Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Pemecahan Masalah


__ADS_3

Kok bisa terjadi hal itu Bay?" tanya Aris yang tidak habis pikir kenapa seorang Bayu yang biasanya telaten dan rapi bisa mendadak teledor seperti sekarang.


"Gue juga nggak paham Ris. Gue aja nggak nyangka akan terjadi seperti ini. Padahal loe tau sendiri gimana rapinya gue menyimpan semua file file." ujar Bayu yang juga tidak habis pikir dengan keteledorannya kali ini.


"Atau loe pernah kali menyimpan barang yang akhirnya orang tau letaknya dimana."


"Ntahlah gue juga nggak paham. Ntah dimana kenanya yang sekali ini." kata Bayu dengan pasrah.


"Loe mau minum apa?"


"Mineral. Gue udah minum teh di rumah." jawab Bayu yang tidak memiliki selera untuk makan maupun minum.


Aris berdiri dari duduknya, dia menuju lemari pendingin dan mengambil dua botol air mineral. Aris meletakkan botol tersebut di depan Bayu.


Tok tok tok.


"Masuk" jawab Aris dari dalam saat mendengar pintu ruangannya di ketuk dari luar. Dia yakin itu adalah Bimo dan Jero.


"Selamat pagi Tuan." ujar Jero.


"Pagi Jero. Silahkan duduk." kata Aris.


Jero dan Bimo duduk di sofa kosong yang ada di depan Aris dan Bayu.


"Bagaimana kejadiannya Tuan?" tanya Jero.


"Jadi begini Jer." ujar Bayu.


Bayu menceritakan semuanya kepada Jero dan Bimo tentang apa yang terjadi. Jero dan Bimo serta Aris hanua menjadi tim pendengar. Mereka sama sekali menyela cerita Bayu.


"Apa cctv di ruangan Pak Bayu aktif?" tanya Jero.


"Saya tidak tau Jero, apakah aktif atau tidak. Saya sudah lama sekali tidak mencek cctv tersebut." nada penyesalan terlihat jelas dari penuturan Jero.


"Tuan Bayu, apa saya boleh ke kafe tersebut untuk mencek semua keadaan? Tapi ada satu pertanyaan penting. Semenjak kejadian itu apa Tuan Bayu ada masuk ke dalam ruangan?" tanya Jero.


"Masuk ada tapi nyentuh segala sesuatu tidak." jawab Bayu.


"Ruangan di kunci kan Tuan?" lanjut Jero.


"Kunci." jawab Bayu.


"Baiklah Tuan. Kami berdua akan ke sana sekarang. Semoga kasus kali ini tidak serumit kasus Nyonya Sari." ujar Jero.


"Jero, kamu tuntaskan masalah ini, biar Nyonya saya yang jemput." kata Aris.


"Kamu temani Jero." ujar Aris kepada Bimo.

__ADS_1


"Baik Tuan." jawab Bimo.


Jero dan Bimo pergi meninggalkan Aris dan Bayu.


"Ris, loe ada meeting penting?" tanya Bayu yang ingin ikut dengan Jero dan Bimo.


"Nggak. Semua sudah di hendle Budi. Loe mau ikut mereka?" tanya Aris yang sudah tau kemana arah tujuan pertanyaan Bayu.


Bayu mengangguk.


"Oke kita pergi." jawab Aris.


Aris mengambil kunci mobil miliknya. Dia dan Bayu akan menyusul Jero dan Bimo ke kafe.


"Semoga mereka berdua berhasil Ris." ujar Bayu.


"Kita percayakan saja kepada mereka berdua." jawab Aris sambil fokus menyetir mobil miliknya.


Jero memarkir mobilnya di bestman mall. Betapa kagetnya Jero saat melihat mobil Aris juga terparkir di sebelah mobil mereka. Aris dan Bayu turun dari mobil.


"Tuan?" tanya Jero dengan nada tercengang karena ada Aris dan Bayu.


"Bayu penasaran dengan semuanya, makanya dia pengen ikut juga." jawab Aris yang tau makna pertanyaan dari Jero.


"Oh baiklah Tuan." ujar Jero.


Aris melihat kafe masih bersih dan tidak terlihat ada pencurian semalam.


"Rapi bener mereka kerja. Tengok aja nggak satupun bagian kafe yang rusak." ujar Aris.


