
Aris yang semangat untuk bisa melihat Gina kembali, sudah bangun dari jam lima subuh. Aris langsung membersihkan badannya terlebih dahulu, setelah itu Aris menunaikan kewajibannya. Setelah menunaikan kewajibannya, Aris menunggu Bayu sambil menonton berita televisi yang isinya masih seputaran virus yang sedang naik daun. Aris yang mulai bosan sibuk memindah mindahkan chanel televisinya. Aris kemudian mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Dia langsung menelpon Bayu.
"Lhoe dimana?" Aris sudah sangat tidak sabar menunggu Bayu sampai di hotel.
"Nyet ini baru jam enam kurang. Loe nyuruh gue datang jam enam tiga puluh. Masih ada tiga puluh menit lagi. Nggak sabaran banget loe"
"Terserah loe. Lewat semenit dari perjanjian, maka kerjasama kita yang baru, gue gagalkan sepihak."
"Oke loe boss nya." Bayu langsung menyambar kunci mobilnya. Biarlah kecepetan datang dari pada telat dan kerjasama proyek digagalkan. Bayu mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, dia ingin melihat apakah Aris sudah siap atau hanya berniat mengerjainya saja.
Waktu tempuh yang seharusnya dua puluh menit, ditempuh Bayu hanya dalam waktu sepuluh menit saja. Bayu langsung menuju kamar Aris. Sesampainya Bayu di kamar yang sangat luas itu dia langsung memencet bel, Aris melihat siapa yang datang melalui intercom kamar, dilihatnya Bayu sudah berdiri di depan pintu kamar hotel. Aris langsung membukakan pintu kamar.
Bayu langsung masuk ke dalam kamar hotel itu, sekilas Bayu melirik ke arah Aris yang sudah berpenampilan rapi. "Bener-bener niat ya loe. Sampai-sampai gue loe teror terus." Bayu duduk sambil memakan sarapan Aris.
"Niatla, kalau ndak ngapain gue jauh-jauh dari ibu kota ke sini."
"Serah loe. Loe bossnya." Jawab Bayu dengan ketusnya.
"Yuk jalan. Lebih cepat lebih baik" kata Aris
"Gila loe. Gue baru sampe. Apa salahnya gue istirahat bentar."
"Nggak ada cerita. Kita langsung jalan." Aris berjalan keluar kamarnya. Bayu mengikuti dengan mulut yang selalu komat kamit seperti dukun baca mantra. Mereka sampai di lobby. Aris menatap ke arah Bayu.
"Mobil loe mana?" kata Aris.
"Noh" tunjuk Bayu menunjuk mobil yang akan dibawanya.
"Gilak loe, kita naik mobil itu?" Aris tidak percaya dengan mobil yang dilihatnya.
"Hello, loe emang tau daerah S di daerah mana?"
"Nggak." jawab Aris asal.
"Makanya gue bawa mobil ini. Jadi kalau jalannya rusak, gue nggak rugi. Mobil mahal gue aman" jawab Bayu lebih asal.
"Serah loe. Loe yang bawa." Aris kemudian masuk kedalam mobil sejuta umat itu dengan rasa tidak percayanya. Bayu yang melihat hanya mampu tertawa. Bayu mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan pesan kepada Bram.
✉️ Bayu
Lho kalau nengok raut wajah Aris sekarang pasti loe akan tertawa ngakak.
Bayu langsung menyimpan ponselnya kembali tanpa menunggu balasan dari Bram. Dia tidak mau Aris akan meneriakinya dari atas mobil. Mau ditaruh dimana muka gantengnya itu nanti. Bayu langsung masuk ke bagian kemudi. Dia melihat Aris duduk di belakang. Bayu kembali turun.
"Lho kenapa turun nyet?" Tanya Aris yang heran melihat Bayu turun lagi.
"Lho kira gue supir. Loe kira - kira dong." Jawab ketus Bayu. Aris diam tak berminat untuk berpindah tempat duduk.
"Kalau loe nggak pindah. Gue nggak akan mau jadi sopir loe hari ini."
Aris dengan malasnya langsung membuka pintu mobil dan pindah duduk di samping Bayu. Bayu yang melihat wajah dongkol Aris, langsung tersenyum penuh kemenangan. Kapan lagi Bayu bisa memerintah Aris. Bayu kemudian masuk dan duduk dibalik kemudi mobil
"Sekarang loe menang Bay" kata Aris dengan wajah kesalnya.
Bayu langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh karena jalanan masih sepi.
"Bay loe bawa mobil ini ngebut, yakin loe?"
