
Tiga bulan berlalu semenjak Sari sudah kembali sadar dari koma yang dialaminya. Kini kondisinya sudah seperti semula kembali. Sari sudah bisa beraktifitas seperti sedia kala sebelum dia mengalami kecelakaan tragis yang membuat dia koma begitu lama.
Hubungan Ayah Hans dengan Bram sudah kembali mencair berkat Sari yang paham dengan semua penjelasan yang diberikan oleh Bram. Mertua dan Menantu itu sudah bisa duduk bersama kembali. Tidak ada yang saling diam diaman. Biasanya satu datang satu pergi, sekarang sudah tidak.
Dua keturunan keluarga Soepomo dan Wijaya juga sudah besar dan sudah bisa diajak kemana mana untuk traveling. Mereka berdua bayi laki laki sehat yang tumbuh dengan cepat.
"Bunda, kapan kitas pergi raun ke daerah yang dikatakan Mami Mira?" ujae Argha saat seluruh keluarga besar sedang sarapan untuk memulai hari hari mereka yang akan sibuk karena begitu banyaknya aktifitas.
"Argha mau kapan?" ujar Sari yang kali ini menjawab pertanyaan Argha.
"Lusa gimana mamim?" Argha mengajukan hari keberangkatan mereka ke daerah itu.
"Tanya Papi sama Daddy. Kalau Mamin setuju setuju aja." jawab Sari yang memang juga sudah sangat lama ingin pergi jalan jalan ke tempat yang dikatakan Mira. Sepertinya tempat itu sangat bagus untuk mereka refresing dan relaksasi.
"Papi setuju." ujar Bram yang memang pekerjaannya sudah bisa di bantu sekretarisnya.
"Daddy?" ujar Argha menatap Daddynya yang terlihat panik dan seperti tidak bisa pergi itu.
Aris sengaja diam tidak menjawab pertanyaan Argha.
"Daddy nggak bisa lusa ya?" ujar Argha yang mulai bisa membaca arti diam Daddynya itu.
"Oke mundur aja. Kerja Daddykan lebih penting." jawab Argha yang langsung kehilangan nafsu makannya.
Ghina menendang kaki suaminya itu. Ghina sudah tau kalau kerjaan kantor Aris sudah tidak banyak dan bisa dihandle oleh para manager. Ghina yakin kalau Aris sedang ingin mengerjai anaknya itu.
"Frenya juga nggak bisa?" tanya Argha yang tidak lagi menanyakan orang bisa pergi.
"Uni selalu bisa untuk Argha. Apapun itu." jawab Frenya yang sebenarnya masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Tapi melihat Argha yang bersedih membuat Frenya tidak kuasa menjawab dengan kata tidak.
"Argha," panggil Aris.
Argha menatap sekilas dengan tatapan mengandung duka, tetapi Argha berusaha menutupinya.
"Apa Daddy?" ujar Argha.
"Daddy bisa pergi. Untuk anak Daddy ngapain Daddy harus mengatakan tidak hanya demi pekerjaan. Nggak ada di kamus Daddy." ujar Aris sambil memeluk anaknya dari belakang kursi makan.
"Wow. Argha suka itu Daddy. Argha sayang Daddy." ujar Argha yang kembali bersemangat karena semua anggota keluarganya bisa berangkat.
"Mami Mira dan Bree serta keluarga yang lain juga bisa pergi Gha. Argha seneng nggak?" kata Ghina yang memang sudah mengkonfirmasi keberangkatan semua anggota keluarga besarnya.
"Bunda bawa om Ivan, om Jero, om Bimo dan Om Felix ya serta jangan lupa om Juan dan om Alex." kata Argha yang nggak lupa dengan para asistennya itu.
"Tanya mereka aja, mereka mau atau tidak." ujar Ghina sambil menatap para asisten yang juga sedang sarapan dengan mereka hari ini.
"Om semua ikut ya sama Argha pergi main. Kita main bola sama mancing." ujar Argha mengajak semua asisten untuk pergi menemani dirinya ke tempat itu.
"Oke. Kami akan ikut. Kalau boleh tau berapa hari ya Tuan Muda?" tanya Alex.