Mereka terus ke bagian dalam kafe.


"Tuan Bayu. Apa pegawai kafe tau ada yang terjadi di kafe semalam?" tanya Bimo.


"Tidak Bim." jawab Bayu.


"Apa mereka juga tau kalau Tuan Bayu sudah ke sini?"


"Juga tidak. Saya selalu paling pagi datang.? Jawab Bayu.


"Nah satpam dimana saat kejadian?" tanya Bimo yang ingat tidak mungkin kafe sebesar itu tidak memiliki satpam.


"Bener juga. Kenapa tidak kepikiran satpam ya." ujar Bayu.


"Maaf Tuan Bayu, maksud Saya, saya tidak menuduh satpamlah yang menjadi pencurinya. Pasti ada orang lain. Apa Tuan Bayu bisa memanggil satpam?" ujar Bimo.


"Bim, bagaimana kalau kita lihat ruangan Tuan Bayu dulu. Gue penasaran." ujar Jero.

__ADS_1


Bimo mengangguk, dia tidak mungkin membantah apa yang dikatakan Jero, karena bagaimanapun Jero adalah orang yang mengajarinya semua kemampuannya saat ini.


Mereka berempat masuk ke dalam ruangan Bayu. Mereka melihat ruangan begitu rapi tidak ada tanda tanda pencurian telah terjadi.


"Rapinya." ujar Aris.


"Sebegini rapinya dari mana loe tau kalau sudah terjadi pencurian?" tanya Aris.


Bayu kemudian menuju dinding ruangan. Dia terlihat memencet sebuah tombol yang tidak terlihat. Saat tombol itu di pencet ruangan menjadi sangat gelap, cahaya seperti di tarik kedalam dinding dinding ruangan. Sebuah cahaya merah keluar dan memperlihatkan tapak tangan yang telah menyentuh dinding tempat semua berkas berkas dan uang milik Bayu disimpan rapi.


"Hahahaha keren tu teknologi." ujar Aris.


Bayu ingin mematikan alatnya.


"Bentar Tuan." ujar Bimo.


Bimo mengeluarkan sebuah alat dari dalam saku jasnya. Dia merekam setiap sidik jari yang di dapatnya dari dinding ruangan.


"Silahkan matikan Tuan." ujar Bimo.


"Bim nggak mungkinkan kita minta setiap karyawan merekam sidik jarinya?" tanya Aris dengan polos.


"Tuan sebelumnya saya minta maaf Tuan. Tapi saya harus mengatakannya walaupun tantangannya saya harus berhenti menjadi asisten Tuan. Satu hal yang pasti, kenapa bisa Tuan jadi ketua genk Black Jack dengan kemampuan seperti ini." ujar Bimo yang setengah kesal dengan Aris.


"Hahahahahahahahahahahahahaha." Bayu dan Jero langsung tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Bimo dengan beraninya.


Aris yang mendengar apa yang dikatakan Bimo cukup lama terdiam. Dia memikirkan apa yang dikatakan oleh dirinya tadi.


"Gue pikir salah juga nanyak hal bodoh tadi." ujar Aris pelan kepada Bayu.


"Salah sendiri. Bego muncul di saat yang tidak tepat." ujar Bayu menjawab apa yang dikatakan Aris.


"Bimo duduk di balkon. Kita kerja dari sana." ujar Jero sambil membawa laptop miliknya ke balkon ruangan kerja Bayu.


Jero dan Bimo memilih duduk di balkon ruang kerja Bayu. Sedangkan Aris dan Bayu duduk di sofa sambil melihat tranding hari ini. Entah sejak kapan kedua sahabat itu ikut ikutan bermain di tranding.


"Bay sejak kapan loe masang alat secanggih itu?" ujar Aris sambil tetap fokus melihat ponselnya.


"Gue aja taunya saat udah ke pasang."


"Siapa yang masang?" tanya Aris heran.


"Mira lah. Siapa lagi. Dia kan selalu waspada terhadap hal apapun. Gue aja bersyukur dia masang itu, kalau tidak ntah kemana gue harus mencari semua file file kafe itu. Gue nggak butuh uangnya balik. Gue cuma butuh surat suratnya."


"Semoga aja Jero dan Bimo bisa cepat menemukan pencurinya." lanjut Bayu.


"Amin." jawab Aris.

__ADS_1


__ADS_2