Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Pertemuan Dengan Frenya


__ADS_3

Bram melajukan mobilnya menuju kantor cabang GA Grub. Mereka akan memenuhi janji temu dengan pimpinan perusahaan GA Grub.


"Menurut loe pimpinannya laki laki atau perempuan?" ujar Aris memecah kesunyian mereka berdua.


"Perempuan. Kenapa emangnya?" tanya Bram yang penasaran dengan pertanyaan dari Aris.


"Nggak ada apa apa"


"Alah bilang aja kalau perempuan loe meu deketin. Benerkan ya?" ujar Bram menggoda Aris.


"Nggak akan. Gue tipe setia dengan pasangan gue. Gue setia dengan Gina. Cukup sekali gue mengkhianatinya." ujar Aris


Tak terasa mereka telah sampai di perusahaan GA Grub. Aris dan Bram turun dari mobil, mereka masuk ke dalam perusahaan. Bram menuju resepsionis memberitahukan kalau mereka sudah ada janji dengan pimpinan perusahaan.


Resepsionis kemudian mengantarkan Aris dan Bram menuju ruangan pimpinan perusahaan. Mereka berdua memang sudah ditunggu oleh pimpinan GA Grub.


"Silahkan masuk Tuan, Tuan berdua sudah di tunggu oleh pimpinan kami di ruangannya." ujar Sekretaris.


Aris dan Bram masuk ke dalam ruangan. Mereka tidak melihat ada orang di dalam ruangan itu.


"Bos kami sedang di kamar mandi Tuan. Jadi Tuan silahkan duduk di sofa." ujar Sekretaris.


Sekretaris pergi mengambilkan air minum ke belakang. Setelah mengambil dua tabung air mineral, sekretaris meletakan di depan Aris dan Bram.


Pimpinan GA Grub yang sudah tau siapa yang datang sengaja mengulur waktu untuk bertemu, dengan Aris dan Bram. Dia berusaha menenangkan hati terlebih dahulu untuk bertemu dengan dua orang pimpinan Soepomo Grub yang sedang bermasalah itu.


Pimpinan GA Grub yang tak lain adalah Frenya anak angkat Gina menatap lama dirinya di depan cermin. Frenya tidak habis pikir dengan Alex yang meminta dirinya untuk bertemu dan melakukan perjanjian bisnis dengan Aris dan Bram.


"Bun kenapa harus aku yang bertemu dengan Daddy dan Papi. Aku benar benar males ketemu mereka Bun. Walaupun aku tau mereka berdua tidak bersalah. Bunda bener bener menempatkan aku di posisi tersulit yang pernah ada Bun." ujar Frenya berbicara sendiri sambil menatap pantulan dirinya di depan cermin.


Frenya kembali menenangkan hatinya. Dia harus bisa melupakan semuanya. Setelah dia merasa dia sudah bisa mengendalikan emosinya, Frenya kemudian keluar dari dalam kamar mandi ruangan. Dia berjalan menuju sofa ruangannya, dimana dua orang pimpinan Soepomo Grub sudah menunggu dirinya dari tadi.


Frenya melihat Aris dan Bram yang sibuk dengan ponselnya, sampai sampai mereka tidak menyadari akan kedatangan Frenya.


"Ehem." ujar Frenya sengaja berdehem agar Aris dan Bram memerhatikan kedatangannya.


Aris dan Bram yang mendengar seseorang berdehem mengangkat kepala mereka untuk melihat siapa yang telah berdehem tadi.


Betapa terkejutnya Aris dan Bram saat melihat siapa yang berdiri di depan mereka berdua. Seorang wanita dewasa yang telah pergi beberapa tahun yang lewat ini dari kehidupan mereka.


"Frenya" ujar Aris tidak percaya dengan yang dilihatnya.


"Yup Frenya." jawab Frenya sambil duduk di kursinya.


" Jadi?" tanya Bram yang tidak meneruskan pertanyaannya.


"Yup, saya pemilik perusahaan ini." jawab Frenya sambil tersenyum.


"Kemaren kata sekretaris kami akan bertemu dengan pimpinan cabang perusahaan." ujar Bram melanjutkan ketidakpercayaannya.


"Sebenarnya Frenya memang pimpinan cabang. Karena pusat dari semua perusahaan GA Grub ada di negara lain." jawab Frenya lagi menjelaskan posisinya di perusahaan.


