
Sari masih saja betah melihat ke arah hotel tempat mereka menginap kemaren. Sari memainkan ponselnya, sesekali dia melihat ke arah layar laptop yang menampilkan pergerakan mobil Aris yang dikendarai oleh Bram. Sedangkan Gina, karena faktor hamil muda, tidak terasa sudah masuk ke alam mimpi. Dia sudah tidur dengan nyenyak dari tadi.
"Gaya mau mikir tu anak. Eeeee kiranya dia tidur indah sekarang. Dasar ibu hamil muda." kata Sari sambil menatap ke arah Gina yang sedang memeluk bantal yang dijadikan guling.
"Gue heran kenapa hotel nggak nyediakan bantal gulung ya??? Apa mereka kira setiap yang nginap di hotel.membawa pasangan." kata Sari dengan herannya.
"Hahahahaha. Apaan sih loe Sar yang loe pikirin. Biarkan itu jadi rahasia semua hotel. Nggak usah loe pikirin." kata Sari menertawakan dirinya sendiri. Pikiran anehnya sukses membuat Sari tertawa sendiri.
Sari yang sudah merasakan lelah dan mengantuk. Dia langsung naik ke atas kasur empuknya. Dia juga akan mengistirahatkan badannya yang sudah setengah remuk itu. Tidak.membutuhkan waktu lama akhirnya Sari menyusul Gina untuk masuk ke alam mimpi mereka. Alam yang tidak ada permasalahan di sana.
...----------------...
RUMAH UTAMA WIJAYA
"Ayah, apa yang akan kita lakukan Ayah?" tanya Afdhal kepada Ayah yang sedang duduk di ruang kerjanya.
"Kita lihat saja bagaimana perjuangan Aris." jawab Ayah dengan santai.
"Maksud Ayah?" Afdhal tidak.mengerti dengan jalan pikiran Ayahnya.
"Afdhal, uda kan tau kalau adiak tidak meminta tolong maka kita tidak bisa menolong adiak. Uda pernahkan melihat bagaimana murka adiak saat ayah menolong adiak dulu?" tanya Ayah kepada Afdhal. Ayah mengingatkan bagaimana reaksi Gina saat dia ditolong.
Gina tipe seorang perempuan yang jarang meminta tolong kalau hal atau masalah yang dihadapi masih bisa dia hadapi sendirian. Kalau orang lain nekat membantunya, maka siap siap saja, Gina akan sangat murka dengan semua itu. Tetapi kalau Gina merasa hal atau masalah itu dia tidak bisa menyelesaikan, barulah Gina akan meminta tolong.
"Jadi maksud ayah kita membiarkan semua ini terjadi?" tanya Afdhal yang tidak percaya dengan tanggapan ayah.
"Kita tidak membiarkan uda. Kita akan terus memperhatikan, kita tidak bisa berbuat apa apa, kamu tau sendiri Gina kan?" tanya Ayah dengan menatap Afdhal.
Afdhal kemudian mengangguk, dia sangat tau dengan adiak satu satunya itu.
"Kita akan memantau terus pergerakan Aris. Semoga saja Gina tidak terlalu lama pergi menenangkan dirinya. Gina harus menghadapi semua ini dengan tenang. Kasihan bayi dalam kandungannya" kata Ayah.
__ADS_1
"Sip ayah. Aku akan meminta Dodi untuk memantau Aris"
"Nggak perlu. Bram ada sama kita. Jadi biarkan saja. Kamu taukan bagaimnaa sayang Bram ke Gina?"
"Tau ayah."
"Afdhal, kadanf ada sesuatu permasalahan yang orang tua atau keluarga harus ikut campur. Tapi ada juga permasalahan yang tidak perlu orang tua ikut campur. Saat ini Gina lebih memilih untuk keluarga kita tidak ikut campur. Maka kita harus memahami dia. Kita harus menghargai keputusan yang dipilih Gina"
"Baiklah Ayah. Tapi apabila sesuatu terjadi kepada adiak uda. Maka keluarga Soepomo akan menerima ganjaran yang setimpal." kata Afdhal dengan nada yang tidak bisa dibantah lagi.
