Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Obrolan Ringan


__ADS_3

Pagi harinya seperti biasa Ghina bangun paling pertama di rumah besar tersebut. Ghina akan memasak untuk sarapan pagi semua penghuni rumah. Kali ini Ghina akan memasak nasi kuning lengkap dengan isiannya.


Frenya hang juga terbangun pagi hari melihat Ghina sibuk di dapur memilih singgah untuk menemani Bundanya yang terlihat super duper sibuk tersebut.


"Ada yang bisa di bantu Bun?" kata Frenya sambil memakap apron biru muda miliknya.


"Tolong potong timun dan bengkoang itu Uni. Terus buat dia menjadi acar." perintah Ghina kepada Frenya.


Frenya langsung mengeksekusi apa yang disuruh oleh Bundanya itu. Sedangkan Ghina sibuk mengolah telur balado. Serta memanaskan rendang daging.


Setelah selesai memasak telur balado. Ghina membuat mie goreng. Sedangkan Frenya yang telah selesai membuat acar, diminta untuk menggoreng kerupuk emping.


Ibu dan anak itu memasak dengan kompak. Mereka saling membantu. Setelah selesai memasak semua masakan, Ghina menata semuanya di meja makan. Sedangkan Frenya membersihkan dapur. Walaupun maid ada, tapi Ghina selalu menekankan ke anak perempuannya itu untuk melakukan semua yang bisa dilakukan dirinya. Karena maid juga memiliki kesibukan yang banyak. Sedangkan untuk memasak Ghina akan mewajibkan Frenya melakukannya karena itu adalah ladang pahala bagi seorang istri memasakkan makanan untuk suaminya.


"Mandi sana Uni. Kamu mau keperusahaan hari ini?" tanya Ghina sambil menyusun semua minum pagi untuk setiap orang yang ada di rumah.


"Iya Bun, ada meeting. Emang jam berapa kita mau ke butik Bun? Kan kalau tau jam berapanya Frenya bisa menyesuaikan waktu meeting." ujar Frenya.


"Sekitar jam makan siang aja Uni. Bunda nanti akan ke rumah sakit dulu jemput Ibu. Setelah itu baru bawa tante Sari ke butik. Palingan Papi Bram juga mau ikut." kata Ghina yang tidak tau juga kapan akan berangkat ke butik.


"Kalau udah pasti jamnya hubungi aja ya Bun." ujar Frenya sambil berjalan menaiki tangga.


"Sip." balas Ghina masih dengan kesibukannya sebagai Ibu rumah tangga.


Setelah yakin dengan semua menu yang terhidang dan minum pagi yang pas untuk semua orang, Ghina kembali menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya.


Ghina masih melihat pemandangan yang sama setiap pagi. Tapi kali ini kurang bocah kecil yang memilih untuk tidur di kamar Frenya. Tapi posisi Aris tetap sama, yaitu meringkuk memeluk guling.


Ghina memulai ritual paginya seperti biasa. Setelah selesai melakukan ritual untuk dirinya sendiri Ghina membangunkan Aris.


"Sayang mandi. Kamu janjikan ya hari ini seharian dengan Argha. Dia sekolah pagi itu." ujar Ghina menggoyang goyang kaki suaminya.


Aris membuka matanya, kemudian dia menyentuh pipinya dengan jari telunjuk. Ghina naik ke atas kasur, untung saja Ghina sudah memakai pakaiannya hari ini.


Cup. Sebuah kecupan mendarat di kedua pipi Aris. Aris lanjut menunjuk keningnya. Ghina yang paham akan dipermainkan oleh Aris mengecup keseluruhan wajah Aris.


"Hahahaha. Makasi sayang." kata Aris sambil bangun dari kasur.


Aris kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Dia harus mandi dengan cepat agar tidak di rong rong oleh Argha yang terkenal disiplin itu.


Ghina menyiapkan pakaian kantor Aris di ruang ganti, belum selesai Ghina mengambil semua pakaian Aris, Aris sudah masuk ke dalam kamar mandi. Ghina menatap Aris dengan lama dan sambil tersenyum senyum geli.


"Apa yang aneh sayang?" tanya Aris yang melihat Ghina tersenyum senyum simpul.


"Sayang, kamu mandi atau ngapain?" tanya Ghina kepada Aris masih menahan senyumnya.


"Mandi lah sayang. Emang ngapain lagi." jawab Aris dengan pedenya.


Ghina menggenggam tangan Aris. Dia membawa Aris ke depan cermin lebar yang ada di kamar ganti.


"Coba tengok di kaca kenapa aku sampai senyam senyum sama kamu." kata Ghina sambil menahan senyumnya.