Mereka bertiga sama sama termenung. Aris dari tadi tidak bisa mengatakan hal apapun. Dia sangat sulit untuk berbicara. Ntah apa yang dari tadi dipikirkan olehnya. Frenya hanya bisa menatap Daddy angkatnya itu. Frenya tau kedua pria di depannya ini adalah orang baik yang tidak baik adalah ibu dari dua perempuan ini.


Setelah menimbang dan memikirkan semuanya, akhirnya Aris memutuskan juga untuk bertanya. Biarlah urusan kerjasama ini di urus oleh Paman Hendri esok harinya.


"Frenya, sebelumnya Daddy mohon maaf, bisa tidak pembahasan tentang kerja sama perusahaan kita di bahas besok saja dengan Paman Hendri?" tanya Aris dengan tatapan memohon.


"Kenapa Tuan Aris?" sengaja Frenya tidak memanggil Aris dengan kata Daddy. Frenya masih memiliki rasa sakit hati di dadanya karena tindakan Aris yang mengusir Daniel dari rumah utama tanpa memikirkan benar atau tidaknya Daniel melakukan itu.


Aris dan Bram yang mendengar Frenya memanggil Aris dengan sebutan Tuan, sama sekali tidak merasa marah atau tersinggung. Mereka berdua paham dengan keadaan Frenya.


"Saya ingin berbicara serius tentang keadaan keluarga dengan Frenya." ujar Aris kembali bersikap formal.

__ADS_1


"Oh Okay. Kalau masalah keluarga Frenya akan memanggil Daddy kembali." ujar Frenya sambil tersenyum. Senyum tertulus yang diberikan oleh Frenya kepada Aris.


"Ada apa Dad?"


"Frenya tolong ceritakan masalah sebenarnya tentang perhiasan Oma Mami beberapa tahun silam itu." ujar Aris bertanya kembali tentang kejadian hilangnya perhiasan.


Frenya menatap Aris. Tatapan Frenya mengandung pertanyaan mengapa baru sekarang bertanya, kemaren kemaren kemana.


"Frenya, Daddy mohon beritahu apa yang sebenarnya terjadi." ujar Aris.


Frenya mengirim sebuah pesan kepada Daniel. Dia meminta persetujuan apakah boleh menceritakan semuanya kepada Aris atau tidak. Frenya juga menceritakan kondisi Aris yang cukup sangat memprihatinkan.


Daniel membalas pesan dari Frenya. Daniel memberikan izin menceritakan apa yang diketahui oleh Frenya. Tetapi tidak dengan masalah kepergian Bunda dan Arga.


"Baiklah Daddy. Aku akan menceritakan semuanya kepada Daddy." ujar Frenya.


Frenya kemudian menceritakan semua kejadian yang sebenarnya dalam kasus pencurian perhiasan Mami. Frenya menceritakan tambah menambah dan mengurangi semua kejadian. Aris dan Bram hanya bisa menganga mendengar apa yang diceritakan oleh Frenya.


"Itulah semua ceritanya Dad. Kalau Daddy tidak percaya dengan cerita Frenya, Frenya punya rekaman cctvnya." ujar Frenya.


Frenya menuju meja kerjanya. Dia mengambil laptop miliknya yang ada di atas meja. Dia membawa laptop itu kehadapan Aris dan Bram. Frenya mencari file cctv, setelah menemukan apa yang dicarinya, Frenya kemudian memutar rekaman hasil cctv. Aris dan Bram benar benar dibuat mati rasa saat melihat semua rekaman cctv tersebut.


"Ternyata istriku benar kalau Daniel tidak bersalah." ujar Aris sambil menarik rambut kepalanya.


"Aku benar benar telah merusak kepercayaan istriku sendiri, dengan tidak mempercayainya."


"Begitu banyak kesalahanku kepada mereka semua. Apakah masih ada peluang Gina untuk memaafkan semua kesalahanku kepada dirinya, Arga dan Daniel?" ujar Aris sambil menatap Frenya dan Bram.


"Daddy, kami semua tau siapa Bunda. Bunda adalah manusia yang sangat pemaaf. Sekarang yang harus Daddy buktikan kepada Bunda adalah rasa kehilangan Daddy. Daddy harus mencari Bunda sendiri, jangan mengandalkan anak buah Daddy. Hal itu Daddy lakukan Frenya yakin Bunda akan mau memaafkan Daddy." ujar Frenya menatap tajam kedua mata Daddynya.


"Apakah benar masih ada kata maaf untuk Daddy dari Bunda?" tanya Aris dengan tatapan yang kembali memiliki harapan.


"Dad, kalau Bunda tidak akan memaafkan Daddy, Bunda pasti sudah mengurus surat cerainya. Sampai saat sekarangkan belum ada surat yang datang ke Daddy?"


