Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Gagal Lagi


__ADS_3

Jam kantor akhirnya selesai, Aris di bantu Gina merapikan semua dokumen dokumen yang berserakan di atas meja kerja Aris.


"Yuk sayang kita ke mall" kata Aris sambil memeluk pinggang Gina.


"Malez sayang langsung pulang aja ke rumah Nana. Aku udah kangen Nana" kata Gina sambil menatap Aris.


"Oke"


Aris dan Gina berjalan keluar ruangan Aris. Gina melihat Vina yang juga sudah siap untuk pulang.


"Vin, mau pulang?" tanya Gina.


"Ia nyonya, ada yang bisa saya bantu nyonya?"


"Nggak ada. Ayuk bareng kami aja turun." kata Gina mengajak Vina untuk sama turun ke basmen kantor.


"Makasih Nyonya" kata Vina.


Vina masuk terlebih dahulu. Sedangkan Gina dan Aris berdiri di depan Vina.


Gina kemudian memegang muka Aris. Dia mencium bibir Aris dengan begitu rakusnya. Aris yang kalau sudah dicium Gina akan melupakan orang yang berada di sekitar mereka. Aris membalas ciuman Gina tak kalah hotnya. Aris memegang tengkuk Gina. Tangannya mulai meraba payudara Gina.


"Sayang ada Vina" kata Gina menatap Vina yang sudah berdiri di sudut lift.


Aris melepaskan tangannya dari payudara Gina. Aris menatap sekilas ke arah Vina. Vina membalas tatapan Aris dengan tatapan membunuh. Gina mengamati semua itu dengan senyuman. Dia sungguh menikmati permainan ini.


"Aris, Vina kalian jangan harap gue akan frontal menghadapi kalian. Tidak itu salah tidak elegant. Aku akan membuat kalian sendirilah yang memperlihatkan ke orang banyak perselingkuhan yang kalian mainkan di belakangku" kata Gina di dalam hatinya. Gina memeluk tangan Aris terus. Kepalanya di sandarkan di pundak Aris.


Tak berapa lama, lift berhenti di basment kantor. Gina kemudian masuk ke dalam mobil. Sedangkan Aris masuk terakhir. Dia melihat Vina yang pergi dalam keadaan marah.


"Sayang" kata Gina yang sengaja baru memanggil Aris saat Aris siap melepas Vina pulang.


"Romantis" kata Gina dengan senyum mengejeknya.


"Romantis apaan?" tanya Aris.


"Nggak ada. Romantis aja"


"Sayang, dari tadi kamu ngomong nggak jelas aja. Ada apa ini?" tanya Aris yang mulai tersulut emosinya.


"Oh masih nanyak ada apa? Maka jawabannya nggak ada apa apa" balas Gina dengan dinginnya.


"Jalan pulang. Kita tidak usah ke rumah Nana. Aku mau kembali ke rumah aja" lanjut Gina.


"Kita ke rumah Nana. Tadi ayah nelpon, mereka sudah menunggu kita di rumah" jawab Aris.


Gina tidak menjawab perkataan dari Aris. Gina melihat pemandangan ibu kota yang sudah seperti hutan beton saja. Gina tidak menghiraukan.Aris yang dari tadi berusaha melihat ke arah Gina. Gina benar benar muak dengan ini semua. Ingin rasanya Gina mengeluarkan marahnya, tetapi bukti yang jelas dia sama sekali tidak punya. Tanpa Gina sadari Aris sudah membelokkan mobilnya ke gerbang besar rumah utama keluarga Wijaya. Aris memarkir mobilnya di tempat parkir utama. Gina dan Aris turun dari mobil, Gina langsung menggandeng tangan Aris. Gina tidak mau semua orang tau kalau dia sedang bermasalah dengan Aris. Aris saja merasa tidak ada masalah dengan Gina.


"Sayang" kata Nana melihat Gina.


"Nana" balas Gina.


Nana dan Gina langsung berpelukan. Mereka seperti sudah lama tidak bertemu.


"Lebay. Padahal baru minggu kemaren bertemu. Ini kayak udah bertahun tahun tidak ketemu" kata Afdhal.


"Sirik Uda? Makanya nikah. Tapi kalau uda nikah tinggal tetap di sini juga. Nggak usah nikah aja uda. Sakit kalau di duakan" kata Gina sambil melirik Aris. Aris yang mendengar perkataan Gina langsung terperanjat.


"Kok ngomong gitu sayang?" kata Nana melihat mata Gina.


"Apa Aris mendua sayang?" lanjut Nana.

__ADS_1


"Tidak Nana. Uda Aris tipe setia, mana mungkin dia mendua" kata Gina sambil menatap mata Aris dengan tatapan penuh rasa kecewa.


"Nana, mana mungkin menantu kita akan mendua. Gina udah seperti ini. Kalau memang Aris mencari lagi di luar, berarti anak kita tidak sempurna dan ada kesalahan pada diri Gina" kata Ayah menimpali Nana.


"Udahlah kok bahas ini. Yang jelas nggak ada yang mendua. Itu yang paling penting" kata Gina menatap Aris.


Tiba tina ponsel Aris berdering. Gina melihat Aris. Aris mengangkat telpon tersebut dan memasangbspekernya agar terdengar oleh Gina.


"Hallo Tuan Alex"


"Tuan Aris. Anda sekarang dimana?"


"Saya sedang di rumah mertua saya tuan. Ada perlu apa Tuan?"


"Saya mau membahas tentang masalah proyek kita yang sempat tertunda kemaren Tuan Aris"


Aris melihat Gina. Gina kemudian mengangguk, tanda membolehkan Aris untuk pergi.


