
"Pi, ada apa Papi memanggil Aris ke sini? Apakah ada sesuatu yang penting Pi?" Aris mulai tidak sabaran menunggu Papi untuk bercerita tentang sesuatu hal yang membuat Papi memaksa Aris untuk datang ke Jaya Grub.
"Duduk dan tenang dulu Ris." ujar Papi sambil duduk di sofa kosong berhadapan dengan Hendri.
"Paman Hendri yang akan menjelaskan kepada kamu. Papi saja baru ingat setelah Hendri bercerita." ujar Papi sambil menatap ke Hendri untuk menceritakan semua analisanya.
"Paman" ujar Aris meminta agar Hendri langsung bercerita saja.
"Jadi gini Ris. Sebelumnya Paman minta maaf karena ikut campur dalam urusan keluarga kamu. Tapi Paman murni hanya ingin membantu saja."
"Tidak masalah Paman. Paman sudah aku anggap sebagai keluarga ku bukan orang luar lagi." jawab Aris.
"Terimakasih."
"Tadi pagi Tuan Besar menceritakan bahwasanya Gina dan Arga pergi dari rumah. Padahal dia sama sekali tidak ada bermasalah dengan kamu ataupun dengan keluarga kamu. Serta menurut Paman, Gina juga tidak akan mungkin bermasalah dengan keluarga Wijaya. Kita sama tau betapa Gina menyayangi keluarganya." papar Hendri.
"Kalau begitu menurut Paman apakah orang luar yang membuat Gina pergi dari rumah?" tanya Aris mengambil kesimpulan.
"Tentu tidak Ris. Gina sudah lama tidak ikut dalam kegiatan bisnis apapun. Jadi tidak mungkin dari luar."
"Terus Paman, jangan bikin aku makin penasaran Paman." Aris mulai tidak sabaran.
Hendri terdiam sesaat, begitu juga dengan Papi.
"Menurut hasil analisa Paman dengan Papi, Gina dan Arga pergi dari rumah utama penyebabnya adalah dari dalam rumah sendiri Ris. Gina yang sekarang adalah sosok ibu yang melindungi anaknya."
"Jadi menurut Paman ada di rumah yang tidak suka dengan Arga? Bukan dengan Gina?" Aris menatap Hendri dan Papi.
Mereka berdua mengangguk tanda setuju.
"Benar Ris. Tujuannya adalah Arga bukan Gina. Kalau Gina tujuannya sudah dari lama Gina pergi dari rumah. Sedangkan kenapa saat semua orang tau Arga autis barulah Gina pergi. Sepertinya tekanan ini sudah lama di terima Gina dan Arga. Titik puncaknya kemaren, sehingga membuat Gina memutuskan untuk menjauhkan Arga dari semuanya." ujar Hendri memberikan sedikit pencerahan kepada Aris.
Saat diskusi sedang terjadi, ponsel Aris terdengar berdiring. Ada panggilan video untuk dirinya dari para orang suruhan yang di minta untuk mencari Gina dan Arga.
"Bentar Pi, aku angkat dulu."
Aris mengangkat panggilan video tersebut. Dia berharap para anggotanya mendapatkan informasi kemana Gina dan Arga pergi. Papi dan Hendri akan menyimak panggilan video tersebut.
"Ada informasi apa yang akan kalian sampaikan." tanya Aris dengan dinginnya.
"Dari Bandara tidak ada satupun manifes keberangkatan atas nama Nyonya Muda dan Tuan Muda, Tuan." ujar orang suruhan Aris yang melacak kepergian Gina dari Bandara.
"Laporan dari pelabuhan juga sama Tuan. Tidak ada nama Nyonya Muda dan Tuan Muda"
"Dari berbagai terminal bus baik antar kota atau antar provinsi juga tidak ada nama Nyonya Muda dan Tuan Muda."
"Kami menunggu instruksi selanjutnya Tuan Muda" ujar seseorang yang ditunjuk sebagai pemimpin pencarian Gina dan Arga.
"Kalian cari disemua daerah negara ini. Berarti istri dan anak saya masih berada di negara ini." ujar Aris memberikan perintah kepada anak buahnya.
"Baik Tuan. Saya akan menyebar anggota untuk mencari Nyonya Muda dan Tuan Muda. Kami permisi dulu Tuan."
