
Gina yang merasakan sedikit sesak di dadanya, memilih untuk bangun dari tidurnya. Dia memandang lama wajah suaminya yang tertidur itu. Gina memainkan jemarinya di wajah suaminya. Dia menelusuri semuanya dengan jemarinya. Aris yang kalau tidur bener bener seperti kerbau tidur sama sekali tidak terbangun akan gangguan yang diberikan oleh Gina.
Saat Gina asik dengan semua aktifitasnya di wajah Aris, Gina melihat sebuah panggilan masuk ke ponsel Aris. Gina meraih ponsel tersebut, ternyata yang menghubungi Aris adalah Paman Hendri.
"Paman Hendri?" tanya Gina sambil menatap layar ponsel yang dalam mode sailent itu. Setelah panggilan tersebut berakhir Gina melihat Paman Hendri telah melakukan panggilan sebanyak sepuluh kali panggilan.
"Kok Aris nggak ngangkat ya panggilan telpon dari Paman?"
"Ada masalah apalagi ini?" ujar Gina dalam hatinta.
"Biarlah nanti saja tanyakan kepada Aris." ujar Gina yang kembali meletakan ponsel Aris ke tempatnya. Dia kembali masuk ke dalam pelukan Aris.
Gina memejamkan kembali matanya yang juga masih merasakan kantuk yang teramat itu. Apalagi dengan melihat Aris yang masih tertidur membuat dia juga ingin kembali tidur. Gina kembali masuk ke alam mimpinya.
.........................................................................................
Aris yang sudah kembali segar bangun dari tidurnya itu. Dia melihat istrinya masih tertidur. Aris meraih jam tangannya yang ada di nakas samping ranjang. Dia melihat jam baru menunjukkan pukul dua dini hari.
Aris menatap Gina dengan sangat teliti. Saat Gina tanpa sadar bergerak, selimut yang dipakai olehnya melorot dan memperlihatkan dua gundukan besar yang masih menampakkan ada jejak jejak kepemilikan dari Aris di sana.
Aris kembali merasakan sesuatu terbangun dari dalam dirinya. Dia kembali mulai memainkan jari jarinya di dua pusat inti kepemilikan Gina.
Gina yang masih berada di alam mimpi merasa geli akibat ulah Aris. Dia kemudian dengan perlahan membuka matanya. Betapa terkejutnya Gina melihat Aris yang sudah memulai permainan itu. Gina kembali memejamkan matanya. Dia ingin Aris melakukan semuanya sendirian. Gina kali ini hanya ingin menikmatinya saja tanpa harus ikut bermain.
"Silahkan dinikmati sayang. Aku bersedia diapa apain." ujar Gina di dalam hatinya.
Gina kemudian tersenyum dengan sangat cantik. Aris yang belum tau kalau istrinya sudah bangun itu masih terus saja menggoda Gina. Dia sangat berharap Gina terbangun akibat ulahnya itu.
Tapi apa yang diharapkan oleh Aris tidak terjadi. Gina tidak juga kunjung bangun. Padahal yang sebenarnya Gina sudah bangun dari tadi. Malahan Gina sudah keluar sekali akibat ulah Aris.
Aris terus saja beraksi. Dia terus bermain di dua gundukan besar yang menantang itu. Aris sebenarnya sudah ingin masuk, tetapi Gina tidak juga kunjung bangun dari tidurnya. Aris tidak ingin masuk tanpa Gina membuka matanya. Aris pengennya Gina bangun saat dia masuk.
"Sayang ayolah bangun. Aku udah pengen masuk." ujar Aris di telinga Gina dengan bisikan mesra.
Gina dengan tiba tiba memeluk erat Aris.
"Kerja sendirian ya. Aku menikmatinya" ujar Gina sambil kembali berbisik mesra kepada Aris.
"Berdua baru asik" jawab Aris.
Gina menggeleng. "Nggak boleh masuk." jawab Gina.
"Beneran nggak boleh ni?? Nyesel nggak nanti?" tanya Aris sambil menjawil puncak kembar Gina.
"Hahahahahaha. Nyesel lah masak ndak." jawab Gina.
__ADS_1
"Masuk nggak ne. Atau mau ngobrol aja?" tanya Aeis yang udah nggak sabaran untuk kembali masuk.
"Masuk sayang. Aku dari tadi udah mengharapkan kamu masuk. Tapi kamu nggak masuk masuk juga." jawab Gina.
"Jadi udah bangun dari tadi?" tanya Aris sambil meremas dengan kuat sesuatu di sana.
"Hahahahahahahaha. Udah banget." jawab Gina yang berhasil mengelabui Aris.
"Jangan bilang kalau????" tanya Aris menggantung di udara.
