
Sayang, kamu dari mana aja" tanya Frenya saat melihat Juan baru masuk ke dalam kamar mereka.
"Dari dapur sayang. Tadi tiba tiba aku kepengen minum kopi." jawab Juan sambil mengambil handuk yang ada di almari penghangat khusus handuk.
Hiks hiks hiks Juan yang akan berjalan ke kamar mandi mendengar suara tangis dari arah Frenya. Juan langsung berbalik badan dan melihat istrinya itu sedang menangis sambil menekurkan kepalanya dalam dalam.
"Hay sayang kenapa?"
"Kenapa kamu nangis? Apa ada yang sakit sayang?" tanya Juan berkali kali kepada Frenya.
"Kalau ada yang sakit, ngomong ke aku sayang. Biar aku tau apa yang harus aku lakukan" lanjut Juan dengan nada panik yang tidak bisa disembunyikan oleh dirinya.
Frenya menggeleng dengan lemah, dia kemudian mengangkat kedua tangannya untuk memeluk Juan. Juan yang paham dengan kode yang diberikan oleh Frenya, langsung memeluk istrinya yang sedang mengalami perubahan mood yang luar biasa itu.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Juan sambil memeluk erat Frenya.
"Maafkan aku" ujar Frenya menjawab pertanyaan dari Juan sambil terisak
"Maaf? Maaf kenapa?" kata Juan dengan nada heran.
'Perubahan mood lagi. Sepertinya gue memang harus siap untuk hal ini' kata Juan dalam hatinya. Juan sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Gara gara aku tidur, kamu pergi membuat kopi sendirian" ujar Frenya dengan suara yang masih ada nada sedihnya.
"Sayang, aku nggak bikin kopi sendiri. Aku di bantu sama Nana sayang. Kamu jangan menangis karena hal itu sayang" lanjut Juan yang akhirnya tau apa yang membuat Frenya menjadi sangat sedih.
"Iya, tapi kan yang buatnya harus aku" lanjut Frenya yang keras kepalanya datang berbarengan dengan mood sedihnya yang juga timbul.
Tiba tiba saja Frenya melepaskan pelukannya dari Juan. Dia mendadak menghapus air matanya yang jatuh tadi.
"Aku akan membuatkan kamu kopi sayang" kata Frenya dengan bersemangat.
__ADS_1
Juan mengangguk, dia hanya bisa melakukan hal itu. Seandainya Juan tidak mengangguk makan Frenya sudah bisa dipastikan akan menangis kembali atau bahkan bisa marah marah. Juan belum siap menerima perubahan mood berikutnya.
"Kamu mandi dulu sana. Aku akan ke bawah pergi menyiapkan kopi dan potongan buah atau puding. Lihat yang ada di lemari es aja ya" kata Frenya yang sangat luar biasa semangatnya.
"Oke sayang. Apapun itu yang kamu bawa, aku akan menikmatinya" kata Juan dengan sangat yakin.
Frenya keluar berjalan menuju dapur yang ada di lantai bawah mansion. Sedangkan Juan masuk ke dalam kamar mandi. Dia harus selesai mandi sebelum Frenya kembali ke kamar mereka.
"Huft gue memang luar biasa harus menyiapkan hati dan pikiran untuk menghadapi perubahan mood dari Frenya. Gue sudah nggak tahu lagi harus bagaimana kalau dalam satu hari harus mengimbangi perubahan itu" kata Juan di dalam kamar mandi.
"Gimana caranya membuat Frenya sadar kalau dia sedang isi ya? Gue takut gue salah sampai" lanjut Juan lagi.
Juan sibuk dengan apa yang ada di dalam pikirannya sambil tetap membersihkan tubuhnya itu. Juan benar benar lelah hari ini, mulai dari lelah pikiran, perasaan dan juga yang lainnya.
"Oke selesai" kata Juan.
Juan sudah memakai pakaiannya dari dalam kamar mandi. Juan sambil bersiul bahagia berjalan keluar dari dalam kamar mandi menuju kamarnya.
