
Keesokan harinya, Mami yang masih belum mendapat berita apa apa dari aksi pengiriman video mendadak menjadi uring uringan. Dia berjalan bolak balik dari ruang tamu sampai ke dapur.
"Kenapa tidak ada respon sama sekali dari dua orang itu ya." ujar Mami sambil berusaha berpikir keras tentang video kirimannya.
"Apa jangan jangan mereka tidak melihat video itu?" lanjut Mami berbicara sendirian.
Sedangkan Gina dan Argha hari ini akan bersiap siap ke markas. Gina sudah menghubungi Alex dan Jero untuk meeting dengan dirinya dan Argha.
Tidak membutuhkan waktu lama, saat Papi, Aris dan Bram pergi ke kantor, Gina dan Argha juga langsung pergi ke markas. Kali ini Gina mengemudikan mobilnya sendirian tanpa di temani Pak Paijo.
"Bun, kok perasaan Argha jadi rada aneh ya dengan nenek lampir itu." ujar Argha membuka percakapan dengan Bundanya.
"Aneh kenapa Gha?"
"Iya Bun. Masak waktu Atuk usir dia santai aja. Argha bener bener nggak habis pikir dengan dia Bun. Apa yang salah ya Bun?" Argha terlihat berpikir keras.
"Udah nggak usah sekarang dipikirin nanti aja. Kita akan ketemu dengan Alex dan Jero. Biar mereka yang mikir." ujar Gina kepada anaknya yang bener bener sedang penasaran dengan semua kejadian.
Ghina melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi. Dia sebenarnya juga penasaran. Tapi Gina harus bisa mengendalikan dirinya di depan anaknya itu.
Setelah menempuh perjalanan yang tidak begitu lama, Gina membelokan mobilnya ke tempat yang sudah sangat lama tidak dikunjunginya. Tempat yang sudah diserahkannya kepada Alex. Tetapi Alex hanya mau memegang sampai Argha dianggap sudah mampu mengendalikan grub ini.
"Pagi Nona. Pagi Tuan muda." sapa semua pengawal kepada Gina dan Argha.
Sikap berbeda ditunjukkan oleh dua orang yang di sapa pengawal.
Gina menjawab dengan anggukan yang ramah, sedangkan Argha hanya bersikap dingin saja.
"Sepertinya aura kepemimpinan sangat kental dalam diri Tuan Muda." ujar salah seorang pengawal.
"Aura dinginnya yang nggak nahan." balas seorang pengawal.
"Kalian udah bosan hidup!" ujar Argha menatap dingin kemasing masing pengawal yang masih setia bergosip. Para pengawal yang ditatap seperti itu menundukkan kepala mereka sangat dalam. Mereka sangat tidak menyangka Tuan muda itu masih bisa mendengar apa yang mereka katakan.
Gina hanya bisa menatap anak bungsunya itu dengan tatapan tidak percaya. Semakin ke sini aura kepemimpinan Arga sudah semakin terlihat.
Mereka berdua berjalan masuk ke dalam markas. Alex dan Jero sudah menunggu di pintu masuk markas. Mereka sudah melihat semua kejadian di luar. Alex dan Jero makin yakin kalau bocah kecil itu sudah memiliki sikap pemimpin dalam dirinya.
"Silahkan masuk Nona, Tuan muda." ujar Alex kepada dua petinggi grub tersebut.
Mereka berempat masuk ke dalam ruangan meeting. Mereka duduk seperti duduk obrolan biasa saja. Mereka tidak terlihat seerti breafing.
__ADS_1
"Baiklah Nona. Seperti yang Nona katakan kemaren melalui telpon, Jero sudah berhasil mendapatkan alamat tempat tinggal Nyonya Soepomo sekarang." ujar Alex memberikan kabar yang sudah mereka peroleh.
"Jadi apa yang telah kak Alex lakukan?" ujar Argha bertanya sambil memakan coklat coki coki fovoritnya.
"Saya sudah menaruh dua orang pengintai di sekitar rumah Nyonya besar." jawab Alex memberitahukan langkah apa yang telah dilakukannya.
"Hasilnya?" tanya Argha lebih lanjut.
"Nyonya besar masih berada di dalam rumah Tuan Muda." jawab Alex.
Argha mengangguk saja.
