
Malam hari selepas makan malam keluarga, Ghina sudah tidak sabar untuk membicarakan permasalahan yang terjadi di perusahaan kepada Frenya.
"Frenya, kamu ikut Bunda ke ruang kerja Daddy ya." ujar Ghina menatap Frenya.
"Ada apa sayang?" tanya Aris yang penasaran kenapa dengan tiba tiba Ghina mengajak Frenya masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Ada masalah yang sedang terjadi di perusahaan Sayang." jawab Ghina.
"Aku boleh ikut sayang?" yanha Aris yang tidak mau Ghina menanggung permasalahannya sendirian.
"Oke sayang, aku sangat bersyukur kamu mau ikut. Aku butuh solusi dari semua orang" kata Ghina yang menyetujui permintaan Aris.
Mereka bertiga berjalan menuju ruangan kerja Aris.
"Ada apa Bunda?" tanya Frenya yang dari tadi sudah penasaran.
"Jadi gini Nya. Tadikan Bunda menemani para pekerja mendirikan tenda. Nah saat mau makan siang, Bunda isengkan nanyak ke manager makan mereka bagaimana. Disitu Bunda langsung kaget. Kenapa di perusahaan masih ada juga tikus got. Padahal gaji dan tunjangan sudah besar." ujar Ghina dengan sangat kesal.
"Maksud Bunda ada yang berani korupsi di perusahaan kita Bun?" ujar Frenya dengan nada tidak percaya dengan semuanya.
"Itulah Nya yang Bunda herankan. Kok mereka masih nekad juga untuk korupsi. Rasanya penghasilan mereka tinggi kok di perusahaan kita." jawab Ghina sambil geleng geleng kepala dengan tingkah karyawannya.
"Sayang sebenarnya apa yang terjadi??? Aku kurang paham sayang." ujar Aris yang memang kurang paham dengan apa yang diceritakan oleh Ghina kepada Frenya.
"Jadi gini sayang. Mereka yang masang tenda tadi pagi itukan seharusnya dapat makan siang dari perusahaan tanpa diuangkan. Nah ternyata selama mereka kerja di luar makanan dari perusahaan tidak dikirimkan dan uangnya juga tidak dikasihkan." ujar Ghina kepada Aris.
"Apa kamu sudah pastikan kesemua pihak?" tanya Aris yang tidak ingin Ghina asal tuduh saja.
"Sudah sayang. Aku sudah pastikan kesemua orang dan jawaban mereka sama. Kalau mereka kerja di luar perusahaan maka makan siang tidak diberikan dan juga tidak ada penggantian uang makan." jawab Ghina.
"Bunda ini positif penipuan Bunda. Masalahnya aku terus lo nandatangan pencairan uang konsumsi tiap bulannya." ujar Frenya yang sekarang menjadi direktur utama GA Grub.
"Malahan totalnya lumayan besar Bunda. Mereka nggak dikasih uang makan sejak kapan ya Bun?"
"Udah dua bulan ini Nya. Coba kamu cek ke beberapa karyawan. Apakah yang di kantor mendapatkan makanan yang cukup atau tidak. Mana taukan ya. Pembelian makanan tidak sesuai dengan jumlah karyawan." ujar Ghina memberikan instruksi kepada Frenya.
"Rasanya kalau pembelian pasti sama Bun itu berlaku untuk kuitansi. Tapi untuk yang datang ke perusahaan aku rasa sangat jauh berkurangnya Bun." kata Frenya yang sudah bisa membayangkan apa yang terjadi.
"Mereka bener bener nekat. Kumpulkan semua bukti, setelah itu kamu eksekusi saja manager yang dua itu. Kamu harus katakan kepada mereka berdua untuk membayarkan hak karyawan yang tidak mereka bayarkan. Kalau mereka tidak mau maka lakukan tuntutan secara hukum. Bunda nggak suka hal seperti ini. Kamu minta bantuan Jero." ujar Ghina yang sudah sedikit emosi.
"Sayang tenang sayang. Kalau kamu mau, kamu bisa kok datang ke perusahaan." ujar Aris berusaha menenangkan Ghina.
"Bener kata Daddy Bunda. Kalau Bunda mau Bunda bisa datang ke perusahaan." jawab Frenya yang setuju dengan ide Daddynya.
__ADS_1
"Males. Kamu aja yang ngurus Nya. Bunda males ngurus hal kayak gitu. Lagian Bunda sudah percayakan semuanya kepada kamu, dan Bunda yakin kamu pasti bida menyelesaikan semuanya dengan cara halus dan meninggalkan rasa takut untuk karyawan lainnya." ujar Ghina meyakinkan Frenya.
"Oke Bun. Aku akan bereskan semuanya." jawab Frenya lagi.
"Aku kamar dulu Bunda. Ada laporan yang mesti aku baca." kata Frenya izin untuk kembali ke kamarnya.
Setelah Frenya kembali ke kamar. Aris meraih Ghina dan mendudukan Ghina ke atas pangkuannya.
"Sayang, gimana dengan rencana bulan madu Kita yang tertunda?" tanya Aris sambil memainkan rambut Ghina yang hari ini dibuat Ghina bergelombang.
"Jadi sayang. Tapi aku nggak tau kita akan kemana. Menurut kamu kemana kita bagusnya?" Ghina menanyakan pendapat Aris tentang tempat yang akan dijadikan mereka tempat bulan madu.
Aris terlihat berpikir. Dia memilah milah destinasi wisata yang ada di luar negeri.
