Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Pindahan


__ADS_3

Pagi hari saat sang surya baru merangkak naik untuk menyinari bumi, tetapi sang surya sudah ditutupi awan tipis yang menurunkan hujan gerimis. Pagi itu sudah terlihat kesibukan yang luar biasa di sebuah rumah di kawasan elit kota Padang. Semua pelayan sibuk mengeluarkan dari rumah dan memasukkan ke dalam sebuah mobil kopor-kopor yang tak terhitung banyaknya. Yak, rumah itu adalah rumah Gina. Keluarga besar Wijaya berserta dengan para pelayan di rumah besar itu akan pindah ke Ibu Kota Negara I. Tuan Wijaya dan Nana telah memindahkan kantor pusat perusahaan ke Ibu Kota dari dua bulan yang lewat.


Tuan wijaya, Nyonya Wijaya dan kedua anaknya sudah keluar dari rumah besar itu. Mereka menatap dengan nanar rumah besar penuh kenangan yang sekarang harus mereka tinggalkan. Gina menitikkan air matanya. Dirumah inilah dia melalui masa kecilnya. Sekarang harus ditinggalkannya demi kejayaan nama keluarga itu.


Sekarang di rumah besar itu hanya tinggal dua orang pelayan saja yang akan membersihkan dan merawat rumah utama. Perlahan tapi pasti iring - iringan mobil keluar dari rumah Tuan Wijaya menuju bandara. Tuan Wijaya beserta keluarga besarnya dan lima orang pelayan akan menaiki privat jet kepunyaan perusahaan Wijaya. Sedangkan sisa pelayan dan para pengawal akan menaiki mobil menuju ibu kota.


Penerbangan yang memakan waktu dua jam itu berjalan dengan normal tanpa gangguan. Akhirnya keluarga Wijaya resmi mulai hari ini akan menetap untuk selamanya di Ibu kota.


Tuan Wijaya beserta rombongan memasuki mobil yang sudah menunggu di runway bandara. Tuan Wijaya, Nyonya Wijada dan kedua anaknya langsung masuk kedalam mobil. Sedangkan pelayan yang sama dengan mereka tadi, masuk ke dalam mobil yang berbeda setelah semua barang di muat ke dalam mobil kargo.


Lima buah mobil berjalan beriringan menuju kediaman baru keluarga Wijaya. Satujam perjalanan iring-iringan mobil memasuki sebuah gerbang dengan bertuliskan Wijaya Grup. Sebelum masuk ke rumah utama, mata semua tamu akan dimanjakan dengan replika hutan kecil lengkap dengan air terjun mininya. Saat sampai di rumah utama, rumah itu terletak di pinggir sebuah danau buatan. Rumah besar itu juga dihiasi berbagai macam bunga yang indah-indah di tamannya yang luas. Sedangkan di bagian belakang rumah terdapat lapangan golf yang lumayan luas. Rumah Utama Keluarga Wijaya terdiri dari beberapa bangunan terpisah, yaitu bangunan paling besar merupakan kediaman Tuan Wijaya dan keluarga. Bangunan yang terdapat di sebelah kiri adalah tempat menyimpan koleksi mobil mewah keluarga Wijaya, ruangan itu dilengkapi dengan baseman. Sedangkan dibagian belakang rumah ada bangunan dua lantai yang berfungsi sebagai rumah para pelayanan dan pengawal keluarga wijaya. Rumah besar itu dilengkapi pula dengan segala fasilitas mewah. Semua serba teknologi.



Gina yang baru kali ini melihat langsung rumah barunya langsung tercengang dengan besarnya rumah tersebut. Gina berpikir kalau dia harus jalan kaki dari gerbang depan rumahnya menuju rumah utama berapa lama waktu yang harus terbuang sia-sia.


"Ayah, kenapa rumahnya segini besar Ayah?" Tanya Gina dengan heran.


