
Tidak terasa usia Arga sudah akan berumur satu tahun. Gina hari ini berencana untuk membawa Arga ke kantor Daddynya. Mereka berencana untuk makan siang bersama. Gina sudah memasak menu makan siang favorit Aris dan Bram.
"Sayangnya Bunda, mau ikut ke kantor Daddy?" tanya Gina kepada Arga yang sibuk dengan mainan pesawat pesawatnya.
Arga mengangguk tanda setuju dengan ajakan Gina. Gina tersenyum dengan tanggapan yang diberikan oleh Arga.
"Karena anak Bunda mau mari kita pergi mandi. Setelah mandi baru kita ke tempat Daddy." ujar Gina.
Arga kemudian berdiri dari duduknya. Arga memang sudah bisa berjalan tapi masih harus dibimbing agar tidak terjatuh. Gina membawa Arga menuju kamar mandi. Dia memandikan Arga yang sebenarnya sudah mandi tadi pagi, tapi karena Arga tipe anak aktif dan suka berlari lari, makanya Gina kembali memandikan dia.
"Selesai. Ayuk cari baju Arga." ujar Gina sambil membawa Arga kedepan lemari pakaian miliknya pribadi.
"Arga mau pakai baju yang mana?" tanya Gina kepada anak semata wayangnya itu.
Arga menunjuk pakaian apa yang mau dipakainya.
"Ini sayang?" tanya Gina, Arga menjawab dengan gelengan kepalanya.
"Ini?" tanya Gina kembali. Arga kembali menggeleng.
"Terus mau yang mana sayang?" tanya Gina kembali.
Arga menyentuh baju yang ingin dipakainya. Gina kemudian mengambilkan baju tersebut. Gina kemudian memakaian Arga sebuah baju kaus lengkap dengan celana levis pendek serta sebuah topi. Arga selalu suka memakai topi kemanapun dia pergi.
"Wow anak Bunda keren. Muach. Bunda makin cinta kamu sayang." ujar Gina sambil mencubit pipi Arga.
Gina membawa Arga ke kamarnya. Dia akan mengganti pakaian rumah dengan pakaian bepergian. Setelah memilih baju yang senada dengan baju yang dipakai Arga, Gina kemudian merias dirinya di depan cermin. Dia ingin sekali tampil cantik di depan suaminya.
"Sayang apakah Bunda cantik?" tanya Gina kepada Arga.
Arga membalas dengan anggukan kepalanya. Arga masih sibuk dengan mainanya.
"Ayok Arga Aris kita berangkat ke kantor Daddy." ujar Gina sambil menggendong Arga.
Arga yang memang tidak suka di gendong memberontak di dalam gendongan Gina. Dia hanya ingin berjalan kaki saja. Gina yang tau anaknya pengen jalan kaki, menunrunkan kembali Arga dari gendongannya. Gina memegang tangan mungil itu. Mereka berdua turun ke lantai satu rumah.
"Wow cucu oma ganteng sekali sayang. Kamu mau kemana?" tanya Oma kepada Arga.
Arga menatap ke Bundanya.
"Arga mau ke kantor Daddy, Oma. Arga mau mengantarkan makan siang Daddy dan Papi." ujar Gina mewakili Arga.
"Hati hati ya Nak. Jaga Arga dengan baik." ujar Mami kepada Gina.
"Siap Mami. Itu udah menjadi kewajiban Gina. mami tenang aja ya." ujar Gina kepada Mami yang selalu akan cemas setiap Arga pergi keluar dari rumah utama.
Gina dan Arga masuk ke dalam mobil. Pak Paijo yang menjadi sopir langsung melajukan mobilnya menuju kantor perusahaan utama Soepomo Grub.
Pak Paijo menjalankan mobil dengan kecepatan sedang. Gina menatap ke arah luar jendela. Sedangkan Arga sibuk dengan mainannya. Dia nggak perduli sama sekali dengan yang namanya dunia luar. Setelah menempu perjalanan selama tiga puluh menit. Mobil berbelok masuk ke lapangan parkir perusahaan Soepomo Grub.
"Sayang ayuk turun." ajak Gina kepada Arga.