Aris mematikan panggilan telponnya. Dia kembali beralih kepada pembicaraan dengan Papi dan Paman Hendri.
"Berarti Gina dan Arga masih di negara ini Ris." ujar Papi.
"Saya akan memerintahkan anak buah saya untuk membantu pencarian Tuan Besar." ujar Hendri.
"Betul Hendri. Karena kita tau negara ini sangat luas. Nanti kamu breefing mereka semua." perintah Papi.
"Siap Tuan Besar"
"Paman kita lanjutkan yang tadi." ujar Aris yang sudah agak tenang karena tidak satupun baik bandara, pelabuhan maupun terminal yang ada nama Gina dan Aris untuk meninggalkan daerah ini.
"Apakah cctv rumah utama masih aktif Ris?" tanya Hendri.
"Sebenarnya semua sudut di rumah utama di pasang cctv cuma beberapa tahun ini ada beberapa yang rusak." jawab Aris memberitahukan kondisi cctv di rumah utama.
Papi yang kaget mendengar keadaan cctv di rumah utama menatap Aris meminta jawaban kenapa cctv bisa sampai seperti itu.
"Pi kenapa aku tidak meminta orang untuk membetulkan karena selama ini rumah kita aman Pi." ujar Aris.
"Itu salah satu keteledoran kita Ris. Seharusnya setelah tau cctv tidak aman, kamu seharusnya meminta orang untuk membetulkannua. Bukan membiarkan saja. Datang kejadian seperti ini, siapa yang mau kita salahkan kalau bukti tidak ada." ujar Papi yang kecewa mendengar jawaban dari Aris.
"Tuan Besar semoga saja cctv yang rusak itu dibagian bagian yang bisa merekam kejadian antara Gina dengan orang rumah." ujar Hendri berusaha menenangkan perasaan Paman Hendri.
"Apa cctv masih tersambung ke ponsel kamu Ris?" tanya Hendri.
"Tidak Paman, tetapi ke ponsel Bram. Tapi di komputer ruang kerja Aris tersambung." jawab Aris.
"Aris bagaimana kalau kita bertanya keadaan rumah kepada para maid kepercayaan Gina. Kamu tau kan para maid yang merupakan kepercayaan Gina?" tanya Papi yang tiba tiba teringat dengan maid. Cctv tidak bisa membantu setidaknya maid bisa membantu.
__ADS_1
"Benar Pi. Maid, kenapa tidak terpikir dari semalam ya Pi" ujar Aris sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Biasalah Ris, karena panik maka kita biasa melupakan sesuatu yang sebenarnya sangat bisa membantu."
"Mari kita pulang Ris. Kita harus menemui semua maid itu." ujar Papi.
Papi, Aris dan Hendri keluar dari ruangan kerja Papi. Mereka bertiga berjalan dengan gayanya menuju basemant kantor tempat mobil di parkir.
Sedangkan di rumah utama setelah Papi dan Aris berangkat ke kantor, Mami mulai menjalankan aksinya kembali.
"Kamu tolong panggilkan kepala pelayan, suster Arga dan juga Bik Imah ke sini jangan lupa Pak Paijo suami Bik Imah" ujar Mami yang menunggu semua orang orang yang dipanggilnya di ruang keluarga.
Maid yang diperintah itu pergi memanggil orang orang yang diminta Mami tadi. Mereka yang dipanggil berjalan bersamaan.
"Ada apa kita dipanggil Pak?" ujar Bik Imah kepada kepala pelayan.
"Sepertinya kita akan dipecat karena kita semua mengetahui permasalahan ini. Serta kita kita ini adalah orang orang kepercayaan Nyonya Gina." ujar kepala Pelayan yaitu Pak Agus.
Mereka sampai di ruang keluarga di sana sudah ada Mami duduk dengan angkuhnya.
"Kalian berempat pasti sudah tau kenapa saya memanggil kalian ke sini." ujar Mami dengan dingin dan angkuhnya.
"Sudah Nyonya Besar." jawab Pak Agus sebagai kepala pelayan.
"Berhubung kalian sudah tau. Saya tidak mau membuang buang tenaga saya untuk mengatakan kenapanya. Sekarang saya minta kalian mengemasi barang barang kalian sekarang juga dan pergi jauh jauh dari kota ini."
