
Aris yang menggendong Arga meletakan kepala Arga di pundaknya. Sedangkan tangannya yang tidak menahan Arga menggenggam tangan Gina sang istri tercinta. Mereka bertiga masuk ke dalam lift serta langsung menuju kamar VIP tempat Aris selama ini menginap.
Sesampainya di kamar Aris membaringkan Arga ke atas kasur empuk tersebut. Setelah merasa posisi tidur Arga sudah pas dan sudah memastikan kalau Arga sudah tidur dengan nyenyak. Aris berjalan ke arah kamar mandi. Dia membasuh tubuhnya dengan air hangat, mandi air hangat membuat Aris bisa kembali merilekkan tubuhnya yang sudah lelah seharian ini akibat pesta pernikahan Daniel dan Rani.. Aris menikmati acara mandinya itu, acara mandi yabg sudah lama dinanti nantikannya. mandi tanpa harus memikitkan istri dan anaknya dimana. Sekarang mereka berdua yang sangat disayangi oleh Aris berada di dekat dirinya, hal ini membuat Aris kembali nyaman dan tidak ada lagi beban pikiran yang terlalu besar di pundaknya lagi.. Ada keinginan di dalam hatinya untuk membawa Gina mandi bersama, tetapi rasa itu masih di tahan oleh Aris. Dia ingin memperjelas dahulu hubungannya dengan Gina. Aris ingin tau apakah Gina masih dalam posisi marah ke dia atau sudah tidak. Aris tidak ingin mengambil resiko. Bagi dirinya sekarang Arga dan Gina sudah berada di dalam jangkauannya dia sudah luar biasa bahagia. Aris tidak memikirkan hal yang lain lagi. Tapi kalau hal lain itu datang dengan sendirinya maka Aris akan menganggap itu sebagai suatu bonus karena kegigihannya mencari keberadaan istri dan anaknya itu.
Selesai membersihkan dirinya, Aris memakai pakaian casual favorit Gina. Aris sengaja melakukan hal hal itu, dia ingin membuktikan kepada Gina, walaupun Gina sudah lama pergi tetapi di dalam hati Aris hanya ada dia dan selalu tidak akan tergantikan oleh siapapun.
Setelah Aris keluar dari kamar mandi. Sekarang giliran Gina membersihkan tubuhnya. Dia tadi sudah meminta Frenya untuk mengantarkan pakaian tidurnya ke kamar Aris. Tapi yang membuat Gina sebal ke Frenya, anak gadisnya itu memberikan pakaian tidur yang luar biasa menerawang dan seksi.
"Tu anak nggak tau apa di sini ada Arga. Ngapain juga ngasih baju yang kurang bahan gini" ujar Gina sambil geleng geleng kepala.
Aris yang melihat Gina masuk ke dalam kamar mandi berusaha menentramkan debaran jantungnya. Dia tau Gina tidak membawa pakaian ganti ke dalam kamar mandi. Sedangkan di kamar ini tidak ada tempat mengganti pakaian secara khusus.
Aris yang sebenarnya sangat senang akan hal itu mencoba bersikap biasa saja. Antara pengen dan tidak pengen.
Sedangkan di dalam kamar mandi.
"Hahahahaha. Apakah Aris akan tahan melihat aku nanti. Sayang tunggu kejutan dariku." ujar Gina sambil tersenyum smirk.
Gina menyusun siasat untuk mengerjai Tuan Muda Soepomo dan juga suami tercintanya itu. Gina memberaihkan dirinya dengan begitu bersih. Setiap sudut dari tubuhnya tidak dia lewatkan untuk dibersihkan.
Setelah yakin dengan kebersihannya. Gina sengaja tidak mengeringkan badannya di dalam kamar mandi. Dia membiarkan saja rambutnya itu basah serta badannya yang masih terdapat sisa sisa air mandi.
"Gue harus bisa. Gue harus bisa. Gue pasti bisa. Ayo Gina tunjukkan kalau kamu masih mampu." ujar Gina di depan cermin. Gina memberikan semangat kepada dirinya untuk berani melakukan hal gila itu.
Setelah merasa dirinya sudah cukup berani, Gina membuka pintu kamar mandi dengan pelan. Aris yang tadinya menatap terus pintu kamar mandi saat mendengar pintu tersebut terbuka dari dalam langsung memalingkan wajahnya ke depan televisi yang sedang mati.
"Ternyata dari tadi nungguin sayang. Hahahaha. Sekarang pura pura nonton. Nonton apaan tivi aja mati kok ya." ujar Gina pelan sekali hanya Gina yang bisa mendengarnya.
Gina kemudian berjalan ke arah meja rias.yang tepat disisi Aris duduk. Gina membuka handuk yang membalut tubuh tanpa sehelai benang itu dengan gerakan sangat lambat. Aris yang semula berusaha mati matian untuk tidak memandang ke arah Gina, akhirnya mencuri curi pandang ke arah Gina.
Gina yang tau Aris mencuri curi pandang mengelap tubuh basahnya dengan gerakan yang benar benar menggoda iman Aris. Gina denhan sengaja terus menggoda Aris.
__ADS_1
Setelah mengeringkan tubuh bagian atasnya. Gina mengangkat sebelah kakinya ke atas kursi meja rias. Dia kembali mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Gina memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya ke arah Aris.
