Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Aku Menerima Mu


__ADS_3

Gina pada hari bahagianya ini memakai kebaya warna krem. Gina terlihat seperti putri putri keraton yang anggun dan berkharisma. Gina ditemani kedua sahabatnya berjalan ketempat acara akan dilangsungkan. Gina sudah melihat Ayah, Nana dan Uda Afdhal sudah duduk dengan rapi di kursi mereka masing masing. Mereka sudah siap menunggu kedatangan keluarga Soepomo.


Ayah, Nana dan Uda Afdhal melihat Gina yang datang bersama kedua sahabatnya langsung berdiri menyambut Gina.


"Sayang, kamu cantik sekali, Ayah sampai tidak mengenalimu."


"Sayang kamu sangat sangat cantik. Sini duduk. Mira dan Sari duduk tepat dibelakang Gina ya." kata Nana sambil menunjukkan kursi untuk Mira dan Sari.


Mira dan Sari serta keluarga yang lain dari pihak keluarga besar Wijaya dan Bramantya sudah duduk dibangku masing masing. Mereka semua kompak memakai baju berwarna baby pink untuk yang wanjta dan biru muda untuk pria. Mereka sedang menunggu kedatangan keluarga Soepomo, yang menurut berita sedang di dalam.perjalanan.


"Na, Gina gugup Na" kata Gina sambil memainkan jari jarinya.


"Itu biasa sayang. Sekarang tarik napasmu buang perlahan lahan" perintah Nana kepada Gina.


Gina kemudian mencoba apa yang disarankan Nana tadi untuk menghilangkan kegugupannya. Tapi hasilnya sama saja. Gina masih tetap gugup.


Setelah menunggu selasa setengah jam, akhirnya keluarga Soepomo datang dengan membawa begitu banyak hantaran. Tamu tamu yang melihat langsung terkagun kagum dengan semua hantaran itu. Ini adalah acara lamaran pertama yang hantarannya sampai 60 kotak. Semua sanak saudara dari keluarga Soepomo dan Jaya membawa masing masing satu kotak hantaran. Makanya hantaran mereka menjadi sangat banyak dan panjang.


Keluarga Soepomo lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan keluarga besar Wijaya. Aris menatap ke arah Gina yang tertunduk. Gina tidak mau mengangkat mukanya menatap Aris. Aris yang tau Gina gugup hanya tersenyum simpul.


"Baiklah para hadirin yang berbahagia. Keluarga besar Tuan Soepimo sudah hadir ditengah tengah kita. Maka acara lamaran ini akan segera kita mulai. Untuk kelancaran acara marilah kita berdoa menurut agama dan kepercayaan masing masing. Berdoa mulai. Selesai"


"Acara kita yang pertama, kepada Aris calon mempelai pria diharapkan untuk berdiri. Tuan Wijaya sebagai orang tua laki laki dari calon mempelai wanita silahkan berdiri."


Aris dan Tuan Wijaya langsung berdiri. Seseorang dari petugas EO memberikan micropon kepada Aris. Aris terlihat sangat gugup, bagi Aris lebih baik disuruh menghancurkan perusahaan raksasa darinpada berbicara didepan semua orang dalam suasana seperti ini. Mami yang melihat Aris terdiam cukup lama, langsung menjawil Aris. Mami memberikan isyarat supaya Aris cepat berbicara.


"Assalamualaikum wr wb. Pertama sekali saya mengucapkan terimakasih banyak kepada semua keluarga dan tamu yang sudah berkenan hadir dalam acara saya hari ini. Selanjutnya saya Aris mengucapkan terimakasih kepada Ayah, Nana yang sudah membesarkan Gina. Untuk uda Afdhal terimakasih sudah menjaga Gina. Ayah, Nana, Uda, tujuan Aris kesini adalah untuk meminta Gina menjadi pendamping hidup Aris kedepannya. Untuk menjadikan Gina sebagai ibu dari anak anak Aris kelak. Wujud keseriusan Aris dapat Ayah dan Nana lihat selama dua tahun ini kami berhubungan. Ayah, Nana, Uda, apakah menyetujui Aris untuk melamar Gina menjadi istri Aris?" Aris mengatakan isi hatinya dengan tegas dan tanpa keraguan sedikitpun.

__ADS_1


Ayah melihat kearah Nana, Afdhal dan Gina. Nana menganggukkan kepalanya.


"Nak Aris, Ayah mewakili keluarga besar Wijaya dan Bramantya mengucapkan terimakasih banyak atas niat suci nak Aris untuk melamar putri kami yaitu Gina. Tapi nak Aris sayangnya." Ayah menggantung ucapannya.