Aris mematut dirinya di depan cermin. Dia sekarang baru tersadar kenapa Ghina bisa senyam senyum melihat dirinya.


"Hahahahaha. Aku luoa sayang." kata Aris sambil masuk ke dalam kamar mandi kembali..


"Sayang sayang makanya bangun itu pagi. Ini nggak kalau nggak dibangunin nggak akan bangun. Jadinya tu keluar kamar mandi masih shampoan." ujar Ghina sambil geleng geleng kepala.


Aris membilas kepalanya dengan sangat cepat. Selesai dengan membersihkan shampo yang ada di kepalanya Aris langsung berjalan menuju kamar ganti. Air langsung berceceran di sepanjang jalan yang dilalui Aris.


"Aris!!!!!!!!!!!!!" teriak Ghina dengan kesalnya. Ini kali pertama Ghina memanggil dengan menyebut nama Aris. Biasanya sekesal apapun Ghina akan selalu menambah di depan nama Aris dengan kata sapaan.


"Hahahahaha. Maaf sayang. Kamu pasti kesal. Aku takut pria kecil itu datang dan memarahi aku sayang." jawab Aris sambil dengan cepat memakai pakaiannya.


Ghina hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka Aris beneran takut dengan Argha.


"Daddy, aku datang." teriak suara bocah laki laki yang masuk ke dalam kamar dengan gaya khasnya.


"Gha. Sini." bisik Ghina memanggil Argha.


"Daddy masih rapi rapi. Kamu marahin sana. Masak dia keluar kamar mandi kepalanya masih shampoan." ujar Ghina memberikan Argha info terupdate.


"Oke Bun. Argha akan marah marah ke dalam." kata Argha yang setuju dengan ide jail Bundanya.


Ibu dan anak itu melakukan tos. Mereka berdua kompok mau mengerjai Aris.


"Daddy oh no Daddy. Aku udah siap. Deddy masih aja belum rapi. Daddy mau buat Argha telat?" tanya Argha sambil berdiri tegak pinggang di depan pintu masuk ruang ganti.


"Dikit lagi Gha. Argha mau pergi dengan Daddy yang tidaj terlihat tampan?" tanya Aris sambil menggoyang goyangkan kepalanya.


"Ya sudahlah ya. Dalam hitungan lima nggak siap. Argha batal seharian bersama dengan Daddy." ujar Argha mengeluarkan ancamannya.


Aris bergerak super cepat. Dia tidak mau anaknya itu tiba tiba menjadi tidak mood. Bisa batal semua kegiatannya hari ini.


"Argha, Daddy udah siap." ujar Aris sambil berjalan menuju Argha.

__ADS_1


"Oke Daddy waktu Daddy berlebih tuga hitungan. Jadi Daddy dapat hadiah tiga ciuman." jawab Argha.


Aris jongkok di depan Argha. Argha langsung mencium wajah Aris sebanyak tiga ciuman. Aris sangat senang karena anaknya begitu perhatian kepada dirinya.


"Wow. Daddy senang. Pagi pagi dapat ciuman. Pasti ada yang cemburu." ujar Aris sambil melirik Ghina.


Aris tau tadi Ghina kompromi dengan Argha saat dia masih di dalam ruang ganti pakaian. Ghina menjulurkan lidahnya kepada Aris.


"Hahahahahaha" Aris tertawa terbahak bahak melihat Ghina yang kesal.


"Makanya sayang jangan provokasi anak." ujar Aris berbisik di telinga Ghina.


"Udah ayuk ke bawah. Bunda mau ke rumah perusahaan." ujar Ghina mengajak dua pria tampannya itu ke meja makan.


Mereka bertiga berjalan menuju meja makan. Terlihat di bawah semua anggota keluarga sudah berkumpul termasuk Bram.


"Loh Bram kok ada pagi?" tanya Aris yang heran melihat Bram berada di meja makan.


"Iya. Pergi tukar pakaian." jawab Bram.


Mereka kemudian sarapan dengan nasi kuning yang dibuat oleh Ghina. Mereka makan dengan tenang. Pagi ini semua anggota keluarga akan langsung bekerja. Mereka berangkat dengan mobil masing masing.


"Argha, Atuk yang antar ya." ujar Papi sambil menggandeng tangan Argha.


"Maaf Atuk, Argha sudah sold out untuk hari ini. Jadi sekali lagi maafkan Argha ya Atuk." ujar Argha sambil memeluk Daddynya.


"Oooo. Jadi gitu mentang mentang dengan Daddy, Atuk dilupakan. Awas kalau mau tidur dengan Atuk lagi ya." kata Papi mencoba memprovokasi Argha.


