Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
F. BACK ARGA BREE


__ADS_3

"Sayang, aku merasa ada yang aneh dengan Arga sayang. Dia terlihat akhir akhir ini sibuk hanya dengan dunianya sendiri." ujar Gina bercerita kepada Aris tentang bagaimana keadaan Arga sekarang sekarang ini.


"Aneh bagaimana?" ujar Aris yang penasaran dengan ucapan Gina tentang kondisi Arga.


"Ya aneh. Arga sekarang mulai tidak peduli dengan lingkungannya. Dia sering mengamuk akhir akhir ini sayang." lanjut Gina menceritakan semua kejadian kepada Aris.


"Argakan memang tidak peduli lingkungan sayang. Udahlah jangan diambil pusing, namanya juga anak anak. Ada fase fasenya." ujar Aris berusaha menenangkan Gina.


"Tapi sayang?" ujar Gina yang masih rusuh dengan perkembangan anaknya.


"Gini aja sayang. Kamu lihat dan pantau terus perkembangan Arga. Sekali sekali kamu bisa minta tolong Anggel untuk mengamati Arga." ujar Aris sambil mulai tangannya kemana mana.


Gina membiarkan saja tangan suaminya itu berkeliaran kemana mana. Gina menikmati setiap gerakan suaminya. Tiba tiba. Ser seperti ada yang mengalir di antara paha Gina. Gina langsung memindahkan tangan Aris. Gina berlari ke dalam kamar mandi.


"Sayang kamu mau main di dalam kamar mandi?" ujar Aris sambil menyusul Gina ke kamar mandi.


"Oh tidak." ujar Gina dari dalam kamar mandi. Gina memakai pengamannya. Dia berjalan keluar kamar mandi sambil tersenyum.


"Kenapa senyum. Sini tidur aku mau lanjutin kegiatan semalam." ujar Aris sambil menepuk ranjang di sebelahnya.


Gina mengambil tangan Aris. Dia meletekan tangan kekar yang barusan berkelana itu ke bagian intinya yang sudah memakai pengaman.


"Jangan bilang kalau kamu??????" ujar Aris dengan nada kecewa dan tampang yang lesu.


"Maaf ya sayang." ujar Gina pura pura kecewa padahal di dalam hatinya Gina tertawa senang, karena bisa beristirahat sebentar lagi.


"Terus ini?" ujar Aris sambil melihat ke bawah yang sedang on dan siap berperang.


"Solo karie sana sayang." jawab Gina sambil menahan tawanya.


Aris menggelitik Gina sepuas hatinya. Gina sampai tidak bisa menahan tawanya. Dia tertawa dengan sangat keras.


"Ampun sayang ampun. Nanti aku ngompol sayang." ujar Gina memohon ampun kepada Aris.


"Masih mau ngejek suami lagi?" tanya Aris kepada Gina yang masih belum mau melepaskan gelitikannya terhadap Gina.


"Nggak lagi. Ampun nyesel banget." ujar Gina.


Aris menghentikan gelitikannya. Gina melihat ke bagian bawah Aris yang ternyata sudah tertidur.

__ADS_1


"Jahat, jadi dengan gelitikin aku, tu jaluk langsung tidur. Nikmat kali hidup jaluk." ujar Gina sambil geleng geleng kepala tidak percaya dengan metode Aris menidurkan jaluknya.


"Yang penting jaluk tidur. Udah itu aja. Gimana caranya ya nggak usah dipusingin." jawab Aris kemudian.


Mereka kembali melanjutkan tidurnya akibat intrupsi pertempuran yang batal. Salah satu lawan sedang cedera. Jadi pertempuran akan dilanjutkan seminggu ke depan.


.


.


.


.


Pagi harinya, Gina bangun dengan hati dan perasaan yang galau karena keadaan Arga yang tidak bisa mengontrol emosinya. Ingin rasanya Gina membawa Arga ke dokter psikiater tapi Gina belum siap mendengar diagnosis dokter.


"Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan untuk anak ku." ujar Gina yang baru selesai membasuh mukanya.


Gina membuka pintu penghubung antara kamar dia dengan kamar Arga. Terlihat Arga masih tertidur dengan nyenyak dan damai. Gina mendekati anak bungsunya itu. Gina mencium kening putranya dan berdoa semoga putranya dalam keadaan sehat selalu.


Setelah puas melihat putranya yang tertidur. Gina turun untuk membuat sarapan. Dia sudah sangat lama tidak memasak. Maka hari ini Gina akan memasak sarapan untuk keluarganya.


"Eh Nyonya Muda." ujar kepala maid yang kaget melihat Gina pagi pagi sekali sudah berada di dapur.