"Saya tidak mau kalian diketemukan oleh orang orang suruhan suami dan anak saya. Sempat kalian ditemukan maka keluarga kalian akan jadi ancamannya."
"Kalian pasti tidak tau saya sebenarnya seperti apa. Saya bukan dari keluarga kaya, saya bisa menjadi istri Tuan Soepomo karena kelicikan saya. Jadi kalau kalian mau bermain dengan saya maka saya dengan suka hati menerima permainan itu."
"Ada paham?" tanya Mami yang sudah panjang lebar bercerita.
"Paham Nyonya. Kami akan pergi jauh dari kota ini. Kami juga tidak akan kembali ke kampung halaman. Karena kami tidak akan menjadikan anggota keluarga kami korban dari ambisi Nyonya Besar." jawab Pak Agus dengan berani melawan Nyonya Besar.
"Bagus kalau kalian mengerti. Ini ambil amplop masing masing satu. Itu adalah pesangon dari saya atas kerja sama dengan keluarga ini selama bertahun tahun. Saya ucapkan terimakasih."
"Silahkan pergi" ujar Mami kemudian.
.
.
.
Gina meraih ponselnya, dia menghubungi Alex.
"Hallo Nona Muda" sapa Alex dari negara I.
"Lex, gue butuh bantuan loe"
"Apapun itu Nona" jawab Alex.
Gina kemudian menceritakan semua kejadian itu kepada Alex, bagaimana dengan kejamnya Mami mengusir para maid yang setia kepada dirinya dan Arga.
Alex yang mendengar cerita Mami menjadi geram dan marah. Dia sangat kesal kepada Mami.
"Baik Nona, saya akan menjemput semua maid itu dan membawanya ke rumah. Mereka tidak akan bisa diketemukan oleh siapapun." ujar Alex
"Terimakasih Alex. Saya ingin saya yang mengungkap semua kebiadapan Nonya Soepomo kepada Papi dan Aris dengan perlahan." ujar Gina.
"Nona sebagai informasi. Saya sudah mulai menarik beberapa saham kita dari perusahaan Jaya Grub. Sepertinya perusahaan tersebut masih belum oleng." ujar Alex melaporkan tentang perusahaan Jaya.
"Kamu dekati Tuan Iwan dari perusahaan Y, mereka akan oleng itu. Nanti siapa lagi yang harus loe dekati akan gue instruksikan." ujar Gina.
"Baik Nona Muda. Saya berangkat dulu menjemput para Maid."
"Setelah bertemu. Saya akan video call agar mereka mau pergi dengan kamu Alex. Saya sangat tau mereka tidak akan mudah percaya dengan orang luar setelah kejadian pengancaman dari Nyonya Soepomo."
Gina mematikan ponselnya. Alex langsung berangkat menjemput orang orang yang setia dengan Gina.
Alex menunggu mereka di halte dekat komplek rumah keluarga Soepomo. Alex keluar dari mobilnya.
"Maaf Pak Ibuk. Saya adalah orang suruhan Nyonya Gina. Saya diminta untuk menjemput anda semua." ujar Alex.
"Maaf Tuan. Kami tidak percaya dengan Anda." ucap Pak Agus. Pak Agus merupakan salah satu Maid yang sangat cerdas. Dia sangat bisa diandalkan. Begitu juga dengan Pak Paijo.
Alex melakukan panggilan video dengan Gina. Benar apa yang dikatakan oleh Gina. Mereka bukan orang biasa.
"Nona, saya sudah bertemu dengan orang orang Nona. Tetapi mereka tidak percaya dengan saya." ujar Alex
Alex melihat Gina memberikan kode. Dia mengarahkan kamera ponselnya kepada para maid yang berdiri di halte.
__ADS_1
"Nyonya Muda" teriak Bik Imah yang sangat senang melihat Nyonya mudanya.
"Hay Bik Imah. Bik Imah dengan yang lainnya ikut dengan Alex ya. Dia orang saya. Dia akan menjaga Bik Imah dan yang lainnya. Maafkan saya karena saya kalian kehilangan pekerjaan. Tetapi yakinlah saat saya kembali ke negara I. Kalian akan kembali bekerja dengan saya." ujar Gina sambil tersenyum kepada semua maidnya.
"Baik Nyonya, kami akan ikut dengan Tuan itu" ujar Pak Agus yang mengambil keputusan untuk rekan rekannya.