Frenya yang sudah menunggu Juan dengan pakaian di tangannya langsung saja menatap sedih ke arah Juan yang ternyata sudah berpakaian lengkap keluar dari dalam kamar mandi.
"Tapi sayang" ujar Frenya lagi dengan menatap ke arah Juan yang sudah memakai pakaian saat keluar dari dalam kamar mandi.
"Aku sedang malas memakai baju ini sayang" kata Juan sambil membuka baju yang telah dipakainya.
Juan tidak ingin ada lagi perubahan mood dari Frenya. Sudah cukup untuk hari ini perubahan mood dari Frenya. Juan sudah tidak sanggup lagi menghadapi perubahan mood selanjutnya.
Frenya berdiri dari posisi duduknya. Dia kemudian naik ke atas sofa. Juan melihat ke arah Frenya, dia mengangkat alisnya.
"Aku pasangkan" ujar Frenya menjawab pertanyaan tersirat Juan.
"Oh. Oke" Juan sama sekali tidak menolak keinginan dan ide dari Frenya.
__ADS_1
Mereka berdua kemudian duduk di sofa dan melanjutkan perbincangan. Mereka membahas tentang berbagai hal, mulai dari bisnis yang baru akan mereka lakukan sampai dengan perjalanan liburan yang akan mereka lakukan bulan depan.
"Sayang sudah waktunya untuk maghrib. Kamu akan berjamaah dengan keluarga atau mau sendirian saja?" tanya Juan.
"Kita berdua di atas saja ya sayang. Sekali sekali, nanti pas makan malam baru kita ke bawah" ujar Frenya mengatakan apa yang diinginkan oleh dirinya saat ini.
"Oh baiklah. Kita akan berjamaah berdua saja. Nanti saat makan malam baru kita ke bawah" jawab Juan yang setuju dengan apa yang diminta oleh Frenya kepada dirinya.
Juan dan Frenya melaksanakan kewajiban mereka berdua. Sedangkan anggota keluarga yang lainnya di tambah dengan para maid dan penjaga melaksanakan kewajiban di mushala mansion besar tersebut.
"Sayang mari kita ke bawah. Nana dan Daddy pasti sudah lama menunggu kita di ruang makan" Juan mengajak Frenya untuk turun ke ruang makan.
Juan dan Frenya berjalan menuju ruang makan. Mereka akan makan malam bersama dengan anggota keluarganya yang lain.
"Hay sayang, kamu kelihatan lebih berseri dari pada saat pulang kerja tadi" kata Ghina menyapa putri tunggalnya itu.
"Iya Nana. Tadi saat pulang kerja aku beneran letih, sekarang sudah sangat segar Nana"
"Jadi aku bisa turun untuk makan malam bersama."jawab Frenya sambil duduk di kursi sebelah Juan.
" Bontot mana Na?" tanya Frenya saat melihat kursi yang biasanya diduduki oleh Argha terlihat kosong.
"Sepertinya telat lagi. Biasalah anak muda korban LDR" ujar Ghina mengomentari apa yang sedang terjadi dengan anak laki laki terakhirnya itu.
"Kita tunggu lima menit lagi. Kalau masih belum datang, kita makan duluan saja" kata Aries yang sebenarnya sudah sangat lapar.
Tepat sebelum waktu tenggang lima menit akan berakhir, Argha datang sambil senyum senyum sendiri. Mereka semua yang berada di ruang makan menatap heran ke arah Argha yang datang sambil senyum senyum sendiri seperti itu.
"Kenapa senyum senyum sendiri Gha?" tanya Ghina yang heran dengan kebahagiaan Argha setelah drama telpon mulai dari habis maghrib sampai menjelang makan malam.
"Is kepo deh" ujar Argha dengan gaya mencemooh nya.
__ADS_1
"Sudah sudah mari kita makan" kata Aries yang sudah tidak tahan untuk laper dan menikmati makanan yang sudah ada di atas meja makan.
Ghina mengambilkan menu makanan untuk Aries, kemudian giliran Frenya mengambilkan untuk Juan. Paling terakhir Argha si bontot yang selalu menjadi yang teristimewa dalam keluarga Soepomo