
RUMAH KELUARGA WIJAYA
Pagi hari di hari yang cerah, di sebalah timur sang surya sudah merangkak untuk naik, embun perlahan sudah mulai hilang. Kesibukan di rumah mewah itu terlihat berbeda dari pada biasanya. Terlihat beberapa orang membawa bunga bunga segar dan merangkainya di sebuah ruangan besar yang selalu dipakai saat ada acara acara penting. Semua orang hilir mudik menata ruangan itu. Para pelayanan di runah besar itu dibantu para koki yang didatangkan dari restoran milik yang punya rumah sedang sibuk memasak makanan untuk disajikan pada acara besar itu. Sedangkan sang Nyonya rumah sibuk menghubungi para kenalannya untuk hadir nanti malam ke acara yang sangat penting itu.
Gina yang baru bangun dari tidurnya langsung membasuh muka dan menggosok giginya. Setelah ritual membersihkan diri itu Gina berjalan menuju dapur rumah untuk membuat secangkir teh panas.
"Sayang, kamu sudah bangun? Sebentar lagi orang dari salon akan datang untuk melakukan perawatan kepada dirimu. Jadi kamu harus sudah sarapan." kata Nana dengan perintah tegasnya.
"Assalamualaikum" terdengar dari arah pintu utama dua suara yang sudah familiar ditelinga Nana.
"Waalaikumsalam. Sari, Mira masuk. Kalian hari ini harus menemani Gina melakukan perawatab tubuh" kata Nana. Nana sengaja memjnta Sari dan Mira untuk datang, Nana yakin kalau hanya Gina saja disuruh perawatan dia pasti tidak akan mau.
"Wah mantap, kebetulan kami sudah lama tidak perawatan Nana. Boleh seluruhnya dicobakan Na?" tanya Mira dengan wajah dibuat begitu berharap.
"Silahkan saja. Nana sudah meminta orang salon itu untuk datang tiga orang." kata Nana sambil tersenyum hangat kepada tiga anak gadia itu.
"Ya sudah sekarang kalian sarapan dulu. Kamu Gina jangan banyak ulah. Kamu ikuti saja semua kemauan dari orang salonnya. Kamu jangan sok tau. Paham Gina?" Nna menatap Gina dengan penuh ancaman.
"Sip Nana. Siapa pula orang yang mau jelek saat acara terpentingnya." jawab Gina sambil tersenyum
Nana yang mendengar jawaban dari Gina, barulah merasa nyaman. Nana tau Gina sangat tidak suka apabila disuruh untuk perawatan tubuh ke salon.
"Gin gimana rasanya mau dilamar orang yang dicintai?" tanya Mira.
"Rasanya sepeti berada di taman bunga yang hanya kita sendiri penghuninya."
"Wow. Gue juga mau dong dilamar"
"Suruh aja Bayu ngelamar kamu secepatnya. Pacaran paling duluan jangan jangan nanti kawinan paling terakhir loe" kata Sari sambil menatap mengejek Mira.
"Mayan dari pada jomblo akut." balas Mira.
Sari baru akan menjawab ledekan Mira langsung dicegah oleh Gina. "Sudah, Nanti orang salobnya keburu datang, yang kita belum selesai sarapan. Cepat habiskan sarapan kalian." perintah Gina.
Tak lama setelah mereka sarapan, orang salon yang diminta Nana untuk melakukan perawatan kepada ketiga wanita cantik itu telah datang. Gina dan kedua sahabatnya menuju ruangan yang memang dibuat Ayah untuk Nana dan Gina melakukan perawatan tubuh. Tapi Nanalah yang paling sering memakainya. Mereka mulai melakukan perawatan dengan orang salon pesanan Nana.
RUMAH KELUARGA SOEPOMO
__ADS_1
Kesibukan yang sama juga terlihat dirumah utama Soepomo. Mami sibuk meminta seorang event organizer untuk menyiapkan hantaran lamaran untuk Gina. Mamk memberikan semua barang branded untuk Gina. Aris dan Gina tidak ikut serta dalam memilih hantaran. Semuanya disiapkan oleh Mami. Mereka berdua juga tidak keberatan dan menyerahkan urusan hantaran kepada Mami.
Aris dan Bram yang hari itu tidak pergi ke perusahaan hanya bisa menikmati kegilaan Mami dalam menyusun hantaran. Mami harus sampai menghubungi para saudara jauh mereka untuk membawa hantaran yang banyak itu.
"Mam, ini hantaran atau mau buka toko yang jual hantaran?" tanya Bram dengan mata yang membesar.
"Hantaran lah Bram."
"Kok banyak Mam?"
"Bram, Mami ingin kita perfeck untuk memberikan hantaran makanya Mami membeli sebanyak ini. Ini aja mami kira masih kurang." kata Mami sambil memikirkan apalagi yang belum masuk kedalam list hantaran.
"Mam, bagaimana kalau sertifikat kepemilikan mall aja yang mami kasih. Kan mami nggak perlu susah susah memikirkannya. Semua sudah ada dalam satu lembar kertas."
"Hem. Besok untuk lamaran kamu, hantarannya mami kasih selembar kepemilikan supermarket kengkap. Mau kamu?" Mami membalas ucapan Bram.
"Mana ada."
