Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
kegalauan Ghina


__ADS_3

"Kita langsung ke perusahaan Nyonya?" tanya Jero kepada Ghina.


"Nggak Jer. Kita ke rumah sakit. Saya ada janji temu dengan Mira." jawab Ghina.


Jero mengarahkan mobilnya menuju rumah sakit sesuai dengan permintaan Ghina. Tidak beberapa lama mereka sampai di rumah sakit.


"Kamu ikut saya saja Jer." ujar Ghina.


"Baik Nyonya." jawab Jero.


Mereka berdua beriringan jalan menuju kamar tempat Sari di rawat.


"Jero, nanti selepas mengantar saya pulang, kamu ke markas ya. Tolong tanya ke Alex bagaimana perkembangan penyelidikan kasus Sari." ujar Ghina sambil menatap Jero.


"Baik Nyonya. Nanti selepas dari rumah utama saya akan langsung menuju markas." kata Jero.


Pengawal yang berada di depan pintu ruangan rawat Sari langsung membukakan pintu ruangan saat melihat Ghina datang.


"Siang Nyonya." sapa salah satu pengawal.


"Siang. Apa Nyonya Maya sudah datang?" tanya Ghina sambil melangkah masuk ke dalam ruangan Sari.


"Belum Nyonya." jawab pengawal.


Ghina dan Jero berjalan menuju tuangan rawat Sari. Mereka berdua berjalan dalam diam. Mereka sibuk dengan pikiran masing masing.


Jero membukakan pintu ruang rawat Sari. Ghina kemudian masuk bersama dengan Jero.


"Kak" sapa Ghina kepada Bram yang terlihat sedang membaca informasi di ponsel miliknya.


"Hay Ghin. Duduk." ujar Bram mempersilahkan Ghina untuk duduk.


"Ghina, kakak minta maaf ya. Gara gara kakak menjaga Sari, kamu jadinya yang harus memimpin dan mengelola Jaya Grub. Maafkan Kakak Ghin." kata Bram dengan nada menyesal.


"Tidak apa apa Kak. Lagian Ghina juga dibantu sama paman Hendri. Jadi, semuanya berjalan lebih mudah dari yang dibayangkan." jawab Ghina sambil tersenyum.


"Apalagi asisten handal Ghina sudah kembali. Jadi, Ghina hanya tinggal menganggukkan saja lagi Kak. Apa yang mereka sepakati." kata Ghina selanjutnya.


Saat mereka berdua berbincang, Maya datang dengan Iwan.


"Dasar ngaret loe. Janjinya datang jam tiga datang jam setengah empat." kata Ghina sambil menoyor kepala Mira.


"Maaf, tadi banyak urusan di kantor." jawab Mira memberitahukan kenapa dia bisa sampai telat datang.

__ADS_1


"Tunggu dulu, kerjaan di kantor? Jangan bilabg kalau loe udah masuk kantor lagi." Ghina menatap menyelidik ke mata Mira.


"Hehehe. Maaf gue lupa ngasih tau." ujar Mira dengan wajah polosnya.


"Hem oke sip." jawab Ghina yang malas memperpanjang masalah.


"Jadi??" tanya Ghina kepada Mira.


"Gue kangen elo aja. Makanya minta loe datang ke sini." jawab Mira yang tau arah pertanyaan Ghina kemana.


"Gue juga kangen elo. Apalagi dengan yang masih tidur itu. Luar biasa kangen." jawab Ghina menunjuk ke arah Sari.


"Gue juga kangen dia." ujar Mira sambil menatap Sari.


"Kalian kakak tinggal ya. Mau makan." ujar Bram yang tau Ghina dan Mira pasti ingin bercerita banyak dengan Sari.


"Jero, Iwan ikut saya aja. Kalian nggak perlu menunggui mereka berdua di sini." ujar Bram mengajak kedua asisten tersebut ikut dengannya mencari makanan.


"Nggak apa apa, kalian berdua ikut aja." ujar Ghina mengizinkan Jero dan Bimo untuk pergi dengan Bram.


"Baik Nyonya, kami berdua izin untuk pergi dengan Tuan Bram." jawab Jero.


Bram dan dua asisten pergi dari ruangan rawat Sari. Ghina dan Mira bergeser ke arah brangkar Sari. Ghina duduk di kursi sebelah Sari sedangkan Mira duduk di kasur tempat Sari tidur.


"Sar, kami kangen banget sama kamu. Luar biasa kangen. Kami ingin main dan belanja belanja lagi dengan kamu." lanjut Mira.