"Yakin. Palingan nanti yang lepas duluan rodanya." jawab asal Bayu.
Aris menoyor kepala Bayu yang asal menjawab itu. Bayu yang menerima toyoran dikepalanya hanya tertawa, menambah kekesalan Aris.
"Gila kali loe Ris. Gue juga sayang nyawa kali. Mana mau gue bawa mobil yang asal-asalan." Jawab Bayu ketus. Bayu kemudian kembali serius melajukan mobilnya. Dia tidak mau lagi mendengar ocehan tak berguna Aris.
Setelah menempuh perjalanan selama dua jam. Bayu mulai kehilangan arah. Bayu tidak tau harus menuju kemana lagi.
"Aris. Kita kemana lagi neh. Simpang nya asa tiga." kata Bayu.
Aris kemudian menghidupkan googlemap ponselnya. Kemudian meletakan ponsel itu ditempat ponsel yang tersedia di dashbord mobil yang dibawa Bayu. Bayu membawa mobil mengikuti arah yang ditunjukkan googlemap.
Masuk daerah S, mobil yang dibawa Bayu harus berjalan lambat, karena jalan yang dilaluinya sudah mulai banyak lubang. Saat sedang serius mengendarai mobilnya, Bayu tidak melihat satu lobang yang menganga cukup besar. Ban mobil masuk ke dalam lobang itu. Aris yang sudah tertidur-tidur ayam langsung sadar kembali.
"Ngapain loe?"
"Lubang Ris."
"Hah? Lubang di tengah jalan? Emang masih ada zaman sekarang yang kayak gitu?" Dengan wajah tidak percayanya Aris mengatakan hal itu.
"Noh buktinya ada. Loe tengok aja noh jalan depan. Semua ada lubang." Bayu menunjukkan lubang-lubang yang terpampang nyata di depan mereka. Aris yang baru sekali ini melihat jalan yang begitu banyak lobang menganga tak percaya.
"Wow. Untung loe bawa mobil ini Bay. Kalau loe bawa mobil mewah loe. Gue jamin, pulangnya nggak berbentuk."
"Makanya gue bawa ini. Karena kemaren gue sempat tanya-tanya sama kawan keadaan jalan menuju daerah S. Ternyata sesuai dengan yang dibicarakan orang. Wisata seribu lubang. hahahahaha" Bayu tertawa dengan istilah yang dikatakannya.
Tak terasa mereka sudah sampai di daerah S. Aris kemudian mempersempit googlemapnya dengan memasukkan objek wisata tempat Gina memposting fhotonya kemaren yaitu Sarasah Barayun. Bayu kembali menuruti penunjuk arah yang dibacakan oleh operator googlemap.
"Ris, loe yakin Gina mau ke air terjun itu lagi"
"Yakin. Dipostingan itu terlihat percakapan dengan teman kosnya. Mereka janjian bertemu kembali di air terjun itu." jawab Aris dengan yakinnya.
"Kalau loe emang yakin dia akan kesana, gue jadi semangat kembali. Kalu ndak, gue males cari orang di daerah seperti ini. Ibaratnya neh bagai menjari jarum di tumpukan jerami. Susah ditemukannya."
Tak terasa perjalanan mereka akhirnya sampai juga di lokasi air terjun Sarasah Brayun. Air terjun yang cukup indah, memiliki tiga tingkat air terjun. Dikatakan Barayun karena saat air itu jatuh seperti berayun di atas ayunan. Makanya orang disekitar tempat itu mengatakan Sarasah Barayun. Bayu kemudian memarkir mobilnya di tempat parkir yang sudah disediakan. Aris yang melihat air terjun itu langsung berdecak kagum.
"Cantik ya Bay. Apalagi kalau untuk prewed pasti lebih keren."
"Keren sih keren. Emang udah ada yang mau diajakin prewed di sini?" Bayu mengejek Aris.
"Neh sedang dikejar." Aris menjawab mantap.
"Ye lah. Serah loe."
Aris dan Bayu kemudian masuk kedalam objek wisata Sarasah Barayun. Karena masih pagi, orang yang datang masih terlihat sepi.
Aris dan Bayu melangkahkan kaki mereka menuju sebuah saung yang memang sengaja dibangun di dekat air terjun itu. Saung itu digunakan oleh wisatawan untuk tempat beristirahat. Bayu kemudian memesan pop mie. Aris yang heran dengan pesanan Bayu langsung bertanya saja.
"Tumben loe mesan makanan instan?"
"Gue nengok tu anak kecil, nikmat banget kayaknya makan pop mie." Bayu melihat ke arah anak kecil yang sedang lahap memakan pop mie, Aris juga melihat kearah yang ditunjuk Bayu. Aris hanya bisa tersenyum melihat keabsurdan sahabatnya.
