
Aris bangun dari tidur lelapnya setelah mendengar ketukan di pintu kamarnya yang dari tadi tidak mau berhenti.
" Ya, Aku udah bangun Mami" kata Aris sambil mengeluarkan kepalanya dari bukaan pintu.
"Mami dan Papi menunggu kamu di meja makan, kita mau sarapan. Makanya nikah lagi Ris biar bisa bangun cepat." Omel Mami pagi - pagi.
Omelan Mami inilah yang membuat Aris merasa betah tinggal di rumah utama, tapi kalau udah keseringan dan pekerjaan kantor sedang banyak-banyaknya maka Aris akan tinggal di rumahya sendiri yang berjarak dua kilo dari rumah utama.
Aris kemudian menutup kembali pintu kamarnya, dia langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Aris mandi dengan cepat, dia tau dalam lima belas menit tidak sampai di meja makan, maka siap-siap saja Mami akan kembali teriak-teriak. Aris masuk kedalam wolking closetnya, dia memilih baju kaus warna putih dan celana jins levis warna navy. Aris hari ini memang tidak akan masuk kantor sesuai dengan janjinya dengan keluarga Wijaya untuk membuat Gina kembali percaya diri. Aris selesai merapikan dirinya dia kemudian turun ruang makan. Diruang makan itu sudah terlihat Papi, Mami dan Bram yang sudah menunggunya dari tadi. Aris kemudian duduk di sebelah Bram.
"Makanya nikah sana, atau ndak minimal punya kekasih, jadi ada motivasi untuk bangun pagi." kata Papi menyindir Aris.
"Mami setuju Pi. Mami udah ndak sabar kedatangan menantu atau calon minantu di rumah kita."
" Lanjutkan aja Mi, sampe puas nyindir Aris." kata Aris dengan kesal.
Mami yang baru sadar Aris tidak berpakaian kantor seperti biasanya langsung menatap Papi. Papi yang di tatap juga tidak tau kenapa Aris berpakaian santai langsung mengangkat bahunya.
"Ris, kamu nggak kekantor?" tanya Mami.
"Hari ini nggak Mi. Aris mau ke rumah sakit."
"Siapa yang sakit Ris? Kamu? Kok nggak ngomong Ris. Mami temani ya kerumah sakitnya, jangan sendirian. Mami hari ini nggak sibuk." tanya Mami mulai panik.
"Hahahahahaha, Mami mami, yang sakit bukan Aris, tapi calon menantu Mami yang dibuat Aris sakit." kata Bram sambil tertawa.
"Aduah, loe kira kaki gue batang pohon nyet, main injak aja." teriak Bram.
"Makanya jangan asal keluar aja tu bacot loe." kata Aris.
" Jadi Mami udah punya calon menantu Bram? Serius kamu?" Mami mulai kepo, Mami tidak menanggapi keributan kedua anaknya itu.
" Ada Mi, tapi sayangnya dibuat sakit oleh Aris. Noh sekarang sedang di rawat di rumah sakit Sentosa."
" Anak siapa Bram?"
"Anak Tuan Wijaya, Mi." jawab Bram.
"Ris ceritakan, kenapa kamu bisa sampai membuat anak Tuan Wijaya menjadi sakit." kata Papi dengan nada tegasnya.
"Pi, Aris cerita dikit aja dulu ya, Malam nanti Aris akan ceritakan semuanya kepada Papi dan Mami." Aris kemudian menarik napasnya dan memberikan tatapan membunuh kepada Bram. Bram yang ditatap Aris seperti itu hanya memberikan senyum penuh kemenangannya kepada Aris.
"Aris udah lama kenal dengan Gina, tepatnya saat Aris masih pacaran dengan Putri salah satu teman kosnya Gina. Waktu itu Aris tidak tau kalau Gina adalah anak dari Tuan Wijaya. Lambat laun Aris mulai menyukai Gina, tapi tidak Aris ungkapkan. Nah suatu hari Gina pergi ke Padang tempat Tuan Wijaya dulu tinggal." Aris kembali mengambil napas dan mencoba mengingat kembali.
