Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kegalauan Mira dan Gina


__ADS_3

Taksi online mengantarkan Bayu dan Mira menuju rumah utama keluarga Soepomo. Bayu akan mengambil mobilnya di rumah itu. Sepanjang perjalanan Bayu ingin rasanya bertanya kepada Mira. Tetapi Bayu harus menahannya terlebih dahulu. Dia tidak ingin Mira marah marah di atas mobil, apalagi mereka sekarang sedang naik taksi online. Bayu terus menggenggam tangan Mira.


"Sayang, kamu pasti menyimpan tanya yang sangat sekarang ini. Aku tau sayang. Aku akan jawab semuanya saat kamu bertanya nanti. Biarlah Alex tidak percaya sama kamu, tapi aku selalu percaya kamu" kata Mira sambil menatap kemata Bayu.


Perjalanan dari bandara ke rumah utama milik keluarga Soepomo berjalan dengan lancar selama satu jam perjalanan. Jalanan begitu lancar dan sama sekali tidak ada kemacetan, sesuatu yang sangat jarang terjadi di ibu kota. Taksi memberhentikan mobilnya di pintu pagar utama rumah keluarga Soepomo. Bayu dan Mira langsung turun dari taksi mereka.


"Sayang, apa kita harus jalan kaki ke rumah?" tanya Mira sambil menatap begitu jauhnya mereka harus berjalan.


"Tidak sayang, kita naik mobil golf itu" kata Bayu sambil melirik mobil golf yang berada di parkiran.


Bayu dan Mira naik ke atas mobil golf, Bayu mengemudikan mobil itu menuju rumah utama keluarga Soepomo. Bayu dan Mira langsung mengetuk pintu ruang utama rumah keluarga Soepomo. Seorang maid membukakan pintu untuk Bayu dan Mira.


"Mana orang rumah maid?" tanya Bayu kepada maid.


"Semua keluarga sedang duduk di joglo di bagian belakang Tuan Bayu" jawab Maid.


"Sayang kita ke sana saja" jata Bayu sambil menggandeng tangan Mira. Mereka berdua akan menuju joglo tempat keluarga Soepomo sedang meminum teh sore hari.


"Sayang kapan datang?" kata Mami sambil memeluk Mira.


"Tadi baru sampai Mami" jawab Mira yang merasa bersalah telah menipu Mami. Seorang yang sudah dianggap ibu baginya di kota ini.


Bayu menatap wajah Mira yang terlihat sangat sedih. Bayu tau Mira sedang bimbang dengan semua yang terjadi.


"Sayang ayuk duduk" kata Mami mengajak Mira untuk duduk.


"Pesawat jam berapa tadi Mir?" tanya Aris


"Pesawat jam sepuluh Kak." jawab Mira sambil memandang Bayu.


Mira sudah mengambil keputusan, dia akan menceritakan semuanya kepada Bayu nanti.


"Gin maafkan aku. Aku tidak tega melihat Mami Gin" kata Mira dalam hatinya.


"Mira" panggil Papi kepada Mira.


"Iya Pi" jawab Mira sambil melihat ke papi.


"Kamu ada dapat kabar dari Gina nak?"


"Nggak Pi. Sama sekali tidak ada. Chat tidak terkirim ke Gina Pi" jawab Mira. Mira tidak menatap mata Papi saat menjawab pertanyaan dari papi. Bayu yang melihat memberikan kekuatan kepada Mira. Bayu tau Mira cukup berat menjawab pertanyaan dari Papi tadi.


Mereka semua mengobrol denhan obrolan sederhana. Semua berbicara tentang Gina. Gina memang selalu berada di hati keluarga ini.

__ADS_1


"Lulang lah Gin. Mereka butuh kamu Gina" kata Mira mengetik sebuah chat kepada Sari. Mira merekam semua kejadian dan pembicaraan. Dia mengirimkan semua video dan rekaman melalui Sari.


Gina dan Sari yang sedang duduk santai di balkon hotel, langsung membuka semua video dan rekaman suara yang dikirimkan oleh Mira. Tak terasa air mata Gina menetes dipipinya.


"Loe oke kan Gin?" tanya Sari yang mendadak.menjadi cemas dengan keadaan Gina.


"Ya, aku oke" jawab Gina sambil mengusap air matanya yang sempat jatuh tadi.


"Apa kita akan balik ke rumah Gin?" tanya Sari kemudian.


Mereka sudah menyaksikan semua video dan sudah mendengarkan semua rekaman suara yang dikirimkan oleh Mira.


"Aku akan bertahan. Tetapi sekali sekali aku akan keluar. Aku tidak mau pulang dengan sengaja. Aku mau Aris datang untuk menjempuku pulang kembali" kata Gina sambil menatap jauh ke depan.


"Oke Gin. Aku mendukung semua keputusan mu. Tapi kamu belum menggubungi bos ku Gin. Nanti dia mecat aku loh" kata Sari mengingatkan Gina untuk menghubungi Afdhal.


