
Rombongan keluarga Bayu datang terlebih dahulu. Mereka sudah duduk di posisinya masing masing. Bayu, Mami dan Papi duduk di kursi depan. Barisan kedua ada Gina, Aris, Daniel, Bram dan Sari. Barulah barisan berikutnya beberapa orang dari keluarga Soepomo yang mewakili keluarga Bayu.
Bayu duduk sambil menekurkan kepalanya. Jantungnya serasa ingin keluar dari tempatnya saat dia melihat keluarga Mira mulai masuk dan duduk berhadap hadapan dengan keluarga Soepomo. Bayu sibuk memainkan ujung jas yang dipakainya. Semua itu tidak lepas dari perhatian Aris dan Bram.
"Bay santai napa. Meeting untuk kerjasama ratusan milyar kamu nggak kayak gini amat gugupnya." kata Aris kepada Bayu sambil melepaskan tangan Bayu dari ujung jas yang dipakainya.
"Kayak loe yang nggak aja waktu itu. Malahan parah loe dr gue." jawab Bayu sambil menatap Aris dengan tajam.
"Udah jangan ribut." kata Mami dari depan.
Aris dan Bayu langsung terdiam karena dihardik oleh Mami. Mereka kembali fokus melihat ke depan.
Musik favorit Bayu dan Mira mulai dimainkan, suara piano mengiringi langkah kaki Mira yang berjalan memasuki tempat acara. Mira berjalan dengan didampingi oleh salah seorang sepupunya. Mira terlihat sangat cantik dengan kebaya warna pink fanta itu.
"Bay cantik banget Bay." ucap Bayu sambil memukul lengan Bayu.
"Bram." kata Papi sekarang menggantikan Mami.
"Makanya Papi diam, ini ndak ribut aja." ucap Daniel yang senang Daddy dan Papinya ditegur.
Mira kemudian duduk di tenga tengah Ayah dan Ibu. Sedangkan Ayah dan Nana duduk di belakang Ayah dan Ibu Mira.
Acara lamaran itu berjalan dengan penuh khidmad, semua berjalan dengan lancar. Mereka sepakat akan mengadakan acara resepsi seminggu kedepan mengingat Gina akan melahirkan di akhir bulan.
Setelah acara lamaran selesai kedua keluarga berfhoto bersama.
"Mir, Sar, kita udah lama nggak fhoto bertiga. Fhoto yok, kapan lagikan ya kalian bisa fhoto dengan gue yang badan gue lebih lebar dari pada kalian berdua." kata Gina sambil menggandeng tangan kedua sahabatnya.
Mereka bertiga berfhoto dengan berbagai gaya. Sampai sampai mereka tidak sadar sudah menjadi pusat perhatian para keluarga.
"Ikut." kata Daniel sambil berdiri diantara Gina dan Mira.
Aris, Bram dan Bayu tidak mau kalah. Mereka juga langsung menuju tempat Gina berfhoto.
"Yang masih sendiri minggir." ucap Bram.
Daniel ditarik Bram keluar dari tempat fhotoshoot.
"Papi apa apaan." kata Daniel yang nggak terima diusir dari tempat berfhoto.
"Kamu lihat nggak, kami tiga pasang. Nah kamu siapa pasangannya?" tanya Bram.
Daniel melihat ketiga pria tampan sudaj berada di sana. Dia langsung tersenyum canggung.
"Benerkan? Sama siapa coba mau fhoto?" tanya Bram yang semakin senang membully Daniel.
"Ye aku kalah." kata Daniel sambil berjarak dari mereka bertiga.
Tiga pasang anak manusia ditambah dengan Afdhal dan Anggel yang akhirnya juga ikut berfhoto dengan berbagai gaya. Pemandangan itu semakin membuat Daniel emosi.
"Kenapa Niel?" tanya Mami dan Nana.
__ADS_1
"Tuh, mereka nggak mau ngajak aku berfhoto oma." Daniel mengadu kepada kedua oma tersayangnya.
"Sini kita berfoto dengan atuk." ajak Mami.
Papi, Ayah, Mami, Nana dan Daniel berfhoto berlima. Rombongan Aris yang melihat Daniel berfhoto dengan orang tua mereka langsunf ikut berfhoto dengan Daniel.
"Betapa bahagia Mira mendapat keluarga seperti itu Ayah. Anak kita tidak salah memilih suami." kata Ibu kepada Ayah Mira.
"Kita doakan yang terbaik untuk anak kita Ibu." jawab Ayah.
"Bener bener cari lawan para orang dewasa ini." ucap Daniel sambil cemberut.
Selesai sesi berfhoto, mereka kembali ke rumah utama. Bram dan Sari kebagian mengantarkan Mira kembali ke apartemennya. Sedangkan keluarga Mira sebagian besar sudah kembali ke rumah mereka di pulau Sumatra dengan pesawat pribadi milik Soepono Grub dan Wijaya Grub. Sedangkan Ayah dan Ibu Mira kembali ke rumah utama keluarga Wijaya.
"Sayang aku tiba tiba pengen rujak buatan kamu sayang." kata Gina saat perjalanan pulang ke rumah utama.
Bayu dan Daniel yang mendengar langsung tertawa. Mereka sangat senang kalau melihat Aris harus memasak sesuatu. Walaupun Aris jago memasak tapi saat melihat Aris membuat sesuatu untuk Gina, itu menjadi hiburan tersendiri bagi mereka.
Aris menghubungi maid yang di rumah menayakan apa saja buah yang ada di rumah.