"Waktu itu Aris ikui dia ke Padang, eee kiranya Gina udah di ibu kota, dia sengaja upload fhoto itu agar Aris pergi mengikutinya ke Padang. Nah kenapa Gina sakit, jadi hari itu Aris ada pertemuan dengan Tuan Wijaya di kota B, untuk melihat pembangunan mall kita yang dikerjakan oleh Perusahaan Wijaya." Aris kemudian meminum jus jeruknya terlebih dahulu, dia sangat haus.
" Ternyata waktu itu Tuan Wijaya membawa Gina kepertemuan itu. Nah Aris dengan bangganya pura-pura tidak mengenal Gina, ternyata hal itulah yang menyebabkan kepercayaan diri Gina menurun drastis. Kalau masalah operasi, Gina sedang sakit usus buntu dan harus dioperasi cepat. Makanya sekarang Aris harus kerumah sakit melihat Gina."
"Aris kamu bukan hanya melihat Gina, kamu harus membuat kepercayaan diri Gina kembali, kalau tidak maka siap-siap saja kamu" kata Mami mengancam.
"Siap Mi, Aris akan bertanggung jawab kepada Gina."
Papi yang selesai makan langsung diantarkan Mami ke lobby untuk berangkat ke kantor, setelah Papi masuk kedalam mobilnya, Mami juga masuk kedalam mobil lain diiringi oleh dua orang maid di rumah. Mami hari ini akan belanja bulanan.
"Bram, loe urus semua urusan kantor selama gue mengurus Gina. Seandainya ada sesuatu hal yang memang harus gue yang menanganinya, maka loe langsung hubungi gue, gue akan langsung hadir."
"Siap bos, laksanakan, Loe fokus aja dulu dengan Gina. Oh ya saran gue lagi neh, segera loe ungkapin isi hati loe ke Gina, Gue rasa Gina juga ada rasa sama loe. Nggak mungkinkan dia akan down saat loe pura-pura tidak mengenalnya." terang Bram kepada Aris.
"Semoga aja bener analisa loe Bram."
Bram kemudian masuk kedalam mobilnya, Bram melajukan mobilnya menuju perusahaan Soepomo. Bram tahu hari-hari yang akan dilaluinya kedepan akan sangat sibuk. Mereka biasanya berdua bekerja, sedangkan sekarang yang akan bekerja hanya dirinya sendiri.
Aris yang sudah selesai bersiap juga langsung masuk kedalam mobilnya menuju Rumah Sakit Sentosa. Aris melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia tau walaupun dia bisa kapan saja melihat pasien, tapi Aris tetap akan mengikuti aturan rumah sakit, dimana jam besuk dibuka pukul sembilan tepat. Tak terasa Aris sudah sampai di halaman Rumah Sakit Sentosa. Aris kemudian memarkirkan mobilnya di tempat khusus parkir keluarga Soepomo. Aris kemudian turun dari mobilnya dan langsung menuju ruang rawat Gina.
"Assalamualaikum wr wb" kata Aris.
"Waalaikum salam" jawab seseorang dari dalam kamar Gina.
Afdhal kemudian membuka pintu ruang rawat itu, betapa terkejutnya Afdhal melihat Aris pagi-pagi sudah datang kerumah sakit ditambah dengan memakai pakaian santai, bukan pakaian formal yang sehari-hari dipakai oleh Aris.
"Masuk Ris." kata Afdhal.
" Oh nak Aris, sini duduk dekat kami" kata Nana
Aris kemudian masuk dan duduk disebuah sofa yang masih kosong, Aris melihat begitu banyak makanan rumahan yang disajikan di atas meja kecil itu.