Arga memberikan tangannya kepada Gina. Mereka bergandengan tangan turun dari mobil. Gina membawa Arga masuk menuju ruangan Aris. Semenjak Gina melahirkan, Papi kembali memberikan Soepomo Grub kepada Aris. Sedangkan Papi dan Paman Hendri kembali menjalankan Jaya Grub. Dua perusahaan yang sudah digabung, tetapi karena suatu masalah, Papi kembali memisah kedua perusahaan itu dalam hal kepemimpinan.
Gina dan Arga menjadi pemandangan yang menarik bagi semua karyawan perusahaan. Mereka menatap Gina dan Arga dengan sangat lekat. Mereka terus menatap Arga dan Gina. Arga yang masih kecil hanya berjalan dengan diam. Sedangkan Gina yang sudah terbiasa dengan tatapan semua karyawan berjalan dengan biasa saja.
Gina masuk ke dalam lift khusus yang akan mengantarkan dirinya dan Arga menuju ruangan Aris. Gina sengaja tidak memberi tahukan Aria akan kedatangannya. Tetapi Bram sudah dia kabari sebelumnya.
"Selamat siang Nyonya." kata sekretaris yang bernama Budi.
"Siang. Apa suami saya ada di dalam ruanganny?" tanya Gina kepada Budi.
"Ada Nyonya. Tuan ada di dalam." jawab Budi.
Gina dan Arga masuk ke dalam ruangan Aris. Aris yang sedang membaca dokumen perusahaan bersama dengan Bram, langsung mengangkat kepakanya saat mendengar pintu ruangan yang terbuka tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Aris sebenarnya akan marah melihat siapa yang masuk. Tapi langsugn diurungkannya saat melihat yang masuk adalah Gina dan Arga.
"Kejutan" kata Gina sambil melepaskan tangan Arga.
Arga berlari ke arah Daddy nya. Dia langsung meminta untuk digendong. Gina yang siap menyiapkan menu makan siang di atas meja. Langsung terperangah melihat Arga yang digendong oleh Aris.
"Nah loh, tadi dengan Bunda kamu nggak mau di gendong. Sekarang dengan Daddy kamu mau di gendong. Apa maksudnya ini?" tanya Gina sambil menatap Arga dengan tatapan marah.
__ADS_1
Arga yang melihat wajah Bundanya yang bermimik marah langsung mengusap muka Gina dengan tangannya. Gina mengambil tangan Arga, dia pura pura akan memasukkan tangan Arga ke dalam mulutnya. Arga yang memang dasarnya anak yang sangat penjijik, langsung menarik tangannya kembali.
"Hahahahahahaha" Gina dan Aris serta Bram tertawa melihat muka tidak suka Arga.
"Anak mu mrmang bener bener seperti dirimu sayang." ujar Gina kepada Aris.
"Pake banget." jawab Aris dengan bangga.
"Asal jangan yang satu itu aja nurun sayang. Kalau itu nurun, wah pusing aku." ujar Gina sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
"Udah ayuk makan. Gue laper." ujar Bram yang nggak ingin kata kata tadi jadi pertengkaran.
Gina meletakan Arga kedalam kursi makannya. Setelah itu Gina juga menarok beberapa makanan cemilan favorit Arga. Arga yang melihat ketiga orang tuanya makan, dia juga ikut memakan makanan yang berada di depannya.
"Sayang, kapan kamu masak semua ini?" tanya Aris yang sangat tau Gina akan sibuk dengan Arga yang berjalan ke sana ke mari di rumah utama.
"Waktu Arga tidur tadi. Dia tidur berdua dengan Mami. Nah aku yang memang ada niat untuk membawakan makan siang langsung masak. Selesai masak ternyata dia udah bangun. Sedangkan Mami udah ke kamar bawah." ujar Gina menerangkan kepada Aris kapan waktunya dia bisa memasak semua ini.
"Nggak nangis dia di tinggal sendiri?" tanya Aris yang penasaran.
"Nggak. Dia sibuk main. Kalau dia nangis semua seisi rumah pasti akan tau lah ya. Toh kamu memasang semua speker setiap penjuru rumah." ujar Gina kembali sambil mengejek kelakuan Aris.
"Itu karena aku sayang kamu dan Arga, makanya jadi berbuat begitu." jawab Aris sambil tersenyum dan membelai rambut Gina.