"Aku mau pake kedondong, bingkuang dan nenas sayang." kata Gina sambil menatap Aris dengan tatapan yang dibuat sedemikian rupa.
"Niel, kita ke toko buah dulu. Ayah mau beli buah." kata Aris kepada Daniel yang membawa mobil.
Daniel memutar arah laju mobil. Dia akan menuju toko buah terlengkap yang ada di ibu kota. Daniel sudah hafal letak toko itu. Dia sering diminta Gina untuk membeli buah di sana.
"Ayuk turun sayang. Kamu pilih sendiri buah apa yang mau dijadikan rujak." kata Aris sambil mengajak Gina dan yang lainnya untuk turun.
"Bun serius ini dimakan semuanya sendirian?" tanya Daniel sambil mengangkat keranjang yang dibawanya sudah penuh sama asinan.
"Serius. Kamu kenapa nggak ngomong dari kemaren kemaren kalau di ibu kiya ada gudang asinan kayak gini." ujar Gina yang sekarang tangannya sibuk memilih kedondong.
"Niel kira Ibun sudah tau kalau ada toko asisnan di ibu kota." jawab Daniel tanpa ada rasa bersalah.
Setelah puas berbelanja buah dan Asinan, mereka semua beranjak meninggalkan toko dan kembali menuju rumah utama.
"Sayang asli capeknya. Aku istirahat dulu ya. Kamu buat sana bumbu rujaknya. Setelag selesai tolong bangunkan aku ya." ujar Gina sambil menatap Aris.
"Bersihin muka dulu sana. Masak tidur dengan makeup paripurna gitu." kata Aris mengingatkan Gina.
"Males. Keburu ngantuk akunya sayang." ujar Gina dengan manja.
Aris berjalan menuju tempat Gina menyimpan alat pembersih makeupnya. Dia mengambil semua peralatan dan kapas. Serta tidak lupa handuk kecil dan air hangat.
Gina terkejut melihat semua perlengkapan yang dibawa Aris menuju sofa yang dia tempati sekarang.
"Sini tarok kepalanya, biar aku bersihkan. Aku udah kangen melihat wajah asli istriku ini." ujar Aris yang sebenarnya nggak suka melihat Gina memakai makeup tebal. Dia lebih senang melihat Gina memakai makeup natural saja.
"Serius? Emang bisa?" tanya Gina balik kepada Aris.
"Bisalah masak ndak. Tinggal hapus doang, tapi kalau bikin nggak bisa." jawab Aris.
__ADS_1
Gina meletakkan kepalanya di tangan tangan sofa empuk itu.
"Jadi bikin apa yang bisa?" Gina menatap suaminya dengan tatapan genit.
"Buat anak. Tapi jangan mulai ya, kamu kecapekan. Malam besok baru boleh." ujar Aris sambil mulai membersihkan muka Gina memakai kapas yang sudah diberikan pembersih makeup.
Aris membersihkan muka Gina dengan perlahan dan lembut. Sampai sampai Gina tidak tersadar sudah masuk ke alam mimpinya.
"Yah dia tidur." ujar Aris saat selesai membersihkan muka Gina.
Aris kemudian menuju dapur. Dia membuat kuah rujak yang dipesan oleh Gina.
"Ngapain Ris?" tanya Bram yang melihat Aris sibuk di dapur dari tadi.
"Bikin kuah rujak. Gina ngidam itu." ujar Aris.
"Emang orang tinggal nunggu lahiran masih ada ngidamnya Ris?"
"Mana tau gue. Walaupun Gina hanya mengerjai gue tapi gue tetap ikhlas membuatkannya. Loe akan coba sendiri besok." ujar Aris.
"Semoga nggak aneh aneh aja."
Selesai membuat kuah rujak. Aris membersihkan dan memotong motong buah yang sudah dibeli Gina.
"Beres. Gue bangunin Gina dulu. Jangan loe habisin. Awas aja loe habisin di omelin Gina baru tau loe."
"Nggak, gue takut Gina ngamuk. Masih kebayang kejadian itu dimata gue."
Aris membangunkan Gina yang tertidur pulas.
"Sayang rujaknya udah siap. Ayuk turun makan. Tapi bersihkan dulu badannya ya"
Gina masuk ke dalam kamar mandi. Dia membersihkan badannya dari keringat yang udah membuat badannya menjadi lengket.
Selesai mandi Aris dan Gina menuju dapur. Mereka akan memakan rujak yang dibuat Aris.
"Sayang kok udah rame aja di meja makan?" tanya Gina kepada Aris yang terkejut semua keluarganya telah berkumpul di meja makan.
"Nggak tau." jawab Aris yang memang nggak tau.
Mereka berdua mendekat ke meja makan. Ternyata di atas meja sudah ada bumbu rujak, buah buahan dan berbagai asinan. Gina tersenyum melihat semua itu. Mereka berdua duduk di kursi yang kosong.
"Mi, Pi pindah ke gazebo yok Mi. Lebih enak makan disitu." ajak Gina.
"Papi setuju. Kalian angkat semua makanan jangan nyuruh maid. Apa guna ada empat pria di sini." perintah Papi.
"Jadi atuk nggak" kata Daniel yang sengaja tidak meneruskan ucapannya.
"Tulang atuk nggak kuat angkat beban itu." jawab Papi ngasal.
Mereka semua pindah ke gazebo dan menikmati rujak yang dibuat Aris dan asinan yang dibeki Gina. Mereka melakukan obrolan yang hanya mereka yang tau, author aja nggak tau apa yang mereka bicarakan
__ADS_1