
"Sayang, kita sarapan dulu." ujar Aris sambil memeluk Gina dari belakang.
"Kamu duluan aja sayang, aku mau memandikan Arga." ucap Gina sambil membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Aris.
"Kamu udah jarang makan bersama dengan keluarga sayang. Ada apa?" tanya Aris dengan menatap curiga kepada Gina.
"Nggak ada apa apa. Biasanya aku kan sarapan dengan keluarga. Hari ini aja yang nggak karena Arga telat bangun. Kalau makan malam aku kan diet makanya nggak ikut serta." jawab Gina sambil memeluk pinggang suaminya.
Dia harus mengalihkan perhatian Aris. Tidak mungkin Gina memakan masakan yang berbeda dengan penghuni rumah yang lainnya di hadapan suaminya itu.
"Tapi sayang" ujar Aris yang masih mau ngebantah jawaban Gina.
"Nggak ada pake tapi tapi dan tapi. Apa kamu mau Arga telat mandi. Nanti dikira Arga kita nggak sayang dia lagi. Kamu kan tau sendiri sayang kalau Arga itu anak yang konsisten dengan waktu." ujar Gina kembali berusaha meyakinkan Aris.
"Okelah sayang kalau itu. Arga orangnya memang konsisten waktu. Aku turun duluan ya, nanti setelah siap memandikan Arga, kamu susul aku ke bawah." ujar Aris yang masih kekeh menyuruh istrinya itu untuk ikut sarapan bersama.
Aris turun ke ruang makan sendirian. Semua keluarga sudah menanti dirinya di meja makan.
"Loh Gina mana?" tanya Mami yang pura pura peduli dengan tidak hadirnya Gina. Padahal di dalam hati Mami, Mami bergoyang seperti tim cheerleader menyemangati tim basket sekolah mereka saat menang pertandingan.
"Gina sedang memandikan Arga Mi. Sebentar lagi dia turun." ujar Aris.
"Oh" jawab Mami
Bram menatap Aris. Aris mengangguk.
Sampai mereka semua selesai sarapan barulah Gina turun dengan Arga yang telah rapi dan wangi.
"Aduh Gina cucu oma sayang, kenapa baru turun, kami semua udah selesai sarapan." ujar Mami dengan penuh sandiwara sebagai Nenek yang baik dan perhatian.
"Arga baru siap mandi Nenek, makanya Arga baru turun dari kamar." jawab Gina menolong membantu Arga menjadi cucu yang baik.
Arga yang melihat daddynya mau berangkat langsung menangis keras keras. Gina sampai susah untuk mendiamkannya. Aris yang sudah berada di dalam mobil kembali turun dari atas mobil. Dia menuju putra kesayangannya itu. Anak yang hanya tinggal satu satunya.
"Kenapa sayang?" tanya Aris sambil memposisikan badannya agar sama tinggi dengan Arga.
"Kut D" jawab Arga sambil mengangkat kedua tangannya untuk meminta di gendong.
"Sayang, aku tidak paham." ujar Aris kepada Gina yang memang kurang paham dengan ucapan anaknya itu.
"Arga mau ikut Daddy sayang?" tanya Gina kepada anaknya itu.
Arga mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh Gina.
"Sayang, Daddy pergi kerja. Jadi Arga nggak boleh ikut ya sayang. Nanti waktu Daddy kerja Arga mau ngapain? Daddykan nggak bisa menemani Arga bermain. Arga sama Bunda aja ya di rumah." ujar Gina berusaha membujuk Arga agar mau tinggal di rumah dan membatalkan niatnya untuk ikut ke kantor.
Raut wajah Arga berubah menjadi murung. Dia sangat ingin ikut. Sebenarnya Arga sudah sangat rindu dengan Daddynya. Mereka sudah sangat jarang bisa bermain bersama. Melihat wajah anaknya yang sedih Aris tidak sampai hati meninggalkan Arga di rumah.
"Sayang, ambilkan mainannya. Aku bawa aja Arga ke kantor. Tapi nanti kamu nyusul ya ke kantor." ujar Aris kepada Gina.
Gina menyiapkan perlengkapan Arga. Anaknya bener bener kalau sudah ada maunya harus dituruti kalau tidak maka wajah sedih dan memelas akan dipasangnya dan membuat orang merasa sedih serta akhirnya menuruti semua kemauan Arga.
Setelah semua perlengkapan Arga siap. Gina kembali ke ruang tamu.
"Arga nggak boleh gangguin Daddy kerja ya. Arga harus jadi anak baik." ujar Gina berpesan kepada anaknha itu.
arga mengangguk tanda setuju dengan ucapan Bundanya. Arga dan Aris kembali masuk ke dalam mobil. Gina melepas kepergian anaknya itu dengan perasaan cemas dan takut. Dia berdoa di dalam hatinya supaya anaknya tidak membuat ulah di kantor Daddynya.
"Hem anak nggak tau diri itu ikut Daddy ke kantor. Sudah bisa dipastikan dia akan mengganggu dengan semua tingkah bodohnya." ujar Mami sambil menatap Gina dengan pandangan meremehkan.