"Kamu tidak suka sayang?" Ayah sedikit kecewa dengan pertanyaan Gina. Gina yang tau Ayahnya kecewa langsung mengatakan apa maksud pertanyaannya.


"Ayah, Gina tidak kecewa Ayah. Malahan Gina sangat senang. Tapi yang Gina herankan kemana harus sebegini luasnya?"


"Sayang, ayah sengaja membuatnya begitu luas. Ayah ingin, saat kalian menikah, tidak seorangpun yang boleh pergi atau membangun rukah lain. Walaupun kalian mampu. Kalian haris tinggal di rumah Ayah dan Nana." Ayah menjelaskan maksudnya membangun rumah yang begitu luas kepada Gina.


"Ooooo. Baiklah Ayah. Gina setuju."


"Ayuk masuk. Nana sudah pengen istirahat. Capek."


Tuan Wijaya dan keluarganya masuk ke dalam rumah mewah itu. Gina langsung menuju kamarnya dilantai dua. Gina kemudian membuka pintu kaca yang langsung terhubung dengan balkon. Gina terpana karena pemandangan indah yang bisa dinikmatinya setiap sore hari. Dari balkon kamarnya Gina dapat melihat danau buatan, apalagi saat matahari terbenam, maka danau itu akan semakin indah dengan pantulan cahaya matahari. Selain danau, pemandangan yang tak kalah hebatnya lagi adalah, taman yang terdapat berbagai macam bunga. Gina semakin bersyukur atas rezeki yang diberikan Tuhan kepada keluarganya. Mereka yang dari bukan siapa-siapa berubah menjadi keluarga yang sangat kaya. Bahkan apabila perusahaan Ayah, Nana dan Uda Afdhal digabung maka mereka akan menjadi perusahaan nomor satu di negara I.


Gina yang sudah sangat lelah mulai.membaringkan badannya di kasur king size itu. Gina tidak ingin membongkar semua bajunya sekarang. Masa liburannya masih panjang. Jadi Gina meminta pelayan untuk meletakkan kopor bajunya di ruang Wardrobe saja. Gina yang memang sudah sangat letih dari tiga hari yang lalu langsung saja tertidur saat kepalanya menyentuh bantal


Aris


Aris hari itu berencana untuk ke kantornya pagi hari. Tapi karena badannya yang letih seharian kemaren hanya berkendara saja tidak mendengar bunyi alarm yang sudah distelnya diangka lima. Aris baru bangun saat matahari sudah tinggi.


"Sial gue telat." kata Aris sambil langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan badannya. Dia semalam tidak sempat mandi karena sudah luar biasa mengantuk. Selesai mandi Aris memakai stelan kantornya yang berwarna biru gelap. Aris sangat tampan dengan stelan itu. Aris kemudian melangkah kemeja makan. Pelayan sudah menyiapkan sarapannya berupa nasi goreng seafood dan segelas teh hijau. Aris menyantap makanan itu dengan lahap. Selesai makan Aris melajukan mobilnya menuju kantor utama.

__ADS_1


Aris sampai di kantor langsung menaiki lift khusus presdir. Dia sampai di lantai dua puluh kantor utama perusahaan Soepomo. Aris kemudian memanggil asistem sekaligus sahabatnya Bram.


"Bram keruangan gue sekarang."


Bram yang mendengar nada suara Aris yangbkurang bersahabat, tanoa banyak tanya langsung menuju ruangan Aris.


tok tok tok


"Masuk Bram." kata Aris dari dalam.


Bram kemudian duduk di depan Aris, " Tuan mau saya dalam mode asistem atau sahabat?"


"Gue mau loe dalam mode sahabat." jawab Aris.


"Oke sip. Laksanakan." Bram kemudian mengubah nada suara dan mimik wajahnya menjadi mode sahabat.


"Emang bisa ya Bram mengubah mimik wajah dari asisten menjadi sahabat?"


"Bisalah loenya aja yang muka es. Nggak bisa berubah-ubah."