"Ayah tidak akan melarang kamu. Ayah janji" kata Ayah sambil menepuk pundak Afdhal.
"Ayah ke pustaka dulu. Ada perlu" kata Ayah sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Ayah, uda keluar dulu" kata Afdhal.
"Uda ingat jangan berbuat yang macam macam. Ayah nggak mau berurusan dengan adiak kamu. Awas aja uda bertindak yang tidak benar. Maka uda dicoret dari kartu keluarga" kata ayah kepada Afdhal.
......................
"Masih jauh Bram?" tanya Aris kepada Bram yang sedang membawa mobil.
"Dikit lagi" kata Bram.melihat map yang ada.
Setelah berkendara selama tiga puluh menit lagi, Bram membelokkan mobilnya ke dalam parkiran hotel tempat Gina dan Sari menginap.
"Kita menginap di sini aja Bram. Gue yakin kalau Gina masih di sekitar sini" kata Aris.
Bram kemudian memesan kamar mereka dengan menghadap ke jalan besar. Sedangkan Aris memesan kamar yang menghadap ke pegunungan. Ntah kenapa Aris tidak ingin menghadap ke jalan.
"Tumben loe milih menghadap pegunungan?"
__ADS_1
"Malez nengok hotel jelek di seberang jalan. Emang hotel kayak gitu masih ada juga yang minat?" tanya Aris kepada Bram.
"Ada Ris. Orang yang uangnya nggak cukup untuk menginap di hotel mewah kayak gini." kata Bram kepada Aris.
Aris dan Bram naik ke lantai kamarnya. Mereka selalu memesan kamar hotel yang berbeda setiap berpergian. Aris yang sudah lelah langsung saja membaringkan badannya di atas kasur. Sedangkan Bram lebih memilih untuk duduk di balkon kamarnya. Dia memandang luruh ke hotel sederhana di depan hotel tempat dia dan Aris menginap.
Sari yang lebih dahulu bangun dari Gina, langsung masuk ke dalam kamar mandi. Sari membersihkan badannya dengan menikmati setiap air yang membasahi tubuhnya. Sari tidak ingin tergesa gesa, dia sangat menikmati ritual membersihkan dirinya hari ini. Selesai membersihkan diri, Sari kemudian memakai pakaiannnya, dia menyisir rambutnya yang sebahu itu. Kemudian berdiri di balkon kamarnya untuk menikmati angin sore pegunungan yang begitu sejuk.
Gina yang baru bangun dari tidur siangnya langsung masuk ke dalam kamar mandi. Gina membersihkan dirinya. Gina semenjak hamil muda ini tidak begitu menyukai tirual mandi yang lama. Dia hanya butuh waktu sepuluh menit saja untuk mandi. Selesai memakai pakaiannya Gina menuju Sari yang sedang berdiri di balkon kamar. Gina juga melihat ke arah hotek tempat mereka menginap kemaren.
"Apa mereka udah sampai Sar?" tanya Gina kepada Sari.
"Bentar ya" Sari masuk ke dalam kamar, dia mengambil laptopnya. Gina dan Sari melihat tampilan dari layar laptop.
"Sepertinya mereka udah sampai Gin" jawab Sari kepada Gina.
"Gue cek cctv hotel dulu" Gina mengambil laptopnya.
Gina kemudian melihat tampilan di layar laptopnya. Tampilan dari cctv yang ada di hotel depan.
"Bener Sar. Mereka udah datang dan menginap di saba" kata Gina kepada Sari.
"Ooh. Gue juga nampak mereka berdua udah datang" jawab Sari dengan tampang tak percaya.
"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Sari kepada Gina.
"Gue udah mutusin. Gue akan pulang. Tapi tidak dengan cara mudah. Gue akan buat Aris bertemu dengan tidak sengaja dengan kita berdua. Nah pada saat itu gue akan kabur dengan mengendarai mobil. Sedangkan loe mengalihkan perhatian Bram. Loe pahamkan?"
"Paham. Kita akan beraksi besok. Kita akan sekilas sekilas memperlihatkan keberadaan kita kepada mereka berdua"
"Sip. Kita mulai besok" kata Gina kepada Sari.
__ADS_1