Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Belanja Mami Part 2


__ADS_3

Mami dan Nana yang telah selesai menikmati makan siang mereka, langsung berdiri dari duduknya. Sopir yang melihat dua Nyonya sudah berdiri, juga menyelesaikan acara makan siang mereka. Mereka takut dua Nyonya besar itu akan marah karena mereka masih menikmati makan siangnya.


"Mami sama Nana lanjut belanja dulu. Kalian lanjutkan saja makannya. Nanti susul saja kami berdua ke tempat tadi." kata Mami kepada Aris, Gina dan Bram.


"Baik Mi" jawab Aris.


Dua sopir langsung berdiri saat melihat dua Nyonya mereka sudah akan berjalan menuju pintu restoran.


"Kalian berdua makan aja dulu. Nanti setelah selesai makan susul kami ke tempat tadi." kata Mami kepada kedua sopir yang sudah berdiri.


"Siap Nyonya." jawab sopir Mami.


Kedua sopir kembali duduk dan menikmati makan siang mereka kembali. Begitu juga dengan Aris, Gina dan Bram, mereka bertiga sangat bersyukur Mami menyuruh mereka melanjutkan makan. Mereka bertiga juga udah jenuh dan capek mengikuti dua Nyonya belanja keperluan bayi.


"Bener capek gue ngikuti Mami dan Nana." kata Bram kepada Aris dan Gina.


"Loe bukan capek ngiringi, tapi capek mikir udah berapa mereka belanja dan sibuk meletakkan kembali belanjaan mereka." jawab Aris sambil tersenyum bahagia.


"Soek loe." balas Bram yang paham dia diejek oleh Aris.


Mereka semua selesai makan setelah selama satu jam Mami dan Nana sibuk di babyshoop. Mereka berharap Mami dan Nana telah selesai shooping dan berharap tinggal pulang. Mereka dengan semangat masuk ke dalam baby shoop, mereka melihat Mami dan Nana yang sedang duduk di sofa yang ada di babyshoop.


"Sepertinya mereka sudah selesai belanja sayang. Akhirnya kita tidak perlu menunggui Mami dan Nana belanja." kata Gina sambil tersenyum bahagia.


Mereka semua menyusul Mami dan Nana ke tempat duduk mereka. Aris menatap heran ke arah samping Mami dan Nana. Aris tidak melihat satupun kantong belanjaan terletak di dekat Mami dan Nana.


"Mana belanjaannya Mi?" tanya Aris yang masih penasaran dengan barang belanjaan dua Nyonya itu.


"Kami belum mulai. Sampai sini disuguhi puding buah sama yang punya baby shopp, eeeee karena keenakan ngobrol jadi lupa belanja. Kebetulan karena kalian udah di sini, kita belanja bareng aja ya." kata Mami kepada Aris.


"Tidak, Mami dan Nana aja yang belanja. Aris sama Gina nunggu di sini aja." jawab Aris sambil membawa Gina untuk duduk di sofa yang masih kosong.


"Selamat menunggu." kata Mami kepada mereka.


Mami dan Nana langsung menuju rak rak baju, dua orang sopir mengikuti sambil mendorong troli belanjaan Nyonya mereka masing masing.

__ADS_1


Aris, Gina dan Bram melihat saja kedua Nyonya itu kembali berbelanja. Mereka tidak ingin mengikuti, hasilnya hanya akan membuat mereka makin lelah. Lebih baik mereka menghemat tenaga untuk membantu mengangkat beberapa barang nanti ke atas mobil.


"Bram mending loe telpon bagian umum, minta mereka mengirimkan mobil angkut barang ke sini. Gue yakin belanja hari ini bener bener gila." kata Aris yang melihat isi troli ke dua Nyonya itu sudah menggunung.


"Sepertinya harus begitu." jawab Bram.


Bram mengeluarkan ponselnya. Dia langsung menghubungi manager bagian umum untuk mengirimkan dua mobil box ke mall guna mengangkat belanjaan dua Nyonya itu.


"Sayang aku ngantuk. Pinjam paha kamu untuk jadi bantal ya.. Tau gini mending Mami dan Nana aja yang pergi membeli, ngapain juga kita harus ikut." kata Gina dengan nada sedikit kesal.


"Besok kita akan cari pakaian yang lucu lucu. Jadi biarkan hari ini untuk Nana dan Mami sayang. Nanti bagian kamu akan ada juga." jawab Aris.


"Sini tidur." kata Aris sambil memukul pahanya dengan tangan untuk dijadikan Gina sebagai bantal.


Gina merebahkan kepalanya ke paha Aris. Aris langsung mengusap usap kepala Gina. Gina memang paling suka tidur kalau kepalanya di usap usap. Dalam sekejap Gina sudah tertidur. Nafasnya naik turun dengan beraturan, perut buncit Gina semakin terlihat saat dia tertidur menyamping, posisi yang membuatnya selalu nyaman untuk tidur.


"Ris, waktu usg anak loe satu cumakan ya?" tanya Bram kepada Aris yang sangat terkejut melihat perut Gina yang besar.