Tuan dan Nyonya Soepomo, muka mereka menjadi pucat, mereka takut kalau Tuan Wijaya tiba tiba saja menolak lamaran Aris. Begitu pula dengan Aris dan Bram, mereka juga takut kalau lamaran Aris akan ditolak. Mau ditaruh dimata kehormatan mereka, kalau lamaran Aris ditolak keluarga Wijaya dan Bramantya. Ayah yang melihat raut wajah pucat keluarga inti Soepomo langsung tersenyum tipis.


"


Nak Aris, Ayah minta maaf karena, Ayah tidak bisa memutuskan menerima atau menolak niat suci nak Aris. Ayah akan menyerahkan jawaban ini kepada Gina. Karena semua yang akan menjalani kedepannya adalah Gina. Bukan Ayah, Nana maupun Afdhal." kata Ayah.


Setelah Ayah selesai berbicara dan ternyata Ayah tidak menolak, muka Tuan, Nyonya Soepomo, Aris dan Bram kembali seperti semula.


"


Kepada Nona Gina Wijaya diharapkan untuk berdiri. Tuan Wijaya silahkan kembali duduk di kursi yang telah disediakan"


"Gina, hari ini aku Aris berdiri di depan kedua keluarga besar kita dan diantara sekian banyak tamu. Aku hanya ingin meminta kesediaan kamu untuk bisa menjadi pendamping hidupku ke depan, untuk mau mnenjadi ibu dari anak anakku, untuk suka menjadi teman tidurku. Gina, aku tidak bisa berkata dengan romantis. Aku hanya bisa melakukan hal yang jauh dari romantis. Tapi yang patut kamu ingat walaupun aku tidak romantis, cintaku kepadamu lebih besar dari pria romantis manapun."


Aris diam dan menghela nafasnya. Aris tidak mampu menatap Gina. Aris tau Gina tidak akan tertawa, tapi Aris takut saat melihat wajah Gina, kata kata yang disusun oleh Aris akan langsung lenyap, ditelan senyum Gina.


"Gina, hari ini aku Aris ingin bertanya kepadamu dan tolong kamu jawab dengan jawaban Iya, tidak boleh dengan kata tidak."


"Hahahahahahaa" ketawa para keluarga dan tamu.


Semua yang hadir tidak menyangka Aris akan memgatakan hal konyol seperti itu. Saat pertama berbicara Aris sangat meyakinkan. Setelah ada jeda mengambil nafas, Aris membuat pernyataan yang sangat konyol, membuat semua orang menjadi tertawa aris juga sadar dengan kesalahannya hanya tersenyum canggung.


"Maaf.Ehm. Gina tujuanku datang hari ini adalah untuk melamarmu. Tadi aku sudah minta izin kepada Ayah, jawab Ayah, semua keputusan ada ditanganmu. Jadi sekarang aku bertanya kepada mu. Apakah kamu menerima lamaranku ini?" Aris kemudian membuka kotak cincin yang diambilnya dari saku jasnya.

__ADS_1


Mami tidak menyangka kalau Aris telah menyiapkan cincin untuk lamaran. Aris kemudian duduk seperti orang melamar perempuan.


"Kak, Gina tidak bisa membalas dengan bahasa yang romantis juga. Gina menerima lamaran kakak" jawab Gina langsung saja.


"Terimakasih sayang." Kata Aris.


Aris kemudian memakaikan cincin lamarannya di sebelah cincin pertunangannya dengan Gina. Semua tamu bersorak gembira. Akhirnya lamaran Aris diterima oleh Gina.


"Kepada Tuan Aris dan Nona Gina, kami persilahkan untuk duduk kembali ketempatnya. Acara selanjutnya adalah menikmati hidangan yang sudah disajikan di atas meja para tamu undangan. Untuk keluarga yang di depan. Meja sudah kami siapkan. Selamat menikmati jamuan yang disediakan." kata MC.


Keluarga besar Wijaya dan Soepomo langsung menikmati makanan yang disediakan. Mereka makan sambil saling bercengkrama ringan.


"Nyonya Wijaya kapan akan kita adakan pernikahan merwka?" kata Nyonya Soepomo.


"Kita serahkan saja kepada mereka berdua Nyonya. Kita sebagai orang tua mengikut saja." jawab diplomatis Nyonya Wijaya.


"Baiklah. Aris, cepat kamu susun kapan acara pernikahn dan reseosi akan diadakan." perintah Mami kepada Aris.


"Tenang Mi. Aris akan menyiapkan pekerjaan di perusahaan baru setelah itu aku akan menyusun acara pernikahan ku Mi" kata Aris sambil menggenggam tangan Gina.


Setelah semua rangkaian acara, keluarga Soepomo pamit untuk pulang kembali kerumah mereka. Keluarga Wijaya melepas kepergian keluarga Soepomo dengan senyuman.


"Cie yang mau nikah." kata Mira


"Cie iya dong. Yang belum juga dilamar" balas Gina.


"Hahahahahahaha".tiga sahabat itu langsung tertawa bahagia. Mereka akan tidur bersama hari ini

__ADS_1


__ADS_2