
"Non Frenya, semua sudah Bik Imah masak. Kenapa masak lagi?" tanya Bik Imah saat melihat Frenya sibuk di dapur.
"Argha mintak Bik Imah. Dia sedang demam tinggi, jadi Argha minta dibuatkan sup ayam sama saya." jawab Frenya.
"Tuan Muda sakit?" tanya Bik Imah kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Frenya.
"Iya Bik. Tuan Muda demam." jawab Frenya mengulang apa yang dikatakannya tadi.
Bik Imah yang mendengar Tuan Mudanya lagi demam, berjalan ke atas menuju kamar Argha. Bik Imah melihat semua keluarga berada di dalam kamar.
"Tuan Muda, Tuan Muda Argha kenapa?" tanya Bik Imah kepada Daniel.
"Cuma demam biasa Bik, besok juga sehat." jawab Daniel.
Ghina dari tadi terus saja mengompres kepala Argha dengan air panas. Dia sama sekali tidak beranjak dari kasur Argha.
"Bun, Argha lapar. Apa sup buatan Uni udah masak?" tanya Argha dengan nada lemah.
"Bentar Gha. Uda lihat ke bawah dulu." jawab Daniel yang langsung berjalan menuju dapur.
Daniel kembali masuk ke dalam kamar Argha.
"Bun, sup ayam udah masak. Mau di bawa ke sini atau di bawah aja makannya?" tanya Daniel.
"Argha mau makan dimana?" tanya Ghina kepada Argha.
"Makan di bawah rame rame Bunda." jawab Argha.
"Disini aja ya sayang." ujar Aris.
"No Daddy No. Di bawah rame rame." jawab Argha yang sudah tidak bisa di tawar lagi. Argha langsung memasang wajah ngambeknya.
Ghina mengangguk ke arah Aris.
"Oke oke di bawah rame rame." ujar Aris setelah melihat kode yang diberikan oleh Ghina.
"Daddy gendong" ujar Argha sambil menatap Aris.
__ADS_1
Aris menggendong Argha. Mereka semua turun ke meja makan. Makan hari ini lebih cepat dibandingkan hari biasanya.
"Bunda suapin." ujar Argha.
Ghina mengangguk, dia menyuapi Argha makan dengan sup ayam yang tadi dimintanya ke Frenya. Argha makan dengan lahap. Semua orang di meja makan sangat bersyukur Argha makan dengan begitu lahapnya.
"Argha siap makan sup, makan obat ya. Biar cepat sembuh." ujar Rani sambil mengeluarkan obat yang tadi sudah dipersiapkannya untuk Argha.
"Oke Kakak Ipar cantik." jawab Argha dengan gaya khasnya.
"Nah udah sembuh ini anak, udah bisa kembali ngegodain orang." ujar Ghina sambil meletakkan piring makan Argha ke meja makan.
"Bunda belum sehat. Itu bakat alam Bunda. Siapa suruh Daddynya Aris Soepomo ya jadinya anaknya kayak gini." jawab Argha yang melemparkan kesalahan ke Daddynya yang dari tadi hanya diam saja.
"Bener juga ya Gha. Mau ganti Daddy?" tanya Ghina sambil menatap Aris.
"No Bunda No. Argha sayang Daddy." ujar Argha sambil menatap Daddynya.
"Bunda juga nggak akan sanggup Gha. Bundakan cinta mati dengan Daddy." ujar Aris sambil tersenyum menggoda Ghina.
"Ya lah cinta banget. Kalau nggak cinta udah dibuang dari tahun tahun lampau." jawab Ghina sambil membalas tatapan Aris.
Rani memberikan obat kepada Ghina. Argha mengambil satu persatu obat tersebut. Dia meminumnya tanpa ada perdebatan yang berarti di meja makan. Biasanya dulu drama minum obat akan selalu hadir di tengah tengah keluarga besar itu.
"Daddy, Argha mau bobok, tapi Daddy yang temani. Tidak ada Bunda." ujar Argha.
"Terus Bunda bobok dengan siapa?" tanya Ghina dengan nada sedikit protes.
"Sekali sekali tidur sendiri. Biasanya kan Argha yang bobok sendiri." jawab Argha ketus.