"Jadi kenapa loe manggi gue nyet?" kata Bram tidak sabar.


"Loe taukan gue kemana kemaren?" tanya Aris, Bram pun langsung mengangguk karena dia tau kemaren Aris kemana.


"Terus?"


"Gue kena tipu mentah-mentah Bram."


Bram yang mendengar apa yang dikatakan Aris langsung tertawa puas. Tidak biasanya Aris ditipu atau dikerjai perempuan. Biasanya Arislah yang suka mengerjai perempuan.


"Seneng loe."


"Bukan seneng tapi kok bisa loe percaya dengan status yang diupdate Gina." Bram tidak percaya dengan kebodohan Aris kali ini, yang main langsung percaya saja dengan status Gina.


"Gue udah menganalisa semuanya, dan memang benar Gina dan Mira janjian hari itu di air terjun."


"Terus?" kata Bram antusias.

__ADS_1


" Ternyata Gina harus kemabali ke Padang hari itu juga. Makanya mereka tidak jadi bertemu." kata Aris masih membela dirinya.


"Jadi intinya, loe yang rela melakukan perjalanan jauh tidak mendapatkan hasil apa-apa, gitu?"


Aris mengangguk.


"Sekarang mau loe gimana? Apa gue harus memerintahkan semua anak buah kita untuk mengobrak abrik kota itu, mencari Gina dimana?" kata Bram memberikan solusi.


"Nggak usah Bram. Gue berpikiran lebih baik kita menunggu aja lagi. Kan kuliah bemtar lagi akan mulai." kata Aris.


"Woi nyet kuliah mah dua bulan lagi baru mulai. Serius loe mau nunggudua bulan lagi?"


"Yup. Serius. Gue akan tunggu dua bulan. Gue nggak mau mencari-cari Gina lagi." Aris berkata dengan mantap.


"Awas loe kalau uring-uringan ya. Gue tampol loe. Kata Bram.


Saat Aris dan Bram asik bercerita, tiba-tiba terdengar keributan di depan ruangan Aris. Aris dan Bram langsung membuka pintu ruangannya. Disana terlihat Putri yang sedang berusaha ditarik oleh satu orang satpam dan sekretaris Aris.


"Ada apa ini ribut-ribut." kata Aris.


Putri yang melihat Aris langsung senang. Dia mengeluarkan jurus mautnya.


"Sayang, aku nggak boleh masuk sama orang dua ini. Pecat aja mereka sayang." kata Putri manja. Satpam dan Sekretaris yang mendengar Putri meminta Aris untuk memecat mereka berdua langsung saja melepaskan tangan Putri. Putri yang merasa sudah bebas langsung berlari menuju Aris. Aris kemudian berteriak.


"Stop. Udah gue bilang sama loe kita udah putus. Jangan pernah lagi injakkan kaki loe di kantor gue." kata Aris dengan kejamnya.


Putri yang mendengar apa yang diucapkan Aris merasa tidam percaya dengan apa yang didengarnya.


"Maksud kamu apa sayang?" kata Putri.


"Bram jelaskan."


"Maksudnya Aris sudah memutuskan hubungan dengan kamu. Jadi kamu bukan pacar Aris lagi. Tapi mantan. Camkan itu Mantan." kata Bram.


"Selain itu. Kalau kamu masih berani mengganggu hidup Aris. Maka aku yakinkan saat itu juga perusahaan yang dibangun susah payah oleh Ayahmu akan bangkrut dalam satu jentikkan jariku." kata Bram melanjutkan ancamannya.


Putri yang mendengar langsung saja pergi dengan linangan air mata. Dia tidak percaya Aris akan setega itu memutuskan hubungan yang sudah terjalin selama tiga tahu. Tapi apa mau dikata nasi sudah menjadi bubur. Putri hanya bisa menerima, dia tidak mau mengambil resiko dengan menjadikan keluarganya sebagai korban kekuasaan Aris.

__ADS_1


__ADS_2