"Ayok ikut sarapan nak Aris." kata Nana sambil mengambil sebuah pirirng dan mengisinya dengan makanan.
"Terimakasih Nyonya, saya sudah merepotkan Nyonya."
__ADS_1
"Nggak apa-apa kok Nak, nggak ada yang repot, biasa aja." jawab Nana
Aris kemudian memakan sarapannya dengan lahap, dia sudah sangat jarang merasakan masakan rumahan seperti ini, di rumah utama walaupun Mami yang masak pasti masakannya agak kekota-kotaan. Mereka akhirnya selesai memakan sarapan, Nana kemudian merapikan sisa sarapan mereka.
" Ayah kekantor dulu ya Na. Tuan Aris saya ke kantor dulu, karena ada masalah yang harus saya yang menyelesaikannya." kata Ayah
"Oke Tuan, semoga masalah Anda cepat selesai"
"Nana, Aris aku juga ke perusahaan dulu, siang nanti aku akan menjaga Gina"
Papi dan Afdhal kemudian keluar dari ruang rawat Gina, mereka akan menuju kantor masing-masing.
"Bagaimana dengan keadaan Gina Nyonya?" tanya Aris.
"Aris, panggil tante aja ya, risih tante dipanggil dengan Nyonya." pinta Nana, Aris pun mengangguk menyetujui permintaan Nana.
"Sampai tadi masih belum ada perkembangan, Gina masih aman di dalam alam mimpinya." jelas Nana
"Boleh aku membawanya berbicara tante? Mana tau Gina meresponnya."
"Baiklah silahkan. Aris, Tante titip Gina sebentar ya, Tante mau ke rumah bentar, mengambil baju Gina." Nana kemudian mengambil tasnya.
"Tante pulang pake apa?"
"Pake taksi aja."
"Ini tante pake mobil aku aja, tanya aja sama satpam di depan, mobil Aris yang mananya. Nanti dia akan menunjukkan mobil Aris dimana kepada tante."
"Terimakasih Ris. Maafkan tante merepotkan kembali."
"Nggak kok Tan." Aris kemudian memberikan kunci mobilnya kepada Nana.
"Sayang, Nana pulang bentar ya." Nana kemudian mencium pipi Gina.
Setelah Nana pergi, Aris kemudian duduk disebelah ranjang Gina. Dia mengambil tangan Gina, Aris menggenggam tangan yang lemah itu dengan sangat kuat, Aris tidak menyangka sikap kekanak-kanankannya akan membuat Gina seperti ini. Tak terasa air mata Aris pun turun, dan mengenai punggung tangan Gina.
" Gin, bangun Gin. Kamu boleh mengerjaiku terus Gin, tapi kamu jangan seperti ini Gin. Aku tau aku salah karena sudah pura-pura tidak mengenal kamu saat kita bertemu itu. Tapi jangan hukum aku seperti ini Gin. Aku mau melihat senyummu kembali Gina."
"Ayolah Gin sadar, apa kamu tidak sayang dengan Ayah, Nana dan Afdhal, mereka sangat mencemaskan kamu. Apa kamu mau membuat mereka tidak makan dan tidak tidur?"
"Gin, ayolah Gin, kamu pasti mendengarkan aku. Gin, kalau kamu tidak mau menggerakkan tangan mu, berarti kamu sudah membenciku, aku bersedia untuk pergi dari hidupmu Gin. Asalkan kamu sehat, tidak seperti ini."
Gina akhirnya menggerakkan tangannya sedikit, gerakan sedikit itu langsung membuat Aris bahagia, dia langsung memencet tombol yang menuju ruangan dokter. Seorang dokter dan dua orang perawat masuk kedalam ruangan Gina.
"Maaf Tuan Aris apa yang terjadi dengan Nona Gina?" tanya seorang dokter.
"Tadi dia menggerakkan tangannya, tidak hanya gerakan kecil, tapi dia menggenggam dengan erat" Aris kemudian menatap ke tangannya yang digenggam erat oleh GIna.
