Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Ganjaran


__ADS_3

Sari dan Mira menggeber laju mobilnya. Mereka harus pergi jauh dari rumah sakit. Mereka akan janjian dengan Rudi di suatu tempat. Mereka masih penasaran atas infirmasi yangbakan diberikan oleh Rudi.


Mira mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya. Dia akan menghubungi Rudi. Mereka akan menyepakati dimana mereka akan bertemu dan berbincang.


"Hallo Rud, dimana akan bertemu?" tanya Mira langsung saja saat Rudi mengangkat telpon dari dirinya.


"Di markas saja Nona Mira. Saya tunggu di sana. Kami semua sudah berkumpul" kata Rudi kepada Mira.


Mira memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya. Dia sudah mendapatkan jawaban dimana akan bertemu dengan Rudi dan timnya.


"Gimana?" tanya Sari.


"Markas." jawab Mira.


"Wow, markas? Berarti berat ini masalah" kata Sari yang berpikir keras karena Rudi meminta untuk berkumpul di markas. Tidak biasanya Rudi menggunakan markas sebagai tempat pertemuan.


"Sepertinya. Menurut loe apa yang akan dikatakan oleh Rudi" kata Mira kepada Sari. Mira sama sekali tidak dapat gambaran tentang apa yang akan dibicarakan oleh Rudi kepada mereka semua.


"Menurut gue masalah pencarian pengkhianat yang membuat Aris terjun ke dalam jurang. Kita sama tau aja Rudi merupakan kaki tangan langsung Gina. Loe tau kan Rudi bisa turun kalau Gina yang minta" kata Sari kepada Mira.


"Yup. Sepertinya memang atas perintah Gina." kata Mira.


"Gaskuen aja mobil loe. Kita harus cepat sampai markas." kata Mira.


Sari menginjak pedal gas mobilnya. Mobil kembali melaju kencang. Mereka ingin cepat sampai markas. Tak terasa setelah menempuh perjalanan lebih kurang satu jam. Mira dan Sari sampai di markas.


Mira dan Sari kemudian turun dari atas mobil. Mereka langsung masuk ke dalam markas. Mereka berjalan cepat menuju ruang pertemuan. Tempat mereka biasa mengadakan meeting sebelum melaksanakan tugas.


Mira membuka.pintu berat itu dengan memakai sidik jarinya. Terlihat di sana sudah duduk Alex, Rudi dan beberapa anggota yang melakukan pencarian terhadap pengkhianat gank black jack.


"Wow, ada apa ini?" tanya Sari yang duduk di kursi tempat biasa dia duduk.


Mira juga sama, dia langsung duduk di kursi tempat dia biasa duduk.


"Siapa yang pimpin rapat?" tanya Sari.


"Nggak usah pake pimpinan Nona. Kita rapat biasa saja" jawab Alex.


"Oke sip" jawab Sari.


"Rudi silahkan laporkan yang mau kamu laporkan" kata Sari langsung ke inti pertemuan.


"Jadi gini Nona. Kami sudah menangkap orang yang melakukan sabotase terhadap Tuan Aris. Perlu saya tekankan dan jelaskan lagi di sini. Nona Gina mengatakan kalau kita tidak ada sangkut pautnya dengan pengkhianatan di dalam gank mafia black jack, karena kita bukan bagian dari itu. Kita di sini bertindak karena orang tersebut telah menyabotase kendaraan Tuan Aris." kata Rudi kembali mengingatkan status mereka dalam perkara ini.


"Yup, kita setuju. Lanjutkan" kata Sari kepada Rudi.


"Jadi sekarang orang yang menabrak Tuan Aris sudah berada ditangan kita. Orang itu saya letakkan di penjara bawah" kata Rudi.


"Berapa orang?" tanya Sari


"Empat orang. Tapi mereka hanya tim ekssekusi. Ada yang mengendalikan" jawab Rudi.


"Nah disini susahnya, kalau kita cari tau siapa dalangnya, mau tidak mau intinya kita ikut dalam permasalahan black jack." kata Sari.


"Makanya saya sekarang belum bisa bertindak Nona. Saya menunggu keputusan ini. Jadi bagaimana sekarang?" tanya Rudi.


"Itulah, menurut kamu bagaimana Lex?" tanya Sari.