"Lima hari." ujar Argha.
Semua anggota keluarga menatap Argha tidak percaya. Mereka akan pergi selama lima hari. Argha kalau udah libur pasti akan selalu lama. Apalagi nanti akan ada pantai, tempat yang paling di sukai oleh Argha.
"Daddy sama yang lain haris setuju kita pergi lima hari. Nggak ada bantahan. Kalau ada kerja, kerjakan dari sana." ujar Argha dengan nada final.
"Oke oke. Lima hari nggak kurang, lebih bisa." ujar Papi.
"Kalau ada kerja maka diurus dari sana saja. Kalau mereka tetap ingin bertemu batalkan. Kita butuh orang yang paham dengan kita. Bukan kita yang harus mereka atur atur." lanjut Papi.
Kalau sudah Tuan Besar Soepomo yang berbicara maka tidak akan ada yang bisa melawan dan membantahnya lagi.
"Argha cinta atuk papi." ujar Argha bersorak bahagia. Dia mendapatkan dekingan dari Atuknya.
"Hem kalau setuju aja dengan yang dia mau, maka katanya Argha cinta Atuk Papi. Coba kalau ndak mana ada ngomong gitu." ujar Papi sambil memonyongkan mulutnya.
"Hahahahaha, jadilah dari pada ndak Argha bilang tuk." kata Argha sambil memandang Atuknya.
"Udah udah nggak akan pergi kerja sama sekolah ngota aja terus" kata Ghina yang membuyarkan ota semua orang itu.
"Iyalah Bun, masak ndak sekolah. Argha ini mau jadi CEO yang paling keren dan pintar. Kalau sering libur mana akan jadi pintar." kata Argha lagi sambil menyandang tasnya.
"Katanya nggak mau libur, eeeee sekarang malah minta untuk liburan lima hari. Gimana cobak." kata Ghina menyindir Argha dengan ucapannya sendiri.
"Eee kalau itu dihadang pula nanti tuh." jawab Argha sambil tersenyum.
__ADS_1
"Yayayayaya. Terserah Argha. Argha yang punya." jawab Ghina.
Mereka semua pergi menuju tempat aktifitas masing masing. Mereka harus kerja keras hari ini karena mulai lusa sampai lima hari kedepan mereka akan benar benar tidak bekerja. Mereka akan liburan. Menikmati semua uang yang mereka cari selama ini.
Ghina setelah memastikan semua anggota keluarganya pergi bekerja, dia kembali masuk ke dalam rumah. Dia berencana mau ke kantor pusat GA Grub.
Dret dret dret, bunyi ponsel milik Ghina bergetar hebat. Ghina melihat ternyata Mira yang menghubunginya.
"Apa Mir?" ujar Mira sambil menyisir rambutnya.
"Loe di rumah?"
"Sekarang iya. Tapi bentar lagi mau ke GA Grub. Ada apa?" tanya Ghina yang penasaran kenapa Mira menghubunginya.
"Ikut boleh ya. Gue gabut." ujar Mira.
"Emang loe nggak ke perusahaan?" ujar Ghina.
"Nggak males." jawab Mira.
"Loe ikut gue mau?" Ghina memberikan solusi untuk menghilangkan kegabutan Mira.
"Mau." ujar Mira dengan semangat.
"Sekalian kita bahas untuk pergi lusa. Loe kan ada ada aja yang mau loe omongin ke Argha. Tu pagi tadi dia heboh." ujar Ghina yang akhirnya sambil menelpon tetap bisa juga menyelesaikan riasan wajahnya.
"Gue jemput ke rumah loe atau loe ke sini langsung?" ujar Ghina.
"Loe jemput gue. Males gue naik budgy" jawab Mira yang ntah kenapa akhir akhir ini banyak malesnya.
"Sip Nyonya pemalas." ujar Ghina.
Ghina kemudian turun ke lantai satu rumahnya. Dia melihat suster sedang bermain dengan anak Daniel.
"Hay cucu memim, memim pergi dulu ya. Hati hati di rumah, lusa kita liburan." ujar Ghina sambil menggendong cucunya yang sudah berusia lima bulan itu.