"Hahahaha. Mana ada Argha mau tidur dengan Atuk lagi. Tujuan Argha udah selesai, jadi Argha nggak akan tidur dengan Atuk lagi" jawab Argha membalas ancaman Atuknya.


"Jadi, aku mau tidur dengan Atuk karena penasaran dengan kamar itu ya?" ujar Papi.


"Hahahaha. Benar, Atuk mulai pintar." jawab Argha sambil tersenyum mengejek Atuknya.


Argha berlari naik ke atas mobil Daddynya. Papi yang melihat Argha berlari itu tersenyum melihat kelakuan Argha. Papi tidak menyangka Argha bisa melakukan hal itu.


Mereka naik ke dalam mobil masing masing. Lima mobil mewah bergerak dari rumah utama menuju tempat kerja mereka masing masing.


"Daddy jam sepuluh jemput. Jam sepuluh udah sampai sini Daddy bukan dari kantor. Argha nggak suka menunggu." ujar Argha menekankan kepada Daddynya jam berapa harus di jemput


"Siap bos besar." jawab Aris.


Aris mengantarkan Argha sampai ke depan pintu kelasnya. Setelah melihat Argha bercengkrama dengan teman temannya Aris meninggalkan sekolah Argha dan bergerak menuju kantornya.


Ghina yang baru saja sampai di perusahaan GA Grub memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusu CEO. Tak berapa lama Frenya datang dengan mobilnya, dia turun dari mobil.


"Bun, ayuk masuk." kata Frenya mengajak Ghina masuk ke dalam kantor.


Mereka berdua masuk ke dalam perusahaan. Semua karyawan menatap mereka dengan tatapan kagum. Dua wanita yang berhasil mengembangkan perusahaan GA Grub menjadi perusahaan ternama.


Ghina dan Frenya serta para manager mengadakan rapat kegiatan. Mereka mengevaluasi semua kegiatan selama beberapa bulan ini. Serta membicarakan apa yang akan mereka lakukan tiga bulan ke depan. Ghina dan Frenya menyimak semua laporan yang ada. Mereka memerhatikan dengan teliti setiap laporan yang masuk.


Meeting itu berjalan sampai jam makan siang. Ghina sama sekali lupa dengan rencananya untuk menjemput Ibu Sari ke rumah sakit.


"Bunda, Bunda lupa sesuatu kah?" tanya Frenya sambil menatap Ghina.


"Lupa apa Nya?" tanya Ghina yang memang lupa akan rencanya itu.


"Tapi Bunda mau ke rumah sakit." ujar Frenya mengingatkan.


"Oh ya. Lupa. Bunda berangkat sekarang aja Nya." ujar Ghina sambil membereskan barang barangnya.


Ghina keluar dari perusahaan, dia langsung naik mobilnya dan melajukan menuju rumah sakit.


"Ah mending di telpon dulu. Mana tau mereka sudah pulang."


Ghina menghubungi nomor Sari. Tapi tidak diangkat olehnya. Ghina kemudian menelpon ke rumah utama Wijaya.


"Hallo" sapa seseorang yang mengangkat telpon.


"Hallo. Apa Nona Sari ada di rumah?" tanya Ghina lagi.


Orang yang mengangkat telpon menyimak dan mendengarkan dengan seksama suara yang penelpon.


"Nona Ghina? Ini benar Nona Ghina?" tanya orang yang mengangkat telpon.


"Iya Bik Ina. Ini aku Ghina. Apa Sari ada?" tanya Ghina kembali.


"Ada Nona. Nona Sari dan Ibu barusan sampe. Mereka sekarang sedang berada di kamar tamu." kata Bik Ina memberitahukan.


"Makasi Bik. Aku mau ke rumah sekarang." ujar Ghina.


Ghina memutuskan sambungan telepon tersebut. Dia melajukan mobilnya menuju rumah ayahnya.


"Akhirnya kembali pulang." ujar Ghina sambil tersenyum bahagia.

__ADS_1


Bik Ina yang tau Ghina akan datang, langsung memasak semua menu makanan favorit Ghina. Bik Imah masak dengan riang. Dia sama sekali tidak meminta bantuan maid yang lain.


Anggel yang hari itu tidak dinas, heran melihat Bik Ina yang memasak berbagai macam menu hidangan yang sangat jarang terhidang di meja makan selama ini. Tetapi Anggel juga tidak berniat untuk bertanya. Dia langsung masuk ke dalam lift menuju kamarnya di lantai tiga rumah utama.


Bik Ina yang sedang memasak mendengar suara bel pintu yang di pencet dari luar. Bik Ina meminta seorang maid yang sedang membereskan meja makan untuk membuka pintu rumah utama. Maid itu kemudian membuka pintu rumah. Betapa kagetnya Maid tersebut melihat siapa yang datang.