Dokter kemudian melihat ke arah tangan Aris yang memang dengan kuat digenggam oleh Gina. Dokter kemudian memerikasa kondisi Gina yang sepertinya sudah mengalami kemajuan yang berarti hari ini. Dokter melakukan pemeriksaan dengan saksama, Dokter sangat takut kalau dia salah dalam melakukan pemeriksaan maka dia akan kehilangan pekerjaannya. Dokter tidak mau berhenti bekerja hanya karena kecerobohannya.
Tiba-tiba pintu ruang rawat Gina terbuka, terlihat Nana yang masuk dengan tergesa-gesa terlebih lagi Nana melihat dokter dan suster sedang memeriksa Gina. Nana takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap Gina. Nana kemudian melangkah menuju Aris. Nana melihat tangan Aris digenggam oleh Gina.
"Ada apa Ris?"
"Gina tadi menggenggam tangan aku dengan sangat kuat Na. Makanya aku memanggil dokter."
"Bagaimana dengan keadaan anak saya dok?" tanya Nana.
"Nona Gina sudah sangat baik Nyonya, kalau besok Nona sudah membuka matanya maka lusa kita sudah bisa melakukan operasi usus buntunya. Maka saya sarankan kepada Nyonya dan keluarga untuk terus berbicara kepada pasien, pasien walupun tidur dia bisa kok mendengar apa yang kita katakan." jelas dokter.
"Baiklah dokter, kami akan selalu membawa Gina berbicara"
"Kami permisi dulu Tuan Aris, Nyonya." kata dokter memohon izin untuk pergi dari ruangan Gina.
"Silahkan dokter" jawab Nana, sedangkan Aris hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Aris, kami dari kemaren sudah membawa GIna berbicara, tapi tidak ada respon sama sekali, sedangkan saat nak Aris membawa dia berbicara, Gina langsung merespon. Nana harap nak Aris mau membantu Gina membuka matanya, maaf kalau Nana banyak meminta kepada Nak Aris"
"Tidak masalah tante, saya akan membantu Gina sampai sehat." jawab Aris dengan mantap.
Tak terasa waktu makan siang sudah datang, Aris pamit kepada Nana, untuk ekluar sebentar. Nana yang tau kenapa Aris keluar langsung melarang Aris.
"Nak Aris, kita makan siang bersama saja. Nana sudah memasak tadi di rumah, sebentar lagi akan datang pelayan yang akan mengantarkan makanan kita."
"Nggak usah aja Nana, saya ada perlu keluar, jadi saya makan siang di luar aja langsung." kata Aris.
"Baiklah, hati-hati ya, nanti kalau ada perkembangan dari Gina, Nana akan kabari."
"Makasi Nana, Aku jalan dulu."
__ADS_1
Aris kemudian keluar dan menuju ruang dokter yang memerikasa Gina tadi.
"Assalamualaikum" kata Aris
"Waaluikumsalam, masuk" jawab dokter dari dalam ruangannya.
Aris kemduain masuk dan langsung duduk tepat di depan dokter yang sedang serius menatap ke kompueternya.
"Dok" kata Aris.
Dokter yang sudah kenal dengan jenis suara itu langsung mengangkat kepalanya, "Maaf Tuan Aris, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya langsung saja, menurut Anda apakah Gina akan sadar besok?"
"Sesuai dengan yang saya ucapkan tadi di ruangan, Nona Gina akan cepat sadar kalau orang yang telah membuat dia seperti itu, meminta maaf dengan tulus dan memerhatikannya dengan tulus, maka Nona Gina akan dengan sangat cepat sadar." kata dokter menjelaskan.
"Terimakasih dokter atas penjelasannya, saya permisi" Aris kemudian pergi tanpa menunggu jawaban dari dokter. Dokter tersebut sudah paham dengan kelakuan Aris.
