Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Pura Pura Tidak Kenal


__ADS_3

Aris dengan langkah pasti menuju ke mobil Tuan Wijaya yang parkir tidak beberapa jauh dari tempat Bayu memearkirkan mobilnya. Tuan Wijaya yang melihat Aris berjalan ke arahnya langsung melihat ke arah Gina. Gina kemudian mengangguk ke arah ayahnya. Gina tidak mau ayah merasa bersalah karena sudah mengajak Gina ke kota B.


"Siang Tuan Wijaya." kata Aris tanpa melihat ke arah Gina.


"Siang Tuan Aris. Maaf saya terlambat." kata Tuan Wijaya.


"Ah tidak Tuan, kita sama sama baru sampai. Saya juga barusan sampai."


Tuan Wijaya melihat sesosok pria baru berdiri di sebelah Aris. Aris yang paham langsung memanggil Bayu.


"Bay, sini. Loe bukan asisten gue jadi jangan berdiri di belakang gue." kata Aris. Bayu kemudian berjalan ke sebelah Aris sambil melirik Gina.


"Kenalkan Tuan Wijaya, pria tampan ini namanya Bayu Anggara. Dia sahabat terbaik saya selain Bram yang sudah Tuan kenal." kata Aris.


"Perkenalkan Tuan Wijaya, nama saya Bayu Anggara." kata Bayu sambil sedikit menundukkan kepalanya.


"Apakah kamu Tuan Muda Anggara?" tanya Wijaya sambil menatap tajam ke arah Bayu.


"Benar Tuan. Kapan - kapan saya akan memasukkan proposal kerjasama dengan perusahaan wijaya grub."


"Oke saya tunggu itu. Saya akan sangat senang bisa bekerjasama dengan anak muda seperti anda berdua." kata Tuan Wijaya menatap ke arah Aris dan Bayu.


"Bagaimana kalau kita lanjutkan pembicaraannya di kantor saja Tuan Wijaya?" ajak Aris.


"Saya setuju itu." kata Tuan Wijaya sambil melangkahkan kakinya menuju kantor proyek, diikuti oleh Aris, Bayu dan Gina. Aris masih pura-pura tidak mau menyapa Gina. Sedangkan Gina masih berharap Aris menyapa duluan, karena nggak mungkin Gina nyapa duluan tengsin Gina mengingat kejadian di Padang waktu liburan.


Tak terasa mereka berempat sudah sampai di kantor proyek itu. Tuan Wijaya sebagai Tuan rumah mempersilahkan tamunya untuk duduk.


"Silahkan duduk Tuan Aris dan Tuan Bayu." kata Tuan Wijaya sambil duduk di kursi kerjanya. Aris dan Bayu kemudian duduk di kursi depan Tuan Wijaya. Sedangkan Gina lebih memilih duduk di sofa sambil melihat ponselnya. Gina tidak tertarik untuk ikut meeting kali ini.


Ketiga pengusaha sukses itu terlihat sangat alot dalam berdiskusi. Gina sekali sekali menoleh ke arah sumber suara yang cukup berisik itu.

__ADS_1


Tiba-tiba saja saat Gina akan melihat ke arah sumber suara untuk kesekian kalinya, tatapan matanya berserobok dengan tatapan mata Aris. Gina langsung memalingkan mukanya yang tiba tiba berubah menjadi semerah tomat. Gina malu ketahuan mencuri lihat ke arah tiga pengusaha itu. Sedangkan Aris melemparkan senyum manisnya kepada Gina, senyum Aris semakin membuat malu Gina karena kelakuabnya.


Tidak terasa hari sudah menunjukkan pukul tiga siang. Saking asiknya mereka bertiga berdiskusi sampai melewatlan waktu makan siang. Tiba-tiba terdengar bunyi perut keroncongan Bayu yang membuat Aris dan Tuan Wijaya tertawa.


"Hahahaha. Karena keasikan berdiskusi kita sampai lupa makan siang. Untung diingatkan oleh perut Bayu kalau tidak ntah sampai kapan kita menunda waktu makan siang." kata Tuan Wijaya.


"Kita makan di restoran jalan menuju ibu kota aja Tuan. Jadi tidak menghabiskan waktu." kata Aris.


"Wah setuju, setengah jam perjalanan ada restoran apung yang terkenal di daerah ini. Kita makan di situ aja." kata Tuan Wijaya.


"Baiklah kalau begitu. Tuan Wijaya jalan duluan, kami akan mengikuti mobil tuan dari belakang" kata Bayu.


Mereka berempat keluar dari ruangan kantor, berjalan menuju mobil masing-masing. Tuan Wijaya melajukan mobilnya diikuti oleh Bayu dari belakang. Tiga puluh menit berlalu akhirnya mobil Tuan Wijaya berbelok masuk kedalam gank yang hanya muat untuk dua mobil. Bayu menatap ke Aris meminta apakah dia harus mengikutu mobil Wijaya atau tidak. Aris yang paham akan arti tatapan Bayu langsung menjawab.


"Ikuti saja. Kayaknya tempatnya asik."


Bayu kembali menjalankan mobilnya dengan kepercayaan dan keyakinan yang diberikan oleh Aris. Tak lama kemudian mobil tuan Wijaya berhenti di dekat sebuah aliran sungai kecil. Pemandangan yang paling menarik adalah ditengah tengah aliran sungai yang kecil otu terdapat saung saung untuk tempat duduk bagi yang tidak mau terkena matahari. Ada juga meja dan kursi yang langsung diletakkan di atas aliran sungai. Restoran itu memang sangat indah. Siapapun yang kesana walaupun dalam hati yang tidak nyaman saat sampai di restoran itu maka dengan tiba tiba saja hati mereka akan kembali langsung nyaman. Tuan Wijaya dan Gina langsung turun dan menuju mobil Aris dan Bayu. Aris dan Bayu juga langsung turun dari mobil, mereka berdua sudah sangat lapar.


