa, dia menghidupkan laptopnya dan menyambungkan dengan email Steven calon suaminya.
"Bunda, lihat ini Bun?" ujar Ghina memperlihatkan isi laptopnya kepada semua keluarganya.
Mereka melihat sebuah mobil bergerak menuju sebuah tempat. Ghina dan Mira paham apa yang terjadi.
"Daerah mana Nya?" tanya Ghina
"Pinggiran Bun, sepertinya ini jalan menuju pelabuhan." jawab Frenya.
Aris, Bram dan Bayu yang tidak paham saling pandang pandangan.
"Ada apa ini sayang?" tanya Aris kepada Ghina.
"Kita sudah menemukan titik terang keberadaan Sari sayang." jawab Ghina.
"Keren, mari bergerak." ujar Aris.
"Gimana Nya bergerak sekarang atau bagaimana?" tanya Ghina menatap anak perempuannya.
Tiba tiba sebuah notifikasi masuk kedalam alat pelacak Frenya.
"Bun, Alex memberi kabar Bun, mereka sekarang sudah berada di tempat tente Sari di sekap." ujar Frenya memberikan kabar gembira kepada keluarga besarnya.
"Kamu udah pastikan Nya?" tanya Ghina kembali.
"Sudah Bun. Alex sudah sharelock lokasinya." jawab Frenya.
"Oke mari kita bergerak." ujar Ghina.
Aris memandang Ghina dan Frenya. Dia tidak mengerti dengan pembicaraan antara istrinya dan anaknya itu.
"Sayang, kamu di rumah aja. Biar kami yang laki laki pergi." ujar Aris yang tidak setuju Ghina ikut melakukan pencarian Sari.
"Oh maaf Sayang, sekali ini aku nggak setuju dengan kamu. Aku akan tetap pergi. Seizin kamu atau tidaknya " ujar Ghina.
Ghina kemudian mengambil kunci mobil miliknya. Dia terlihat sangat marah. Benar benar marah. Mira sendiri yang sahabatnya tidak pernah melihat Ghina yang marah seperti ini.
"Frenya, kamu naik mobil Bunda. Mira kamu ke markas. Suruh mereka menyiapkan rumah sakit. Gue akan buat perhitungan dengan orang yang berani menyandra sahabat gue." ujar Ghina dengan dinginnya.
Aura pembunuh terpancar dari dalam diri Ghina. Semua orang yang berada di ruang tamu menjadi takut dengan aura tersebut.
__ADS_1
Frenya cepat." teriak Ghina.
Frenya membawa laptopnya masuk ke dalam mobil. baru saja Frenya masuk ke mobil Ghina langsung menekan pedal gasnya. Untung saja Argha masih tidur nyenyak, kalau tidak anak itu pasti akan ikut juga.
"Bun, Daddy tidak tau tempatnya gimana caranya Bun? lata Frenya yang teringat Daddynya tidak memiliki alamat itu.
"Biarkan saja. Kalau dia pintar dia pasti akan melacak lewat gps mobil ini." jawab Ghina yang sama sekali tidak perduli dengan suaminya. Ghina sangat marah karena dia di larang pergi oleh Aris.
Ghina semakin dalam menginjak gas mobilnya. Dia mengambil jalan lingkar supaya terhindar dari macet.
"Bun, tadi Alex ngirim pesan. Katanya kita harus meletakan mobil di luar dan berjalan lewat tengah hutan. Salah satu anggota akan menemui kita di tepi jalan." kata Frenya menyampaikan pesan dari Alex.
"Oke Nya. Kamu terus memonitor dengan Tante Mira. Kita harus pastikan rumah sakit tersedia untuk para korban." Ghina memberikan instruksi tambahan kepada Frenya.
"Siap Bun" jawab Frenya.
Frenya kemudian menghubungi Mira untuk memastikan keadaan rumah sakit dan juga para dokter. Tepat setelah menghubungi Mira ponsel Frenya berdering, ternyata panggilan masuk dari Aris.
"Daddy Bun" kata Frenya.
"Angkat aja." jawab Ghina.
Frenya mengangkat panggilan dari Daddynya itu.
"Hallo Dad" sapa Frenya.
"Kamu dimana Nya? Bunda apa baik baik saja?" tanya Aris yang sangat cemas dengan istrinya itu.
"Bunda baik Dad." jawab Frenya.
"Baiklah, Daddy tepat di belakang kalian. Katakan ke Bunda kalau Daddy" ujar Aris.
"Bentar Dad" sela Frenya.
Frenya mengaktifkan loadspeker ponselnya.
"Kalau Daddy apa Dad?" tanya Frenya lagi.
"Kalau Daddy sangat mencintai istri Daddy itu. Katakan juga jangan marah marah, nanti Bunda cepat tua." ujar Aris yang tau Frenya mengaktifkan loadspekernya.
"Nya katakan dengan Daddy kamu. Jangan cari masalah dengan Bunda." ujar Ghina.
"Nya katakan ke Bunda, Daddy nggak cari masalah cuma khawatir saja." jawab Aris.