Saat mereka sedang menikmati makan siangnya. Mendadak pintu kembali terbuka. Terlihat seorang pemuda tampan dan seorang wanita cantik masuk ke dalam ruangan Aris.
"Nya" kata Arga yang ntah semenjak kapan bisa memanggil Frenya.
Semua orang menatap ke arah Arga. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka dengar barusan. Arga memanggil Frenya.
"Wow pria tampan kekasih hati Frenya. Apakah kamu memanggil namaku sayang?" tanya Frenya sambil berjongkok di depan Arga.
Arga kemudian mengangguk dengan pasti.
"Boleh aku minta pemuda tampan ini memanggil namaku lagi?" Frenya menggoda Arga, adik kecil kesayangannya. Adik yang setiap malam harus tidur dengan dirinya, kalau nggak maka adik kecil itu tidak akan bisa tidur.
"Nya" ujar Arga sekali lagi.
Frenya yang mendengar langsung menciumi pipi Arga. Arga memperlihatkan senyumannya yang jarang terlihat oleh siapapun kepada Frenya.
"Hahahahaha. Sabar sayang. Kuatkan hatimu." ujar Aris memeluk Gina.
"Udah makan Niel?" tanya Gina kepada anaknya yang paking besar.
"Belum Bun. Tadi kami di kirimin chat sama Papi Bram. Katanya Mami akan datang ke sini mengantarkan makan siang. Harusnya udah dari tadi. Eeeeer tu Frenya pake meeting lama pula." ujar Daniel sambil menatap Frenya.
"ada masalah apa Fre?" kata Aris kepada Frenya.
"Nggak ada Dad. Cuma ada tikus yang mau main. Jadi sebelum mereka bener bener main, aku harus menjerat duluan." ujar Frenya.
"Terus?" tanya Bram yang mulai kepo kalau udah membahas masalah tikus.
"Berhasil lah Pap. Tikus tersebut mengaku salah. Nah aku pecat aja. Perusahaan aku masih kecil, jadi belum ada cabangkan ya. Makanya aku pecat." jawab Frenya dengan bangganya.
"Nya" panggil Arga yang prites Frenya mencuekin dirinya.
"Apa? Mau Frenya gendong?"
Arga mengangguk dengan semangat. Dia langsung memberikan kedua tangannya kepada Frenya.
"Arga benerlah ya. Arga mau bikin Bunda emosi. Bunda gendong Arga nolak. Nah ke Frenya, Arga mintak. Arga bener bener lah ya." kata Gina dengan berpura pura emosi.
Arga hanya acuh saja. Dia tidak memperdulikan omelan Bundanya.
"Udah ibun capek aja ngomel. Arga tanpa ekspresi itu." ujar Daniel yang melihat Arga tidak merespon omelan Bundanya.
"Bener bener lah ni anak" jawab Gina yang mulai kesal dengan Arga.
Mereka kemudian bercerita. Arga tiba tiba menguap.
"Anak sayang Bunda mau tidur?" tanya Gina kepada Arga.
Arga mengangguk, "Nya" ujarnya kemudian.
__ADS_1
"Sama Frenya?" ujar Gina yang kaget Arga minta tidur dengan Frenya.
"Baiklah sayang. Kamu tidur dengan Frenya." ujar Gina yang hanya bisa tersenyum melihat bayi berumur kurang setahun itu.
Arga dan Frenya masuk ke dalam kamar istirahat Aris
"Oh ya sayang, minggu depan Arga satu tahun. Kita adakan acara ulang tahun besar besaran bagaimana?" ujar Aris kepada Gina.
"Aku setuju Bun. Aku akan menghendle semua acaranya." ujar Daniel yang semangat mendengar acara ulang tahun untuk Arga.
"Atut aja Niel, tapi Bunda harap nggaknterlalu lebay."
"Tenang aja Bun, aku akan kolaborasi dengan oma dan oma." ujar Daniel kembali.
"Nah sama aja itu jatuhnya. Kalau ngajak oma kamu yang dua itu, maka selesai sudah sayang. Bunda udah tau gimana ujungnya." jawab Gina sambil menyenderkan badannya ke sandaran kursi.