"Begitu banyak tempat yang bagus sayang. Aku juga pusing mau milih yang mana." ujar Aris
"Ye kamu sayang. Kamu sering keluar negeri. Kalau aku mah jarang. Ayolah sayang, negara mananya." ujar Ghina merajuk.
Ghina memainkan ujung jari telunjuknya di badan Aris. Aris yang sudah merasakan geli memegang jari jari tersebut.
"Geli sayang. Jangan bangunkan ular tidur. Kamu kelihatan sangat capek hari ini." ujar Aris yang paham dengan kondisi Ghina.
"Hahahahahaha. Jangan sampe bangun dia sayang. Lelah dia nanti." ujar Ghina menjawab perkataan Aris.
"Sayang ke paris ajalah ya." ujar Ghina.
"Tidak sayang, udah nggak seru. Kita ke Maldives aja. Kita akan ajak semua orang berlibur ke sana. Gimana?" tanya Aris kepada Ghina.
"Emang mau pergi bareng bareng? Bukannya kamu mau kita berdua aja?" lanjut Ghina bertanya sambil menatap menyelidik ke arah Aris.
"Nggak seru sayang. Masak aku ninggalin tu bocah. Terus aku asik asikan libur. Orang tua macam apa aku." lanjut Aris.
"Udah di pikir bener bener?" tanya Ghina mencoba menggoyang pernyataan Aris tadi.
"Ufah di pikir. Nggak ada yang bisa mentolerir dan menggoyangnya lagi. Kita akan pergi semuanya. Termasuk Bayu dan Mira serta Bree." ujar Aris sambil menjawil dagu Ghina.
Cup. Ghina mencium Aris sekilas. Dia sangat bahagia suaminya sudah tidak mementingkan diri sendiri. Tetapi sudah mau mengalah untuk kebahagiaan keluarganya.
"Makasi sayang. Sebenarnya aku juga pengen bawa keluarga kita untuk liburan. Tetapi aku takut kamu nggak membolehkan, makanya aku diam aja." ujar Ghina menanggapi dengan bahagia keputusan Aris.
Sebuah keputusan yang sudah lama ditunggu tunggu oleh Ghina.
"Kita berangkat sehari setelah pesta pernikahan Bram. Jadi kita akan ambil cuti selama lima belas hari." ujar Aris dengan semangat.
__ADS_1
"Emang bisa Soepomo dan Jaya ditinggalkan selama itu?" tanya Ghina yang ragu dengan kedua perusahaan suaminya itu.
"Aman sayang, kita serahkan aja ke manager dan Budi. Sedangkan Jaya nanti aku akan minta tolong sama salah satu orang kepercayaan kamu." ujar Aris menjawab keraguan Ghina.
"Kok anggota aku sayang? Paman Hendri kemana emangnya?" tanya Ghina yang sebenarnya sudah tau.
"Paman Hendri kita bawa sayang. Paman Hendri sudah cukup lelah dengan semua masalah yang ada. Jadi sekali sekali dibawa liburan juga bagus untuk otaknya." jawab Aris dengan nada bangga kepada dirinya sendiri.
"Aku setuju sayang. Paman Hendri sekali sekali juga harus dibawa liburan agar otak paman Hendri kembali fres seperti semula." jawab Ghina.
"Jadi positif ya kita ke Maldives. Nggak ada perobahan lagi?" tanya Ghina memastikan terlebih dahulu kepastian tempatnya.
"Yup. Udah pasti. Kita ke Maldives. Pesawatnya gimana sayang?" tanya Aris yang ingat kalau pesawat Soepomo grub tergolong kecil.
"Pake GA Grub aja sayang. Nanti kita minta Steven dan Juan yang nerbangin. Kamu taulah kalau jauh Frenya agak susah. Apalagi boing kan ya." kata Ghina menjawab pertanyaan Aris.
"Iya ya sayang. Kok aku bisa lupa kamu ada pesawat berbadan besar." kata Aris sambil mengacak rambut Ghina.
"Sayang, kamu kangen aku nggak?" kata Ghina bertanya hal yang luar biasa recehnya.
"Menurut kamu sayang?" tanya balik Aris.
"Menurut aku ya sayang kamu nggak kangen sama aku." jawab Ghina sambil menatap wajah Aris
"Kok?" tanya Aris lagi.
"Iyalah sayang. Orang kalau kangen itu bawaannya pengen nelpon, pengen chat, pengen ngirim pesan terus. Lah kamu mana ada sayang. Itu namanya nggak kangen asli, tapi kangen bohongan." jawab Ghina sambil menatap Aris tajam.
"Oooo jadi kalau kangen kayak gitu ya sayang?" tanya Aris sambil membalas tatapan Ghina.
Ghina mengangguk dengan pasti.
"Oke lah kalau gitu sayang. Itu masalah gampang." ujar Aris yang sudah memiliki otak jail di kepalanya.
"Sayang udah malam. Kita istirahat lagi, aku besok ada meeting penting." ujar Aris yang sebenarnya besok sama sekali tidak ada meeting di perusahaan.
"Meeting aja inget. Ngechat orang rumah aja lupa." ujar Ghina pura pura merajuk.
Cup. Aris mengecup bibir Ghina sekilas.
"Main nyosor bae." ujar Ghina sambil tersipu malu.
Mereka kemudian berjalan bergandengan tangan menuju kamar. Aris dan Ghina sangat lelah untuk hari ini. Tambah lagi kasus yang dibuat oleh dua orang manager itu. Semakin membuat Ghina menjadi stress berkali kali lipat.
__ADS_1