Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Merindumu #2


__ADS_3

Tepat jam tiga sore, Aris dan Bram meluncur ketempat janjiannya dengan pria bagian HRD tadi. Aris dan Bram sampai di kafe tersebut lima menit telat dari jam janjian mereka.


"Maaf saya telat." kata Arisl langsung duduk di depan pria itu.


"Tidak apa Tuan Aris. Saya paham dengan kesibukan Tuan dengan kondisi perusahaan seperti ini."


"Anda sudah pesan makanan?" Aris berkata sambil melihat lihat menu yang tertera. Pria itu mengangguk. Kemudian Aris memesan dan Bram juga memesan makanan yang sama.


"Maaf tadi saya lupa menanyakan nama Anda. Siapa nama Anda?"


"Panggil saja saya Dion tuan."


"Baiklah Dion. Sebenarnya apa yang terjadi dengan perusahaan saya?"


Dion terlihat takut menjawab pertanyaan Aris.


"Kamu tidak perlu takut Dion dengan orang orang yang berbuat jahat terhadap saya. Mereka akan menanggung akibat dari perbuatan mereka. Sudah saya mulai tadi dari direktur dan sebentar lagi bagian HRD. jadi kamu silahkan menceritakan apa yang kamu tau dengan permainan ini."


Dion menatap kepada Bram. Bram mengangguk.


"Sebenarnya Tuan. Masalah ini bermula dari direktur yang punya selingkuhan dibagian keuangan. Cewek itu dulunya adalah pacar saya. Tetapi karena saya hanya staff biasa yang tidak bisa memberikan apa yang dia mau, dia berselingkuh dengan direktur."


Dion kemudian mengingat semuanya.


"Kemudian lambat laun mereka melakukan penggelapan dana mulai dari skala kecil sampai yang besar. Karena semua devisi di perusahaan sudah tau kalau direktur mereka korup. Mereka semua juga melakukan hal yang sama. Manager HRD, dengan gampang saja memasukkan seluruh keluarganya ke perusahaan tanpa melihat isi kepalanya. Pengadaan mereka selalu mengelabui stok barang, nanti mereka akan menjual sebagian barang tanpa memberikan uangnya ke perusahaan. Keuangan lebih gila lagi. Mereka akan memanipulasi pengeluaran dan pemasukan."


"Terus?"


"Dari penyakit sepasang kekasih, sekarang menjadi penyakit kantor. Makanya uang dikantor menipis. Sedangkan barang yang diterjunkan ke pasar selalu habis. Di cek ke gudang barang kosong, sedangkan produksi banyak. Kami karyawan yang jujur ini hanya bisa mengurut dada saja. Kami masih bersyukur tidak dikeluarkan dari perusahaan." kata Dion dengan nada pasrah.


"Dion, berapa orang karyawan yang jujur menurut kamu yang ada di perusahaan?" tanya Bram.


"Dari masing masing devisi ada Tuan Bram. Pas Tuan Bram mengumpulkan mereka pasti tuan akan tau sendiri. Jujur saya tidak tau namanya Tuan."


"Tak satupun yang kamu tau Dion?" tatap Aris tajam kemata Dion.


"Ada Tuan. Dari devisi keuangan ada Meta. Bagian perencanaan Dani, sedangkan bagian Pemasaran ada Andi. Itu yang saya tau tuan."


"Bram pas. Jadi kita tidak usah bawa orang dari Negara I. Ini saja yang kita pakai. Dan kita akan tetap memakai para karyawan pabrik."


"Sip."


"Baiklah Dion. Terimakasih atas informasinya. Satu hal lagi. Kamu akan tetap di perusahaan saya. Kamu bisa membalaskan rasa sakit hati kamu kepada mantan kamu yang tidak ada akhlak itu."


Karena asik bercerita, tidak terasa makanan yang dihidangkan sudah mulai dingi.


"Mari makan." kata Aris.


Mereka kemudian melahap makanan itu dengan lahapnya. Mereka sama sama lapar, karena dari pagi belum ada makanan berat yang masuk kedalam perutnya.

__ADS_1


"Baiklah Dion. Saya permisi dulu. Kamu tunggu besok silahkan masuk kembali. Kamu bersikap seperti biasa saja. Kami akan tetap berpura pura tidak kenal dengan kamu. Sekali lagi terimakasih infonya." kata Aris.


"Sama sama Tuan Aris. Saya senang bisa membantu Tuan."


Aris dan Bram kemudian pergi dari kafe itu. Mereka akan membahas kelanjutan dari permasalahan ini di rumah. Bram melajukan mobilnya dengan kecepatan biasa saja. Mereka sedang tidak terburu buru, ditambah lagi Bram dan Aris ingin menikmati pemandangan sepanjang perjalanan yang mereka lalui. Kapan lagi mereka bisa menikmati perjalanan. Tak berapa lama mereka sampai di rumah, mereka langsung masuk kamar masing masing untuk beristirahat.


