Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Pengajian Tujuh Bulanan Gina


__ADS_3

Tak terasa kehamilan Gina sudah masuk usia tujuh bulan. Aris masih belum bisa menyentuh Gina duluan. Setiap Aris sengaja atau tidak sengaja menyentuh Gina, maka Gina akan langsung muntah muntah. Ternyata penderitaan Aris masih panjang. Kalau ditanya apakah Aris dan Gina sudah melakukan hubungan suami istri, maka jawabannya sudah. Dengan Gina yang mendominasi jalannya permainan. Hal yang membuat sedih, apabila Aris sudah mulai akan agresif, maka Gina akan langsung muntah dan permainan selesai, dengan hasil menggantung.


Hari ini terlihat kesibukan yang tidak pernah terjadi di rumah utama Soepomo Grub. Banyak para karyawan dengan baju pertuliskan Soepomo Organizer hilir mudik memasang tenda di halaman belakang. Menyusun kursi dan meja. Serta banyak juga yang merangkai bunga yang akan dijadikan sebagai hiasan untuk acara itu.


Para maid di dapur juga terlihat sibuk menyiapkan semua hidangan yang akan disajikan kepada para tamu undangan hari itu. Sedangkan Gina yang dibantu Mami sedang sibuk memasak tumpeng untuk acara. Gina sengaja tidak mau memesan dari restoran milik mereka, Gina ingin membuat sendiri tumpeng untuk acaranya hari ini.


Sedangkan tumpeng mini untuk hadiah bagi para anak panti yang diundang memang hasil pesanan dari restoran milik Soepomo Grub.


Keluarga Soepomo dan keluarga Wijaya mengundang seribu anak panti asuhan untuk menghadiri acara pengajian tujuh bulanan Gina. Acara yang sudah sangat lama dipersiapkan oleh Nana dan Mami. Mulai dari baju keluarga, makanan dan bingkisan yang akan di bawa pulang. Dua Nyonya besar yang sangat kompak dalam menyambut cucu pertama dari masing masing keluarga.


Tepat pukul tiga sore semua persiapan akhirnya selesai. Para keluarga inti juga sudah berada di rumah utama keluarga wijaya. Mereka semua memakai baju berwarna putih.


Aris dan Gina yang telah selesai bersiap siap turun menuju ruang keluarga tempat para keluarga sudah berkumpul. Perut Gina yang sangat terlihat besar itu membuat dia agak susah berjalan. Semua ini diakibatkan karena bayi yang dikandung Gina memiliki berat yang tidak sama dengan bayi biasanya. Gina sangat menikmati hal itu, walaupun dia merasakan sakit dipinggangnya, tetapi Gina tidak pernah mengeluh, dia tetap melakukan aktifitas seperti biasanya.


"Sayang coba kalau kita tau jenis kelaminnya kan bisa kita pake warna sesuai dengan jenis kelamin." kata Nana dengan wajah gembiranya.


"Jangankan Nana dan keluarga yang lain. Gina sama Uda Aris aja sangat penasaran, Tapi kami sepakat itu akan menjadi kejutan dua bulan ke depan." jawab Gina sambil tersenyum menatap Aris.


"Besok kamu liburkan sayang?" tanya Mami.


"Kantor Mi." jawab Gina.


Memang kenyataannya Gina besok masuk kantor. Gina belum mengajukan cuti kepada perusahaannya.


"Afdhal. Besok Gina kasih ijin ya Nak. Mami dan Nana, akan bawa Gina membeli perlengkapan Bayi." kata Mami sambil menatap ke arah Nana.

__ADS_1


" Wah setuju. Gina kamu Nana ijinkan besok untuk nggak masuk." kata Nana dengan antusias.


"Loh kok Nana yang ngasih ijin Gina? Harusnya Afdhal Nana." kata Afdhal yang heran dengan Nana.


"Hay sayang, kamu presiden direktur. Nana CEO nya. Nana belum serahkan semua ke kamu ya sayangku." kata Nana kepada Afdhal.


"Hem main pakai CEO ya jelas kalah akunya." jawab Afdhal sambil cemberut.


Semua yang melihat kelakuan pria yang sudah sangat dewasa itu cemberut membuat mereka tertawa terbahak bahak. Gina sampai harus memegang perutnya takut kram. Afdhal makin cemberut dengan kelakuan keluarga besarnya, terlebih disitu ada Anggel calon istrinya.


