Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Petak Umpet Sederhana


__ADS_3

Aris hari ini ada sebuah meeting di restoran ternama milik Wijaya Grup. Meeting hari ini merupakan meeting penting yang diadakan dengan salah satu perusahaan yang sedang berkembang dengan pesat. Perusahaan yang dipimpin oleh seorang pengusaha muda. Sepak terjang pengusaha muda itu telah diakui pebisnis di nehara I. Makanya saat datang proposal kerjasama dari perusahaan tersebut Aris sangat bersemangat untuk melakukan pertemuan dengan pemuda yang menjadi buah bibir para pengusaha.


Aris langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kantor utama perusahaan Soepomo Grub. Tidak butuh waktu lama Aris sudah sampai di kantornya. Aris memarkirkan mobilnya diparkiran khusus presdir perusahaan. Aris langsung naik ke ruangannya memakai lift khusus petinggi perusahaan. Setelah sampai di lantai dua puluh ruangannya Aris langsung melangkah menuju ruangan kerjanya. Aris sudah ditunggu Bram yang sudah memegang proposal yang akan mereka bijarakan nanti.


Aris melangkah masuk ke dalam ruangannya diikuti oleh Bram.


"Gimana Bram?"


"Sepertinya perusahaan itu memang sesuai dengan dikatakan pebisnis lain Tuan. Pemuda itu sangat kompeten dan ambisius."


"Oke. Proposal yang telah kamu baca, apa memang kita membutuhkan kerjasama dengan perusahaan itu?"


"Menurut saya, hubungan kerjasama ini akan membawa dampak yang bagus untuk perusahaan kita Tuan. Kita bisa memperlebar sayap bisnis kita dengan masuk ke dalam cemilan masa kini." beber Bram dengan antusias.


"Baiklah Bram. Jam berapa kita akan meeting?"


"Jam sepuluh Tuan di restoran Delarosa milik Tuan Wijaya."


Sebelum waktu meeting mereka tiba, Aris membaca dokumen-dokumen yang sudah berada di atas mejanya. Aris hanya membaca yang sudah dikoreksi oleh Bram. Aris sangat percaya dengan analisa Bram yang selama ini tidak pernah meleset sedikitpun. Analisa Bram membawa perusahaan ini menjadi perusahaan yang maju dan berkembang. Kinerja dua pria tampan ini sudah tidak perlu diragukan lagi. Perusahaan manapun yang menjalin kerjasama dengan mereka akan meraih kesuksesan.


Tidak terasa jarum jam sudah menunjuk ke angka sembilan. Aris mengambil jasnya dan memasang dengan rapi. Dia berjalan kearah ruangan Bram.


"Bram. Kita jalan."


Bram langsung membetulkan letak jasnya. Bram memgikuti langkah Aris masuk kedalam lift. Sesampai di lobby kantor, Bram langsung menuju parkiran dan mengambil mobil yang dipakai Aris tadi pagi. Bram kemudian melajukan mobil dalam kecepatan sedang menuju restoran Delarosa tempat meeting dilakukan hari ini.


"Ris, gimana dengan perkembangan Gina?" Bram membuka percakapan ringan saja, karena jarak kantor dengan restoran tidak begitu jauh.


"Sepertinya sudah menuju titik terang Bram. Kemaren anak buah yang mengikuti Gina melihat Gina masuk kedalam sebuah rumah elit dengan penjagaan yang cukup ketat."


"Wah. Apakah dia anak dari seorang pengusaha sukses Ris?"


"Bisa jadi Bram. Gue berencana akan melihat langsung rumahnya. Siapa tau di depan rumahnya ada logo salah satu perusahaan."


"Apa anak buah kita tidak bisa melihat logo itu?"


"Mereka tidak bisa mendekati gerbang utama rumah Bram. Mereka hanya sampai sebatas gank kecil saja. Untuk masuk kedalam harus ada persetujuan pemilik rumah."


"Wah gile bener tuh penjagaan rumah." Bram geleng-geleng kepala. Penjagaan rumah itu lebih ketat dibandingkan penjagaan rumah keluarga Soepomo.


Tidak terasa mobil yang dikemudikan oleh Bram sudah sampai di restoran Delarosa. Aris dan Bram berjalan masuk ke dalam restoran tersebut.

__ADS_1


"Maaf Tuan apakah sudah reservasi?" tanya Pelayan.