Tiba tiba saat mereka berdiskusi lebih lanjut, ponsel milik Jero berbunyi. Jero mengangkat panggilan tersebut sast tau siapa yang menghubunginya.
"Hallo ada berita apa?" tanya Jero.
"Unsub sedang keluar rumah memakai taksi online tuan. Saya sedang membuntutinya." ujar pengawal.
"Aktifkan gps." perintah Argha.
Pengawal langsung mengaktifkan gps ponselnya. Jero mendeteksi gps pengawalnya.
Mereka masuk ke dalam dua mobil yang berbeda. Gina tidak memakai mobil yang tadi di bawanya dari rumah. Gina memakai mobil miliknya yang selalu ditinggal di markas. Gina akan memakai mobil tersebut saat dia akan melakukan tugas tugasnya.
"Bun, Argha mau kayak gini satu." ujar Argha saat menatap takjub ke mobil yang dikendarai oleh Ghina.
"Sabar, besok Argha bisa punya satu." jawab Ghina.
Ghina terus mengikuti mobil yang dikendarai oleh Jero. Mereka mengarah keluar kota.
"Bun, ini bukannya udah daerah pinggiran? Tumben tu nenek lampir mau." ujar Argha kepada Gina.
"Hahahahaha. Kepaksa kali Gha." ujar Gina.
Mobil mulai memasuki jalan kecil yang hanya bisa dilalui oleh satu mobil saja. Gina mulai ragu dengan jalan yang dipilih oleh Jero.
Gina meraih ponselnya untuk menghubungi Alax. Gina menunggu panggilan tersebut tersambung.
"Hallo Lex, ini jalannya beneran?" tanya Gina yang meragu.
"Bener Nona, ini benar jalannya." jawab Alex.
__ADS_1
Tidak berapa lama Jero memberhentikan mobil yang dikendarainya di jalan yang lumayan besar. Jero dan Alex turun dari mobil, mereka berdua masuk ke dalam mobil milik Ghina.
"Paman Jero, ini rumah nenek lampir itu?" tanya Argha kepada Jero.
"Tidak Tuan Muda. Cuma nenek lampir itu sepertinya ada perlu dengan pemilik rumah ini." ujar Jero.
Seorang pengawal mengetuk kaca jendela. Gina membukakan pintu mobil. Pengawal tersebut masuk ke dalam mobil.
"Apa laporannya?" tanya Gina.
"Nyonya besar sudah di rumah itu sejak dari tadi Nona muda." ujar Pengawal memberikan laporan.
"Siapa yang keluar dari rumah itu?" tanya Gina.
"Sama sekali belum ada Nona. Tadi Nyonya masuk ke dalam rumah dengan memakai kunci sendiri." jawab Pengawal.
"Pakai kunci sendiri? Apa nenek lampir itu kenal dengan orang yang punya rumah Bun?" tanya Argha sambil menatap ke arah rumah tersebut.
"Atau Bunda tau siapa yang menghuni rumah itu?" lanjut Argha kembali.
"Nggak Gha, Bunda sama sekali nggak tau siapa yang tinggal di sana. Bunda juga baru tau rumah ini sekarang." jawab Gina yang memang sama sekali tidak tau itu rumah siapa.
"Jadi rumah siapa ini Bun?"
Ghina menggeleng.
"Nggak mungkin juga kalau nenek lampir itu nggak kenal, dia akan lama berada di rumah itu Bun. Ini pasti ada apa apanya." ujar Argha menatap tajam Bundanya.
Pandangan Argha kembali menuju pengawal yang dari tadi mengintai rumah tersebut. Pengawal tersebut menatap Argha.
"Ada apa Tuan muda?" tanya pengawal.
"Aku mau kamu turun sekarang dan pergi ke warung yang berada di dekat sini. Kamu harus bertanya tentang rumah putih itu siapa yang berada di sana. Kamu paham?" tanya Argha kepada pengawal
"Paham Tuan Muda" ucap pengawal.
Pengawal itu turun dari mobil. Dia menuju warung yang dekat dengan rumah yang sedang mereka perhatikan
Sedangkan yang di atas mobil terus mengamati rumah tersebut dengan saksama. Mata mereka tidak lepas dari rumah sederhana tersebut.
"Ada siapa ya Bun di rumah itu?" tanya Argha keada Gina.
__ADS_1