"Tidak Nyonya Muda, silahkan dimasak. Saya akan membantu Nyonya." ujar Maid.


Gina mulai memotong motong sayuran yang akan dimasaknya. Dia akan memasak menu nasi goreng kampung lengkap dengan ayam mentega, acar serta telur mata sapi.


Gina terlihat begitu cekatan dalam memasak semua masakannya. Selesai memasak sarapan, Gina naik ke kamarnya kembali. Dia harus membangunkan Aris yang masih terlelap itu untuk bersiap siap ke kantor. Sedangkan Arga masih dalam keadaan tertidur. Suaranya belum terdengar dari speaker.


"Sayang bangun kerja kerja kerja. Jangan tidur terus sayang." ujar Gina sambil membabi buta menggoyang badan Aris.


"Dikit lagi sayang." jawab Aris sambil kembali memeluk gulingnya.


"Nggak ada cerita udah jam enam sayang. Ya Allah jadikanlah suami hamba berdosa karena dia tidak menjalankan kewajibannya." ujar Gina sambil melirik Aris.


"Ya aku bangun sayang." ujar Aris sambil langsung bangun dari tidurnya. Dia bersungut sungut masuk ke dalam kamar mandi. Gina tersenyum melihat tingkah Aris.


Aris mandi dalam sekejap, setelah itu dia melaksanakan kewajibannya.

__ADS_1


"Ya Allah ampuni dosa suami ku yang tadi. Sekarang dia sudah sholat." ucap Gina sambil melirik suaminya.


"Sudah yuk ke tempat Arga." ajak Aris menggamit lengan Gina menuju ke kamar Arga.


Arga terlihat sudah selesai mandi dan sudah sangat rapi.


"Wow anak Bunda udah keren dan tampan." ujar Gina sambil berusaha memeluk Arga.


Arga mengangkat tangannya tanda menolak untuk dipeluk Gina. Gina hanya tersenyum saja.


Mereka semua menuju meja makan.


"Dari bau bau nya ini adalah masakan Gina." ujar Bram yang sedang menciumi nasi goreng yang ada di atas piringnya.


"Tinggal makan aja repot." jawab Mami.


Mereka kemudian sarapan dengan menu sarapan yang dibuat oleh Gina. Selesai makan Bayu meminta waktu sebentar untuk berbicara.


"Pi, Mi, bisakah kita berbicara sebentar?" tanya Bayu kepada Mami dan Papinya.


"Bisa. Ada apa Bay?" ujar Papi yang penasaran dengan Bayu.


"Ada yang mau Bayu bicarakan sama Papi dan Mami." ujar Bayu dengan menatap memohon kepada Papi dan Mami.


"Baiklah. Ada apa? Sepertinya penting." ujar Papi yang kembali duduk, begitu juga dengan yang lainnya.


"Begini Pi, Mi. Sebelumnya kami berdua mau mengucapkan terimakasih karena Papi dan Mami telah menganggap kami bagian dari keluarga ini. Tapi Pi, Mi, sudah beberapa hari ini kami berdiskusi intens." ujar Bayu berhenti sejenak. Dia menenangkan hatinya untuk membicarakan hal ini kepada Mami dan Papi.


"Terus?" tanya Mami yang penasaran.


"Kami berencana untuk menempati rumah kami yang diberi oleh Aris." ujar Bayu sambil menenduk takut kedua orang tuanya marah.


Mereka semua lama terdiam. Bayu takut untuk mengangkat kepalanya. Takut kedua orang tuanya akan marah.


"Maafkan Bayu, Pi, Mi." ujar Bayu yang masih tetap tidak mengangkat kepalanya.


"Bayu. Kami mengizinkan kamu untuk tinggal di sana. Tapi setiap makan malam kamu berdua harus di sini. Mami tidak menerima penolakan." ujar Mami yang membuat Bayu dan Mira mengangkat kepalanya. Mereka menyangka Mami dan Papi akan marah mendengar apa yang dikatakan oleh Bayu.


"Mami tidak marah?" tanya Bayu penasaran.

__ADS_1


"Nggak sayang. Mami sangat bahagia kalian mau mandiri. Tidak apa apa." ujar Mami sambil tersenyum kepada Bayu dan Mira.


Selesai makan semua orang pergi ke kantor. Gina dan Arga masuk ke kamar Arga. Mereka berencana untuk bermain berdua. Hari ini Gina tidak ada berencana mau kemana mana. Dia ingin memperhatikan Arga saja. Dia harus memutuskan apakah akan membawa Arga ke Anggel atau tidak


__ADS_2