"Kami akan menemui Tuan Rama dari Perusahan RM Grub." Jawab Bram.


"Oh maafkan saya Tuan. Tuan dari perusahaan Soepomo?" tanya Pelayan. Untung pelayan itu pria kalau wanita maka Bram akan kembali meluhat tatapan memuja kepada dirinya kembali. Bram menganggukkan kepalanya.


"Silahkan Tuan. Tuan sudah ditunggu di ruangan VIP nomor 2. Silahkan ikuti saya." Pelayan pria itu berjalan mendahului Aris dan Bram.


"Silahkan masuk Tuan." Pelayan membukakan pintu ruangan untuk Aris dan Bram.


Pebisnis muda yang sedang naik daun itu langsung berdiri saat melihat Aris dan Bram melangkah masuk.


"Silahkan duduk Tuan Aris dan Tuan Bram." kata Rama sopan.


"Terimakasih Tuan Rama." Aris langsung duduk sedangkan Bram memilih duduk di meja sebelah.


"Bram kamu duduk di sebelah saya saja. Tuan Rama kalau boleh asisten Tuan Rama juga duduk dimeja kita." permintaan Aris kepada Rama.


"Baiklah Tuan saya setuju."


"Ren. Kamu pindah duduk ke sebelah saya." perintah Rama kepada Rendi yang merupakan asistennya. Rendinpun pindah duduk ke sebelah Rama.


"Bisa kita mulai Tuan Rama?" tanya Aris.


"Tuan Aris sudah membaca proposal yang kami serahkan. Saya di sini hanya memaparkan sedikit saja. Bahwasanya apa yang saya sajikan di proposal kemaren itu sudah merupakan hasil riset perusahaan kami. Dimana saat sekarang ini anak muda lebih suka memakan cemilan cepat saji dari pada harus buat. Melihat pangsa pasar yang sangat tinggi maka kami mengajukan kerjasama dengan perusahaan Soepomo untuk membuat produk cemilan ini." Papar Tuan Rama.


Aris yang mendengar cara rama menjelaskan secara ringkas langsung bisa menangkap maksud dari Rama.


"Baiklah Tuan Rama. Meeting ini kita lanjutkan Rabu besok di kantor saya. Saya mau Tuan Rama mempresentasikannya berdasarkan angka. Bagaimana Tuan Rama?" Aris tersenyum kepada Rama.


"Baiklah Tuan Aris saya setuju dengan Tuan Aris." Rama menjabat tangan Aris. Rendi memanggil pelayan untuk membawa makanan kedalam ruangan VIP.


Makanan yang disajikan pelayan begitu menggugah selera. Aris dan Bram kebetulan belum makan pagi.


"Silahkan Tuan Aris." kata Rama.


Aris dan Bram menatap makanan apa yang mau mereka makan. Aris dan Bram sama-sama selektif dalam menyantap sarapan. Mereka berdua memiliki sifat yang sama, kalau sarapan yang mereka makan tidak enak maka sampai makan malam mood untuk makan mereka langsung saja rusak. Rama paham dengan kegundahan Aris dan Bram. Rama sudah melakukan riset tentang apa yang akan membuat Aris dan Bram tidak suka.


"Tuan Aris, Tuan Bram. Kalau saya boleh usul direstoran ini yang paling enak untuk sarapan adalah Bubur Ayam komplitnya ini." kata Rama sambil menunjuk ke hidangan bubur ayam yang tersaji di meja.


Aris dan Bram langsung mengambil makanan yang direkomendasikan oleh Rama. Aris kemudian memasukkan sesendok bubur ayam kemulutnya, sedangkan Bram melihat realsi Aris terlebih dahulu, kalau Aris tersenyum maka Bram akan memakan bubur ayam itu, tapi kalau tidak Bram lebih memilih untuk menunda rasa lapar lebih lama lagi.

__ADS_1


Aris yang sudah menelan bubur ayamnya langsung berucap, "Sempurna." sambil mengangkat kedua jempol tangannya. Rama yang melihat reaksi Aris tersenyum. Sedangkan Bram langsung memakan bubur ayam itu. Rama yang melihat langsung heran dengan sikap Bram. Bukannya seharusnya Bram yang makan terlebih dahulu.


