
Gina keluar dengan menunduk dan tidak bisa sama sekali mengangkat kepalanya. Dia seperti memiliki beban kembali di pundaknya saat ini, beban yang sedikit berat yang seharusnya sudah tidak ada lagi. Aris dan Anggel yang melihat paham kalau Gina tidak bisa meneruskan terapinya kali ini. Anggel dan Aris langsung berdiri dari posisi duduk mereka.
"Gin?" kata Anggel sambil memegang pundak Gina dengan lembut.
"Maaf Nggel" jawab Gina sambil menggelengkan kepalanya.
"Baiklah aku paham. Tapi kamu harus bisa melepaskan beban ini kembali. Aku takut kamu kembali menjadi seperti yang dulu lagi." jawab Anggel sambil meremas sedikit pundak Gina.
"Nggak akan Nggel." jawab Gina sambil tersenyum kepada Anggel.
Gina berjalan menuju Aris yang sudah berdiri dari bangkunya. Aris menatap Gina dengan kelembutan di matanya. yang penuh dengan cinta untuk Gina. Aris tidak ingin Gina merasa terbebani oleh semua keadaan ini.
Gina tau di mata itu ada cinta yang besar untuknya. Tapi semua sudah terlambat, Gina sudah tidak percaya lagi dengan cinta di mata tajam Aris.
"Ayo Uda, kita pulang. Maaf aku tidak bisa melanjutkan terapi ini. Semoga dilain waktu aku bisa melakukannya tanpa adanya rasa terpaksa dalam diriku." kata Gina.
Gina yang selesai mengucapkan semua yang ingin dikatakannya melangkahkan kakinya menuju mobil. Dia tidak ingin berlama lama di sini lagi. Gina membuka pintu mobil bagian depan. Dia tidak ingin duduk sendirian di bangku penumpang. Bram yang melihat merasa heran dengan pilihan Gina duduk di kursi belakang. Tapi saat melihat Gina hanya diam saja dan waktu terapi yang baru satu jam, Bram langsung bisa menyimpulkan ada sesuatu yang membuat Gina cepat keluar dari tempat praktek Anggel.
Aris yang melihat Gina duduk di bangku depan, langsung membuka pintu bagian penumpang. Aris duduk dengan tenang. Dia tidak mau mengganggu Gina. Dia membiarkan Gina untuk tenang terlebih dahulu.
"Kak, kita ke ayam geprek simpang lampu merah tinju ya. Aku lapar kak" kata Gina kepada Bram.
Gina merasakan perutnya sudah keroncongan. Apalagi semenjak hamil ini Gina lebih sering merasakan lapar yang luar biasa.
Bram menatap Aris dari kaca spion mobil. Aris menganggukkan kepalanya kepada Bram. Bram yang sudah diberi izin oleh Aris, mengarahkan mobilnya menuju warung ayam geprek kesukaan Gina.
Mereka akhirnya sampai di warung ayam geprek tersebut. Aria yang berada di belakang turun dari mobil dan membukakan Gina pintu. Gina kemudian turun dari mobil. Mereka bertiga masuk ke dalam warung yang sedikit agak ramai. Aris mulai terlihat gelisah. Gina mengetahui itu. Tapi Aris tidak mau membuat mood Gina kembali rusak. Makanya dia berusaha bertahan dengan keadaan sekitar. Gina sebenarnya sangat ingjn pergi dari sana. Tapi dia juga sangat ingin makan ayam geprek tersebut di warung itu. Dua pilihan yang cukup rumit bagi Gina. Gina terlihat kembali berpikir,
"Sayang, kita makan di sini aja. Aku nyaman." kata Aris yang tau Gina memikirkan kenyamanan dirinya.
"Oke" jawab Gina sambil mengangguk senang, karena Aris merasa nyaman. Ntah nyaman sebenarnya atau hanya sekedar pura pura saja.
Seorang pelayanan menghampiri meja mereka untuk menghidangkan makanan yang dipesan. Tanpa sengaja pelayan menumpahkan teh hangat ke arah Gina.