"Cuma satu kenapa emangnya?" tanya Aris yang penasaran dengan pertanyaan Gina.


"Anaknya besar. Makanya Gina tidak bisa melahirkan normal, harus di operasi." jawab Aris menjelaskan kenapa perut Gina terlihat sangat besar.


"Oh." kata Bram yang sok tau. Ntah apa yang di oh kannya yang penting dia menjawab oh.


Saat Aris dan Bram sibuk membahas tentang perusahaan mereka. Dua orang sopir yang diminta membawa mobil box sudah datang.


"Tuan, mobil sudah stanbay di parkiran basman mall." kata seorang sopir.


"Baik terimakasih. Kalian sekarang ambil keranjang itu satu satu, ikuti ke dua orang sopir tersebut." perintah Bram selanjutnya kepada kedua sopir mobil box


"Siap Tuan Bram." jawab sopir yang tadi melapor.


Mereka berdua mengambil keranjang belanjaan. Mereka mengikuti kedua Nyonya besar. Sedangkan kedua sopir yang strolernya sudah penuh langsung menuju kasir untuk meletakan semua barang belanjaan.


Setelah berbelanja selama tiga jam, dan berhasil memenuhi enam buah stroler. Mami dan Nana merasa sudah membeli semua barang. Mereka mengambil semua yang mereka rasa perlu. Aris dan Bram serta Gina yang melihat belanjaan segini banyaknya merasa lelah untuk memajang di kamar bayi mereka.

__ADS_1


"Sayang bayangkan aja bagaimana menyusunnya nanti di almari blip. Sebegini banyaknya." kata Gina dengan wajah yang sangat heran dengan kemampuan kedua Nyonya besar dalam berbelanja.


"Tenang sayang, nanti aku bantuin." jawab Aris.


Kasir mulai mengscan barang belanjaan kedua Nyonya. Mereka menscan dengan sangat hati hati karena begitu banyak barang yang dibeli. Penghitungan dimulai dari barang barang yang besar. Semua barang yang besar selesai dihitung langsung diangkat ke mobil box.


"Saya tidak mau dibukak. Saya ingin semuanya di pasang di sini. Nanti tinggal naik ke mobil box. Saya tidak suka barang yang sudah sampai di rumah ternyata rusak." kata Mami yang memang sangat perfeksionis untuk semua belanjaannya.


"Siap Nyonya." jawab Manager.


Semua barang barang yang sudah discan langsung dirakit saat itu juga. Setelah selesau, para karyawan dan juga satpam dan empat orang sopir membantu menaikan semua barang ke atas mobil box. Dua mobil box penuh hanya untuk barang barang blip saja. Sedangkan pakaian sepertinya harus naik ke atas tiga mobil pribadi.


"Akhirnya selesai juga ya Nana perburuan kita. Tinggal susun, kalau masih ada yang kurang maka kita akan beli lagi." kata Mami sambil berjalan keluar mall dengan Nana.


"Mami, kalau ada yang kurang jatah Gina lagi yang beli. Mami dengan Nana udah ngabisin uang yang luar biasa banyak. Sehingga Gina akhirnya menang taruhan lawan kak Bram." kata Gina sambil melirik Bram yang membawa banyak barang belanjaan. Sedangkan Aris hanya berjalan santai saja.


"Ya udah jatah kamu lagi yang beli. Tapi kami ragu ntah ada ntah ndak yang kurangnya." jawab Mami sambil tersenyum.


"Mami ngobrolnya di rumah aja sama Nana. Ajak aja Nana ke rumah. Aku capek Mi bawa barang segini banyaknya." kata Bram kepada Mami.


"Salah sendiri kenapa nggak pake stoler coba." jawab Mami karena kesal disuruh jalan cepat oleh Bram.


"Nggak boleh sama ibu hamil. Katanya permintaan bayi." jawab Bram dengan nada kesal.


"Nggak boleh kesal kakak. Santai aja." jawab Gina.


"Masih ada waktu tiga bulan lagi kakak. Hahahahahaa" Gina begitu senabg mengerjai Bram.


Akhirnya mereka sampai juga diparkiran mall. Semua barang sudah masuk kedalam tiga mobil. Semua bagase dan juga bangku belakang penuh oleh barang barang. Mami sampai harus numpang ke mobil Nana agar mobil Mami bisa diisi penuh dengan barang belanjaan.


"Sayang dari pagi selesainya hampir maghrib. Memang gila cara belanja mereka ternyata sayang." kata Gina yang geleng geleng kepala melihat pukul berapa di jam mahalnya.


"Biasa sayang namanya juga cucu pertama. Kita juga akan seperti itu besok ini." jawab Aris.


"Aamiin sayang, semoga umur kita panjang." jawab Gina.

__ADS_1


Bram menyetir mobil dengan santai. Dia sudah terbayang harus menuruti semua keinginan Gina. Tapi untung saja, saat akan pulabg dari belanja Gina tertidur di mobil. Jadi, tidak ada pemberhentian mobil di tengah jalan secara mendadak. Bram sangat bersyukur.


__ADS_2