
Sebuah mobil hitam suv keluaran terbaru masuk ke dalam parkiran rumah sakit. Mira memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus pemilik rumah sakit.
Kedua pemilik rumah sakit itu turun dari mobil. Mereka masuk ke dalam lobby rumah sakit.
"Kita berdua cukup aneh, nggak bawa apa apa pas nengok orang sakit." ujar Mira yang baru sadar kalau mereka tidak membawa tentengan apapun saat ini.
"Hahahaha. Gue juga baru ingat. Lagian Sari nggak makan juga. Untuk apa dibawa." jawab Ghina yang memang ingat Sari sama sekali masih belum bisa makan.
"Siang Nyonya." sapa beberapa dokter dan suster yang mengenal mereka berdua.
"Siang" jawab Ghina dan Mira bergantian.
Ghina dan Mira masuk ke dalam lift khusus petinggi rumah sakit. Lift yang pilihan langainya cukup terbatas. Ghina mengeluarkan kartu miliknya. Kartu yang menuju lantai ruangan VIP. Lift bergerak naik ke lantai VIP. Ghina memandang kondisi rumah sakit dari dalam lift yang semuanya berbahan dasar kaca tebal.
Ting bunyi lift yang menandakan kalau mereka berdua sudah sampai di lantai yang mereka tuju. Ghina dan Mira melangkah keluar lift. Mereka berjalan menuju ruangan tempat Sari di rawat. Beberapa pengawal terlihat hilir mudik memantau suasana. Dua pengawal lainnya berdiri di depan ruang rawat Sari.
"Siang Nyonya." sapa kepaka pengawal yang bertugas menjaga ruangan itu.
"Siang. Siapa di dalam?" tanya Sari.
"Tuan Bram Nyonya. Tuan Hans tadi di ajak Tuan Papi pergi ziarah ke makan Ibu Nyonya Sari." ujar ketua memberitahukan kepada Ghina.
"Oh Oke. Kami masuk dulu." ujar Ghina.
Ghina dan Mira masuk ke dalam ruangan Sari. Mereka sangat luar biasa sedih melihat sahabat mereka yang sudah sangat lama dalam kondisi seperti itu. Untung saja Bram setia mendampingi.
"Siang Kak." ujar Ghina sambil mencium tangan Bram bergantian dengan Mira.
"Siang Ghina, Mira. Kalian hanya berdua?" tanya Bram yang melihat tidak ada siapapun selain Ghina dan Mira yang datang.
"Berdua aja Kak." jawab Mira.
"Gimana dengan Sari, Kak. Maaf kami udah lama nggak datang." ujar Mira yang sebenarnya saat ini menguat nguatkan hati dan perasaannya untuk datang ke rumah sakit. Jika Mira menurutkan kata hatinya, dia nggak akan mau ke rumah sakit melihat penderitaan sahabatnya.
"Masih sama Ghin. Ntah mukjizat apa yang akan membuat Sari terbangun dari tidur panjangnya. Ntah apa salah kakak Ghin, sehingga orang yang kakak cintai, orang yang ingin kakak jaga selamanya menjadi seperti ini." ujar Bram mengeluarkan semua unek uneknya.
"Sabar Kakak. Tuhan tidak akan menguji seseorang melebihi batas kemampuannya." ujar Ghina.
Bram mengangguk. Dia tau akan hal itu, tetapi kadang kadang yang namanya pikiran manusia ada kalanya dia sangat luar biasa bersedih dengan semua yang terjadi.
"Kalian bawa Sari berbicara ya. Kakak istirahat sebentar." ujar Bram.
Ghina mengangguk. Bram menuju sofa yang sudah dialihfungsikan menjadi tempat tidur untuk beristirahat Bram dan Ayah Hans.
__ADS_1
Ghina memandang adik iparnya itu. Dia tidak menyangka salah satu asisten ternama di ibu kota bisa menjadi serapuh itu karena melihat orang yang dicintainya terbaring lemah di atas kasur rumah sakit.
"Sari, maaf ya kami baru datang lagi. Bukan kami melupakan kamu, tapi ada kerjaan yang harus kami lakukan. Nah sekarang waktunya kami untuk melihat dan berbincang dengan sahabat kami ini." ujar Ghina.
"Sar, tau nggak loe, kami udah lama nggak pergi ke mall. Bayangin aja hitungan bulan. Padahal ya biasanya seminggu sekali kita ke mall. Kamu bangun lagi ya biar kita bisa ke mall bareng bareng lagi." ujar Ghina bercerita sambil menahan air matanya untuk tidak keluar.
Ghina berusaha kembali untuk bercerita dengan Sari. Tapi, apalah daya Ghina yang sudah tidak kuat lagi. Dia menatap Mira, Ghina menggeleng lemah.
"Sar, loe tau ndak. Rani dokter yang juga menantu Ghina udah melahirkan anak laki laki. Begitu juga dengan Anggel. Kamu bangun ya, mereka menanyakan nenek dan Mamim mereka yang kata Argha paling cantik diantara Bunda dan Mami." Mira mulai bercerita tidak tau arah.
"Sari kalau lo bangun, gue dan Ghina berjanji akan menghabiskan wantu untuk kita bertiga ke daerah Sumatra. Loe nggak pernah ke kota pesisirkan. Kita akan ke sana. Kita akan lihat raja ampatnya sumatra." ujar Mira lagi.
"Jadi saat loe bangun kita akan ke sana bertiga. Kita akan mengelilingi pulau yang ada di sana. Pokoknya kita habiskan satu minggu di sana dengan menginap di pulau." ujar Mira yang paling semangat menyusun rencana rencana untuk Sari saat dia sembuh.
Mira menggenggam tangan sahabatnya. Ghina juga melakukan hal yang sama.