Aris yang berada di depan Gina reflek membersihkan baju Gina yang terkena tumpahan teh. Gina yang biasanya anti dipegang Aris, membiarkan saja Aris membersihkan baju yang terkena tumpahan air teh. Bram yang melihat hanya bisa tersenyun bahagia. Gina tidak lagi menolak tersentuh Aris.
"Anda bisa hati hati tidak?" teriak Aris kepada pelayan yang sudah terlihat sangat ketakutan itu.
"Maaf kan saya Tuan" kata pelayan sambil terbata bata.
"Maaf kata Anda? Kalau istri dan calon anak kami kenapa napa apa bisa dengan maaf Anda mereka kembali sehat seperti semula?" tanya Aris makin murka.
Gina yang masih syok karena tertimpa tumpahan air teh panas masih terdiam tanpa ada perkataan yang dikeluarkannya.
"Gin, kamu tidak apa apa?" tanya Bram kepada Gina.
"Oh, nggak kak. Cuma sedikit terasa panas saja di kulit ku" jawab Gina.
Aris yang mendengar, meraih tangan Gina. Ternyata tangan Gina yang tertimpa teh panas sedikit memerah dan ada tanda tanda akan melepuh.
"Kamu!!" kata Aris sambil mengangkat tangannya seperti akan menampar pelayan.
"Sayang" kata Gina teriak.
Gina tidak sadar mengucapkan kata sayang tersebut kepada Aris. Gina hanya tau, Aris tidak boleh memukul wanita.
Aris yang mendengar Gina memanggilnya dengan kata sayang, memberhentikan gerakan tangannya yang hampir memukul pelayanan. Dia menatap ke arah Gina dengan tidak percaya. Gina kembali mengucapkan kata kata itu kepada dirinya.
"Maaf" kata Gina sambil menunduk.
"Tidak apa apa sayang. Aku sangat sangat luar biasa senang kamu memanggil aku dengan kata kata itu lagi." jawab Aris kepada Gina.
"Sudah kita ke rumah sakit aja." perintah Bram kepada Aris dan Gina.
"Nggam usah kak. Aku nggak apa apa" jawab Gina.
__ADS_1
"Nggak ada. Bram, aku setuju. Kira ke rumah sakit sekarang" Aris menggenggam tangan Gina.
Gina sama sekali tidak menolak. Aris menunggu nunggu reaksi Gina menolak genggaman tangannya. Ternyata Gina sama sekali tidak menolak genggaman tangan Aris.
Bram menuju penjual.
"Berapa semua pak?" tanya Bram mengenai harga yang harus di bayar.
"Nggak usah Tuan. Anggap saja kompensasi karena pelayan kami melukai adik Anda." kata pemilik warung.
"Ulang Kompensasi??" tanya Bram tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Dengar Tuan. Semua yang Anda jual di sini dengan gampang akan saya beli. Tapi jangan pernah anggap luka adik saya Anda bisa bayar dengan kompensasi. Terjadi sesuatu kepada adik saya, maka siap siap aja kalian akan saya buat seteraniaya mungkin. Camkan itu." kata Bram sambil menghempaskan beberapa uang seratus ribuan ke atas meja pemilik warung.
Pemilik warung yang melihat uang yang dihempaskan Bram ke atas meja cukup banyak, langsung mengambil uang tersebut. Dia tidak tau siapa yang sudah diusiknya dengan perkataan uang kompensasi.
"Kenapa lama Bram??" kata Aris yang sudah dari tadi berdiri di sisi mobil, Aris lupa meminta kunci mobil kepada Bram.
Bram membuka pintu mobil tanpa menjawab pertanyaan Aris Mereka langsung masuk, kali ini Gina duduk di kursi penumpang.
"Bram ada apa?" tanya Aris yang masih penasaran melihat Bram menekuk wajahnya. Bram terlihat sangat menahan emosinya.
"Gue kesal sama orang punya warung tadi. Saat gue mau bayar, gue kan tanya berapa semuanya. Jawab tu makhluk nggak usah bayar untuk kompensasi karena pelayan mereka sudah tidak sengaja menumpahkan teh panas ke arah Gina." jawab Bram sambil masih menahan rasa kesalnya.
"Uang apa? Kompensasi????" tanya Aris dengan nada tidak percaya.