Aris kemudian pergi menuju kantin rumah sakit, dia sedang malas keluar dari area rumah sakit. Aris bertekad hari ini dia akan membuat Gina membuka matanya. Aris ingin cepat Gina melakukan operasi. Aris kemudian memesan makanan kepada pelayan. Pelayan yang tau siapa yang datang langsung dengan cepat menyediakan apa yang diminta oleh Aris. Aris makan dengan cepat, dia sudah tidak betah dengan tatapan memuju yang diberikan oleh kaun hawa kepada dirinya. Aris menyelesaikan waktu makannya dalam tempo tiga puluh menit saja, selesai makan Aris meninggalkan meja makan dan meletakkan beberapa lembar uang seratus ribu.
Aris kembali menuju ruangan Gina, betapa terkejutnya Aris melihat Gina yang sudah sadar dan sedang menatap pintu ruangan kamarnya. Aris terdiam sesaat, dia ragu mau masuk kedalam kamar itu atau harus pergi dari kamar itu. Gina yang melihat keraguan dari Aris langsung memanggilnya.
"Kak, masuk." kata Gina.
Aris yang mendengar dia dipanggil Gina, langsung berjalan menuju Gina, Dia langsung memeluk Gina tanpa malu kepada Nana.
"Maafkan kakak, Gin. Kaak tidak bermaksud membuat kamu menjadi sakit. Maafkan kakak ya." kata Aris, Aris berusaha menahan air matanya, dia tidak mau menangis di depan Gina ataupun Nana.
" Udahlah kak, Gina udah nggak apa-apa, jadi nggak ada yang mau dimaafkan atau meminta maaf."kata Gina dengan bijak.
Ayah dan Afdhal langsung masuk kedalam kamar, mereka terkejut melihat GIna yang dipeluk oleh Aris.
"ehem" kata Afdhal.
Gina dan Aris kemudian melepaskan pelukan mereka, saat itu masuklah seorang dokter yang tadi memeriksa Gina. Dokter tersebut kemudian memeriksa Gina. Selesai memeriksa GIna, dokter tersebut tersenyum.
"Selamat Nona Gina, Anda sudah jauh baikan. Besok kita akan langsung mengoperasi usus buntu Anda." kata dokter.
Gina beserrta keluarganya dan Aris langsung mengangguk setuju untuk operasi Gina yang dilakukan besok.
"Kalau begitu silahkan Bapak urus semua administrasinya kebagian resepsionis" kata Dokter. Aris yang mendengar apa yang dikatakan Dokter langsung menatap tajam dengan aura membunuh kepada Dokter tersebut.
"Maaf Tuan Wijaya, tidak usah mengurus administrasinya, kita langsung saja besok jam tujuh untuk melakukan tindakan kepada Nona Gina. dan untuk nona Gina terhitung mulai jam dua belas malam nanti, Nona sudah tidak diizinkan untuk makan atau pun minum" kata dokter.
GIna menganggukkan kepalanya tanda dia paham dengan maksud dokter. Dokter kemudian meninggalkan ruang rawat Gina.
"Terimakasih Aris, berkat anda adik saya kembali sehat" kata Afdhal
"Itu sudah menjadi tanggung jawab saya Afdhal, karena saya yang mengakibatkan Gina seperti itu."
Mereka kemudian duduk dan berbincang - bincang, tak terasa jarumjam sudah menunjuk angka tujuh. Aris pun pamit untuk pulang.
"Maaf Tuan Wijaya, saya permisi pulang. Besok saya akan kembali lagi." kata Aris
"Baiklah Nak Aris, terimakasih kembali atas bantuannya, dan hati-hati di jalan"
Aris kemudian keluar dari kamar Gina, dia masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang untuk menuju ke rumah utama. Aris sangat lapar, dia ingin capat sampai dan langsung makan, selanjutnya akan tidur denga indah. Aris sangat lelah sekali.
__ADS_1