Ghina kemudian naik ke atas mobil miliknya, dia melajukan mobil ke rumah Bayu dan Mira yang hanya berjarak seratus meter dari rumah utama.
Tin tin tin, Ghina malas masuk ke dalam perkarangan rumah Mira. Padahal rumah itu tidak memiliki pagar sama sekali. Mira yang mendengar suara klakson mobil berjalan keluar. Dia melihat Ghina yang melambaikan tangannya.
"Sini. Gue mager jalan." teriak Mira lagi.
Mira berdiri di tangga rumahnya. Ghina juga melakukan hal yang sama. Mereka sama sama keras hati nggak ada yang mau mengalah. Akhirnya Mira juga yang harus mengalah. Dia pergi menemui Ghina yang asik memainkan ponselnya di atas mobil.
"Pelit" ujar Mira.
"Gila aja loe gue harus jemput loe ke sana. Jarak cuma sepuluh meter." ujar Ghina sambil menahan tawanya. Dia sengaja melakukan hal itu untuk membuat Mira menjadi kesal sendiri.
"Yayayayaya. Gue tau kenapa." ujar Mira lagi.
"Jalan." ujar Mira dengan perintahnya.
"Siap bos."
Ghina melajukan mobilnya menuju kantor utama GA Grub. Ghina hanya ingin melihat apakah ada yang harus ditambah pembangunannya di GA Grub atau udah cukup hanya segitu saja.
Setelah melajukan mobil selama empat puluh lima menit. Mobil suv merah marron itu masuk kedalam parkiran GA Grub. Ghina melihat ada mobil Frenya dan Steven di sana.
Ghina dan Mira masuk ke dalam kantor utama itu. Semua karyawan menunduk saat melihat Ghina dan Mira. Mereka tau kedua orang itu siapa.
Tok tok tok. Ghina mengetuk pintu ruangan Frenya. Frenya dan Steven yang sedang diskusi kaget dengan kedatangan tamu. Apalagi sekretaris Frenya tidak melaporkan apapun. Frenya membuka pintu ruangannya.
"Bunda" ujar Frenya kaget.
"Hehehehe. Maaf datang nggak ngomong ngomong." ujar Ghina sambil duduk di sofa.
Mira duduk di sebelah Ghina.
"Ada perlu apa Bun?" tanya Frenya lagi.
"Nggak ada. Gabut juga nggak ada kerjaan ternyata. Jadi, mending ke sini." jawab Ghina.
"Hahaha. Ada ada aja Bun"
"Steven lusa kita akan pergi jalan jalan. Kamu juga ikut. Nggak ada alasan. Perusahaan tinggal aja." kata Ghina.
__ADS_1
"Bunda aneh. Tentu Steven ikut, emang siapa yang mau nerbangin pesawat nanti?" kata Frenya.
"Bener juga ya." jawab Ghina.
"Mir. Kita gangguin Sari ajalah. Males di sini. Ada yang lagi pacaran sambil cari duit." ujar Ghina membawa Mira pergi dari sana.
"Setuju"
"Dari tadilah Bun" ujar Frenya.
"Ye"
Ghina dan Mira pergi meninggalkan GA Grub. Mereka menuju kantor Wijaya Grub tempat Sari bekerja. Sari masih setia menjadi manager keuangan di Wijaya Grub.
Ghina melajukan mobil dengan pelan hal ini dikarenakan, karena kantor utama GA Grub berdekatan dengan kantor Wijaya Grub. Hanya dibatasi pagar tinggi saja.
Ghina dan Mira langsung menuju lantai dimana Sari berada. Semua karyawan Wijaya Grub menundukkan kepala saat Ghina dan Mira lewat. Mereka sangat kenal sekali dengan dua orang itu.
"Sari" teriak Mira saat dia membuka pintu ruangan kerja Sari. Tapi betapa malunya Mira karena di dalam ada dua orang karyawan yang sedang berdiskusi dengan Sari.
"Makanya jangan gesrek." ujar Ghina.