"Tuan Bram. Sebelumnya saya minta maaf kalau pertanyaan saya akan menyinggung tuan Bram." kata Rama hati-hati.


"Oooh. Silahkan Tuan Rama, apa yang mau tuan tanyakan kepada saya." jawab Bram.


"Begini Tuan. Tadi saya memperhatikan Tuan akan makan setelah Tuan Aris mencoba makanannya terlebih dahulu. Bukankah itu terbalik Tuan Bram? Maafkan kelancangan saya."


"Ooooo. Itu Tuan Rama. Kalau di restoran ternama akan saya duluan yang makan hidangan yang disajikan, apalagi hidangan itu disajikan dalam kondisi panas. Sedangkan kalau di rumah kolega saya, barulah Bram yang mencoba terlebih dahulu." Aris yang menjawab pertanyaan Rama.


"Maafkan atas kelancangan saya Tuan Aris." kata Rama yang segan ternyata yang menjawab pertanyaannya adalah Aris.


"Tidak masalah Tuan Rama. Ini sudah biasa terjadi. Kalau begitu kami permisi dulu. Terima kasih atas bubur ayamnya." pamit Aris.


"Sama-sama Tuna Aris. Jam berapa kami harus datang hari rabu?" tanya Rama.


"Rendy saja yang atur dengan Bram." jawab Rama


Rama dan Aris berjabat tangan. Setelah itu Aris dan Bram meluncur kembali ke perusahaan. Sedangkan Rama dan Rendi juga kembali keperusahaan mereka dengan hati yang belum puas. Karena masih ada satu pertemuan lagi yang lebih penting.


"Ren. Kamu buat apa yang diminta Tuan Aris tadi. Setelah itu baru saya koreksi." perintah Rama kepada asistennya.


"Baik Tuan." jawab Rendi


...****************...


Mobil yang dikemudikan oleh Bram berhenti di sebuah lampu merah. Saat Aris menoleh ke kanan, dia tidak sengaja melihat Gina yang sedang naik motor meetic keluaran terbaru. Aris langsung terkejut, dia menatap lama ke arah Gina. Tanpa Aris sadari lampu berubah menjadi hijau. Gina langsung melajukan motornya menyalip tiga buah mobil di depannya.


"Bram ikuti motor itu." perintah Aris. Bram langsung saja melajukan mobilnya mengikuti motor yang di suruh Aris.


Gina sadar dia sedang diikuti sebuah mobil mewah. Gina teringat hari ini dia tidak membawa pengawal ataupun asistennya. Gina mencari cara agar dia bisa lolos dari mobil yang sudah dikenalinya kalau itu mobil Aris.


Gina melihat sebuah gang sangat kecil yang hanya bisa dilalui motor tapi tidak untuk mobil. Gina langsung saja masuk ke dalam gang sempit itu. Bram yang mihat langsung memarkir mobilnya karena jalan itu tidak muat untuk mobil yang dibawanya. Aris dan Bram berlari masuk gang, tapi Gina sudah tidak terlihat lagi.


"Sial" kata Aris kesal sambil kembali jalan ke arah mobilnya.


"Siapa sih Ris?"


"Tadi itu Gina. Kalau orang lain boro-boro gue kejar Bram." jawab Aris. Bram hanya terdiam, dia males memperkeruh yang sudah keruh. Aris sudah duduk di kursi sebelah sopir. Bram yang sudah dibalik kemudi lanhsung melajukan mobilnya ke arah kantor.


Gina keluar dari persembunyiannya. Gina langsung tertawa keras. "Hahahahaaha. Rasain loe Aris. Gue masih mau bermain bentar sama loe kak."

__ADS_1


Gina kembali melajukan motornya untuk pulang ke rumah. Dia habis dari kampusnya karena perkuliahan sudah di mulai. Tapi apa mau dikata sampai di kampus dosen tidak masuk. Gina yang malas kemana-mana langsung saja mengambil motornya yang berniat langsung pulang saja ke rumah. Gina akhirnya sampai di rumah langsung masuk kamar untuk beristirahat. Dia capek main kejar kejaran dengan Aris.


Sedangkan Aria sudah sampai di kantor. Dia menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan. Dia akan mengespingkan Gina terlebih dahulu. Dia sudah tenang sekarang Gina sudah mulai masuk kampus. Jadi penyelidikannya akan cepat menemui hasil


__ADS_2