"Daddy Bunda gimana kalau keributan rumah tangga ini dilanjutkan nanti saja. Sekarang fokus dulu ke jalanan" ujar Frenya menghentikan keributan itu.
"Jaga Bunda Nya." ujar Aris.
Aris memutuskan panggilannya dengan Frenya. Suami istri itu kemudian fokus dengan laju mobil mereka. Ternyata Aris mengikuti gps mobil Ghina. Makanya dia bisa sekarang beriringan dengan Ghina.
SARI
Saru duduk menunggu siapa yang akan menemui dirinya. Dia sudah duduk di kursi yang bisa dikatakan seperti kursi pesakitan.
"Ngapain juga harus pake kursi kaya gini. Kayak pesakitan aja gue dibikin mereka." ujar Sari sambil menatap kursi tersebut.
"Dasar manusia manusia nggak ada otaknya." ujar Sari.
Felix kemudian masuk ke dalam ruangan Sari.
"Nona sebentar lagi mereka akan datang. Nona tidak perlu menekan tombol darurat lagi." ujar Felix.
Sari menatap Felix, pas saat itu masuklah orang orang berpakaian hitam ke dalam ruangan Sari. Mereka berdiri berjejer seperti orang orang yang akan melakukan hukuman tembak.
Setelah memastikan tahanan sudah dalam posisi siap. Barulah seorang perempaun masuk dengan memakai pakaian serba hitam dan juga memakai topeng bulu bulu warna hitam.
Sari menatap wanita itu dengan tajam. Wanita tersebut maju ke arah Sari.
Plak. Sebuah tamparan diberikan wanita tersebut kepada Sari. Sari merasakan perih dipipinya.
'Wanita gila main tampar aja.' ujar Sari dalam hatinya.
Sedangkan di luar Ghina dan Aris berbarengan memarkir mobilnya. Terlihat dua orang pengawal Ghina telah menunggu mereka di sana.
"Sore Nyonya." sapa salah seorang dari mereka.
"Sore, bagaimana apa masih jauh dari sini?" tanya Ghina kepada anak buahnya itu.
"Lumayan Nyonya. Kita harus berjalan menyusuri hutan pinus itu. Nyonya tersebut menyebar semua anggotanya di sepanjang jalan. Makanya Tuan Alex meminta Nyonya untuk berhenti di sini." kata pengawal menjelaskan.
"Bun, cepat kita pergi Bun. Nanti ketahuan." ujar Frenya yang merasakan ada pergerakan di dekat mereka.
Mereka semua kemudian berlari masuk ke dalam hutan pinus sedangkan mobil sudah di bawa oleh pengawal Ghina.
"Sayang siapa mereka dan siapa kamu?" tanya Aris.
"Sayangku cintaku suamiku nafasku. Cerita dan Nanyaknya nanti saja. Sekarang fokus dengan Sari." ujar Ghina yang menghentikan Aris untuk bertanya terlalu banyak.
Aris kemudian memilih untuk diam. Dia tidak mau membuat Ghina lebih marah lagi. Rombongan Ghina terus berjalan masuk ke dalam hutan pinus. Mereka harus berjalan dalam diam dan cepat karena bisa bisa anggota yang di sewa Nyonya topeng berbulu itu datang dengan tiba tiba.
"Siapa loe berani beraninya nampar gue" teriak Sari.
__ADS_1
"Loe nggak perlu tau siapa Nyonya besar kami Nona Tapi satu hal yang jelas Anda hanya dijadikan umpan untuk memancing target Nyonya kami datang." kata salah seorang pengawal tersebut.
Sari terlihat berpikir sesaat. Dia mencerna ucapan dari pengawal tersebut.
"Ooooo saya tau siapa Anda Nyonya. Anda adalah Nyonya Soepomo yang terbuang. Kemudian memperalat seseorang untuk menjadi Nyonya Soepomo yang kecelakaan. Tetapi sayangnya rencana Anda gagal. Makanya sekarang Anda melakukan penculikan kepada saya." kata Sari sambil tersenyum miring dan mengejek Nyonya berbulu.
"Wow ternyata kamu pintar juga ya. Saya tidak menyangka." jawab Nyonya berbulu.
"Udahlah Nyonya, nggak capek apa makai topeng aja terus???? Panas kali Nyonya. Mending Nyonya buka topeng itu." kata Sari kemudian.
Nyonya berbulu membuka topengnya. Maka terluhatlah wajah yang tak asing lagi bagi Sari, Steven dan juga Felix yang berada di dalam ruangan. Steven sempat sempatnya menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Hahahahahaha. Anda akan menggunakan saya sebagai pancingan supaya Ghina datang??? Ghina memang akan datang tetapi sebagai melaikat maut Anda Nyonya." ujar Sari berusaha memprovokasi Mami.
"Malaikat maut??? Kamu tidak tau siapa yang saya sewa untuk menyandra kamu???" ujar Mami yang heran Sari tidak ada rasa takutnya bertemu dengan Mami dan juga para laki laki yang memakai pakaian serba hitam.