"Oke baiklah, kamu tidur dengan Daddy, Bunda dengan Uni." kata Ghina menggertak Argha sedikit.
"Oke setuju. Bunda dengan Uni saja bobok." jawab Argha santai tidak termakan ancaman Ghina.
Aris menggendong anak bontotnya itu menuju kamar. Dia akan menemani Argha tidur untuk malam ini.
"Bunda" panggil Daniel.
__ADS_1
"Apa Niel?" tanya Ghina.
"Kelihatannya sangat serius, apa ada kaitannya dengan Sari?" lanjut Ghina bertanya dan langsung duduk di sofa depan Daniel.
"Ada Bun. Jadi gini Bun, tadi Daniel berbicara dengan dokter yang merawat Sari. Dokter mengatakan kalau Mami Sari sudah mengalami perubahan yang berarti." kata Daniel.
"Niel, Bunda sangat senang mendengarnya. Tapi Bunda ingin, Sari kembali sadar dan duduk bersama kita seperti ini. Bukan masih tidur di rumah sakit. Bunda ingin minimal Mami Sari bangun dari tidur panjangnya." ujar Ghina menyuarakan isi hatinya.
"Kalau masih belum bangun Bunda tetap nggak mau denger apapun Niel. Kalau masih belum bangun Bunda tetap menganggap dokter belum berhasil merawat Sari. Maaf kalau Bunda kasar." ujar Ghina.
Ghina berlalu dari hadapan putranya. Dia sebenarnya sangat senang mendengar hasil diagnosis dokter. Tetapi di satu sisi, Ghina masih tetap sedih karena sahabatnya masih juga belum bangun dari tidur panjangnya.
"Uda, jangan pikirkan apa yang dikatakan Bunda. Kita tau bagaimana pentingnya Sari dan Mira bagi Bunda. Makanya Bunda jadi nggak bisa kontrol atas apa yang diucapkannya." ujar Frenya menenangkan Daniel.
"Bener apa yang dikatakan Frenya sayang, jangan dengarkan Bunda. Bunda lagi panik aja itu." kata Rani ikut menenangkan Daniel.
"Aku nggak marah ke Bunda. Aku kalau jadi Bunda juga akan berpikiran seperti itu. Beranggapan kalau tim dokter gagal dalam menyembuhkan pasien." jawab Daniel.
"Gimana dengan Steven Nya? Uda denger Daddy memberi ultimatum kepada Steven untuk membawa kedua orang tuanya menemui Daddy dan Bunda dalam waktu lima bulan?" tanya Daniel sambil melihat adik kesayangannya itu.
"Bener Uda. Kemaren Steven udah ngomong dia akan menghubungi keluarganya dalam minggu kni dan meminta mereka untuk segera menemui Daddy dan Bunda." kata Frenya memberitahukan kepada Daniel apa yang dikatakan Steven tadi siang.
"Apa Daddy dan Bunda sudah tau?" ujar Daniel.
"Belum. Rencana mau ngasih tau pas makan malam tadi. Kiranya Argha sakit, tentu nggak mungkin, kita sama tau dan sama menyaksikan bagaimana paniknya Daddy dan Bunda tadi." kata Frenya.
"Bener juga. Besok aja kamu sampaikan ke Daddy dan Bunda, biar mereka merasa nyaman dengan hubungan antara kamu dan Steven." Daniel memberikan usulan kepada Frenya.
"Baik Uda." jawab Frenya.
Mereka kemudian melanjutkan obrolan ringan antara uda dan adik. Berbagai hal mereka bicarakan bertiga. Mulai dari urusan perusahaan sampai dengan urusan pribadi.
"Sayang udah malam, kita istirahat" ajak Rani kepada Aris. Rani melihat jam dinding ruang keluarga sudah menunjukkan angka sepuluh.
"Bener sayang. Kita istirahay. Kamu mau ke atas bersama atau gimana?" tanya Asros kepada Frenya.
"Aku ke dapur dulu uda. Ada yang mau diambil." jawab Frenya.
__ADS_1
Daniel dan Rani menuju kamar mereka terlebih dahulu. Sedangkan Frenya mau mengisi botol minumnya. Frenya sengaja tidak meletakkan dispenser di kamar. Dia sengaja supaya bisa sering ke dapur dan melihat keadaan dapur rumah.