Mira tersenyum saja mendengar apa yang dikatakan oleh Ghina. Dia memang sakah karena langsung saja berteriak saat membuka pintu ruangan Sari.
"Oke kerjakan sesuai dengan perintah saya tadi ya." ujar Sari.
Kedua karyawan Sari keluar dari ruangan. Ghina dan Mira masuk saat kedua karyawan itu pergi. Kedua karyawan susah menahan tawanya saat melihat Mira.
"Wah sepertinya loe akan viral dikalangan karyawan Mir." ujar Ghina sambil menyenggol pundak Mira.
"Ye" jawab Mira.
"Ada apa tumben ke sini?" tanya Sari.
"Ngemall yuk sekalian cari baju renang untuk Argha dan Bree." ujar Ghina.
"Wah setuju. Gue udah lama nggak ngemall." ujar Sari.
Sari menyusun barang barangnya. Tak lupa dia mengirim pesan ke suaminya kalau dia akan ke mall dengan Ghina dan Mira, terus pulang juga sama Ghina.
Mereka bertiga keluar dari perusahaan Wijaya Grub. Sebelumnya Ghina mampir ke ruangan Afdhal menyampaikan kalau mereka akan ikut serta jalan jalan lusa. Afdhal setuju dan akan menyampaikan kepada Anggel dan Ayah nanti di rumah.
Ghina dan ketiga sahabatnya menuju mall. Mereka akan berbelanja layaknya istrki CEO CEO yang berbelanja tidak melihat harga. Melainkan hajar saja apa yang dimaui.
"Kita pakai atm suami kita aja ya. Kapan lagi ngabisin uang mereka." ujar Ghina memiliki ide di kepalanya.
"Setuju." ujar Mira dan Sari kompak.
Ghina dan kedua sahabatnya mulai masuk kedalam toko toko breanded yang ada di mall. Setiap keluar toko mereka akan membawa dua paperbag masing masingnya. Mereka benar benar berbelanja gilak gilakan.
Aris dan Bram yang sedang berada di kafe Bayu menatap ponsel mereka masing masing. Aris menatap lama ponsel miliknya. Bram juga melakukan hal yang sama. Bayi yang baru datang juga menatap ponsel miliknya.
"Loe datang juga Bram?" tanya Aris.
"Iya" jawab Bram sambil memperlihatkan notifikasi dari bank yang masuk ke dalam ponselnya.
"Gue juga dapat" ujar Bayu.
Mereka bertiga tertawa terbahak bahak.
"Akhirnya mereka make uang kita juga untuk belanja. Tapi ini luar biasa. Udah empat tempat dengan nominal yah yah dan yah." ujar Aris.
"Kok bisa sama ya. Gue juga empat. Kayaknya mereka nanti akan pakai pakaian yang sama." ujar Bayu.
"Hahahahaa. Biarkan ajalah. Mereka udah belanja kita panik. Mereka nggak belanja kita juga panik. Maunya apa coba." jawab Bram yang memang udah berkali kali meminta Sari untuk memakai cradit card mikiknya.
"Jadi besok pergi dengan pesawat baru milik GA trans?" ujar Bayu.
"Yup. Sepertinya Frenya yakin dengan GA Trans nya. Jadi kami mendukung aja." jawab Aris.
Mereka kemudian melanjutkan obrolan ringan ala CEO. Mereka sama sekali tidak membahas tentang perjanjian bisnis yang akan mereka lakukan ke depannya.
Sedangkan tiga istri CEO itu sudah selesai berbelanja. Jero dan Felix serta Juan yang akhirnya mengikuti mereka hanya bisa geleng geleng kepala saja.
"Mereka pas gesrek ngeri juga ya. Berapa kali bunyi notif dari bank masuk ke rekening mereka itu." ujar Jero.
__ADS_1
"Jangan pikirkan apapun. Biarkan aja. Masuk banyak juga itu. Keluarnya nggak seberapa." ujar Jero yang tau berapa pemasukan GA Grub seharinya.
Ketiga asisten itu juga ketiban bahagia. Mereka juga mendapatkan traktiran dari para Nyonya Nyonya CEO itu.