"Saya tidak peduli dan saya tidak takut " jawab Sari lagi
Plak. Sebuah tamparan melekat lagi di pipi Sari. Stefen ingin melangkah maju tapi dihadiahi Sari dengan tatapan tajam.
"Kamu akan terima akibatnya Nanti. Saya akan buat keluarga Soepomo menangis darah karena telah berani mengusir saya dari rumah utama." kata Mami lagi dengan emosinya.
"Ooii terserah Anda saja. Satu yang pasti saat Ghina datang Anda akan menyesal karena sudah berani menyekap dan menampar Saya." lanjut Sari menekankan setiap kata katanya.
"Hay Nona. Nona bodoh sok berkuasa itu tidak akan bisa menemukan tempat ini. Tempat ini jauh dari jangkauan sinyal. Sedangkan Anda di sini sendirian. Siapa yang mau menolong Anda." ujar Mami.
"Baiklah kalau Anda tidak percaya Ghina bisa datang ke sini maka silahkan tunggu saja. Nanti saat dia datang jangan sampai Anda merasa rugi dan menyesal." jawab Sari.
"Ambilkan" kata Mami berteriak.
Seorang pengawal datang ke dalam dengan membawa slang yang cukup besar. Pada ujung selang terdapat alat semprotan. Felix dan Stefen saling bertatapan. Stefen memberikan kode kepada Felix.
Felix berjalan keluar ruangan. Dia mengikuti alur slang itu. Ternyata krannya berada di bagian belakang gudang. Felix melihat kran itu di jaga oleh seorang pengawal. Felux melumpuhkan pengawal itu dengan sekali pukulan kekepalanya.
"Auw" teriak pengawal sambil memegang kepalanya yang sakit.
"Maafkan saya sobat" ujar Felix.
Felix kemudian memindahkan pengawal yang pingsan itu kebagian lain gudang. Felix juga merusak kran air tersebut.
"Hidupkan" teriak Mami lagi.
Tapi air tetap tidak keluar dari slang tersebut.
Mami menatap tajam salah satu pengawal, pengawal tersebut berlari kebelakang gudang.
"Kenapa dengan krannya?" tanya pengawal kepada Frlix.
"Rusak" jawab Felix yang sibuk membetulkan kran itu.
Pengawal kembali ke ruangan Sari.
"Maaf Nyonya brsar. Kran airnya rusak." jawab pengawal sambils menunduk.
"Apa rusak??? Kenapa kalian tidak cek semuanya??" teriak Mami yang terkejut kran air itu bisa dengan tiba tiba rusak.
Mami kemudian membanting slang tersebut. Dia benar benar marah dan malu. Apalagi Sari sudah tersenyum senyum melihat Mami yang kesal.
"Oooo jadi ini anggota gank yang anda katakan hebat itu?" ujar Sari dengan nada mencemooh.
"Hahahahahahahaaha. Sebentar ini nyah." lanjut Sari.
"Kamu" tunjuk Mami yang sudah tidak bida menahan kesabarannya.
Plak kembali sebuah tamparan mendarat di pipi Sari.
"Tiga baru Nyonya. Nanti saya akan membalas lebih sadis dari ini." ujar Sari.
"Hidup aja belum tau udah berani ngancem saya." jawab Mami.
Mami kemudian pergi berjalan keluar ruangan diikuti oleh pengawalnya. Stefen menatap Sari lama. Sari mengangguk menandakan kalau dia dalam keadaan baik baik saja. Stefen kemudian mengiringi langkah Mami. Sedangkan Felix kembali masuk ke dalam ruangan zsari.
"Nona, pipi Anda" ujar Felix dengan nada khawatir.
"Tidak apa apa Felix. Dia akan menerima yang lebih mengerikan dari pada ini nanti. " kata Sari lagi.
"Nona, semua anggota kita di tambah gank black jack sudah ada di hutan. Kita akan menunggu malam. Setelah itu kita akan menari. Nona harus sudah bisa melepaskan ikatan Nona." ujar Felix.
Felix membantu Sari untuk melepaskan ikatan tangannya.
"Ghina bagaimana Felix?" tanya Sari.
"Sudah di hutan. Lengkao dengan Tuan Bram. Sekarang Nona harus akting meyakinkan kalau Nona beneran takut dengan Nyonya keparat itu. Jadi dia akan merasa jumawa Nona." lanjut Felux lagi.
"Tapi. Mereka banyak Felix. Dengarnya tadi datang lagi sekitar dua puluh orang." kata Sari menyampaikan apa yang didengarnya.
"Tenang saja Nona. Nona percayakan dengan kita semua?" tanya Felix berusaha meyakinkan Sari.
"Percaya." jawab Sari
"Oke Nona, ikatan sudah longgar. Saya pamit dulu." ujar Felix yang tidak mau ada yang curiga dengan dirinya.
__ADS_1
Frlix kemudian keluar dari ruangan. Dia mencari Steven. Beberapa orang secara kasat mana memang tidak nampak tetapi kalau diperhatikan akan nampak, ada pengawal yang menunduk saat Felix lewat.