"Baiklah Tuan Alex, kita bertemu di restoran X. Anda saya tunggu di sana" kata Aris.


Aris mematikan ponselnya, dan memasukkan ponsel itu kembali ke dalam saku jasnya.


"Kamu ikut sayang?" kata Aris kepada Gina.


"Nggak usah kamu aja" jawab Gina.


"Baiklah, habis dari meeting aku akan langsung pulang"


"Hm" jawab Gina.


Gina kemudian mengantar Aris sampai ke mobilnya.


"Aku jalan dulu"


Aris melajukan mobilnya menuju restoran X. Dia harus cepat menyelesaikan meeting ini. Barulah setelah itu dia akan bertemu dengan Vina.


✉️ Aris


Sayang, aku mau kamu ke kafe Z dan booking satu ruangan khusus untuk kita berdua.


✉️ Vina


Serius sayang. Oke aku pergi sekarang.


✉️ Aris.


Aku akan datang setelah meeting. Aku akan berusaha dengan cepat menyelesaikan meeting itu sayang


✉️ Vina


Siap


Vina langsung menukar bajunya dengan yang seksi. Dia tidak ingin Aris kecewa dengan penampilannya hari ini. Vina berdandan dengan sangat cantik. Vina tau Aris tidak suka dengan riasan yang mencolok, makanya Vina merias wajahnya dengan riasan natural.


"Selesai" kata Vina melihat pantulan dirinya di depan cermin.


Vina kemudian pergi ke kafe Z yang diminta Aris tadi. Vina memboking satu ruangan untuk dirinya dan Aris nanti. Vina tidak ingin kesempatan ini kembali gagal.


Aris yang telah sampai di restoran X menunggu Tuan Alex. Tuan Alex datang lima belas menit setelah Aris menunggu.


"Maaf Tuan Aris, anda terpaksa menunggu saya." kata Tuan Alex.

__ADS_1


"Oh tidak apa apa Tuan Alex. Bisa kita mulai sekarang"


Aris dan Tuan Alex mulai membahas tentang kerja sama yang akan dilakukan oleh dua perusahaan besar itu. Mereka mendiskusikan sesuatunya dengan sangat rinci. Tak terasa meeting yang direncanakan Aris hanya selama satu jam jadi molor sampai tiga jam.


"Senang bekerja sama dengan anda Tuan Aris"


"Sama sama Tuan Alex. Saya juga senang bekerja sama dengan perusahaan Anda" Aris menjabat tangan Tuan Alex.


"Saya permisi dulu" kata Tuan Alex.


Tuan Alex ke luar dari restoran. Aris juga melangkahkan kakinya keluar restoran.


✉️ Alex


Nona Muda, Tuan Muda sudah selesai meeting dengan saya


✉️ Gina


Siap Alex, kamu iringi terus


Aris kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak mau Vina menunggunya dengan lama. Aris paham Vina marah ke dia, makanya Aris berniat untuk meminta maaf kepada Vina.


"Nona, Tuan Aris sepertinya akan ke kafe Z"


"Terimakasih Alex. Kamu pantau terus"


Aris kemudian masuk ke dalam room yang dipesan oleh Vina. Vina yang sudah ingin tertidur langsung bersemangat kembali saat mendengar suara orang yang dirinduinya.


"Sayang" kata Aris sambil masuk ke dalam room.


Vina yang melihat Aris langsung berdiri dan memeluk Aris.


"Sayang kangen" kata Vina.


"Kan tadi pagi ketemu sayang" kata Aris sambil menjawil hidung Vina.


"Ketemu iya. Tapi nggak bisa nyentuh kamu. Mana asik. Ditambah seharian ini istri kamu kayak prangko" kata Vina sambil memajukan bibirnya.


Aris mengecup bibir Vina.


"Dilarang cemberut" kata Aris.


Vina kemudian tersenyum dengan cantiknya. Tiba tiba ponsel Aris berdering. Aris melihat ponselnya, Nana yang menelpon Aris.


"Hallo Nana?"


"Aris, kamu harus ke rumah sakit sekarang. Gina masuk rumah sakit" kata Nana dengan paniknya.


"Gina sakit apa Na? Tadi ditinggal masih sehat" kata Aris mulai panik.


"Tadi Gina turun dari tangga. Tiba tiba ntah kenapa Gina jatuh Aris."


"Jatuh dari tangga?" Aris langsung panik.


Aris menyambar kunci mobilnya. Dia langsung meninggalkan Vina sendirian di room. Aris tidak ingat untuk pamit dengan Vina. Dalam pikiran Aris di dominasi oleh nama Gina istrinya. Aris takut terjadi hal buruk kepada Gina. Aris melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia harus memastikan kondisi Gina. Apabila terjadi sesuatu kepada Gina maka Aris akan sangat menyesal. Aris sampai dalam waktu tiga puluh menit saja.


Vina yang ditinggal Aris begitu saja di room berteriak teriak seperti orang gila.


"Aris kurang ajar. Loe bener bener buat gue marah Aris. Loe akan terima akibatnya Aris. Gue nggak terima loe ginikan. Gue akan buat peritungan dengan loe" kata Vina.


Vina kemudian keluar dari room dan membayar tagihan room itu dengan uangnya. Vina kemudian naik ke taksi yang sudah menunggunya.

__ADS_1


"Aris sialan. Gina sialan. Lihat saja kamu Gina, Aris akan jadi milik ku" kata Vina.


__ADS_2