
" Sayang udah siap belum?" panggil Aris kepada Gina yang masih belum juga keluar dari ruang makeup.
"Ini sdng pake sepatu. Cuma nggak nampak sayang karena terhalang perut." jawab Gina sambil mengangkat sepatu flatnya ke depan muka Aris.
"Duduk sini, biar ditolong masangnya." perintag Aris kepada Gina.
Gina kemudian duduk di sofa kamar. Aris berjongkok di depan Gina. Dia memasangkan kedua sepatu Gina sambil melihat kaki Gina yang bengkak. Aris mencium kaki itu, Gina terperanjat karena perlakuan Aris. Gina langsung memeluk Aris.
"Sayang kenapa dicium kakinya?" tanha Gina di dalam pelukan Aris.
"Karena kaki ini sudah membawa anak aku kemana mana, dan membuat istri yang aku sayang susah." jawab Aris.
"Sayang aku nggak ada susah. Malahan aku sangat bahagia sayang karena masih mampu membawa blip. Kalau masalah bengkak, itu udah biasa bagi ibu hamil sebesar ini." kata Gina sambil mengusap punggung Aris.
"Aku mencintaimu sayang." kata Aris kepada Gina sambil mengusap ujung matanya.
"Aku juga mencintaimu sayang." jawab Gina.
Mereka berdua kemudian turun ke lantai bawah Daniel sudah menunggu di teras rumah sambil ngobrol dengan Papi, Mami dan Bram.
"Pi, Mi kami jalan dulu ya. Kami akan makan malam di rumah Ayah." kata Aris.
Aris, Gina, Bram dan Daniel bersalaman dengan Mami dan Papi. Mereka kemudian berangkat menuju rumah utama Wijaya.
"Niel, kalau kamu di tanya sama Ayah Wijaya untuk masuk ke dalam keluarga Wijaya apakah kamu mau?" tanya Aris yang susah untuk menyusun kata katanya.
"Nggak akan Dady, Aku hanya mau jadi anak Bunda dan Daddy." jawab Daniel dengan mantap dan tegas.
Gina meremas tangan Aris. Dia sangat yakin Aris sedang merasa gelisah. Aris takut kalau Daniel akan tinggal atau mau menjadi bagian dari keluarga Wijaya.
Mereka telah sampai di rumah utama keluarga Wijaya. Aris menggandeng Gina masuk ke dalam rumah. Sedangkan Bram berjalan bersama dengan Daniel.
Aris membuka pintu rumah utama. Mereka berempat masuk. Seorang maid keluar dari arah dapur.
"Sore Nona Muda. Tuan dan Nyonya berada di gazebo belakang." kata Maid memberitahukan dimana posisi Tuan Wijata berada.
"Baiklah bik terimakasih. Kami akan langsung ke sana." kata Gina.
Mereka berempat menuju gazebo tempat keluarga Wijaya sedang duduk. Gina melihat semua keluarganya hadir lengkap di sana.
"Sayang ada perlu apa. Sampai sampai tadi Aris menghubungi Ayah katanya ada sesuatu yang akan disampaikan karena penting." kata Ayah kepada Gina
__ADS_1
"Begini Ayah Nana. Sebelumnya Gina minta maaf karena baru menceritakan ini sekarang. Seharusnha Gina kemaren kemaren berceritam" kata Gina kepada keluarganya.
Ayah, Nana dan Afdhal saling pandang pandangan. Mereka sama sekali tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Gina.
"Sayang, kamu mau mengatakan apa nak. Jangan seperti ini. Kami jadi tidak paham apa yang kamu katakan." kata Nana.
"Begini Nana, Ayah. Pria muda ini bernama Daniel. Daniel adalah anak angkat Gina udah dari lama. Cuma Gina tidak menceritakan kepada Ayah dan Nana karena belum saatnya. Nah sekarang Daniel sudah kembali, maka Gina harus menceritakan kepada semua keluarga." lanjut Gina.
"Niel sekarang perkenalkan tentang kamu kepada keluarga Bunda." kata Gina kepada Daniel.
Daniel kemudian beridiri dari duduknya.
"Baiklah Tuan, Nyonya." kata Daniel.
"Nak karena kamu adalah anak angkat Gina. Maka panggil kami Kakek dan Nenek." kata Ayah kepada Daniel.
"Terimakasih Kek. Niel akan menceritakan bagaimana awal mula Daniel ketemu dengan bunda." kata Daniel.