Aris kemudian mendinginkan badannya sambil melihat pinselnya. Ternyata di situ ada pesan dari Gina.


✉️ Gina


Maaf kak, Gina baru bangun. Disinikan baru pagi, kakak wA tadi masih malam. Kakak jangan lupa makan ya karena kecapekan kerja.


✉️ Gina


Kak kok nggak balaz. Marah sama Gina?


✉️ Gina


Kak


✉️ Gina


ooooo kakak


✉️ Gina


Aris tertawa melihat Gina yang emosi kepada dirinya. Aris semakin senang dengan sikap Gina seperti ini. Aris sudah bulat akan meminta Gina secepatnya menjadi kekasihnya.


✉️ Aris


Maaf Gin. Kakak baru siap kerja. Ini baru pulang dan baru bisa buka ponsel. Kakak tidak marah. Malahan kamu yang marah marah


Gina yang memang sedari tadi melihat ponselnya langsung teriak dengan bahagia.


"Yes dibalas."


"Kamu kenapa Gin? Amankan?" kata Nana yang selalu menemani Gina di rumah.


"Kak Aris balas WA Gina Na. Gina ke kamar dulu." Gina langsung berlari menuju kamarnya di lantau dua.


"Dasar anak muda. Kemaren lari karena nggak mau. Sekarang lari karena mau. Heran" Nana kemudian kedapur pergi memasak untuk makan siangnya dengan Gina.


✉️ Gina


Gina nggak marag cuma kesal aja. Kakak nggak balas WA Gina. kakak sedang ngapain?


✉️ Aris


Ini mau mandi. Selepas mandi akan meeting dengan Bram. Membicarakan perusahaan agar cepat selesai. Biar bisa cepat pulang kenegara I.

__ADS_1


✉️ Gina


Nggak jadi sebulan dong kak?


✉️ Aris


Kamu berdoa aja, supaya kakak disini tidak sampe sebulan tapi cukup lima belas hari aja.


✉️ Gina


Kelamaan kak. Seminggu aja di sana.


✉️ Aris


Gin, Udahan dulu WA nya ya. Kakak mau mandi dan meeting dengan Bram. Nanti selepas meeting kakak kasih tau.


✉️ Gina


Siap kak. Jangan lupa makan dan sholat ya.


Aris kemudian meletakkan ponselnya, dia kangsung ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Aris semakin bersemangat untuk menyelesaikan secara cepat permalahan di sini.


Gina yang selesai melakukan WA dengan Aris langsung turun ke bawah menemani Nana masak. Gina terus tersenyum Sedangkan Nana yang melihat hanya tertawa saja melihat tingkah putrinya yang sudah jatuh cinta itu.


Aris yang selesai mandi langsung saja masuk ke dalam ruang kerjanya. Disana sudah ada Bram yang menanti dari tadi. Aris kemudian duduk di sofa sebelah Bram. Mereka sekarang bukan membahas pekerjaan konteks bos dan asisten, tetapi sahabat yang sama sama punya saham di perusahaan.


"Ris, menurut lie gimana langkah selanjutnya?"


"Kita undang saja semua bagian Bram. Kalau loe setuju."


"Kalau menurut gue. Kita undang saja nama nama yang disebut Dion tadi. Jadi kita tau siapa yang harus kita coret. Gue capek ribut kayak tadi."


"Setuju. Kapan?"


"Eksekusi besok saja. Kita beri mereka semua napas sehari besok. Lusa kita eksekusi semuanya."


"Sip. Makan yok Bram. Laper gue." kata Aris melangkah keluar ruangan kerja menuju meja makan.


Bram mengikuti Aris. Dia juga sudah lapar, kasur pun sudah menganggil dirinya untuk datang. Bram dan Aris kemudian makan dengan lahap. Mereka ingin cept tidur saja. Dalam lima belas menit makan malam itu selesai juag. Mereka kemudian masuk kedalam kamar masing--masing.


✉️ Aris


Gin. Aku tidur duluan ya. Besok agenda sangat banyak. Aku ingin cepat menyelesaikan permasalahan ini. Kamu pahamkan.


✉️ Gina


Oke kak. Nggak apa apa. Semakin kakak cepat pulang maka semakin aman.


Aris kemudian merebahkan dirinya. Aris sudah menyusun semua rencana diotaknya. Dia tidak akan memperpanjang pencarian. Dia akan langsung main cut saja tanpa bertanya seperti tadi. Target Aris seminggu kedepan perusahaan sudah kembali normal. Setelah itu Aris akan memantau dari jauh sampai perusahaan benar benar sudah pulih. Aris kemudian masuk kealam mimpinya, dia berharap akan bertemu Gina di alam.mimpi itu.

__ADS_1


__ADS_2