"Ya, kompensasi." jawab Bram.
"Sempat ada apa apa dengan tangan istriku, maka akan aku buktikan apa itu kompensasi. Dia tidak tau kalau yang punya lahan tempat mereka jualan adalah punya kita." kata kata tajam keluar dari mulut Aris.
Gina yang mendengar merasa terkejut dengan apa yang dikatakan Aris. Mode kejam Aris sudah kembali keluar. Dia sudah tau apa yang akan terjadi. Bram tersenyum bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh Aris.
"Kita eksekusi langsung" jawab Bram yang setuju dengan Aris.
"Uda boleh aku minta sesuatu?" kata Gina kepada Aris.
"Sayang, kalau kamu meminta agar aku tidak mengusik mereka maka aku tidak bisa berjanji kalau sesuatu terjadi terhadap kamu. Tapi kalau kamu aman saja, maka aku akan bersedia memaafkan mereka." kata Aris kepada Gina.
Gina sudah tidak bisa menawar lagi. Aris sudah bertekad bulat akan keputusannya. Gina hanya bisa pasrah menjalaninya. Gina hanya bisa berpura pura kalau dia tidak apa apa nantinya. Gina tidak ingin gara gara dia seseorang bisa teraniaya dalam usahanya.
Mobil melaju dengan sangat kencang. Bram tidak ingin sesuatu terjadi kepada kakak ipar dan calon keponakannya. Dalam waktu tempuh tiga puluh menit, mereka sampai di rumah sakit milik Gina. Bram sengaja tidak membawa ke rumah sakit Soepomo karena Gina selalu kontrol di rumah sakit miliknya. Bram sudah menghubungi Sari agar menunggu di rumah sakit dan mempersiapkan dokter untuk memeriksa Giba.
Aris dan Bram turun dari mobil dengan tergesa. Mobil Bram tidak terparkir sempurna di lobby rumah sakit. Alex yang memang di sana setiap harinya mengambil alih mobil.
Gina di gendong Aris masuk ke dalam ruang periksa. Aris tidak mau Gina berjalan. Sari yang melihat langsung memvideokan kejadian unik itu. Dia akan mengirimkan kepada Mira, Afdhal dan Nana. Bram yang melihat aksi Sari hanya mengacak rambut Sari.
"The power of love sayang." kata Bram sambil menggenggam tangan Sari.
"Maksudnya?" tanya Sari yang sudah kepo luar biasa.
"Rahasia. Nanti diceritain. Sayang besok libur ya" kata Bram.
"Kok????" tanya Sari yang penasaran kenapa Bram memintanya libur.
"Ya. Ada sesuatu kegiatan. Kamu pasti senang melakulannya" kata Bram kepada Sari.
"Oke. Ijinin ke Uda Afdhal ya?" kata Sari yang memang malas minta izin kepada Afdhal secara langsung.
"Gampang" jawab Bram.
Mereka semua sampai di ruangan dokter. Dokter terlihat mengantuk. Dalam ruangan sudah ada dokter kandungan yang biasa memeriksa Gina dan seorang dojter kulut. Sari memang jago saat memerintah senua dokter agar datang dengan cepat ke tempat mereka.
"Dokter. Aku hanya mau diperiksa dikter kulit saja. Dokter Ranti besok aja ya. Kita janjian besok untuk pemeriksaan." kata Gina.
Gina hanya mau diperiksa oleh dokter kulit, untuk dokter kandungan memang besok jadwal kontrol blip mereka.
__ADS_1
"Tapi sayang" Sambar Aris yang tidak setuju.
"Aku mau kita besok melihat blip. Tidak sekarang." jawab Gina dengan tatapan memohon kepada Aris.
"Oke baiklah." jawab Aris pasrah tapi tak rela.
Bram dan Sari yang melihat langsung tersenyum. Aris takluk selalu dengan tatapan Gina. Sedangkan dua dokter yang berada di depan mereka sangat heran dan merasa tidak percaya. Seorang Tuan Muda Soepomo bisa takluk dengan tatapan seorang wanita yang notabene adalah istrinya.
"Mari sini Nyonya Muda" kata dokter.