"Sar. Bangun ya. Kamu nggak kangen dengan kami semua?" kata Ghina sambil mengusap air mata yang mau jatuh di sudut matanya itu.


Mira turun dari atas kasur Sari. Dia menuju Ghina, Mira berusaha menenangkan Ghina kembali. Mira sangat tau kalau Ghina sedang terpuruk melihat kondisi Sari saat ini.


"Sabar Ghin." ujar Mira.


"Gue udah sabar lama Mir. Tapi kenapa sampai sekarang orang yang membuat sahabat gue jadi kayak gini belum juga berhasil kita temukan. Gue bener bener marah dengan diri gue sendiri." ujar Ghina dengan emosi.


"Mir, tolong desak Alex untuk cepat menemukan dalang dibalik ini semua. Ini terlalu lama Mir. Udah mau tiga bulan. Kenapa harus lama sekali." ujar Ghina sekali lagi.


"Ghina, kamu tau kan gimana rapinya pelaku kali ini. Alex dan tim sudah berusaha maksimal, tapi Tuhan berkehendak lain. Jadi, kamu yang sabar dan kuat ya." kata Mira berusaha menyabarkan sahabatnya itu.


"Tapi Mir" ujar Ghina masih belum terima jawaban dari Mira.


"Ghin." kata Mira sambil menggeleng meyakinkan Ghina.


Ghina kemudian menetralkan perasaannya kembali. Dia tidak ingin terlihat begitu menyesali apa yang terjadi terhadap Sari.

__ADS_1


Ghina meninggalkan kursinya. Dia menuju sofa yang ada di kamar. Mira mengikuti Ghina menuju sofa.


"Asli pusing gue Mir." kata Ghina sambil memijit kepalanya.


"Loe nggak usah mikir aneh aneh Ghin. Semua pasti akan berjalan dengan lancar." kata Mira meyakinkan Ghina.


Mereka berdua lama termenung. Sebenarnya Mira juga memikirkan tentang kecelakaan Sari, tetapi dia tidak mau menambah pusing kepalanya. Dia berusaha menenangkan dirinya, apalagi dengan Ghina yang seperti ini, Mira harus menjadi yang terkuat dalam menghadapi permasalahan.


Mira melihat Ghina memejamkan matanya. Dia membiarkan saja sahabatnya itu masuk ke alam mimpi. Mira berdiri dari duduknya dan menuju Sari.


"Sar, apa loe nggak kasian nengok Ghina??? Dia yang biasanya ceria, sekarang sangat terlihat memiliki beban di hidupnya." ujar Mira membuka cerita dengan Sari.


"Apa loe juga nggak kasian dengan Bram, suami yang sangat loe sayangi itu?" lanjut Mira.


"Bangunlah sobat. Kami sangat menunggu kamu di sini. Buang semua beban yang ada, kembalilah." kata Mira sambil menggenggam tangan Sari.


Selama Ghina dan Mira berbicara, tidak sedikitpun respon yang diberikan Sari kepada mereka berdua.


"Mir, udah sore banget, jak Ghina pulang sana, nanti Bayu dan Aris mencari kalian berdua." kata Bram saat melihat jam sudah menunjukkan pukul enam sore.


Mira melihat jam miliknya, ternyata hari memang sudah sangat sore.


"Ghin, ayuk pulang." ujar Mira membangunkan Ghina.


"Ghina pulang." ujar Mira sekali lagi.


Ghina yang namanya dirasa dipanggil panggil, berusaha membuka matanya yang terlihat sangat berat tersebut.


"Apa Mir?" tanya Ghina.


"Pulang udah sore." jawab Mira.


Ghina kembali mengusap matanya. Dia berusaha menjernihkan mata dan pikirannya terlebih dahulu. Setelah yakin kalau dia sudah bangun dari tidurnya, Ghina meraih tas tangan miliknya.


"Ayuk pulang." ujar Ghina mengajak Mira untuk pulang.


"Kak kami pulang dulu ya." ujar Ghina pamit kepada Bram.


Ghina dan Mira menemui Sari.


"Sar, kami pulang dulu ya. Besok kami balik lagi." ujar Mira pamit kepada Sari.


Ghina dan Mira keluar dari ruang rawat Sari. Jero dan Iwan mengikuti dari belakang.

__ADS_1


Dua mobil mewah bergerak meninggalkan rumah sakit. Mereka akan menuju kediaman utama keluarga Soepomo.


__ADS_2