"Kalau menurut saya Nona. Kita lebih baik memanggil Tuan Bram. Mereka berempat di tangan kita, tetapi biar Tuan Bram yang menanyakan mereka atas suruhan siapa. Nanti dalangnya ditindak oleh black jack" kata Alex memberikan usul.


"Tahan aja mereka dulu Rud. Kami diskusikan dengan Gina terlebih dahulu. Semoga Gina besok sudah siap mendengar berita ini" kata Mira.


"Tapi Nona, bagaimana kalau nanti Nona Gina makin parah setelah mendengar berita ini?" tanya Rudi yang ragu akan memberitahukan kepada Gina.


"Aku yakin tidak akan Rudi. Gina kalau masalah ini siap. Gina hanya takut kalau tersentuh Aris. Itu penyebab dia masuk rumah sakit" kata Sari.


"Baiklah berarti kita sepakat, besok kita beritahukan Nona Gina, setelah itu baru kita ambil tindakan." kata Alex.


"Baik meeting selesai. Rudi antarkan kami keruangan orang orang itu" kata Mira.


Sari, Mira, Alex dan Rudi pergi menemui keempat oanggto black jack yang telah mencelai Aris. Mereka melewati lorong gelap yang mencekam, aura di lorong itu hanya aura kematian. Setelah berjalan agak jauh, Sari dan rombongan sampaindi depan pintu penjara yang tertutup sangat tebal. Hanya satu orang yang bisa membuka pintu penjara itu. Siapa lagi kalau bukan Rudi. Rudi meletakkan kelima jarinya di pintu masuk penjara, dengan seketika sensor penjara berbunyi. Pintu penjara dingin itu terbuka. Rudi dan yang lain masuk ke dalam penjara itu.

__ADS_1


"Bangun kalian" kata Rudi sambil menendang satu persatu kaki para tahanan yang diikat rantai itu.


Keempat pria tersebut langsung terbangun. Saat mereka melihat Sari dan Mira, tiba tiba mulut penuh ejekan mereka mendadak keluar.


"Wah Anda baik sekalu Tuan, menyediakan wanita murahan untuk kami nikmati sebelum kami menghembuskan nafas terakhir kami" kata salah seorang tahanan.


"Benar Tuan. Tetapi kenapa hanya dua Tuan harusnya empat. Jadi kami bisa satu seorang" sambar yang lain.


Sari dan Mira yang mendengar apa yang dilontarkan oleh mulut mulut kurang ajar itu langsung meradang. sari maju dan menendang dengan tendangan berputar kepala salah seorang tahanan. Tahanan tersebut langsung muntah darah. Dia tidak sadarkan diri.


"Kalian ngomong gue wanita murahan? Wanita pemuas nafsu? Oh baiklah tak seharusnya gue menendang kepala kalian. Gue akan berikan hadiah yang kalian mau" kata Sari.


Ketiga tahanan yang masih sadar langsung pandang pandangan, mereka mengira ngira hadiah apa yang akan diberikan oleh Sari.


Sari kelyar dari ruangan tahanan. Dia menuju ruangan pribadinya yang menyimpan beberapa obat obatan yang memiliki efek mengerikan. Sari mengambil satu tabung dan mengambil tiga alat suntikan. Setelah mengisi tuga alat suntik itu dengan cairan tersebut. Sari kembali menuju penjara. Mira yang melihat warna dari suntikan itu sudah tau obat apa yang akan disuntikkan oleh Sari.


"Rudi, Alex, Danu, sini." panggil Sari kepada tiga orang anggota mereka.


"Kalian suntikan obat ini ke mereka satu satu. Gue pengen lihat reaksinya seperti apa" kata Sari sambil memberikan ke anggotanya masing masing satu spit suntikan yang berisi obat.


Rudi dan Alex yang tau jenis apa obat itu labgsung geleng geleng kepala.


"Nona, kalau gue boleh milih. Gue lebih milih suntik mati daripada suntikan ini Nona" kata Alex dengan keras supaya terdengar oleh para tahanan.


Seketika tahanan tadi yang menganggap Sari dan Mira wanita murahan langsung mengkerut tidak bernyali. Mereka bertiga berusaha bersikap kooperatif.


"Nona, maafin kami Nona. Kami tidak ingin suntikan itu Nona." teriak salah seorang.