Daniel kemudian menceritakan bagaimana awal mula dia bisa bertemu dengan Gina. Daniel menceritakan semuanya. Daniel juga menceritakan bagaimana ia diangkat anak oleh Aris dengan memberikan nama Aris Soepomo di belakang namanya.
Nana memeluk Gina dengan erat.
"Makasi Nana, Ayah, Uda sudah mau menerima Daniel dalam keluarga kita." kata Gina kepada keluarganya.
"Kalian makan malam di sini kan ya. nana akan masak makanan kesukaan kalian semua." kata Nana.
"Yup Na. Kami akan makan malam dan menginap di sini." kata Aris yang membuat Gina terkejut.
"Makasi sayang." kata Gina di telinga Aris.
Aris membalas dengan memberikan senyum terbaiknya.
"Oh ya Daniel. Kamu kerja di rumah sakit mana sekarang?" tanya Afdhal yang dari tadi hanya menyimak pembicaraan antara kedua orang tuanya dengan Gina dan Daniel.
"Sekarang kerja di Rumah Sakit Harapan Kita Paman." jawab Daniel.
"Bagus itu. Harapan Kita termasuk rumah sakit yang bagus juga sekarang." kata Papi.
"Bagaimana kamu bisa masuk ke rumah sakit itu? Paman dengar seleksi untuk masuk dan bekerja di sana lumayan susah. Mereka terkenal memiliki standar yang tinggi untuk semua dokternya." kata Afdhal selanjutnya.
"Kamu tidak tanya dia tamatan mana Uda?" kata Gina sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kampus di negara ini jan ya." jawab Afdhal dengan pasti.
"Daniel kamu tamatam kampus mana?" tanya Ayah menuntaskan rasa penasaran Afdhal.
"Kampus O Negara E kakek." jawab Daniel sambil tersenyum.
"Kalau kampus O negara E mah nggak perlu orang dalam juga pasti diterima di Rumah Sakit Harapan Kita." jawab Ayah.
Afdhal yang mendengar Daniel tamatan dari kampus itu langsung menatap bangga kepada keponakannya. dia tidak menyangka orang yang duduk di dekat dirinya ini adalah seorang lulusan terbaik kedokteran dari kampus O.
"Kami bangga sama kamu Daniel." kata Aris sambil memukul pundak Daniel.
"Terimakasih Paman. Semya ini berkat Bunda, kalau Bunda nggak ada, aku belum tau bisa menjadi seperti ini." kawab Daniel dengan bijaknya.
"Ya semua berkat Bunda tetapi tetap karena usaha kamu." jawab Gina yang tidak ingin Daniel terlalu memuji dirinya.
"Sayang kita ke kamar yuk. Aku sedikit merasakan letih." ujar Gina kepada Aris.
Gina merasakan sekarang dia sangat cepat merasakan lelah. Seperti hari ini, dia sudah merasakan lelah yang luar biasa, padahal kesibukannya tidak seberapa.
"Bawa ke kamar Aris. Usia kehamilan yang sudah tua memang membuat ibu hamil menjadi lebih cepat merasakan lelah." kata Nana kepada Aris.
"Kami ke kamar dulu Ayah. Daniel kalau kamu mau beristirahat, istirahat di kamar tamu aja ya." kata Gina kepada Daniel.
"Siap Nana. Nggak usah ragu aku akan istirahat dimana. Aku mau duduk di sini dulu dengan kakek." jawab Daniel.
Aris dan Gina menuju kamar mereka. Sedangkan Ayh dan yang lainnya masih duduk dan akan melanjutkan obrolan di gazebo itu. Daniel adalah topik terbaru dan terhangat yang akan mereka diskusikan.
"Ambil spesialis apa kamu di luar Niel?" tanya Ayah.
"Penyakit dalam kakek" jawab Daniel.
"Kenapa tidak jantung?" lanjut Nana menyambar pertanyaan Ayah.
"Satu hal kalau penyakit dalam banyak pasien yang bisa diobati. Itu sebenarnya dasar kenapa ngambils penyakit dalam." jawab Daniel dengan jujurnya.
"Kamu bener bener mulia. Semoha Bunda kamu menjadi bangga kepada kamu Nak." lanjut Ayah.
"Tujuan Daniel itu kek. Membuat bangga Bunda."
Mereka semua melanjutkan obrolan. Tak terasa hari sudah hampir maghrib. Mereka kemudian membersihkan diri dan bersiap untuk sholat maghrib berjamaah.
__ADS_1