Tak berapalama pop mie yang dipesan Bayu datang. Bayu langsung melahapnya.
"Enak Bay?" kata Aris penasaran. Bayu mengacungkan kedua jempol tangannya. Aris pun penasaran dengan rasa pop mie itu. Dia juga memesan satu kepada penunggu warung serta meminta dua air mineral.
__ADS_1
Pesanan yang ditunggu Aris akhirnya datang juga. Aris langsung menyantap pop mie itu.
"Gimana Ris?"
"Enak Bay." jawab Aris tanpa mengalihkan perhatiannya dari pop mie itu.
"Sekali-sekali menikmati makanan kayak gini enak juga ya Bay." kata Aris.
"Loe tau kenapa enak?"
"Nggak, kenapa emang?" jawab Aris.
"Karena kita makan saat perut laper yang kedua karena makannya dekat hawa dingin. Makanya jadi nikmat. Coba loe makan sedang ditepi jalan raya yang panas. Pop mie ini berubah rasa menjadi tidak enak." jawab Bayu ngasal. Aris tau jawaban Bayu hanya rekayasa saja menggelng tak percaya.
Tak terasa pengunjung air terjun itu sudah ramai. Aris kemudian mengajak Bayu untuk mencari Gina ditengah keramaian. Setelah dua jam mencari tidak ada hasil. Perut Bayu kembali lapar. Bayu yang matanya melihat kesana kemari, akhirnya melihat warung bakso yang ramai pembeli.
"Ris, makan bakso dulu yuk. Gue laper lagi."
"Tapi Bay." Aris terlihat enggan untuk berhenti melakulan pencarian.
"Ris, Gina pasti juga akan lapar. Mana tau kita bertemu dia di warung bakso itu." Bayu sudah berjalan ke arah warung bakso tanpa persetujuan Aris. Aris pun langsung mengikuti Bayu.
Saat memasuki warung makan itu. Aris terkejut melihat Mira yang berada di kasir. Aris langsung teringat dengan komen Gina dan Mira di facebook. Bahwa mereka janjian untuk ketemu pukul sepuluh di air terjun. Hari saja sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Aris berkata dalam hatinya. "Apa mungkin Gina nggak jadi datang ya?".
Aris yang penasaran langsung menyapa Mira. "Mir"
"Oh kak Aris?"
"Sedang ngapain kamu di sini Mir?"
Mira yang sudah dichat Gina perkara Aris. Langsung saja mengarang cerita.
"Aku jadi kasir kak. Inikan warung bokap. Jadi selama libur ini, aku jadi anak yang berbakti." jawab Mira.
"Oooo." Aris menatap pintu masuk, dia berharap Gina akan datang terlambat.
Mira yang melihat itu langsung tersenyum, bener yang dikatakan Gina. "Kakak lagi nunggu seseorang?"
"Iiii.... ndak Mir." jawab Aris dengan gugup. Hampir aja keceplosan. Mira yang tau Aris berbohong langsung tersenyum.
"Jadi ada acara apa kakak kemari?"
"Kebetulan tadi ada meeting di daerah ini, lalu teman kakak yang namanya Bayu mengajak ke air terjun ini." jawab Aris yang ngasal.
"Kamu hanya duduk saja di kasir Mir?" Bayu mencoba mengorek informasi dari Mira. Mira yang sadar pura-pura tidak tau dengan maksud pertanyaan Aris.
"Nggak kak. Aku lagi janjian dengan temanku" Mira sengaja tidak mengatakan siapa teman yang janjian dengannya.
Aris mengangguk, kemudian dia langsung menuju tempat duduk yang sudah dipilih Bayu.
"Siapa Ris?" kata Bayu melihat perempuan yang asik bercerita dengan Aris.
"Dia temannya Gina yang janjian dengan Gina untuk bertemu di sini."
"Kenapa dia kerja di warung ini? Emang Gina pernah tinggal disini?" Bayi heran, yang Bayu tau Gina kuliah di ibu kota.
"Orang tuanya yang punya warung ini. Jadi dia membantu saat masa liburan saja." jawab Aris.
"Yup." Jawab Aris.
"Alhamdulillah." jawab Bayu langsung. Aris yang heran langsung bertanya lewat sorot matanya. Bayu yang paham langsung menjawab "Yup, perjalanan jauh gue dengan melewati begitu banyak jenis lubang tidak sia-sia."