"Oh maaf Tuan. Sudah terlambat. Silahkan Anda nikmati. Rudi, Alex, Danu laksanakan" perintah Sari.


Ketiga pria itu langsung menyuntikkan obat dalam spit suntik kedalam aliran darah mereka. Obat itu akan langsung bereaksi dan akan hilang tergantung bagaimana kesiapan dari otang yang disuntikkan obat tersebut.


Baru beberapa menit saja, ketiga tahanan itu langsung menggeliat geluat tidak karuan. Mereka mengerang ngerang seperti orang yang menginginkan sesuatu.


"Sari" panggil Mira.


Sari mendekat ke arah Mira. Dia membisikkan sesuatu.


"Setuju" kata Sari.


Alex langsung menuju ruangan digital. Dia mengambil laptop dan infokus serta layar. Alex kembali dengan semua peralatannya. Rudi yang paham akan apa yang filakukan Alex langsung bertanya.


"Loe mau ngelakuin itu Alex?" tanya Rudi.


"Yup, diminta Nona Sari, sarab dari Nona Mira" jawab Alrx yang terus memasang semua alat yang dibutuhkan.


Setelah semua terpasang, Alex mulai menghidupkan blye film. Sehingga membuat siksaan yang bertambah bagi ketiga tahanan itu. Sari dan Mira melihat mereka dari luar, mereka berdua tertawa dengan sangat puas.


"Alex, Rudi tinggalkan saja mereka dengan Danu. Kita sekarang pergi ke rumah sakit. Sepertinya Bram dan Bayu harus diberitahu." perintah Sari.


Mereka berempat dengan mengendarai dua mobil menuju rumah sakit tEmpat Gina di rawat. Mereka akan menceritakan semuanya kepada Bram dan Gina. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit.


Sari dan rombongan menuju kamar rawat Gina. Dalam kamar hanya tinggal Bram dan Bayu. Sedangkan kelyarga yang lain pulang ke rumah untuk bertukar baju.


"Kak Bram ada yang mau berbicara." kata Mira.


Saat itu Gina bangun dari tidurnya. Dia melongo melihat Rudi ada di sana.


"Rud?" panggil Gina.


"Saya Nona" jawab Rudi yang langsung berjalan ke arah Gina.


"Udah ketemu pelakunya?" tanya Gina.


"Sudah Nona. Mereka di markas" jawab Rudi.


"Sar bantu gue Sar" kata Gina yang minta agar kasurnya yang dibagian kepala agak dinaikkan sedikit.


Sari dan Mira membantu Gina untuk agak berdiri badannya.


"Kamu udah cerita dengan siapa saja Rud?" tanya Gina dengan nada tajamnya. Tidak terlihat kalau Gina baru mengalami pendarahan.

__ADS_1


"Kepada Nona Sari dan Nona Mira" jawab Rudi sambil menundukkan kepalanya.


"Tidak apa apa Rud. Saya tidak marah." jawab Gina yang tau Rudi merasa bersalah dengan semua ini.


"Mereka kalian apakan?" tanya Gina kepada Sari.


Gina sudah mengetahui tabiat kedua sahabatnya itu. Mereka pasti berbuat aneh aneh. Sekejam kejamnya Gina mengeksekusi tahanan lebih kejam cara Mira dan Sari.


"Hubungi Danu aja Rud. Panggilan video call. Biar Gina melihat apa yang terjadi di sana" kata Sari sambil tersenyum penuh makna.


Rudi melakukan panggilan video kepada Danu.


"Ya Tuan" jawab Danu.


"Kamu arahkan kamera kamu ke arah tahanan dan video yang di putar Tuan Alex." perintah Rudi.


Danu melakukan apa yang diminta Rudi. Gina yang melihat langsung tertawa. Dia sudah mengira apa yang akan dilakukan Sari.


"Kalau hukuman itu pasti Sari yang menyuntikkan. Berapa banyak obat Sar?" tanya Gina


"Nona, kita putuskan saja panggilannya ya Non. Jijik saya melihatnya" kata Rudi.


"Oke matikan." jawab Gina.


"Sari" kata Gina memanggil Sari yang sudah tersenyum senyum penuh makna.


"Palingan berefek selama tiga jam Gin. Nggak akan mati mereka." jawab Sari dengan cueknya.


"Kenapa obat itu Sari. Apa nggak ada yang lainnya?" tanya Gina.