"Di aliran sungai aja Ris, kelihatannya menarik. Kita belum pernah lo mencobanya." kata Bayu yang memang sudah penasaran, apa rasanya makan di tengah tengah aliran sungai.


"Di kursi aliran sungai aja pak. Kayaknya lebih menarik, jarang-jarang kita ketemu yang beginian di ibu kota." jawab Aris.


Tuan Wijaya, Aris, Bayu dan Gina langsung turun menuju aliran sungai dan memilih kursi yang untuk berempat tetapi berada agak ke tepi aliran sungai. Tuan Wijaya meminta pelayan menghidangkan makanan spesial dari restoran tersebut.


Makanan yang dipesan Tuan Wijaya datang, yang membuat Aris penasaran adalah yang langsung mengantarkan pesanan mereka seorang pelayan dan manager restoran. Aris dan Bayu bertanya tanya dalam hati mereka sendiri sendiri apakah Tuan Wijaya yang mempunyai restoran keren itu.


"Silahkan dimakan Tuan Aris dan Tuan Bayu, semoga makanannya enak, tidak hanya menjual tempat saja." kata Tuan Wijaya menatap Gina. Giba yang ditatap ayahnya langsung menundukkan kepalanya makin dalam.


"Pasti enak Tuan, terlihat dari cara mereka menyajikan. Saya yakin penampilan tidak akan menghianati rasa." kata Aris.


Mereka kemudian mengisi piring masing-masing dengan hidangan spesial yang disajikan oleh koki restoran. Mereka berempat makan dengan lahap dan tidak seorangpun mengeluarkan suara selama makan siang itu berlangsung. Tak berapa lama kemudian makanan yang disajikan sudah berpindah kedalam perut mereka semua.

__ADS_1


"Oh ya Tuan Wijaya. Gadis sebelah Tuan ini siapa ya? Apakah asisten Tuan?" tanya Bayu.


Aris yang mendengar langsung tersedak makanannya. Dengan cepat Aris meminum minuman yang berada di depannya. Gina yang melihat langsung tersenyum mengejek.


"Hahahahahahaha, tidak Tuan Bayu. Tuan Bayu kura kura dalam perahu ini. Padahal sudah ketemu dengan dia saat dia meeting dengan Tuan Bram." kata Tuan Wijaya dengan nada mengejek Bayu.


"Oh iya saya lupa. Karena wajahnya sangat berbeda." Bayu membela dirinya.


"Baiklah akan saya perkenalkan. Namanya adalah gina Putri Wijaya. Anak kedua saya, anak terakhir dan satu satunya perempuan. Dia biasa dipanggil dengan nama Gina." jawab Tuan Wijaya.


"Salam kenal Gina. Kita sudah bertemu waktu meeting dengan Bram. Maaf saya tidak ingat kamu, karena penampilan kamu sungguh berbeda saat kita bertemu waktu meeting." papar Bayu.


"Tidak apa apa Tuan Bayu. Saya juga tidak ingin dikenali oleh siapapun." jawab Gina. Gina kemudian menatap Aris dengan tatapan dingin nan membunuh. Aris yang ditatap seperti itu hanya diam saja. Dalam hatinya Aris berkata "Belum saatnya Gina. Saat aku mengatakan kenal dengan kamu maka saat itu juga kamu akan jadi kekasih ku."


"Oh ya Tuan Aris pertemuan berikutnya saya sepertinya tidak bisa hadir, karena harus ke Padang. Pertemuan itu akan dihadiri oleh anak sulung saya namanya Afdhal."


"Kenapa tidak Gina aja Tuan?" tanya Bayu mewakili rasa penasaran Aris yang bener bener terlihat dari raut wajahnya.


"Gina hari itu ada ujian Tuan Bayu. Makanya Afdhal yang akan menggantikan saya."


"Oke Tuan Wijaya saya setuju saja. Nanti biar Bram yang menghubungi asisten Tuan Afdhal." jawab Aris


"Terimakasih Tuan Aris. Berhubung sudah sore perjalanan masih jauh, bagaimana kalau kita langsung jalan saja." kata Tuan Wijaya.


"Baiklah mari kita pulang. Oh ya Tuan Wijaya, apakah restoran ini punya Tuan?" akhirnya Aris mebgutarakan rasa penasarannya


"Oh tidak Tuan Aris. Ini punya kolega bisnis saya. Makanya tadi manager betul yang melayani kita." jawab Tuan Wijaya.


Mereka kemudian masuk kedalam mobil amsing-masing dan melaju menuju ibu kota. Perjalanan yang ditempuh masih empat jam lagi. Sekarang di mobil Tuan Wijaya yang mengemudikan adalah Gina. Sedangkan di mobil Bayu yang mengemudikan adalah Aris. Dua mobil itu beeiringan menuju ibu kota.


...----------------...

__ADS_1


Sebelumbya author mau mengucapkan permohonan maaf kepada pembaca karena sudah lama tidak up cerita, disebabkan karena kesibukan pekerjaan yang membuat kurang memiliki waktu. Maaf sebelumnya ya-----??


__ADS_2