"Frenya, boleh Papi meminta rekaman tadi?"


"Boleh Pi. Ini Frenya kirim." ujar Frenya mengirimkan file rekaman cctv kepada Bram.


Bram kemudian mengirimkan kepada Papi. Bram ingin Papi menyesal karena sudah mengusir Daniel dari rumah utama.


"Baiklah Frenya, Daddy dan Papi permisi dahulu, masih ada pekerjaan yang menunggu. Besok Paman Hendri akan menemui kamu di sini." ujar Aris.


"Baiklah Pi. Frenya akan menunggu Atuk Hendri." jawab Frenya sambil berdiri dari sofa.


"Jadi kamu sekarang tinggal dimana?" tanya Bram yang teringat tidak bertanya dimana Frenya tinggal.


"Di Bali Pi. Tapi saat di sini Frenya tinggal di GA Hotel." jawab Frenya.


Mereka berdua turun kembali menuju parkiran. Aris dan Bram masuk ke dalam mobil. Mereka akan kembali ke perusahaan untuk mengambil barang barang pribadi. Mereka berdua tidak tau ntah berapa lama akan melakukan pencarian Gina dan Arga.


"Ris, tadi Frenya mengatakan kalau dia hanya pimpinan perusahaan GA Grub untuk negara I. Gue penasaran siapa pimpinan dari GA Grub yang sebenarnya." ujar Bram yang teringat perkataan dari Frenya.


"Gue juga penasaran. Tapi tujuan dan fokus gue sekarang bukan mengetahui pemilik GA Grub, tetapi keberadaan istri dan anak gue." ujar Aris.


"Bram loe harus hubungi pilot pesawat kita. Kita akan memakai pesawat itu untuk mencari istri dan anak gue. Nggak mungkin kita memakai pesawat komersil." ujar Aris.


"Oke. Gue akan hubungi Juan." ujar Bram.


Mereka sampai juga di perusahaan. Aris dan Bram masuk kedalam ruangan mereka masing masing. Mereka mengemasi semua barang pribadi. Selesai berkemas Bram keluar menuju sekretarisnya.


"Juan, mulai besok Paman Hendri yang akan memimpin perusahaan. Tolong kamu bantu Paman, kami tidak tau akan pergi berapa lama. Tapi suatu hal yang jelas kami berdua akan kembali lagi menjadi bos dirimu." ujar Bram.


"Baiklah Tuan Bram, saya mendoakan supaya berhasil menemukan Nyonya dan Tuan Muda. Saya akan menunggu Tuan berdua kembali di kantor ini" jawab Juan.

__ADS_1


Aris keluar dari ruangannya. Dia tersenyum kepada Juan. Aris dan Bram berjalan meninggalkan perusahaan. Mereka berdua pasti akan kembali tetapi tidak tau kapan pastinya.


...****************...


Di perusahaan Jaya, Papi yang melihat video kiriman dari Bram sangat merasakan kemarahannya. Papi sudah benar benar murka dengan semua kejadian ini. Papi tidak menyangka kalau Mami akan bisa melakukan hal seperti ini.


Papi mengemasi semua barangnya. Dia akan pulang dan meminta penjelasan dari Mami. Sepertinya cerita ini tidak akan berakhir dengan video ini.


Papi mengeluarkan ponselnya. Dia akan menghubungi Aris dan Bram untuk diminta cepat sampai di rumah utama. Papi tidak akan mengambil keputusan sendiri, tetapi Papi akan meminta pendapat Aris, karena Aris adalah Daddy dari Daniel.


"Harusnya aku bisa menilai ketulusan seorang anak. Kenapa bisa aku terlalu ceroboh, ternyata emosi bisa membuang logika berpikitku." ujar Papi.


Papi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, begitu juga dengan Bram. Mereka berdua ingin cepat sampai di rumah utama. Mereka bertiga sudah tidak sabar ingin melihat reaksi Mami saat rekaman cctv di putar di rumah utama.


Mereka bertiga sudah menyusun sebuah rencana akan memutar video itu setelah acara makan malam. Mereka ingin melihat reaksi Mami berikutnya. Apakah Mami akan langsung mengaku bersalah atau akan kembali berkilah dengan segala alibinya seperti rekaman cctv yangg memperlihatkan Mami yang sengaja mendorong Arga.


