
Singgah di Novel ku yang baru ya kakak. MENCINTAI TAK MEMILIKI
Aku butuh dukungan dari kakak kakak semua. Terimakasih kakak
******************************************
"Sayang, apa kita jadi ke rumah sakit?" Tanya Aries yang sekarang hanya tinggal berdua saja dengan Ghina di mansion yang super besar itu.
"Jadi sayang. Kita akan rapat direksi sebentar. Kita harus memeriksa semuanya. Apa kamu masih sanggup membaca laporan laporan keuangan sayang?" Tanya Ghina sambil tersenyum ke arah suaminya itu.
"Apa kamu meraguka kemampuan aku sayang?" balik Aries bertanya kepada Ghina.
"Sama sekali tidak sayang. Aku tahu apa yang kamu kerjakan. Kamu masih memeriksa beberapa laporan keuangan cabang perusahaan kita. Aku tahu itu" ujar Ghina yang secara diam diam memperhatikan Aries saat Aries membaca beberapa laporan keuangan dari anak cabang perusahaan yang berada di luar negeri.
"Jadi kamu tahu sayang?" tanya Aries sambil menatap ke arah istrinya itu.
"Sayang, apa yang aku nggak tahu tentang atau yang sedang kamu kerjakan" Jawab Ghina yang memang sangat mengetahui bagaimana Aries.
"Yup, kalau yang satu itu aku sangat luar biasa paham" Jawab Aries yang juga tidak memungkiti apa yang dikatakan oleh Ghina kepada dirinya.
******************************************
"Sayang apa kamu baik baik saja?" Juan melihat ke arah Frenya yang dari tadi sibuk memijit kepalanya yang terlihat sedang manahan rasa sakit.
Frenya mengangguk. Dia memang sedikit merasakan kepalanya agak sakit. Tetapi Frenya tidak ingin dia terlena oleh rasa sakitnya itu. Makanya Frenya dari tadi berusaha dengan sangat keras menahan rasa sakit yang tiba tiba saja datang seperti sekarang ini.
"Kamu yakin kalau kamu sedang baik baik saja?" ulang Juan bertanya untuk meyakinkan dirinya kalau Frenya dalam keadaan baik baik saja seperti yang dikatakan Frenya kepada dirinya.
"Yakin sayang aku baik baik saja." jawab Frenya yang tidak ingin Juan menjadi sangat cemas kepada dirinya.
"Tapi dari tadi kamu sibuk memijit kepala kamu sayang, sepertinya kamu sedang menahan rasa sakit" kaya Juan masih tidak yakin kalau Frenya dalam keadaan baik baik saja.
"Ooooo yang tadi itu." ujar frenya mengingat kejadian yang mana dirinya terlihat memijit kepalanya yang sakit tersebut.
"Tadi memang sempat sakit sayang, tapi siap aku pijit perlahan, tiba tiba saja sakitnya ilang" jawab frenya yang tidak mungkin membohongi juan lagi.
Juan sama sekali tidak akan percaya dengan apa yang dikatakan oleh frenya nantinya. Makanya sebelum Juan semakin berlarut larut bertanya, frenya lebih memilih untuk mengatakan apa yang terjadi sebenarnya.
__ADS_1
"Sekarang yakin kamu kalau itu sudah sehat?" tanya Juan dengan nada sangat cemas sekali akan kondisi Frenya.
"Sudah sayang. Kepala aku sudah tidak sakit lagi" jawab frenya dengan sungguh sungguh. Frenya tidak ingin Juan mencemaskan dirinya dan membiarkan Juan memikirkannya terus menerus. Juan sangat takut kalau itu sampai terjadi.
"Baiklah. Nanti kalau kamu merasakan pusing lagi, kamu harus menghubungi aku" ujar Juan sambil meremas tangan istri cantiknya itu.
"Siap Tuan pemarah dan posesif" ujar Frenya sambil tersenyum bahagia karena memiliki suami yang sangat perhatian seperti Juan ini. Sebuah keberuntungan yang didapatkan oleh Frenya saat dia sudah dewasa.
Mobil yang di supiri oleh sopir Juan telah sampai di depan perusahaan milik keluarga Frenya yang sekarang dikelola langsung Frenya. Sebenarnya Frenya juga punya tanggung jawab terhadap GA Grub. Sekarang tanggung jawab itu sudah di serahkan ke Daniel kakak laki lakinya.
"Aku turun dalu sayang. Jam makan siang, aku akan ke kantor kamu" ujar Frenya.
Juan mengangguk. Mereka berdua kemudian turun dari dalam mobil. Sudah kebiasaan Juan untuk mengantarkan Frenya sampai ke ruangannya yang berada di lantai paling atas gedung delapan lantai tersebut.
Sesampainya di depan ruang kerja Frenya, Juan membalikkan tubuh istrinya untuk menghadap dirinya.
Cup, sebuah kecupan di dahi, di pipi kiri dan kanan terakhir di bibir dengan lembut, diberikan oleh Juan kepada istri cantiknya itu. Istri yang telah berhasil membuat Juan untuk kembali ke mansion keluarganya dan juga kembali memakai nama keluarganya.