Gina berbaring di ranjang periksa. Dokter memeriksa kulit tangan Gina yang terkena tumpahan air panas. Dokter mengoles salep untuk menghentikan terjadinya iritasi kepada kulut Gina.
"Bisa bajunya dibuka kancingnya Nyonya? Saya ingin memeriksa kulit Nyonya" kata dokter yang untung saja perempuan. Kalau laki laki tamatlah riwayat dokter tersebut malam ini juga.
Aris membantu membuka kancing baju Gina. Betapa terkejutnya Aris saat melihat kulit putih mulus Gina sudah memerah seperti terbakar karena ulah pelayan tadi.
Aris memalingkan mukanya dari kulit Gina. Hatinya sangat perih saat melihat semuanya. Aris mengelap air matanya yang akan jatuh itu.
Gina meraih tangan Aris. Gina tidak ingin melihat Aris bersedih atas apa yabg terjadi kepadanya.
"Aku oke" jawab Aris sambil menggenggam tangan Gina dengan kuat.
Gina hanya mengangguk. Dia tau Aris tidak oke dengan keadaan yang menimpa Gina.
Dokter melakukan hal yang sama terhadap kulit perut Gina yang terkena tumpahan air panas tadi.
"Selesai Nyonya" kata dokter.
Aris dan Gina menuju ruangan dokter. Mereka sudah duduk di depan meja dokter tersebut. Bram dan Sari berdiri di belakang Gina dan Bram. Mereka juga ingin mendengar apa yang dikatakan oleh dokter.
"Dokter Ranti, kulit istri saya juga memerah dibagian perut. Anak saya tidak kena air panas itukan dokter." tanya Aris dengan pertanyaan terbodoh yang pernah di dengar oleh Bram dan yang lainnya di ruangan itu.
"Woi ogeb. Loe kira kulit Giba setipis baju. Pertanyaan lie nggak mutu banget" kata Bram sambil menoyir kepala Aris.
"Emang salah nanyak?" tanya Aris.
"Sayang, nggak mungkin blip kena tumpahan air tadi" jawab Gina sambil meremas tangan Aris.
Sari yang melihat dan sudah stanbay dengan kameranya, merekam semua kejadian. Dia sangat bahagia, sahabatnya sudah perlahan lahan kembali.
Aris yang mendengar jawaban Gina, berusaha menetralkan hatinya kembali. Dia hanya takut terjadi sesuatu. Makanya satu pertanyaan bodoh, lolos dari mulut indahnya.
Dokter Ranti menjelaskan semuanya kepada Aris. Begitu juga dengan dokter kulit.
"Tuan, ini ada salep. Tolong dioles keluka Nyonya." kata dokter kepada Aris.
"Berapa kali?" tanya Aris.
"Tiga kali sehari Tuan. Untuk obat minum tidak ada Tuan. Nyonya hanya iritasi ringan dan bisa diatasi oleh salep ini" kata Dokter sambil memberikan salep itu kepada Aris.
Aris membaca semuanya dengan teliti. Dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada Gina dan calon anaknya.
"Nyonya, untuk beberapa hari ini, usahakan kulut nyonya tidak terkena air dulu" kata dokter kepada Gina.
"Ambil wudhu gimana?" tanya Aris.
"Tayamum ogeb" jawab Bram yang mulai kesal dengan keogepan Aris.
"Baiklah dokter. Terimakasih." kata Gina kepada dojter.
Gina dan Sari berjalan beriringan keluar dari ruangan dokter. Mereka asik bercerita dan sekali sekali diiringi tawa.
Sedangkan Aris dan Bram berjalan di belakang mereka berdua.
"Gimana? Eksekusi?" tanya Bram menatap Aris.
__ADS_1
"Yup. Buat taman yang indah di sana. Buat beberapa lapak untuk penjual. Tapi akan kita seleksi siapa yang bisa berjualan di sana" perintah Aris kepada Bram.
"Siap besok langsung eksekusi" jawab Bram yang sangat setuju dengan ide Aris. Tapi sebelum itu dia akan membiarkan Sari bermain dulu dengan pelayan yang mencelakai sahabatnya.