Waktu makan malam akhirnya datang juga. Empat penghuni rumah utama makan malam dalam keadaan diam. Mereka makan dengan sangat santai tidak terluhat ada bom yang siap meledak sebentar lagi. Papi, Aris dan Bram sudah berusaha meredam emosi merrka dari tadi. Apalagi dengan melihat sikap Mami yang masih biasa saja tanpa terlihat merasa bersalah sedikitpun.


"Kita ke ruang keluarga dulu, ada yang harus Papi bicarakan." ujar Papi membuka obrolan.


Mereka berempat pindah ke ruang keluarga. Bram sudah menyiapkan alat untuk menonton rekaman cctv yang tadi sudah dipindahkan Bram ke laptop. Papi hanya tinggal menekan tombol enter maka video tersebut akan tayang dengan sendirinya.


Papi menekan tombol entar, sebuah video rekaman cctb mulai tayang. Mami yang melihat langsung melongo tidak percaya sebuah kebusukan yang dibuatnya kembali terbuka lebar dihadapan keluarganya. Mami hanya bisa menundukkan kepalanya lebih dalam lagi. Dia benar benar malu dengan video kali ini. Mami sudah tidak bisa lagi mengelak. Semuanya sudah terpampang nyata di depan mata.


"Bisa jelaskan Mami?" tanya Aris dengan menatap tajam Mami.


Mami terlihat berpikir, ntah alasan apalagi yang akan dibuat oleh Mami yang membuat ketiga pria di depannya ini percaya kembali kepada dirinya.


"Jawab Mi. Apa lagi alasannya?" tanya Aris.


"Maafkan Mami, Ris, Pi. Mami terpaksa melakukan ini karena Mami tidak ingin ada anak angkat yang akan berkuasa di atas harta keluarga kita." ujar Mami sambil menunduk.


"Apa Mami bilang berkuasa di atas harta kita? Mami sadar apa yang Mami katakan?" tanya Aris.


Papi dan Bram hanya diam saja. Mereka berdua membiarkan Aris menyelesaikan urusan ini dengan Mami. Ini adalah urusan keluarga inti Aris.


"Mami tau Mi. Daniel dan Frenya bukan orang miskib. Mereka masuk ke dalam keluarga kita saat mereka memang sudah kaya raya. Mami tau apa yang terjadi dengan perusahaan kita sekarang? Sebentar lagi kita yang akan jatuh miskin Mi. Mami tau siapa tadi yang baru Aris temui di luar? Frenya Mi. Dia pimpinan cabang perusahaan GA Grub." ujar Aris yang murka.


"Kamu bercanda kan Ris mengatakan kalau kita akan bangkrut?" ucap Mami dengan nada sedikit bergetar.


Mami sangat takut jatuh miskin. Dia tidak rela miskin cepat. Dia masih sangat ingin menikmati harta yang seperti ini.


"Ya kita akan jatuh miskin. Biarkan saja semua harta ini ilang yang penting keluarga Aris utuh kembali." jawab Aris.


"Oh tidak bisa. Mami tidak akan membiarkan kita jatuh miskin. Papi dan Kamu serta Bram sudah susah membangun perusahaan itu." ujar Mami masih dengan sikap ngeyelnya.


"Terserah Mami yang jelas Aris tidak akan terjun lagi di perusahaan. Aris dan Bram akan pergi mencari Gina disemua negara yang ada di dunia." ujar Aris dengan berapi api.


"Tidak boleh. Tidak ada yang bisa keluar dari rumah ini untuk mencari orang itu. Mami tidak izinkan." ujar Mami dengan berapi api.


"Izin atau tidak Mami bukan urusan Aris. Aris akan tetap pergi Mi. Terserah Mami membolehkan atau tidak" ujar Aris kemudian.


"Aris langkahi dulu mayat Mami baru kamu bisa pergi mencari mereka." ujar Mami dengan menatap tajam Aris.


"Mati pun Mami di hadapan Aris sekarang, hal itu tidak akan menyurutkan keputusan Aris." ujar Aris.


Papi, Bram dan Aris beranjak dari sofa mereka. Mereka sama sekali tidak mengusir Mami. Mereka ingin Mami malu di depan Daniel.


"Aris selangkah lagi kamu pergi, maka kamu akan melihat mayat Mami." ujar Mami.


"Terserah. Aris nggak peduli Mi. Betul betul nggak peduli dengan Mami." ujar Aris.


Mami yang niatnya mau mrnakuti dengan bunuh diri tidak jadi melakukan bunuh diri. Mami masih sayang dengan nyawanya sendiri. Nyawa yang diberikan Tuhan hanya satu kali ke setiap makhluk ciptaannya.

__ADS_1


__ADS_2