"Nah tu tau. Kamu pergi sana temani Aris. Mami mau cek lagi. Kamu ganggu konsentrasi mami aja Bram." Usir Mami kepada Bram yang sudah merecoki kerjaan Mami.
Bram kemudian kembali ke kursi dimana Aris sedang duduk menikmati lattenya.
"Apanya? Kata mami besok pas aku lamaran dikasih aja sertifikat supermarket. Jadi nggak perlu banyak hantaran." jawab Bram manyun.
"Hahahaha. Berbalik dia Bram?"
Bram mengangguk. Kedua sahabat yang sudah seperti kakak beradik itu memakinkan game untuk menghilangkan kegabutannya.
"Ris. Gimana rasanya mau nikah Ris?"
"Biasa aja Bram. Gue akan ngejalani dengan santai aja."
"Nggak ada gugup gugupnya Ris?"
"Gugup sih, tapi mau bagaimana lagi. Kan harus dilalui juga. Ini baru lamaran, beberapa bulan kedepan ijab kabul, makin gugup gue."
Mereka kembali melanjutkan permainan game playstation mereka. Aris dan Bram serius bermain, mereka sampai tidak menyadari Mami yang sudah berdiri dibelakang mereka dengan wajah penuh emosi.
__ADS_1
"Aris, Bram" teriak Mami dengan kencangnya.
"Ris, perasaan gue denger suara yang tidak asing ditelinga gue lah Ris."
"Gue juga rasanya mendengar suara aneh berisik begitu. Biarin ajalah Bran. Kita lanjutkan lagi mainnya"
Aris dan Bram kembali main game playstation. Mereka tidak melihat kearah Mami.
"Aris, Bram" teriak Mami kembali lebih keras dari pada yang tadi.
Aris dan Bram yang yakin kalau itu memang benar suara Mami langsung berbalik ke belakang.
"Apa? Kalian bilang Mami hantu bukan? Ada hantu yang secantik dan seseksi Mami hah?" kata Mami sambil meletakkan tangannya di pinggang. Mami berlagak seperti model.
"Hahahahahahaha" tawa Aris dan Bram memenuhi ruang tempat main Aris.
"Mami mami, gimana kami mau takut, Mami aja bikin ketawa. Mana ada model udah tua kayak Mami gini. Mami ada ada aja." jawab Bram.
"Apa kamu bilang Bram Mami tua? Kalau Mami tua, elo cari calon bini sana. Biar mami masih bisa bikin hantaran untuk kamu. Sampai kamu dapat calon jangan pernah bilang mami tua. Dengar kamu Bram Soepomo" kata Mami mengancam Bram sambil menggoyangkan telunjuknya.
"Aris kamu sudah hafal apa yang akan kamu ucapkan nanti pas ngelamar Gina?" tanya Mami sambil duduk disalah satu sofa.
"Mami ngapain dihafal, nanti sampai di depan Gina dan keluarganya, apa yang dihafal nggak akan itu yang Aris katakan Mi" jawab Aris sambil duduk di sebelah Mami.
"Mami, Bram nanyak serius mi. Mami waktu dilamar papi gimana rasanya Mi?" Bram memutar badannya menghadap Mami.
"Wah yang jelas bahagia dong ya. Dilamar sama orang yang paling Mami cintai. Tapi ya gitu. Mami mengingatkan kalian berdua yang namanya menikah itu cukup sekali dan tidak ada pengulangan. Menikah itu tidak sama dengan pacaran. Menikah itu membutuhkan komitmen yang sangat besar, yang namanya menikah menjadikan satu dua orang yang memiliki watak berbeda. Kata orang nih ya, yang satu jadi api yang satu harus jadi airnya. Jangan sama sama jadi api atau jadi air. Satu hal yang pasti menikah harus saling menjaga hati pasangan masing masing. Jelas kamu Aris?"
Aris mengangguk mengiyakan perkataan Maminya.
""Aris jangan main setuju aja. Mami tau kamu dan Gina sama sama keras. Kalian berhubungan belum sampe dua tahun, tetapi sudah berani memutuskan untuk menikah. Menikah itu suatu peperangan Aris. Apakah kamu akan menang atau kalah. Tapi Mami pesan sama kamu janganlah kamu yang menjadi pecundang dalam rumah tangga kamu. Kalau sampai itu terjadi Aris, kamu akan menyesal." Mami menatap Aris dengan tajam dan oenuh ancaman.
"Satu lagi Aris, Mami pesan sama kamu, godaan dalam menikah sangat banyak, salah satunya rumput tetangga lebih menggoda dari rumput kita sendiri. Hal itu benar Aris, tetapi rumput kita akan indah apabila kita rawat. Rumput tetangga nampak indah karena dia dirawat. Jadi Mami minta sama kamu, jangan pernah tergoda oleh wanita lain. Percayalah kalau pilihan kamu sekarang adalah pilihan yang paling tepat untuk mendampingi kehidupanmu kedepannya." pituah Mami panjang lebar kepada Aris dan Bram.
"Aamiin. Aris tidak akan berpeling dari Gina, Mami" kata Aris dengan penuh keyakinan.
Tak terasa hari sudah sore. Papi juga sudah pulang dari kantor. Keluarga Soepomo mulai bersiap siap untuk pergi melamar Gina menjadi istri Aris.
__ADS_1
Begitu juag dengan keluarga besar Wijaya, mereka juga sedang bersiap siap untuk menerima keluarga Soepomo.