"Dia hanya ikut Daddynya bukan ikut orang lain. Saya rasa dia berhak ikut dengan Daddynya. Tidak ada yang bisa melarang." ujar Gina dengan penuh penekanan disetiap kata katanya.
"Selagi bisa silahkan dinikmati. Besok besok jangan harap Aria akan menerima kamu dan anak sialan itu." ucap Mami.
"Aku akan membuat kamu berpisah dengan dia. Pertama niat saya hanya membuat dia berpisah dengan anaknya. Tetapi sekarang tidan. Saya pastikan kamu akan berpisah dengan dia" ujar Mami sambil berteriak karena Gina sudah meningglkan dirinya sendirian.
__ADS_1
Tepat pukul sebelas siang Gina sudah memasak bekal makan sianh untuk Aris dan Arga. Dia memasukkan semua masakan ke dalam rantang. Gina melangkahkan kakinya menuju mobil miliknya.
"Hay semua bahan masakan sudah kamu pastikan tidak ada yang memakai bahan dari rumah ini?" ujar Mami dengan nada yang luar biasa membuat jengkel.
"Oh tenang saja nyonya. Semua bahan masakan ini saya beli dengan uang saya sendiri. Jadi Anda jangan khawatir jerih payah suami Anda akan masuk ke dalam perut saya." jawab Gina tidak kalah ketusnya.
Setiap hal hal menyakitkan yang diucapkan oleh Mami semuanya di rekam oleh Kepala Maid. Juga di rekam oleh cctv milik Gina.
Gina yang tidak ingin lama lama berurusan dengan mertuanya itu langsung berjalan menuju mobilnha. Dia sudah sangat jengah denhan semua kelakuan Mami. Gina melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kantor Aris. Gina menikmati perjalanannya.
PERUSAHAAN SOEPOMO GRUB.
Aris, Arga dan Bram tiga cowok tampan beda generasi itu menjadi pusat perhatian semua karyawati perusahaan. Arga yang memang tipe acuh hanya berjalan dengan pongahnya mengikuti Daddy dan Papi.
"Arga duduk sini." ujar Aris sambil meminta Arga untuk duduk di kursi miliknya.
Bram yang melihat itu langsung mengabadikan moment langka. Dia menjadikan fhoto Arga sebagai status pesan chatnya. Sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Bram selama ini. Selain ke status pesan chat, Bram juga memposting fhoto Arga di sosial medianya dengan mematikan kolom komentar. Dia tidak mau netizen berkomentar di fhoto Arga.
Setengah jam pertama Arga masih bisa diajak bermain di dalam ruangan Aris. Setelah itu Arga mulai bosan. Dia tidak terbiasa bermain sendirian. Biasanya ada Bunda yang selalu menemaninya bermain.
Arga yang mulai bosan menarik narik celana Aris.
"Apa sayang? Arga mulai bosan?" tanya Aris.
Arga mengangguk menyetujui kebosanan yang menimpa dirinya.
"Baiklah mari kita mengganggu Papi Bram. Sepertinya dia lagi sibuk memikirkan Mami Sari." ujar Aris yang tiba tiba terniat menjahili Bram dengan menggunakan Arga.
Aris menggandeng tangan Arga. Dua makhluk ciptaan Tuhan yang sangat mirip itu berjalan santai menuju ruangan Bram. Arga membuka pintu ruangan Bram. Bram yang sedang asik ngelamun kaget karena memdengar pintu yang dibuka dan dihempas kuat kuat ke dinding.
"Hahahahaha" Aris tertawa melihat Bram yang kaget.
"Hahahaha" Arga juga ikut tertawa karena mendengar Daddynya tertawa.
"Anak sama bapak sama aja. Capek gue sama tingkah absurd loe berdua." ujar Bram sambil geleng geleng tidak percaya dengan tingkah Aris dan Arga yang sangat luar biasa mirip.
"Ada apa Arga?" tanya Bram melihat ke arah Arga.
Arga menyatukan kedua telapak tangannya. Bram berpikir sejenaknya.
"Arga nggak perlu minta maaf, Papi udah maafin Arga. Papi hanya nggak mau Arga membuka pintu ruangan siapapun dengan kasar. Nanti Arga bisa dimarahi orang yang punya." ujar Bram memberikan pengertian dan pelajaran kepada Arga.
"Arga ngerti sayang?"
Arga mengangguk, ntah ngerti ntah ndak yang penting Arga mengangguk. Melihat Papinya yang sudah selesai berbicara Arga menggandeng tangan Papi dan mengajak Papi untuk pergi dari ruangan.
"Arga mau jalan jalan? Arga jenuh dengan Daddy yang sibuk kerja?" tanya Bram sambil melirik Aris.
Arga mengangguk, dia sangat setuju dengan ucapan Bram. Arga memang udah suntuk dari tadi.
"Oke mari kita pergi meninggalkan Papi yang sibuk." ujar Bram yang mengajak Arga untuk berjalan jalan disekitaran kantor.