"Udah Nana. Kasian tuh anaknya udah makin panjang mulutnya." kata Ayah kepada Nana.


Azand maghrib terdengar berkumandang dari mesjid. Semua keluarga menuju mushalla untuk menunaikan kewajiban mereka. Selesai melaksanakan kewajiban semua keluarga besar kembali menuju tempat acara. Mereka akan menunggu semua tamu di situ. Gina selalu menggandeng Aris.


Para tamu mulai berdatangan yang terdiri dari kolega bisnis kedua keluarga besar dan juga teman teman Mami dan Nana. Semua tamu duduk di karpet tebal yang sudah dibentang di atas panggung. Pengajian kali ini sengaja tidak di dalam rumah, Mami dab Nana ingin ini menjadi kenangan bagi Gina dan Aris, pasangan berbahagia tersebut.


"Sangat Mi. Makasi banget untuk Mami dan Nana yang masih sempat memikirkan acara pengajian tujuh bulanan ini. Gina kira hanya yabg empat bulanan yang Mami ingat." tutur Gina kepada Mami dan Nana.


Acara pengajian itu di mulai. Tanpa disadari oleh Aris, ternyata ada seorang wanita yang selalu mengamatinya. Tetapi itu semua tidak luput dari pandangan Gina. Gina sangat tau arti pandangan seorang wanita kepada suaminya.


Tibalah saatnya para tamu bersalam salaman dengan keluarga besar Soepomo dan Wijaya. Semua leluarga berdiri.


"Aris selamatya. Kamu sebentar lagi akan menjadi Desy." kata wanita itu dengan sok manjanya.


"Makasi." jawab Aris dengan dingin dan menolak pelukan wanita itu.

__ADS_1


Wanita tersebut menahan rasa malunya di tengah para tamu yang ramai. Dia tidak menyangka Aris akan menolak pelukan dari dirinya Gina tersenyum bahagia melihat semua itu.


"Maaf Nona, suami saya tidak biasa di peluk atau memeluk wanita lain, selain Mami, Nana dan tentunya saya, istri yang selalu dipujanya sampai kapanpun. Anda pahamkan Nona Muda." kata Gina berbisik sambil memeluk kuat wanita itu.


"Wanita itu rersenyum kepada Gina. Dia tidak tau apa yang harus dikatakannya kepada Gina tadi.


Tibalah saatnya wanita itu menyalami Mira. Mira dengan santai menjabat keras tangan wanita itu.


"Jabatan ini pertanda kamu dalam bahaya kalau berani mengganggu semua yang berada di depan sini. Semoga kamu paham dan berkaca dari kejadian yabg sudah sudah." kata Mira yang diangguki oleh Sari.


Wanita itu kemudian berjalan menunduk keluar dari acara pengajian tujuh bulanan Gina, ternyata memang benar apa yang didengarnya selama ini. Manusia yang patut diwaspadai di keluarga Soepomo dan Wijaya adalah ketiga perempuan muda itu.


Acara pengajian tujuh bulanan itu berjalanan dengan hikmat. Semua keluarga inti dan para tamu mengaji dan mendoakan yang terbaik untuk Gina dan anak yang di kandungnya.


"Aris bawa Gina ke kamarnya, kasian nanti dia kecapekan." perintah Nana kepada Aris.


"Sip Na." jawab Aris sambil berdiri dari duduknya.


"Bentar sayang. Nana dan Ayah tidur sinikan ya?" tanya Gina yang masih kangen dengan keluarganya.


"Iya sayang. Kami tidur di sini. Besok kita akan berbelanja untuk bayi mungil yang masih di dalam itu. Kita akan beli semua keperluannya." jawab Nana.


"Kami boleh ikutkan Na?" tanya Sari yang sangat ingin pergi.


"Boleh. Mira juga boleh. Anggel juga harus ikut." jawab Nana.

__ADS_1


Mami mengangguk menyetujui. Aris dan Gina kemudian naik ke kamar mereka. Mereka akan beristirahat. Gina merasakan sangat lelah sekali. Perutnya terasa agak kram. Cuma dia tidak mau mengatakan kepada Aris. Gina takut Aris akan panik dan membawanya ke rumah sakit. Gina lebih memilih untuk beristirahat saja.


__ADS_2