"Hahahahahaha. Lupa gue." kata Gina sambil mengambil ponselnya dari dalam tas.


Ponsel yang biasa dia pakai. Gina berencana akan mengaktifkan kembali ponselnya ini. Dia ingin Aris melacak keberadaannya lewat ponselnya yang sudah aktif kembali.


"Kok?" tanya Sari heran karena melihat Gina mengaktifkan ponselnya kembali.


"Sengaja. Apa Aris bener bener memikirkan aku atau tidak" jawab Gina.


"Yakin" jawab Gina.


"Tapi loe yang hidupin ya. Gua ngenes" lanjut Gina kemudian.


Sari mengambil ponsel Gina. Dia menatap Gina sekali lagi. Gina kemudian mengangguk. Sari mengaktifkan kembali ponsel tersebut. Ternyata saat ponsel itu kembali aktif banyak masuk notif chat, pesan serta panggilan tak terjawab. Sangat luar biasa banyaknya. Sari memberikan ponsel tersebut kepada Gina.


"Loe baca sendiri aja" kata Sari kepada Gina.


"Nanti ajalah bacanya. Sekarang gue mau nelpon Afdhal dulu" jawab Gina kepada Sari.


Gina mengetik nomor ponsel Afdhal di ponselnya. Gina menunggu sesaat. Pada panggilan kedua barulah Afdhal mengangkat sambungan telpon dari Gina.


"Hallo uda?"


"Ya Gin. Ada apa? Tumben kamu nelpon uda. Perasaan udah tiga setengah tahun kamu tidak nelpon uda" kata Afdhal.


"Hhaahahaha. Uda ada yang mau Gina katakan" kata Gina.


Gina harua memilih kata kata yang pas sebelum berbicara kepada Afdhal.

__ADS_1


"Ada apa Gin? Sepertinya serius kali" kata Afdhal.


"Uda. Aku mau meminta ijin Sari. Aku mau Sari menemani aku ke luar kota tiga hari"


"Oooo. Kalai itu gampang. Nggak masalah. Silahkan aja" kata Afdhal.


"Oh ya bagaimana keadaan semuanya uda?"


"Kami semua baik Gin. Nana rindu sama kamu." jawab Afdhal.


"Aku janji siap dari luar kota akan ke rumah. Aku juga kangen keluarga, kangen masakan nana." kata Gina sambil mengusap air matanya yang jatuh. Gina tidak tau lagi mau berbicara apa. Hatinya sangat sedih dan mau mencurahkan semua yang dirasakannya kepada Afdhal, pria yang selama ini selalu menjadi tong sampahnya, pria yang selalu memberikannya solusi. Tetapi Gina takut keluarganya murka kepada Aris. Jadi Gina memilih untuk menyelesaikannya sendiri tanpa melibatkan keluarga besarnya.


"Uda, nanti Gina sambung lagi ya. Kami mau jalan dulu" kata Gina mengakhiri percapakan. Dia takut nanti tidak bisa mengontrol dirinya. Dia tidak mau pada akhirnya Afdhal akan curiga dengan keadaannya.


"Eh tunggu dulu. Main matikan aja. Sebenarnya keluar kota mau ngapain. Sepengetahuan uda, kamu beda devisi dengan Sari" tanya Afdhal yang mulai curiga dengan Gina.


"Ye mau tau aja atau mau tau banget ya?" kata Giba yang terpaksa harus melayani Afdhal bercerita. Dia tau Afdhal pasti kangen dengan dia untuk bercerita panjang.


"Mau tau banget, cepat ngemong."


"Mau nengok rumah peristirahatan yang mau aku beli uda." jawab Gina yang separo ada jujurnya juga.


"Kok nggak sama Aris?" Afdhal mulai curiga.


"Aris sedang sibuk uda. Makanya bawa Sari" jawab Gina


"Nggak sedang ributkan ya?" tanya Afdhal


"Nggak mana ada ribut. Biasa aja kok ya. Ngapain pake ribut ribut segala" jawab Gina secepatnya.


"Sukur kalau ndak. Awas aja kalau dia berani menyakiti adik kesayangan uda. Uda nyanyak nanyak pakai ladiang pajatu beko. Urang kayo bayiak la nyo. Uda dak takuik" kata Afdhal dengan berapi api. Afdhal harus cari tau ada apa sebenarnya.


"Udah dulu uda. Aku berangkat dulu" kata Gina.


"Hati hati ya" jawab Afdhal.


"Assalamualaikum uda"


"Waalaikum salam adiak sayang" balas Afdhal.


Gina menutup sambungan telponnya dengan Afdhal.


"Gue yakin loe menyimpan sesuatu. Uda akan cari tau( kata Afdhal. Afdhal langsung bersiap siap. Dia akan menuju suatu tempat.

__ADS_1


__ADS_2