Dua pria tampan berbeda usia dan berbeda kedudukan itu berjalan dengan collnya. Hari ini Arga akan menginspeksi seluruh ruangan kantor. Semua mata memandang ke arah Arga dengan rasa kagum yang luar biasa. Anak dari bos mereka benar benar tampan dan terlihat dingin serta cuek dan acuh.
Mereka berdua terus saja berkeliling perusahaan. Mereka sama sekali tidak mengacuhkan semua yang memandang kagum kepada mereka berdua.
.
.
.
Gina yang sampai di kantor suaminya mengambil bekal makan siang yang terletak di kurai belakang. Setelah itu dia dengan santainya menenteng rantang yang berisi makan siang untuk suami dan anaknya ke dalam kantor yang super duper megah luar biasa itu.
Gina berjalan dengan santainya. Dia langsung memencet tombol lift yang langsung menuju lantai dimana ruangan Aris berada.
__ADS_1
Ting. Bunyi lift yang sampai. Sekretaris Aris yang sedang duduk santai langsung berdiri saat mendengar bunyi lift. Dia tidak tau siapa yang akan bertamu. Setaunya sesuai dengan agenda tidak ada tamu yang akan datang.
Ternyata saat pintu lift terbuka yang keluar dari sana adalah Nyonya Muda Soepomo tak lain tak bukan adalah istri dari Aris yaitu Gina.
"Hay, apa suami ku ada di dalam?" tanya Gina kepada sekretaris
"Ada Nyonya. Silahkan masuk. Sini saya bawakan rantangnya." ujar sekretaris.
"Nggak perlu, makasih banyak. Ringan kok." ujar Gina yang memang tidak ingin merepotkan siapapun.
Gina masuk kedalam ruangan suaminya. Aris yang sedang bekerja tersenyum melihat siapa yang datang. Lebih terkejut lagi karena Gina membawa bekal makan siang.
Gina melihat sekeliling ruanga. Tetapi dia sama sekali tidak menemukan apa yang dicarinya. Aris langsung paham dengan yang dicari oleh Gina.
"Sayang, kamu pasti mencari Arga kan?" tanya Aris kepada Gina.
"Iya mana dia bocah kecil yang sukses bikin aku kangen itu." ujar Gina sambil terus mencari keberadaan Arga.
Aris mengeluarkan ponselnya. Dia langsung menghubungi Bram dan meminta Bram membawa Arga kembali ke ruangan.
Bram dan Arga kembali menuju ruangan Aris. Sebenarnya Arga tidak mau kembali keruangan secepat itu, tetapi karena Bram menjual nama Gina akhirnya dia mau kembali.
"Ma" teriak Arga saat melihat Gina yang sedang duduk di sofa.
"Sayang Bunda. Sini kiss Bunda. Peluk Bunda" ujar Gina kepada Arga.
Arga melakukan semua yang diminta Bundany. Saat dia melihat makanan kesukaannya di atas meja, Arga langsung lapar.
"Lamak M M" ujar Arga sambil memasukkan tangannya ke dalam mulut.
"Kamu lapar boy?" tanya Aris.
Arga mengangguk.
"Ya udah mari kita makan." ujar Aris.
Mereka berempat kemudian makan siang bersama. Makan dengan masakan yang dibuat oleh Gina. Arga makan dengan lahap, begitu juga dengan Gina. Gina dari pagi belum sarapan. Makan siang ini merupakan makan rangkap bagi Gina sampai makan malam.
Selesai makan siang, Arga bermain laptop sebentar dengan Aris dan Bram, sedangkan Gina merapikan meja ruangan Aris.
Tepay pukul dua siang selesai melaksanakan kewajibannya. Gina pamit kepada Aris.
"Daddy, kami berdua pamit dulu ya. Arga mau pergi main berdua dengan Bunda." ujar Gina kepada Aris.
"Kalau main Daddy ikut." ujar Aris.
"Mana ada bisa, tuh laporan sebanyak itu. Daddy harus cari uang banyak. Pas Arga usia enam sekitar satu tahun lagi. Daddy harus ajak Arga keliling dunia " ujar Gina mencari alasan supaya Aris tidak minta ikut.
"Oke baiklah. Hato hati di jalan." ujar Aris.
Cup. Aris mencium pipi Arga
Cup. Aris juga mencium pipi Gina.
"Jiwa jomblo gue berontak" teriak Bram.
"Makanya jemput" jawab Gina.
"Pengennya. Tapi dilarang" ujar Bram.
"Siapa ngelarang?" Gina mulai kepo.
"Bukan aku sayang. Malahan aku nyuruh" ujar Aris cepat yang tidak mau disalahkan oleh Gina.
"Sari yang larang. Katanya dia masih pengen di sana dulu." ujar Bram sambil tersenyum.
__ADS_1
"Oh. Kami berangkat dulu Daddy Papi" ujasr Gina.
Arga menyandang kembali tas ranselnya. Mereka berdua meninggalkan gedung itu untuk menuji tempat terapi Arga. Gina belum siap memberitahukan perihal Arga kepada Aris