"Hati hati kerja ya. Jangan terlalu capek. Kalau ada masalah, bicarakan, nanti akan aku bantu" ujar Juan selalu menyampaikan perkataan atau pesan seperti itu setiap kali Juan akan meninggalkan Frenya di perusahaannya untuk bekerja.
"Oke sayang. Aku akan ingat selalu pesan yang kamu sampaikan setiap hari" jawab Frenya sambil memeluk suaminya.
"Jangan hanya diingat tapi laksanakan" ujar Juan.
"Siap bos" jawab Frenya sambil tersenyum.
"Kamu jaga istri saya. Sempat terjadi sesuatu makan kamu akan kembali ke negara itu" ujar Juan memberikan sedikit ancaman kepada pengawal Frenya. Hal yang sama setiap harinya.
"Siap Tuan Muda" jawab pengawal sambil menundukkan kepalanya memberikan hormat kepada Juan.
Frenya hanya bisa geleng geleng kepala saja menyaksikan keposesifan yang dilakukan oleh Juan kepada dirinya. Tapi Frenya tahu dan sadar kalau keposesifan Juan ini sangat baik dan berguna untuk dirinya. Jadi, Frenya tidak merasa keberatan dengan ini semua.
Setelah menyampaikan semua pesannya, Juan berbalik arah untuk keluar dari perusahaan istrinya itu. Juan kembali memasang kaca mata hitamnya. Juan tidak ingin semua wanita yang ada di perusahaan itu memandang wajah tampannya
"Satu satunya wanita yang boleh memandang aku hanya FRENYA. Tidak yang lain" ujar Juan setiap meninggalkan perusahaan Frenya.
Frenya melihat Juan sampai masuk ke dalam lift. Mereka berkali kali melambaikan tangan.
__ADS_1
'Tuan muda benar benar mencintai Nona muda' ujar pengawal.
Pengawal yang sekarang mengawasi Frenya bukanlah pengawal dari GA Grub melainkan pengawal yang langsung diperintahkan oleh keluarga Juan untuk menjaga keamanan anggota keluarga mereka. Saat itu memang terjadi sedikit selisih paham antara Ghina dan kedua orang tua Juan, tetapi Frenya berhasil meyakinkan Ghina bahwasanya pengawal yang diberikan oleh keluarga Juan pasti akan menjaga dirinya dengan sangat baik.
Frenya kemudian masuk ke dalam ruangan kerjanya. Dia melihat sudah ada setumpuk dokumen yang harus dikerjakannya. Belum lagi dokumen perusahaan GA Grub yang ditinggalkan oleh Daniel. Daniel memang pergi tidak akan lama tetapi saat Daniel pergi, maka Frenya yang harus mengendalikan perusahaan besar itu.
'Uda, kapan pulang?' Frenya mengirimkan pesan kepada kakak laki lakinya itu.
Daniel yang sedang duduk santai menikmati kopinya membaca pesan yang dikirimkan oleh Frenya.
'Kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan perusahaan?' balas Daniel yang sudah memiliki perasaan yang tidak enak saat membaca pesan yang dikirimkan oleh Frenya kepada dirinya.
'Kondisi fisik aku sedang tidak sehat uda. Sehingga aku butuh bantuan uda untuk mengawasi GA Grub.' akhirnya kepada Daniel lah frenya bisa mengatakan apa yang dirasakan oleh fisiknya saat ini.
'Kamu sakit?' tanya Daniel selanjutnya.
"Siapa sayang?" tanya Rina saat melihat Daniel yang sibuk dengan ponsel pintarnya itu.
"Frenya sayang. Dia bertanya kapan aku pulang." jawab Daniel memberitahukan kepada istrinya itu siapa yang telah membuat dirinya sibuk dengan gawainya sepagi ini.
"Tumben, apa Frenya sedang sakit?" Rina yang juga dekat dengan Frenya sudah mengetahui bagaimana seorang Frenya kepada Daniel.
"Sepertinya. Apa kita bisa pulang sekarang sayang?" ujar Daniel meminta pengertian dari istri cantiknya itu.
"Bisa sayang. Aku sepertinya sedikit tahu kenapa Frenya bisa demam. Aku sudah tidak tahan lagi untuk membuktikannya" ujar Rina yang paling bersemangat untuk pulang.
Daniel menatap ke arah Rina. Dia tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh istrinya itu.
"Menurut aku, ini adalah berita bahagia sayang" ujar Rina memberikan bahasa isyarat kepada Daniel.
"Oh semoga saja sayang. Mari kita kemas kemas"
Daniel membantu istri cantiknya itu berdiri. Mereka ke luar negeri adalah untuk program bayi tabung. Hubungan rumah tangga mereka yang sudah sepuluh tahun masih belum membuahkan hasil, jadi Rina dan Daniel sepakat untuk melakukan proses bayi tabung di negara E.
'Kami pulang sekarang' bunyi pesan chat yang dikirimkan oleh Daniel kepada Frenya.
Frenya yang sedang sibuk dengan semua tugas dan dokumen dokumen yang dibacanya itu, tidak mendengarkan bunyi ponselnya. Sehingga mau tidak mau pesan yang dikirim oleh Daniel tidak dibaca Frenya.
__ADS_1
"Dasar anak ini kalau udah kerja maka akan sangat fokus sekali" ujar Daniel sambil melihat ponselnya dimana masih centang ua belum centang biru.