"Nona Ghina." ujar Maid itu dengan nada sedikit keras.


Semua maid yang sedang bekerja berlari menuju ruang tamu. Betapa terkejutnya mereka saat melihat Ghina yang berdiri dengan santainha di ruang tamu.


"Hay Bik. Apa aku nggak di suruh masuk?' tanya Ghina sambil tersenyum.


"Maafkan kami Nona. Ini saking senangnya Nona datang sampai sampai kami lupa mempersilahkan Nona untuk masuk ke dalam rumah. Maaf kan kami Nona." ucap salah satu Maid sambil menunduk.


"Udah santai aja. Apa Nona Sari dan Ibu ada di kamar tamu?" Ghina menanyakan dimana keberadaan dua orang yang dicarinya itu.


"Benar Nona." jawab seorang Maid.


Ghina masuk ke dalam rumah utama. Dia menuju kamar tamu untuk melihat Sari dan Ibu.


Ghina membuka pintu kamar ruang tamu. Ternyata Sari sedang duduk di ranjang sedangkan Ibu beristirahat.


"Ghin" ujar Sari melihat Ghina yang berdiri di depan pintu kamar.


"Gimana Ibu?" tanya Ghina kepada Sari.


"Alhamdulillah udah sangat baik. Ibu hanya sedang istirahat aja sekarang." jawab Sari.


"Kita ke butik yuk. Ukur pakaian kamu. Papi tetap dengan rencana Ayah untuk menggelar pesta pernikahan kalian delapan hari lagi. Jadi sekarang kita ukur pakaian kamu ya." ajak Ghina.


"Oke. Yuk jalan." ujar Sari.


Sari mengambil tasnya. Dia dan Ghina akan pergi ke butik untuk menyiapkan pakaian pernikahan.


"Ghin, gue pamit Ayah dulu ya." ujar Sari.


"Yuk."


Ghina dan Sari menuju taman belakang tempat Ayah dan Bram sedang duduk. Mereka terlihat serius bercerita.


"Ayah." panggil Sari kepada Ayahnya.


"Apa sayang. Sari mau pergi dengan Ghina ke butik. Kami akan ukur pakaian untuk persa pernikahan." kata Sari pamit kepada Ayahnya.


"Kamu ikut mereka kan Bram?" Ayah masih cemas melepas Sari pergi tanpa ada laki laki menemaninya.


"Iya Ayah. Aku juga akan mengukur pakaian." jawab Bram.


Mereka bertiga kemudian menuju butik tempat menjahit pakaian untuk acara pernikahan.


"Aris mana Ghin?" tanya Bram yang tidak melihat Aris.


"Bentar lagi juga datang. Argha dari kemaren ngomong mintak ke sini. Tapi kayaknya siap dari sekolah Argha, dua pria itu pergi ke mall" jawab Ghina yang memabg tidak tau kemana Aris dan Argha sekarang.


"Oh." jawab Bram yang tau kebiasaan Aris.


Mobil yang dikendarai oleh Bram sampai juga di depan butik langganan keluarga Soepomo. Mereka bertiga masuk ke dalam butik. Tante Santi sudah menunggu di depan pintu butik.


"Hay Ghina. Udah lama nggak ke sini. Kamu juga Bram, Sari." ujar Tante Santi menyapa Ghina dan Bram.


"Nah ini kami ke sini Tante. Kami mau menjahit pakaian pernikahan." jawab Ghina memberitahukan perihal kedatangannya dengan Sari dan Bram.


"Bukannya sebulan lagi?" jawab Tante Santi.


"Dipercepat Tante." jawab Sari.


"Kapan?" tanya tante Santi.


"Delapan hari lagi." jawab Ghina dengan entengnya.


"Apa?" teriak tante Sari yang mendengar jawaban Ghina.


"Ya delapan hari lagi. Kami membutuhkan tiga stel baju tante." kata Ghina menyebutkan berapa pakaian pernikahan yang akan dipakai oleh Sari dan Bram.


"Wow. Kamu mau membunuh Tante, Ghina?" tanya Tante Santi menatap Ghina.


"Nggak. Tapi ya ghitu deh." jawab Ghina sambil tersenyum senang.


"Oke sip." jawab tante Santi yang menerima tantangan dari Ghina.


Mereka kemudian fitting pakaian. Ghina dengan sabar dan antusias ikut memilih pakaian untuk Sari dan Bram. Tak terasa sudah empat jam mereka di sana. Akhirnya urusan pakaian selesai juga.


"Mari kita pulang." ajak Ghina.


Mereka bertiga kembali naik ke atas mobil. Mobil dilajukan oleh Bram menuju rumah utama Wijaya.

__ADS_1


__ADS_2