Gina mengangguk dengan pasti. Aris melempar selimut yang menutupi Gina. Aris melihat bukti yang dikatakan oleh Gina tadi. Ternyata memang benar Gina sudah basah.
"Hahahahaha. Kamu nipu aku dari tadi???? Ternyata kamu menikmati semuanya dari tadi???"
"Heeh, aku menikmati semuanya dari tadi." jawab Gina.
"Hem. Harus dihukum." ujar Aris.
Aris naik ke atas Gina. Dia tepat memosisikan sesuatu tepat di depan sesuatu. Gina menggoda sesuatu itu dengan sesuatu.
"Jangan digoda terus sayang." ujar Aris.
Blep sesuatu masuk ke dalam sesuatu.
"Ah" teriak Gina yang menyadari sesuatunya ada yang menyumpal.
"Penuh" jawab Gina.
"Tapi enak kan?" tanya Aris.
"Banget." jawab Gina
Aris memulai permainannya. Gina hanya diam saja. Aris membiarkan saja Gina sekarang hanya menerima saja setiap serangan dari dirinya.
"Mana ada main sendiri." ujar Aris.
Aris kemudian memainkan letak sensitif Gina. Gina menjadi menggelinjang hebat. Dia juga mulai memainkan permainannya.
"Kamu curang sayang. Aku jadi ikut main." ujar Gina sambil berusaha menahan permainannya.
"Lepaskan aja sayang. Jangan ditahan." ujar Aris.
Gina yang memang sudah merasakan sensasi sensasi itu, mulai ikut bermain dengan gilanya. Dia kembali menikmati permainan itu. Permainan yang semula Gina hanya ingin menjadi penikmat saja akhirnya kembali menjadi pemain. Akibat ulah suaminya yang selalu berhasil menggoda dirinya agar ikut main.
"Sayang" teriak Gina sambil membawa Aris ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Aris yang tau dengan kode yang diberikan oleh Gina mempercepat laju permainan. Dia manahan kedua kaki Gina agar tetap diam.
"Kamu diam aja. Aku yang main." ujar Aris.
Gina tersenyum bahagia. Dia tidak perlu bersusah susah untuk mendapatkan sesuatu itu. Suaminya bersedia untuk bekerja sendirian. Aris memberikan sensasi yang berbeda dengan yang diterima Gina tadi malam. Gina sampai harus berkali kali keluar hanya dengan pola permainan Aris yang berbeda.
"Sayang" teriak Aris.
Aris kemudian mencium bibir ranum Gina. Gina memberikan balasan untuk ciuman dari Aris. Dalam melakukan permainan bibir itu. Aris mengeluarkan sesuatu yang diharapkan oleh Gina untuk memandikan bagian dalam dirinya.
"Ah" ujar Aris.
"Kenapa?" tanya Gina.
"Enak." jawab Aris.
"Mana enak dari tadi malam?" lanjut Gina.
"Beda beda sensasinya. Sama sama enak." jawab Aris.
"Tidur lagi yuk. Ngantuk." ujar Gina.
"Bersihin dulu. Jorok ah." jawab Aris.
Mereka berdua kemudian membersihkan bagian favorit masing masing pasangan. Setelah merasa bersih. Mereka berdua kembali tidur di ranjang. Aris memeluk Gina.
"Sayang, tadi aku lihat di ponsel kamu Paman Hendri sudah puluhan kali nelpon. Ada apa?" tanya Gina sambil menatap Aris.
"Nggak tau sayang. Aku belum bicara dengan Paman Hendri." jawab Aris.
"Telpon sekarang aja sayang. Pasti ada sesuatu yang rumit sampai sampai Paman Hendri harus telpon berkali kali." ujar Gina.
Aris mengangguk. Gina mengambil ponsel Aris yang berada di atas nakas.
Aris kemudian mencari kontak Paman Hendri. Dia langsung menghubungi Paman Hendri. Aris menunggu panggilan telpon itu di angkat.
"Ini bocah baru telpon. Drlari tadi di telpon ndak angkat angkat. Kerjai balik aja." ujar Hendri sambil memeluk istrinya.
Aris sudah lima kali.mencoba menghubungi Paman Hendri. Tetapi Paman Hendri tidak mengangkat panggilan dari Aris.
"Sayang nggak diangkat." ujar Aris.
"Kita tidur aja. Besok aja telpon lagi." jawab Gina sambil meletakan ponsel Aris kembali ke nakas.
"Peluk bobok ya." ujar Gina.
__ADS_1
"Sip." jawab Aris.
Mereka berdua kembali tertidur. Aris dan Gina saling berpelukan. Mereka benar benar lelah akibat aktifitas permainan dua ronde itu. Permainannya yang dua ronde tapi keluarnya berronde ronde.