"Nggak ada. Itu yang paling rendah." jawab Sari.


Gina yang sudah tau sifat Sari tidak lagi berusaha bertanya kepada Sari lagi.


"Gina mau menjelaskan ke kami berdua? Kami udah kayak orang bego aja kalian buat" kata Bram dengan polosnya.


"Hahahahaha. Maafkan aku kakak." kata Gina.


"Sayang jangan memelas gitu. Nanti kalau lawan bisnis kamu melihat wajah kamu begitu mereka tidak akan takut dan segan lagi sayang" kata Sari sambil memegang tangan Bram.


"Sayang kalian ini sebenarnya gank mafia atau bagaimana ini. Aku gagal paham." kata Bram yang diangguki oleh Bayu.


"Kakak seperti yang udah aku katakan sebelumnya, kami bukan gank mafia seperti black jack. Kami hanya sebatas membantu orang saja" jawab Gina.


"Rud, jelasin semuanya kepada kak Bram dan kak Bayu. Kau nggak mau mereka separo gila nantinya" kata Gina memberikan perintah kepada Rudi.


"Baik Nona" jawab Rudi.


Rudi dan Alex duduk di depan Bram dan Bayu.


"Begini Tuan Bram dan Tuan Bayu, sebelumnya perkenalkan nama saya Rudi, saya bekerja di dalam kesatuan XX. Saya di sini sedang cuti, kebetulan Nona Gina membutuhkan bantuan saya untuk mencari orang yang mencelakai Tuan Aris. Nah karena saya sedang tidak ada kegiatan, saya menerima tawaran itu" kata Rudi.


"Kami melakukan pengejaran selama tiga hari. Mereka sepertinya dibantu orang dalam gank black jack. Saya yakin karena setiap saya akan menangkap mereka, mereka bisa lolos. Pertanyaan saya satu, apakah saat itu anda meminta seseorang untuk melakukan pencarian kepada para pelaku ini?" tanya Rudi yang curiga dengan orang terdekat gank black jack.


"Ya, kami meminta ahli IT kami untuk melacaknya" jawab Bram.


"Sepertinya bukan dia Tuan. Kalau menurut analisa saya orang yang berkhianat adalah orang yang terjun langsung dalam pencarian" jawab Rudi.


"Saya lanjutkan dulu Tuan ceritanya. Setelah tiga hari, kami berusaja menjauh dari anggota black jack, dan pada akhirnya kami bisa menangkap pelaku pagi kemaren. Saya langsung menghubungi Nona Gina, sebelum Nona Gina sakit. Nona Gina meminta saya membawa keempat pelaku menggunakan jet milik kami. Makanya saya menghubungi stepen." kata Rudi.


"Sekarang keempat cecunguk tersebut berada dimana Rudi?" tanya Bram.


"Mereka di markas kami Tuan. Mereka di letakkan di ruangan khusu yang hanya saya saja bisa masuk dan salah satu orang kepercayaan saya yaitu Danu." jawab Rudi


"Apakah mereka dalam kondisi sehat? Serta bisa memberikan informasi yang dibutuhkan?" tanya Bayu.


"Sekarang dalam kondisi tidak tuan. Ini ulah dua wanita yang berada di samping Tuan. Mereka berdua menyuntikkan obat perangsang dengan dosis tinggi kepada tiga tahanan. Sedangkan yang satu lagi mendapatkan hadiah tendangan memutar dari nona Sari Kalau tuan mau mencari informasi lebih baik besok Tuan ke markas. Saya sendiri yang akan menjemput Tuan kemari" kata Rudi.


"Kak Bram. Walaupun kakak mencari informasi dari mereka berempat. Kakak tidak berhak mengeksekusi mereka. Mereka bagian Gina. Kakak silahkan urus bagian penghianat di dalam gank black jack. Kami tidak ikut campur dalam urusan itu" kata Gina.


"Baik Gin. Kakak ikuti aturan main kamu" kata Bram.

__ADS_1


"Satu lagi, cerita ini jangan sampai siapapun tau. Cukup kita yang berada di ruangan ini saja yang tau" kata Gina.


Mereka semua mengangguk setuju. Setelah dirasa keperluannya telah selesai. Rudi dan Alex pamit untuk kembali ke markas.


__ADS_2