Selesai mengeringkan tubuh bagian bawah, Gina masih sengaja tidak memakai pakaiannya. Dia mengambil alat pengering rambut. Gina mengeringkan rambutnya dengan posisi yang membuat Aris menjadi tidak nyaman untuk duduk tenang. Gina dengan sengaja mengeringkan rambat sambil mengeluarkan suara suara yang sangat dirindukan oleh Aris.
Selesai mengeringkan rambutnya Aris masih belum memperlihatkan gerak gerik yang diharapkan oleh Gina.
"Sial, dia masih menahannya." ujar Gina.
Gina mengambil pakaian dalamnya. Dia memasang dengan gaya yang luar biasa menggoda. Aris mati matian menahan keinginannya untuk menyerang Gina saat itu juga.
"Dia benar benar menggoda imanku." ujar Aris pelan.
Gina mengambil bra miliknya yang berwarna merah dan terlihat sangat seksi. Warna yang membuat Aris biasanya langsung menyerang Gina di tempat.
Setelah memasangnya di tempat yang seharusnya, Gina pura pura tidak bjsa mengaitkan branya di bagian punggung. Gina berjalan ke arah Aris.
"Bisa tolong kaitkan?" tanya Gina kepada Aris sambil membasahi bibirnya dengan lidah.
Aris mendekatkan badannya ke badan Gina. Dia mencium aroma wangi tubuh Gina. Wangi yang paling disukainya.
Akhirnya..........
"Aku sudah menahannya dsri tadi. Tapi kamu terus menggoda diriku sayang. Sekarang rasakan akibatnya." ujar Aris sambil meremas sesuatu yang berusaha ditutupi oleh Gina.
"Siapa yang suruh nahan. Kamunya aja yang pengen nahan." balas Gina sambil tersenyum.
Aris menggendong Gina ke arah sofa lebar yang berada di luar kamar. Mereka berdua tidak ingin mengganggu tidur Arga.
Aris mulai menggoda Gina dengan segala keahliannya. Gina dan Aris benar benar dimabuk oleh keinginan yang sudah lama mereka tahan berdua.
"Sayang, boleh?" tanya Aris sambil menatap Gina dengan tatapan memuja.
__ADS_1
Gina mengangguk. Dia juga sudah sangat menginginkan hal yang sama dengan yang diinginkan oleh Aris.
Aris kemudian mendekatkan dirinya. Saat Aris akan melakukan penyatuan.
"Daddy kenapa lampunya mati??? Arga takut Daddy." teriak Arga.
Aris dan Gina yang sedang dalam keadaan tanpa sehelai benang langsung menyambar pakaian yang berserakan. Untung saja Aris dan Gina membuang pakaian itu di dekat mereka tidak disepanjang jalan.
Terlebih lagi untungnya, Aris mematikan semua lampu. Kalau tidak maka Arga akan melihat apa yang tidak boleh dilihatnya saat ini.
Aris yang selesai memakai pakaian langsung berjalan menuju Arga. Aris menggendong Arga untuk kembali ke kamar.
"Sayang tadi sengaja Daddy matikan karena ada binatang yang terbang terbang." ujar Aris memberikan sebuah alasab yang tidak masuk akal.
"Oooo. Bunda mana?"
"Bunda di depan sedang nyapu binatang terbang terbang." jawab Aris.
Arga kemudian kembali tertidur. Aris yang juga letih akhirnya menyusul Arga menuju alam mimpi. Sedangkan Gina yang sedang nanggung hanya bisa menatap pasrah ke arah Arid yang sudah tertidur. Gina tidak tega untuk membangunkan Aris. Gina lebih memilih untuk menahan kembali sesuatu yang sebenarnya sudah tidak bisa ditahannya lagi. Tapi demi kebaikan Arga dia rela kembali manahannya. Tapi saat Gina melihat pakaiannya, dia jadi ragu, dia harus membangunkan Aris karena tidak mungkin Arga melihat dirinya saat bangun memakai pakaian mengerikan seperti ini.
"Sayang bangun." ujar Gina sambil mengguncang guncang badan Aris.
Aris yang memang sudah tertidur pulas, tidak merasakan dibangunkan oleh Gina.
"Dasar nggak juga berubah" ujar Gina.
Gina kemudian berjalan menuju almari Aris. Dia melihat ada kemeja yang bisa di pakai oleh dirinya. Gina mengambil salah satu kemeja yang digantung dihanger itu dia memakai kemeja tersebut, badan Aris yang besar dan tinggi membuat kemeja yang dipakai Gina pas menutupi sampai di atas lututnya. Gina senyum senyum sendiri mengingat kejadian memakai kemeja Aris saat dulu.
"Kali kesekian memakai kemeja kamu sayang" ujar Gina.
Gina memang memiliki kebiasaan sehabis melakukan kewajibannya terhadap Aris, dia akan memakai kemeja milik Aris. Ntah hal apa yang mrmbuat Gina nyaman melakukan hal itu. Aris saja hersn dengan kelakuan Gina. Tetapi Aris tidak pernah komen. Dia sangat senang Gina mau memakai pakaiannya.""
__ADS_1