Bayu dan Aris menikmati bakso yang dihidangkan pelayan. Bakso itu sangat enak. Aris dan Bayu menghabiskan bakso itu dengan kuah-kuahnya. Kalau mereka tidak malu dengan tatapan orang yang menatap kearah mereka, pasti Aris sudah meminta tambah.
"Jadi jam berapa mereka janjian untuk bertemu, jangan bilang jam sepuluh. Ini sudah lewat." kata Bayu.
"Gue nggak sempat tanya."
"Tanya aja sana. Orangnya masih stay disitu" jawab Bayi sambil menatap Mira.
"Males. Gengsi gue. Kita pantau saja Mira. Kalau dia sudah pergi meninggalkan warung maka kita tinggal ikuti. Dan aku akan bertemu dengan Gina." jawab Aris semangat.
"Yakin bener ne tuan muda." kata Bayu yang mengejek Aris.
"Yakin lah. Gimana kalau kita taruhan?" kata Aris dengan yakinnya.
"Boleh." Bayu langsung setuju.
"Kalau Gina bertemu dengan Mira di sini maka yang bawa mobil pulang dan traktir makan malam loe ya Bay. Kalau ternyata Gina tidak bertemu dengan Mira, maka gue yang bawa mobil pulang plus loe boleh bawa pulang oleh-oleh sesuaka hati loe." Aris memberikan hadiah yang ditunggu-tunggu Bayu. Aris yakin dia akan menang.
"Oke setuju." Mereka berdua langsung tos.
Gina
Gina dibantu pelayan sedang memasukkan baju-bajunya ke dalam beberapa koper. Rencananya besok mereka semua akan pindah ke ibu kota. Rumah yang di Padang tidak akan dijual oleh ayah, karena rumah itu menyimpan berjuta kenangan indah. Tiba-tiba sebuah notifikasi WA masuk ke ponsel Gina.
✉️ Mira
Kak Aris sedang duduk di warung bakso gue dengan temannya.
✉️ Gina
Kemakan juga dia dengan status gue. Terus apa yang dia tanyakan saat nengok loe di warung?
✉️ Mira
Dia nanyak kenapa gue ada di warung. Gue jawab bokap gue yang punya warung. Terus dia juga tanyak, apa gue kesini hanya nunggu warung aja. Gue jawab gue janjian dengan teman mau ketemuan.
✉️ Gina
Terus apa tanggapannya?
✉️ Meri
Dia sebenarnya kepo. Tapi nggak mengakui. 🤣🤣🤣
✉️ Gina
Darimana loe tau dia kepo?
✉️ Mira
Tu buktinya dia masih ngejokrok di warung gue. Padahal baksonya udah habis dari tadi. Untung aja keduanya ganteng kalau nggak udah diusir dari tadi.
__ADS_1
✉️ Gina
Hubungannya dengan ganteng apaan?
✉️ Mira
Warung gue jadi rame. Hanya untuk melihat mereka berdua. Jadi gue memperlambat rencana untuk keluar dari warung. 🤣🤣🤣🤣
✉️ Gina
Pinter loe. Kabari gue lanjutannya ya.
Gina kembali memasukkan bajunya kedalam kopor.
Kembali Ke Aris
Bayu yang sudah tidak betah di warung baso itu kembali mendesak Aris agar bertanya saja kepada Mira jam berapa dia janjian dengan Gina. Aris tetap pada pendiriannya yang tidak mau bertanya. Tidak lama kemudian terlihat Mira yang beranjak dari kursinya pergi menuju tempat janjian halunya dengan Gina, padahal Mira janjian dengan temannya yang lain.
Aris yang melihat Mira sudah meninggalkan warung bakso, mengajak Bayu untuk mengikuti Mira.
"Bay, ayuk. Ligat." kata Aris.
"Gue bayar dulu nyet." Bayu meletakan uang seratus ribu di meja itu. Bayu kemudian mengejar Aris yang telah lebih dulu mengikuti Mira.
"Nyet tungguin gue" kata Bayu. Akhirnya Bayu bisa mensejajarkan langkahnya dengan Aris.
Aris melihat Mira menuju sebuah saung yang berada di atas sebuah batu besar. Aris juga menuju ke saung tepat disebelah saung yang dituju Mira. Aris melihat Mira menemui seorang wanita. Tapi posisi wanita itu membelakangi Aris, sehingga Aris tidak bisa melihat wajah wanita itu.
Mira memeluk Vania teman masa sma nya. Mereka asik bercerita. Menceritakan tentang kampus tempat mereka kuliah. Mira kemudian melirik ke arah Aris dan Bayu yang terus saja memerhatikan Mira dan Vania. Mira kemudian mengeluarkan ponselnya.
