
"Bunda sakit.......... Sakit banget Bun." ujar Rani sambil memegang perutnya.
"Baringkan ke atas kasur Nyonya." ujar dokter Anya.
Ghina dibantu oleh beberapa suster membaringkan Rani ke atas brangkar untuk melahirkan.
"Uda, Uni udah mau melahirkan." kata Frenya kepada Daniel yang sedang mendengarkan cerita Daddy dan Bimo.
Daniel yang mendengar istrinya akan melahirkan langsung berlari masuk ke dalam ruang bersalin. Dia melihat Rani sudah berada di atas brangkar.
Dokter Anya terlihat sedang memeriksa bukaan jalan lahir. Dia terlihat sangat serius. Ghina, Frenya dan Daniel menunggu hasil pemeriksaan dari dokter Anya.
"Gimana dokter?" tanya Daniel.
"Sudah delapan dok. Sebentar lagi. Kita menunggu sakit yang luar biasa." ujar dokter Anya.
"Apa Rani harus berjalan jalan lagi dokter?" tanya Ghina.
"Tidak Nyonya. Biarkan dokter Rani beristirahat. Dokter Rani membutuhkan tenaga ekstra nanti saat mendorong babynya keluar." ujar dokter Anya.
Rani terlihat mulai tidur. Dia benar benar lelah, tetapi dia juga tau kalau dia akan membutuhkan banyak tenaga saat mendorong anaknya keluar dari rahim untuk melihat dunia.
Ghina dan Frenya memijit kaki dan tangan Rani. Sedangkan Daniel mengusap usap lembut kepala istrinya yang terlihat sangat kelelahan itu.
Saat terlelap tidur, tiba tiba Rani berteriak keras.
"Sayang sakit. Uda sakit." ujar Rani sambil mencengkram tangan Ghina dan Frenya dengan kuat.
Dokter Anya dan suster langsung bersiap siap. Mereka sudah tau kalau inilah saatnya Rani mendorong baby untuk melihat dunia yang sangat luas ini.
Dokter Anya kembali memeriksa. Setelah yakin dengan hasil pemeriksaannya, dokter Anya mengangguk kepada semua suster yang mendampinginya.
"Sudah saatnya dokter Daniel, Nyonya." ujar dokter Anya sambil menatap dua orang penting di rumah sakit tempat dia bekerja.
Ghina, Daniel dan Frenya mengangguk. Mereka siap mendukung Sari untuk melahirkan bayinya ke atas dunia.
"Dokter Rani ingat yang selama ini diajarkan di kelas kehamilan. Kalau sakitnya sudah terasa dokter Rani dorong dengan kuat. Usahakan jangan teriak, karena kalau dokter Rani teriak itu akan membuat tenaga terbuang percuma." ujar dokter Anya.
"Sebaiknya kalau dokter Rani tidak tahan, gigit atau cengkram sesuatu dengan kuat. Kita akan bersama sama melahirkan baby ini ke dunia." ujar dokter Anya.
__ADS_1
"Aku paham dok." ujar dokter Rani.
Semua keluarga besar sudah menunggu di depan ruang bersalin. Termasuk Papi, Ayah Wijaya dan Ayah Hans minus Afdhal yang sedang menjadi suami siaga karena dokter Anggel sebentar lagi juga akan melahirkan. Mereka semua sudah berada di sana saat Frenya mengirimkan pesan di grub keluarga kalau Rani sebentar lagi akan melahirkan.
Semua laki laki dari kedua keluarga besar menunggu dengan tegang di luar ruangan. Mereka semua baru kali ini menunggui seorang ibu yang akan melahirkan dengan normal keturunan mereka.
"Sayang kepala kamu sayang." ujar Rani saat merasakan kontraksinya akan datang lagi.
Daniel dengan polosnya mengarahkan kepalanya kepada Rani. Saat kontraksinya kembali datang, Rani menjambak rambut Daniel dengan sangat kuat.
"Sakit................." teriak Daniel.
Semua orang yang berada di luar mendengar teriakan Daniel saling menatap.
"Kok Daniel yang teriak?" ujar Papi.
"Sepertinya Daniel mendapatkan penyiksaan dari Rani." jawab Ayah Wijaya.
"Semoga aja Daniel nggak pingsan saat melihat darah Rani." ujar Papi yang ingat gimana Aris bisa pingsan saat Ghina melahirkan.
"Emang ada yang pingsan Tuan, saat melihat darah istrinya?" tanya Bimo dengan wajah datar.
"Waktu itu saya belum kembali dari luar Tuan Besar, makanya saya tidak tau dengan kejadian tersebut." ujar Bimo yang merasa bersalah sudah bertanya hal bodoh tadi.
"Santai Bim, memang kenyataannya gitu. Suami pingsan saat melihat istri melahirkan itu tandanya suami yang luar biasa mencintai istrinya." kata Aris membela diri. Padahal yang sebenarnya dia sudah malu dengan kejadian yang kembali teringat itu.