"Sari, hari itu saat di kos kosan kita waktu kuliah. Kamu berjanji kepada kami berdua, kamu akan menjaga kami sampai kapanpun. Kamu berjanji untuk pergi menjadi yang terakhir di antara kita. Tapi Sari kenapa kamu sekarang membuat kami menjadi takut. Kamu membuat kami tidak bisa berbuat apa apa. Tolonglah Sari bangun. Ingat semua janji kamu kepada kami." ujar Mira.
"Sar, kami berdua butuh elo. Kami semua butuh elo. Apa loe tega melihat perselisihan yang terjadi antara Ayah Hans dengan Kak Bram?" ujar Ghina.
"Mereka berdua diam diaman Sari. Hanya loe yang bisa mendamaikan mereka kembali. Aku yakin dengan bangunnya kamu, kamu menjelaskan semuanya, maka perselisihan itu akan selesai." lanjut Ghina.
"Sari, apa loe tega melihat kami semua hidup dan bernafas dengan terus menangis dalam hati melihat kamu yang seperti ini?"
Ghina dan Mira terdiam. Mereka merasakan kalau tangan mereka yang menggenggam tangan Sari di pegang kuat oleh Sari.
Ghina menatap Mira. Mira mengangguk. Mira meraih tombol di samping kasur Sari. Ghina membangunkan Bram.
"Kak, Sari merespon." ujar Ghina.
Bram yang mendengar langsung berdiri dari tidurnya. Rasa pusing yang mendera seketika di tepis Bram.
Beberapa orang dokter dan suster yang selalu stanbay di ruangan sebelah berlari masuk ke dalam ruangan Sari. Mereka sudah luar biasa lama tidak mendengar bunyi tombol itu memekik.
"Ada apa Nyonya?" ujar salah satu dokter.
"Tadi Sari menggenggam erat tangan kami berdua." ujar Mira.
"Bisa minggir sebentar Nyonya?" ujar dokter kepada Ghina dan Mira.
Ghina, Mira dan Bram bergeser ke belakang. Mereka membiarkan para dokter melakukan pemeriksaan kepada Sari.
Tiga orang Dokter memeriksa keadaan Sari. Dia sekarang yakin Sari sudah bangun. Salah satu Dokter melepas beberapa alat medis yang tertempel di tubuh Sari. Alat medis yang selama ini menjadi penopang kehidupan Sari.
__ADS_1
"Kenapa dokter?" ujar Bram yang mulai cemas melihat dokter menanggalkan kabel kabel di tubuh Sari.
"Nyonya sudah tidak membutuhkan itu lagi Tuan." ujar dokter.
Ghina, Mira dan Bram meraih krah jas dokter ketiga dokter itu. Suster yang melihat langsung terpekik kuat. Para pengawal masuk ke dalam.
"Apa loe bilang. Lie udah bosan hidup dokter." ancam Mira dengan tatapan luar biasa dinginnya.
"Berani beraninya loe katakan sahabat kami tidak butuh itu lagi. Loe nggak bisa lihat dia masih dalam keadaan yang kemaren kemaren. Apa loe buta" teriak Ghina.
"Nyonya kami bisa jelaskan. Tolong lepaskan kami Nyonya." ujar salah satu dokter yang tadi terpotong saat akan menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya kepada Ghina dan yang lainnya.
Ghina melepaskan krah baju dokter itu. Bram dan Mira juga melepaskannya.
"Jelaskan." ujar Ghina dengan dingin.
"Jadi sebenarnya Nyonya Sari sudah terlepas dari masa kritis dan koma Nyonya. Makanya kami melepaskan semua alat alat itu dari tubuh Nyonya Sari." ujar salah seorang dokter.
"Bukannya Nyonya Sari dalam kondisi tidak baik baik saja. Tidak Nyonya. Nyonya Sari sudah sembuh. Kita hanya menunggu Nyonya Sari untuk bangun." lanjut dokter.
"Serius?" tanya Ghina.
Ketiga dokter mengangguk bersamaan. Ghina dan Mira berpelukan. Sahabat mereka telah kembali.
Bram berlari ke arah istrinya. Dia memeluk Sari dengan kuat. Dia hanya tinggal menunggu Sari bangun dari tidurnya. Sari sudah lepas dari masa kritis dan koma.
Ghina menghubungi semua anggota keluarganya untuk datang ke rumah sakit. Daniel dan Rani yang memang sudah kembali bekerja langsung saja berlari dengan kencangnya menuju ruangan VIP saat mendapat telpon dari Ghina kalau Sari sudah tinggal menunggu bangun saja.
Papi juga melakukan hal yang sama. Sopir diminta mengebut menuju rumah sakit. Dia tidak mau dirinya dan Tuan Hans tidak dengan mata kepala sendiri melihat Sari bangun.
Ayah, Afdhal juga mengebut dari perusahaan. Mereka juga ingin melihat langsung Sari bangun dari koma.
Frenya yang kebetulan berada di dekat sekolah Argha, langsung saja menjemput Argha dan membawa Argha ke rumah sakit. Frenya yang tau Argha akan prites apabila diajak libur mendadak menjelaskan di atas mobil, kalau Mamim Sari akan segera bangun dari koma.
Aris dan Bayu yang sedang meeting berdua, langsung meninggalkan meeting mereka. Hal ini mengakibatkan CEO yang akan bekerja sama dengan mereka berdua menjadi heran. Bayu yang menerima berita dari Mira langsung menarik Aris.
"Sari sadar." ujar Bayu.
Aris melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Dia tidak ingin ketinggalan moment penting dalam keluarga besar mereka.
"Mereka semua sudah di rumah sakit." ujar Bayu.
"Oke." ujar Aris.
__ADS_1
Aris semakin dalam menginjak pedal gasnya.