✉️ Mira
Bener loe Gin. Kak Aris ngikutin gue terus.
✉️ Gina
Mantap Mir.
✉️ Mira
Sekarang gue harus ngapain lagi?
✉️ Gina
Loe bawa aja lagi teman loe untuk pergi dari sana. Dan pura-pura sapa Aris.
✉️ Mira
Oke sip. Gue jalan dulu.
Mira dan Vania keluar dari saung, mereka berdua sengaja lewat di depan saung Aris dan Biru. Mira pura-pura tidak sengaja melihat Aris.
"Eh Kak Aris, aku kira udah pulang dari tadi." kata Mira dengan wajah dibuat seterkejutnya.
"Ini mau pulang Mir. Jadi ini teman kamu yang mau kamu ajak ketemuan?" kata Aris sambil melihat kearah Vania.
"Iya kak. Dia sahabat Aku waktu SMA. Kalau gitu aku duluan ya kak." Mira langsung pergi meninggalkan Aris.
"Mir tunggu." kata Aris.
"Iya ada apa kak?" kata Mira dengan keheranan, kenapa Aris memanggil dirinya.
"Kemaren Gina posting sedang berfoto di sini. Kemudian kamu dan dia janjian untuk ketemu hari ini. Jadi Ginanya mana?" Aris membuang jauh gengsinya. Dia ingin memastikan Gina ada di daerah S atau tidak.
"Wah. Gina udah pulang ke Padabg tadi pagi kak." kata Mira.
Aris menjadi kesal, dia benar-benar sial. Sudahlah Gina tidak ada, sekarang dia harus membawa mobil selama enam jam menuju kota Padang. Lengkap sudah kesialan Aris hari ini. Bayu yang mendengar perkataan Mira, langsung saja menyerahkan kunci mobil kepada Aris.
"Yok pulang. Ikannya udah lepas." kata Bayu merangkul bahu Aris.
"Kesal gue." kata Aris.
"Tenang bro. Cinta memang butuh perjuangan. Sekarang lanjutkan perjuanganmu membawa mobil selama enam jam." kata Bayu sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Sialan loe." Aris terlihat makin kesal.
Aris dan Bayu langsung masuk kedalam mobil mereka. Aris melajukan mobilnya dengan kecepatan biasa saja. Rencana Aris lepas dari daerah S, Aris akan melajukan mobil itu dengan kecepatan maksimal. Dia berencana malam ini juga akan berangkat pulang ke ibu kota. Jet pribadinya masih berada di bandara. Sedangkan bajunya yang di hotel sudah diambil salah seorang anak buahnya. Bayu yang melihat kekesalan Aris hanya diam saja selama perjalanan. Dia takut salah ngomong yang akan berakibat kepada perusahaannya. Sekali ini Bayu sangat setuju dengan peribahasa Diam itu adalah emas.
Gina
Ponsel Gina mengeluarkan suara sebuah notifikasi WA yang masuk. Gina langsung membuka pesan WA itu.
✉️ Mira
Kak Aris beneran kesal Gin. Setelah tau Gue tidak ketemu sama loe. Apalagi pas gue ngomong loe udah pulang dari tadi pagi.
✉️ Gina
Terus????
✉️ Mira
Sepertinya dia akan langsung terbang ke ibu kota Gin.
✉️ Gina
Makasi Mir. Atas bantuan loe. Besok gue traktir loe sepuasnya di ibu kota.
✉️ Mira
Gue tunggu janji loe.
Gina kemudian tertawa terbahak bahak sampai sampai air matanya turun membasahi pipi. Uda Afdhal yang baru pulang dari kantor, merasa heran dengan tingkah Gina.
"Loe amankan dek?" Afdhal berkata sambil memegang kening Gina.
"Aman lah kak. Emang gue stress gitu?"
"Kalau aman kenapa loe tiba-tiba tertawa kayak gitu siap baca sesuatu di ponsel loe." Afdhal sudah kepo tingkat dewa.
Kemudian Gina menceritakan semuanya kepada Afdhal. Afdhal yang mendengar cerita dari Gina juga tertawa terbahak-bahak. Mendengar betapa mudahnya Tuan Muda Soepomo dibohongi sebuah status.
Aris yang sudah sampai di bandara langsung menaiki privet jet nya. Dia sudah tidak sabar ingin sampai ke ibu kota. Dia akan kembali berkutat dengan kerja. Aris akan sabar menunggu dua bulan lagi untuk bertemu dengan Gina di kos-kosan. Menunggu memang jalan terbaik, dari pada mengejar yang tidak tau berhasil atau tidak.
__ADS_1