"Terimakasih Pak Agus. Kalian percaya saja kepada Alex. Dia sangat baik. Tampang aja yang kejam dan dingin." ujar Gina.
Mereka semua akhirnya naik ke mobil Alex. Alex mengantarkan mereka ke rumah peristirahatan milik Gina yang jauh dari keramaian kota.
.
.
.
Papi, Aris dan Hendri sampai di rumah utama. Mereka langsung masuk ke dalam ruangan kerja Aris. Mami yang melihat hanya membiarkan saja.
Aris membuka laptopnya. Dia langsung masuk kedalam data base cctv. Betapa terkejutnya Aris saat melihat semuanya.
"Pi, sepertinya semua cctv sudah rusak Pi." ujar Aris dengan lemasnya.
Hendri keluar dari ruangan. Dia ke gudang mengambil tangga untuk melihat keadaan cctv di salah satu ruangan.
Papi dan Aris mengikuti paman Hendri. Paman Hendri memanjat tangga. Dia mengambil salah satu kamera cctv dan membawa turun.
Paman Hendri mulai memeriksa cctv tersebut. Selesai memeriksa wajah paman Hendri berubah. Dia terlihat sangat marah saat melihat keadaan cctv di rumah utama.
"Ada apa Hen?" tanya Papi.
"Semua cctv sepertinya sengaja di rusakTuan Besar. Kabel memang tidak di potong tetapi kamera yang mereka rusak." ujar Paman Hendri.
"Benar benar ini pelaku."
Aris keluar dari ruangan kerjanya. Dia bermaksud untuk mencari Pak Agus.
"Pak Agus" teriak Aris.
Mami yang sedang pura pura memasak di dapur berjalan mendekati Aris.
"Mami melihat Pak Agus?"
"Oh Pak Agus, Bik Imah, Pak Paijo dan suster Arga tadi minta berhenti Aris. Mereka berencana pulang ke kampung." ujar Mami.
"Kenapa mendadak Mi?" tanya Aris.
Papi dan Hendri keluar dari ruangan Aris. Mereka kaget mendengar info itu.
"Kata mereka, mereka tidak mau lagi bekerja di sini karena sudah tidak ada Gina lagi. Kata mereka, mereka akan kembali ke kampung untuk bekerja menjadi petani." ujar Mami sambil pura pura mengusap air matanya
Papi dan Hendri saling tatap penuh kecurigaan.
"Baiklah Mi. Makasi infonya." ujar Aris.
Mereka bertiga kembali ke dalam ruang kerja Aris.
"Kenapa mendadak mundur ya Pi?"
"Sepertinya ada yang aneh. Kita harus cari mereka." ujar Papi.
Hendri mengubungi orang kepercayaannya. Mereka di minta untuk mencari empat orang maid itu. Hendri mengirimkan ke empat fhoto maid.
"Tenang Tuan Besar, saya sudah menyebar semua anggota untuk mencari keberadaan empat orang maid itu." ujar Hendri.
Mami yang menguping lewat celah pintu yang tidak tertutup rapat hanya bisa tersenyum.
"Kalian tidak akan bisa menemukan mereka. Hahahaha" ujar Mami tertawa dengan perlahan.
Mami kembali ke dapur. Dia akan kembali berakting sebagai Mami yang sayang dan perhatian kepada keluarga. Sebenarnya Mami baik tetapi Mami malu punya cucu seperti Arga.
Mereka bertiga kemudian keluar dari ruang kerja Aris. Mereka akan kembali ke perusahaan masing masing. Mereka merasa tidak ada lagi yang harus dibicarakan lagi. Saat berjalan keluar itu Hendri melihat sesuatu yang aneh di dekat cctv ruang tamu. Hendri lama berhemti di sana. Papi dan Aris yang melihat Hendri yang berhenti, mereka juga berhenti.
....................................................
Apa yang dilihat oleh Hendri????
Bagaimana cara Gina mengungkap kebusukan Mami dan Bagaimana cara Arga menghancurkan Soepomo dan Bramantya Grub.
Staycun terus ya kakak.
Maaf kadang kadang membuat Kakak kakak pembaca menjadi emosi.
__ADS_1
Maaf juga karena terlalu panjang dan ribet alurnya.