"Sayang, aku lanjutin kerja dulu ya. Dikit lagi. Kamu istitahat aja di dalam, kalau lelah." ujar Aris menekankan kata lelah.
"Tenang aja sayang. Malam nanti aku tau apa maumu." ujar Gina berbisik di telinga Aris.
"Pi, kita ke ruangan yuk. Tiba tiba terasa panas di sini." ujar Daniel yang selalu ingin tertawa melihat kemesraan kedua orang tuanya.
Bram dan Daniel beranjak dari ruangan Aris untuk menuju ruangan Bram. Mereka akan berdiskusi tentang rumah sakit Soepomo yang sedang mengalami kemunduran. Mereka tidak melihat dari pendapatan, tetapi melihat dari berapa banyak pasien masuk per bulannya. Baik yang gratis maupun yang tidak.
Sedangkan Gina, memilih duduk tepat di seberang meja Aris. Dia terus menatap Aris dengan menopang dagunya. Aris hanya bisa tertawa melihat tingkah istrinya itu.
"Nggak lelah tu mata nengok muka ganteng aja terus?" ujar Aris yang sengaja mau menggoda Gina.
"Ini namanya memberikan vitamin kepada mata indahku sayang. Makanya aku menatap kamu terus." jawab Gina sambil tersenyum penuh arti.
Aris melakukan hal yang sama dengan Gina.
"Loh kok ikut ikutan?" tanya Gina yang heran Aris melakukan hal yang sama dengan dirinya.
"Biar dapat vitamin juga matanya." jawab Aris mengcopy jawaban dari Gina tadi.
Tiba tiba ide jahil muncul dari dalam kepala Gina.
"Kita taruhan yuk sayang. Siapa yang bertahan menatap siapa, maka dia akan mengendalikan permainan nanti malam. Gimana?" ujar Gina kepada Aris dengan mata menatap tajam
"Setuju. Permainan di mulai." ujar Aris.
"Tunggu dulu sayang. Berkedip boleh, terpejam nggak. Memalingkan muka juga nggak. Pokoknga yang boleh hanya mengedipkan mata." ujar Gina memberikan peraturan.
"Oke setuju." jawab Aris kemudian.
"Mulai." ujar Gina.
Mereka berdua saling menatap. Aris sekali sekali menggoda Gina, agar Gina menyerah. Selain itu Gina juga mengganggu Aris, agar Aris juga menyerah.
Bram dan Daniek masuk ke ruangan Aris. Mereka akan menyerahkan analisa tentang kemunduran pasien masuk ke rumah sakit. Mereka berdua heran melihat Aris dan Gina yang saling berpandangan lama, tanpa memperdulikan kedatangan Bram dan Daniel.
"Sepertinya kedua orang tuaku mulai lagi Pi" ujar Daniel sambil geleng geleng kepala dan menarik kursi di antara Bunda dan Daddy nya.
Udah setengah jam berlalu. Tapi belum ada tanda tanda siapa yang akan kalah dan menang. Daniel dan Bram hanya mengikuti alur yang ada.
Tiba tiba Arga muncul. Dia langsung duduk di atas pangkuan Gina. Gina yang kaget langsung memalingkan mukanya ke arah Arga.
"Makasi sayang, Bunda kalah. Jadi Bunda harus siap siap. Kamu malam nanti tidur dengan Frenya." ujar Aris dengan semangat sambil menggendong Arga.
Frenya menatap ke arah Daniel dan Bram.
"Taruhan." ujar Daniel menjawab pertanyaan Frenya.
"Pantesan."
"Bun, jadi Bunda kalah taruhan. Terus hukumannya apaan Bun?" tanya Frenya dengan rasa ingin tahunya.
"Taruhannya ngeri. Makanya Bunda mati matian natao Daddy dari tadi. Bunda nggak pengen kalah." ujar Gina sambil cemberut.
"Hadiahnya nikmat kok sayang. Jadi kamu nggak rugi juga kali kalau kalah." jawab Aris sambil tersenyum mesum ke arah Gina.
"Ye." jawab Gina dengan kesal.
__ADS_1
Mereka semua kemudian pulang ke rumah utama. Bram dan Daniel berencana menyampaikan hasil analisis mereka nanti di rumah saat ada Atuk saja.