Mereka kembali melihat kedalam melalui kaca buram yang dipasang oleh pihak rumah sakit. Mereka hanya bisa melihat tirai penutup warna biru yang menutupi tindakan yang diberikan kepada Rani di dalam.
"Sayang sakit." ujar Daniel sekali lagi. Sekarang bukan rambut Daniel yang dijambak Rani, melainkan tangan Daniel yang digigit Rani dengan kuat.
"Sepertinya Tuan Daniel meneruna siksaan yang luar biasa karena ulahnya sendiri." ujar Jero kepada Bimo. Bimo mengangguk setuju.
"Gue besok kalau punya istri memilih sesar aja. Dari pada disiksa gitu." jawab Bimo.
"Loe ati ati aja Stev. Nyonya Rani aja nggak segalak Nyonya Frenya bisa menyiksa Tuan Daniel seperti itu, apalagi Nyonya Frenya." ujar Jero kepada Steven.
"Sesar." jawab Steven yang setuju dengan pilihan Bimo.
"Akh" terdengar teriakan melepaskan rasa sakit bersanaan antara Daniel dan Rani dari dalam ruang bersalin.
__ADS_1
Suara teriakan suami istri itu disambut juga dengan teriakan tangisan bayi dari dalam ruangan.
"Alhamdulillah akhirnya." ujar Papi dan yang lainnya serempak dari luar ruangan.
"Selamat Ris kamu sudah jadi atuk di usia muda." ujar Ayah Wijaya.
"Papi sama Ayah juga selamat udah jadi uyut di usia ya masih bisa dikatakan muda." ujar Aris.
"Hahahahaha. Cucu aja belum lahir malahan cicit yang lahir duluan." ujar Ayah Wijaya.
"Nyonya, dokter, bayinya laki laki berat empat kilo panjang enam puluh lima centi. Dalam keadaan sehat." ujar dokter Anya sambil memberikan kepada Daniel bayi yang tadi protes karena dikeluarkan dari dalam perut bundanya.
"Azankan" ujar Ghina.
Daniel mengazankan anak laki lakinya itu. Rani tersenyum mendengar suara merdu Daniel.
"Dokter kasih dokter Rani agar dia menyusui dedek bayi." ujar dokter Anya.
Rani kemudian memeluk erat putranya. Dia memberikan air susu pertama yang kata orang banyak gizinya. Bayi laki laki semok itu menghisap air susu Rani dengan rakus. Rani bahagia melihatnya. Setelah dirasa bayi mungil itu telah kenyang, dokter Anya mengambil bayi tersebut dan membawanya menuju ruang periksa. Rekan dokter Rani sudah menunggu untuk memeriksa bayi laki laki penerus keluarga Soepomo dan Wijaya.
Rani dibersihkan oleh suster sebelum dia dipindahkan ke ruang rawat. Setelah memastikan kondisi bayi sangat sehat, bayi dipindahkan ke dalam boks dan akan di bawa ke ruang rawat Rani sesuai permintaan keluarga yang tidak ingin bayi mungil itu diletakkan di ruang bayi.
Semua keluarga mendampingi Rani yang diantar keruangannya. Mereka sangat bahagia Rani bisa dengan selamat melahirkan keturunan keluarga penguasa bisnis itu ke dunia. Rani terlihat tertidur di atas ranjangnya. Dia benar benar kehabisan tenaga saat melahirkan bayi kecil itu.
Bayi mungil yang sudah bersih dan wangi diantarkan ke ruang rawat Rani. Para laki laki mengerubuti bayi yang terlihat sudah besar itu padahal baru lahir beberapa jam yang lalu.
"Jadi Niel siapa namanya?" tanya Papi yabg sudah nggak sabar mau memberi nama belakang untuk cicit pertama mereka.
"Belum tau Atuk. Tunggu Rani dulu." ujar Daniel.
"Yabg jelas harus ada nama Soepomo dan Wijaya dibelakangnya. Nggak ada komplent." ujar Papi.
"Itu sudah pasti Atuk." jawab Daniel.
"Nah nama kami berdua dimana?" ujar Aris protes.
"Udah masalah nama etong terakhir aja. Sekarang yang penting debay dan Rani sehat." ujar Ghina menengahi keributan yang nggak berarti itu.
Papi meraih bayi mungil itu dan menggendongnya. Setelah Papi, giliran Ayah Wijaya menggendong. Mereka semua tidak membiarkan bayi mungil itu berada di dalam bokx bayinya. Ghina dan Frenya hanya bisa menatap saja kelakuan dua Tuan besar itu.
__ADS_1
Ghina kemudian menatap Aris yang hanya bisa menekuk wajahnya, hal yang sama juga terjadi kepada Daniel. Mereka terlihat sangat kesal karena sama sekali tidak bisa menggendong bayi mungil itu. Bayi yang hanya di kuasai oleh dua orang Tuan besar yang sama sekali tidak bisa di bantah.